Kita semua mungkin tahu anak timbang. Sebagian memberi istilah batu timbang. Bila anda membeli buah di pasar, kemudian si pedagang menggunakan timbangan lengan. Anda lihat mereka memakai batu timbang atau anak timbang 1 kg di satu sisi, sementara di sisi lengan yang lain adalah buah yang ditimbang bila misal membeli satu kg.

Di dalam sebuah industri, apalagi yang memakai ukuran massa dan berat produk sebagai salah satu tolok ukur kualitasnya, pasti diperlukan sebuah timbangan untuk mengukur. Dan sebuah timbangan butuh di kalibrasi, dipastikan kesesuaiannya dengan standard. Caranya dengan memberi beban timbangan dengan batu timbang yang memiliki akurasi lebih baik. Atau bahkan untuk timbangan tertentu, yang dibutuhkan kepastian akurasinya dari hari ke hari saat penggunaannya, biasa kita mengenal istilah daily-check. Adalah verifikasi setiap hari sebelum timbangan digunakan, bila hasil penunjukkan timbangan masuk pada batas yang ditentukan berarti timbangan baik dan boleh digunakan, bila lewat maka tidak boleh digunakan, sebaiknya diperbaiki dulu, atau dikalibrasi secara lebih teliti terlebih dahulu. Proses daily check inilah yang juga harus menggunakan beban yang tentunya sudah diketahui massanya. Biasa kita sebut dengan massa standard.

Lalu massa standard yang mana? Bolehkah kita pakai batu timbang yang biasa dipakai pedagang buah dipasar, kita pakai sebagai verifikasi timbangan yang nantinya digunakan untuk menimbang emas? Tentu tidak benar. Itulah mengapa butuh yang namanya klasifikasi anak timbang. Dimana anak timbang diberi klasifikasi berdasarkan kemampuannya. Setiap anak timbang dengan kelas tertentu memiliki syarat dasar berupa material dan dimensi yang tertentu. Syarat utama lainnya adalah apa yang disebut mpe (maximum permissible error), batas kesalahan yang diperbolehkan. Serta dalam penggunaan anak timbang, setiap kelas memiliki aturan tertentu yang harus diperhatikan. Kelas yang lebih tinggi lebih mensyaratkan prosedur penggunaan yang ketat dan rumit serta kehati-hatian dan kecermatan yang tinggi, sehingga menunjang ketepatan penimbangan itu sendiri.

Secara umum, menurut OIML R111-1 ada 3 klasifikasi, yaitu kelas M (Medium), yang lebih tinggi adalah kelas F (Fine), lebih tinggi lagi adalah kelas E (Extra-fine). Dengan tabel mpe seperti dibawah ini dalam satuan mg:

Seperti contoh diatas misalnya kelas anak timbang F1 yang 1 kg, maka maximum error yang boleh adalah 5,0 mg. Artinya massa konvensional anak timbang itu harus pada rentang 999,995 gram sampai dengan 1000,005 gram!

Anak timbang yang biasa dipakai untuk verifikasi timbangan pada laboratorium analitik, atau timbangan lengan untuk emas, timbangan digital analitik untuk formulasi obat dan semacamnya, harus memakai minimal kelas F2. Selain itu peruntukkan itu, bisa disesuaikan penggunaan dan beban operasionalnya dibanding dengan toleransi penggunaannya dan pertimbangan harga anak timbang sendiri. Karena untuk diketahui, harga anak timbangan kelas E bisa berlipat kali harganya daripada anak timbang dengan massa nominal yang sama kelas F. Dan kelas F berlipat kali harganya dari kelas M.

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya