Social Media (4) : Siklus Social Media Print
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 24 August 2011 15:02

(Bagian ke-empat dari lima artikel bersambung tentang Social Media – lanjutan tulisan sebelumnya)

Lalu bangunan besar sebuah siklus Social Media kira-kira seperti apa? Darimana semua itu harus diawali? Bila saat ini kita melihat semuanya sudah begitu kompleks terpampang, rasanya memang bisa jadi memberikan rasa gamang. Langkah untuk memulai sebuah Social Media terasa begitu jauh untuk ditempuh. Sehingga saya pikir perlu untuk meminta anda sejenak menghilangkan begitu gaduhnya social media yang terjadi di jagat internet. Bayangkan kita berada pada sebuah komunitas internet bukan sebagai analogi sebuah kota besar yang begitu hingar bingar, tapi bayangkan sejenak kita saat ini berdiri di dunia maya yang tak lebih berupa sebuah pemukiman sepi di pegunungan.

Dan untuk memudahkan bayangan membangun social media itu, bayangkan bahwa hal itu merupakan kegiatan nyata di dunia nyata. Seumpama kita di sebuah desa terpencil di pegunungan itu memiliki sebuah toko cinderamata. Anda sebagai pemilik toko tersebut, kemudian bersosialisasi secara wajar seperti layaknya seseorang yang berada dalam sebuah komunitas dengan komunikasi yang sehat. Tiap pagi anda menyapa setiap pengunjung, keluar toko sesekali menyapa setiap orang yang lewat, menanyakan kesehatannya, kabar keluarganya dan sebagainya. Terkadang ada orang lewat yang cukup punya waktu untuk menghentikan langkahnya sejenak, ngobrol sana-sini, sampai akhirnya pembicaraan sampai kepada topik segala hal tentang toko anda. Anda pun tentunya merespon setiap pertanyaan, dengan jawaban-jawaban seolah sang penanya adalah calon pelanggan besar toko anda.

Dalam menjawab, anda juga berlaku layaknya orang yang bersosial secara sehat. Berkata dengan jujur, memperlihatkan integritas dari apa yang diucap, memiliki etika pada setiap kalimat yang dipilih, tahu kapan saatnya bisa bercanda, dan tahu saat harus serius. Selalu menghargai pendapat orang lain, tidak alergi terhadap beda pendapat, dan selalu melihat segala hal dari sisi obyek persoalannya, bukan pada subyek orang-orang yang terlibat dalam persoalannya.

Di lain waktu anda kemudian terlibat dalam komunitas. Menjadi anggota kelompok arisan, perkumpulan penyuka barang antik, organisasi pendaki gunung misalnya. Dan hal yang sama terjadi, setiap kali komunitas itu berkumpul, anda berkesempatan untuk berinteraksi, suatu saat membicarakan apa yang anda lakukan, sampai kepada topik pembicaraan toko anda. Dan setiap kali berbicara anda tetap berusaha mengambil sikap bagaimana seharusnya, jujur, integritas, menjaga etika, dan sebagainya.

Dan hal ini harus dikelola secara pandai-pandai. Bila anda terlalu diam, mungkin butuh waktu lama sehingga orang banyak menjadi ‘aware’ kepada anda. Kalau anda terlalu ribut, mungkin serta merta orang tidak begitu simpati kepada anda. Dibutuhkan sebuah seni untuk bisa memahami kapan harus berbicara, dan kapan harus diam. Dan ketika harus berbicara, cukup memiliki kepekaan kapan saya harus berbicara tentang toko anda.

Dalam interaksi itu bisa jadi orang akan menilai anda. Ada yang menyukai anda, ada orang yang mengkritik, ada orang yang terang-terangan membenci anda, bahkan mungkin setiap kali menyerang anda. Di sinilah integritas dan komitmen sikap proaktif kita diuji, untuk bisa tetap selalu konsisten menunjukkan bagaimana diri kita apa pun respon yang ditunjukkan orang kepada kita.

Sesekali anda mengadakan pesta perjamuan, mengundang banyak orang. Para tamu undangan memusatkan perhatian  kepada anda saat anda bicara. Sehingga dengan berjalannya waktu, anda semakin dikenal secara ‘personal’ oleh penduduk desa tersebut.  Anda yang dikenal baik dan memiliki toko cinderamata.

Suatu ketika desa terpencil tempat anda tinggal, didatangi oleh sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah organisasi yang memiliki anggota begitu banyak, dan hampir semuanya tinggal di kota-kota besar. Organisasi itu memiliki sistem komunikasi sendiri, setiap ada informasi baru, ada buletin organisasi, ada sistem informasi yang dalam sekejab semua anggota organisasi bisa tahu informasi tersebut. Salah satu anggota organisasi itu berinteraksi dengan anda, dia tahu bagaimana tentang anda atas rekomendasi sebagian besar penduduk desa itu terhadap anda, mungkin kemudian membeli produk anda, mengabarkan kepada semua teman organisasinya tentang anda. Temannya kemudian menceritakan hal tentang anda kepada temannya. Teman-temannya menceritakan hal yang sama tentang anda kepada temannya lagi.

Sampai suatu ketika anda diberi kehormatan menjadi anggota organisasi itu. Diundang ke kota besar dalam pertemuan besar organisasi tersebut, anda berkesempatan untuk bercerita tentang anda, tentang toko anda, kepada orang di luar desa anda, kepada lebih banyak orang, lebih beragam orang, dan orang-orang dari jauh yang memiliki komunitasnya masing-masing. Dan seterusnya, anda bisa kembangkan cerita tentang anda dan toko cinderamata anda.

Anda bisa cermati tulisan saya tentang Social Media ini di episode sebelumnya, dan apa yang saya ceritakan di atas, adalah sebuah Social Media, yang versi nyata! Sementara toko anda adalah Social Brand anda, anda sendiri bisa jadi juga merupakan Social Brand, ataupun sekedar orang yang merepresentasikan Social Brand tersebut. Dan segala urusan yang anda lakukan, mengadakan event, berinteraksi, berbicara, dalam rangka memelihara social brand adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kondisi Social Bussiness tertentu.

Sekarang anda coba imajinasikan analogi saya, dari kehidupan nyata di atas, ke interaksi di dunia maya. Anda adalah anda, sementara toko cinderamata adalah analogi konten anda, saya sebut konten karena di internet hal ini bisa apa saja, produk yang anda jual, jasa yang anda tawarkan, kompetensi anda,  barang-barang koleksi anda. Kunjungan terhadap konten di awal, merepresentasikan, biasanya halaman web baru pasti memiliki jumlah kunjungan yang sedikit. Komunikasi ‘klasik’ bisa jadi melalui e-mail, melalui ‘contact-form’ pada konten anda. Bagaimana pun cara komunikasi seseorang terhadap anda melalui mail tersebut, maka konsistensi respon anda adalah hal yang bisa jadi diingat betul oleh pengunjung konten anda.

Anda bayangkan ‘kota besar’ pada cerita di atas, adalah analogi untuk situs raksasa seperti Google, Yahoo!, Facebook, Twitter, dimana informasi yang masuk ke situs tersebut bisa jadi akan rantai berantai menggurita kepada begitu banyak orang. Hal yang kemudian harus dilakukan adalah semacam seni bagaimana konten anda selalu ada di pusara informasi di situs-situs besar tersebut. Komentar, penilaian positif anggota komunitas raksasa itu bisa dilihat dengan mudah oleh orang lain. Respon-respon anda bisa dengan mudah dilihat banyak orang, dan segera orang bisa menilai tentang anda dan konten anda. Anda memiliki fasilitas yang cukup agar orang bisa dengan mudah memberikan penilaian, apresiasi, terdokumentasi dan dengan mudah dilihat banyak orang. Dan yang lebih penting lagi adalah orang banyak bisa dengan mudah menemukan anda dan konten anda! Pada situasi ini, apa yang kita lakukan adalah merawat Social Media, sehingga order, kontrak, relationship konsisten selalu terjaga dan termonitor.

Apa yang saya ceritakan di atas, kurang lebih itulah sebuah siklus social media! Dan bila kita cermati, yang kita lakukan tak lain seperti layaknya kita menjalani hidup secara baik di dunia nyata. Dalam social media, tak lebih yang kita lakukan adalah: bertemu individu, bertemu komunitas, membangun hubungan dan komunikasi, sesekali anda bertanya, sesekali anda menjawab pertanyaan, berkomentar, membangun kepercayaan, membangun reputasi. Sementara terhadap konten anda, apa yang anda lakukan adalah membuat blog tentang konten anda, sesekali email tentang konten anda, menginformasikan blog lewat email, menayangkan alamat email di blog anda, membuat rekaman-rekaman entah itu video, audio atau artikel, juga file presentasi, sehingga bilamana perlu bisa ditampilkan di blog anda, menayangkan komentar kostumer di blog anda, berbagi tentang sesuatu yang berharga kepada orang lain melalui blog anda maupun komunitas (social network), dan yang juga menurut saya penting adalah sebaiknya anda menampilkan informasi jujur tentang anda dan konten anda. Foto, nama, kompetensi, penilaian obyekif, semua apa adanya.

Dalam interaksi siklus, saya bisa definisikan ada empat  pihak untuk didefiniskan sehingga bisa didudukkan posisinya secara benar, yaitu :

  • ·         Anda dan konten anda, yaitu segala hal tentang anda maupun konten anda yang diniatkan menjadi social brand.
  • ·         Kostumer atau calon kostumer, adalah target pasar anda. Dan perlu saya sampaikan pendapat saya dalam hal ini, adalah, kostumer bukan berarti orang yang harus membeli. Dalam artian nilai tambah yang anda peroleh tidak harus berupa materi. Anda bisa lihat contoh semangat yang ada pada konten yang menjajakan gratis program open source misalnya.
  • ·         Agency, pihak ini perlu saya tambahkan, karena dalam dunia internet, biasanya kita dihadapkan pada pernak-pernik hal teknis yang belum tentu setiap orang memiliki kompetensi di sana. Di situlah peran agency yang menjembatani kesulitan anda untuk membuat program, aplikasi, strategi  SEO untuk melakukan social media. Termasuk juga biasanya pihak ini harus bisa membuat alat ukur dan sistem analisa yang bisa menilai sampai dimana keefektifan kegiatan social media.
  • ·         Komunitas atau biasa disebut terminologi populernya adalah social network, ini bisa dilihat sebagai sekumpulan orang dengan interaksi secara kolektif. Penglihatan terhadap hal ini perlu karena biasanya interaksi di dalam komunitas bisa bersifat dua arah. Tidak seperti kostumer yang mengharap manfaat dari kita, interaksi dengan komunitas bisa jadi suatu ketika kita diharapkan manfaat kepadanya, dilain pihak kita bisa juga mendompleng memanfaatkan kekuatan komunitas untuk membawa agenda-agenda strategi social media yang kita miliki.

Dan menurut saya untuk memulai sebuah siklus social media, modal utama adalah keberanian. Keberanian kita untuk tampil apa adanya di dunia maya. Keberanian kita untuk dipuji sekaligus dikritik. Keberanian kita untuk tidak hanya mencari-cari hal hanya demi kepentingan kita, tapi juga selalu memiliki semangat memberi manfaat kepada orang banyak…

(bersambung)

24 Agustus 2011

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Thursday, 25 August 2011 08:05
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo