Novel Wayang untuk Perpustakaan Sekolah Print
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 03 August 2012 14:45

Mengapa Novel Wayang harus ada di Perpustakaan Sekolah? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya saya yakin kita semua setuju akan jawaban bahwa Novel Wayang harus tersedia di perpustakaan sekolah. Anda boleh mengunjungi sembarang sekolah di Indonesia, khususnya pulau Jawa, kemudian luangkan riset kecil tentang seberapa besar buku tentang budaya bangsa Indonesia tersedia di sana, dan di antara buku-buku tersebut, berapa tentang wayang?

‘..naskah wayang kebanyakan berat,.. kurang diminati oleh usia remaja..’, demikian salah satu pendapat mengemuka. Itulah mengapa menurut saya kisah wayang dalam bentuk novel perlu berada ditengah-tengah remaja kita. Bahasa novel lebih mudah diterima oleh semua kalangan terutama usia muda. Sebuah pendapat sempat mengemuka ketika setahun lalu saya kebetulan menjadi pembicara dalam sebuah seminar guru. Salah seorang peserta yang kebetulan kepala sekolah –yang kebetulan sudah membaca beberapa novel saya- memberi usul kepada saya agar novel-novel tersebut yang menurut beliau mudah diterima anak muda, dan tetap relevan masa kini, walaupun tetap memakai pakem cerita klasik versi Jawa, berada di perpustakaan sekolah.

Sebuah diskusi yang memberi gagasan bagi saya agar novel-novel saya bisa menjangkau perpustakaan sekolah, tersedia bagi para usia remaja. Gagasan ini semakin kuat ketika beberapa bulan lalu berkunjung ke Singapore, saya menyempatkan mampir ke Perpustakaan Nasional Singapore, dan beberapa novel saya ada di sana! Seharusnya novel-novel saya juga ada di perpustakaan sekolah-sekolah di negri kita! Andai saya memiliki sumberdaya dana yang tak terbatas, saya ingin mengisi semua perpustakaan sekolah di Indonesia dengan novel wayang saya, pernah saya mengkhayal demikian.

Pernah suatu kali pihak penerbit berdiskusi kepada saya tentang kemungkinan hal ini di usulkan menjadi proyek pemerintah. Rupanya pihak penerbit berdasar pengalamannya, memilih untuk tidak ingin menempuh jalan itu, sehingga semakin kuat keinginan saya agar gagasan ini terlaksana dengan cara swadaya. Dan saya yakin banyak yang akan mendukung. Dengan difasilitasi wujudkan.com, saya bertekad untuk mewujudkan cita-cita itu.

Mengapa Novel Wayang harus ada diperpustakaan sekolah? Semua setuju dan pasti sepakat bahwa budaya Wayang yang sudah mendapat penghargaan dari UNESCO, harus selalu kita lestarikan. Lalu mengapa pertunjukan wayang klasik saat ini kurang diminati oleh kalangan muda? Beberapa kali pertunjukkan wayang diadakan, pameran wayang, diskusi tentang wayang, bagi khalayak muda, semua itu hanya terlihat seperti sebuah ceremoni. Seperti sebuah monumen.

Padahal bukan itu hakekat sebuah pertunjukkan wayang. Sebuah pertunjukkan wayang diadakan seharusnya berangkat dari sebuah kebutuhan. Kebutuhan akan pembelajaran nilai, kebutuhan akan hiburan, kebutuhan akan renungan diri, kebutuhan akan bercermin. Lalu mengapa anak muda kita lebih merasa butuh berbondong ke bioskop menyaksikan film Batman daripada nonton pertunjukkan wayang. Mengapa anak muda lebih merasa harus membaca novel “Lord of the Ring” –yang pada dasarnya setara kadar epos dan klasiknya dengan kisah pewayangan- daripada membaca naskah-naskah wayang.

Itulah mengapa perlu novel wayang. Kisah itu tetap sama klasiknya. Tapi dalam novel, kita bisa luwes menawarkan cara pandang baru dalam melihat kisah itu, gairah baru dalam menikmati cerita wayang, dan mendefinisikan nilai-nilai baru yang relevan dalam kehidupan sekarang dalam kisah yang sama. Itulah yang saya lakukan dengan novel-novel wayang yang saya buat. Berharap terutama kalangan muda akan suka, memahami ceritanya, memahami karakter-karakternya, sehingga akan ada gairah baru akan kebutuhan menonton pertunjukkan wayang. Karena mereka akan menjad haus akan nilai yang akan selalu baru pada setiap pertunjukkan wayang. Pertunjukkannya mungkin sama, lakonnya bisa jadi sama, jalan ceritanya sama, tapi cara melihat mereka sudah terbarukan dengan cara pandang baru dalam melihat kisah wayang melalui novel yang mereka baca.

Itu mungkin sama bila kita analogikan dengan film ‘Batman’. Berapa kali sudah film itu dibuat. Menampilkan kisah yang kurang lebih sama, tokoh karakter yang terlibat sama, tapi sejak era 70-an, kemudian 80-an, sampai Batman era tahun 2000 tetap penuh pengunjung. Karena dari kisah yang sama itu ada reinterpretasi yang berbeda, taste yang berbeda, cara memandang yang berbeda. Dan para penonton yang merasa butuh itu ingin selalu melihat hal yang baru dan berbeda walaupun dari kisah yang sama!

Itulah beberapa jawaban mengapa saya merasa perlu novel wayang ada di perpustakaan sekolah..

3 Agustus 2012

Pitoyo Amrih




Last Updated on Friday, 03 August 2012 15:03
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo