Orang Kaya Sebaiknya Ingat 'Gentong'-nya Print
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 30 June 2007 07:00

Digambarkan ada dua kategori untuk mengandaikan orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Yaitu digambarkan sebagai sebuah gentong dan sebuah ceret. Gentong biasanya sangat besar dimensinya, ada di hampir setiap rumah-rumah tradisional sebagai tempat sediaan air untuk kebutuhan minum sehari-hari sebelum dimasak. Mungkin kalau dihitung eksak, hampir pasti, gentong mampu menampung air lebih dari satu meter kubik banyaknya. Hanya saja gentong ini cukup unik. Gentong selalu diletakkan di pojok belakang rumah. Dibiarkan berdebu, jarang sekali dicuci, walaupun wujudnya besar hampir pasti orang seperti tidak begitu sadar akan kehadirannya.

Lain lagi dengan ceret. Mungkin kalau orang modern lebih familiar dengan istilah teko atau kan air. Walaupun volumenya kecil, paling-paling tidak lebih dari 1 liter, tapi kehadirannya begitu kentara. Selalu tersedia di meja makan, diletakkan di meja tamu. Bahkan sekarang dibuat bentuk teko yang warna-warni dengan ornamen yang indah-indah. Air didalam teko pun tidak seperti air di dalam gentong – walaupun sama-sama air -. Air gentong belum dimasak, belum layak diminum. Sementara air di dalam teko biasanya sudah siap untuk dinikmati, hangat, atau dingin diberi es. Kadang sudah diseduh teh, atau sudah dibuat sirup, atau jahe mungkin, atau bentuk minuman lain yang siap dinikmati dan dijamin enak diminum.

Dua penggambaran ini, pertama mengemuka di sebuah kolom yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib pada sebuah surat kabar yang saya lupa apa itu, diterbitkan sekitar dua puluh tahun yang lalu. Saya banyak kumpulkan buku-buku dan klipping kolom-kolom tulisan Emha. Tulisan yang saya kemukakan diatas, saya yakin kalau dibongkar-bongkar dicari pasti ada dalam kumpulan yang saya simpan. Tapi untuk mencarinya mungkin dibutuhkan waktu paling tidak sehari.

Tapi entah mengapa penggambaran gentong dan ceret ini, walaupun terakhir saya membacanya sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, masih saja disetiap kesempatan ingatan tentang itu kembali. Entah mungkin karena melihat atau membaca sesuatu hal yang berkaitan dengannya.

Lalu, apa hubungannya dengan topik saya selama beberapa tulisan terakhir ini? Kembali kita lihat penggambaran gentong dan ceret, dimana penggambaran ini dimaksudkan sebagai analogi terhadap orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Orang pandai tipe gentong –seperti sifatnya gentong- biasanya memiliki begitu banyak pengetahuan. Baik mungkin hal-hal teknis, maupun yang bersifat filsafat tentang hidup dan kehidupan. Tapi orang pandai ini ilmunya masih mentah, dalam artian orang yang mendengar tutur kata pengetahuan dari orang pandai gentong ini, belum tentu bisa dengan mudah mengerti makna yang disampaikan dengan sekali mendengarnya. Ilmunya juga terasa tawar, seperti air gentong yang belum dimasak. Karena orang pandai gentong biasanya sangat susah mengutarakan dalam bentuk bahasa, apa pun yang dia ketahui, sehingga ilmunya seperti jauh dari sifat-sifat aplikatif dan kepraktisan untuk dimanfaatkan. Termasuk juga bagi para pendengar ilmu dari orang pandai gentong ini, dibutuhkan sebuah kemauan yang hebat untuk bisa menimba ilmu darinya, karena bila tidak, biasanya para pendengar ilmu dari gentong ini akan dengan mudah bosan. Karena apa yang diutarakan sama sekali jauh dari sifat menarik. Dan satu lagi, seperti gentong, biasanya orang pandai gentong ini tak terurus, kehidupan ekonominya pas-pasan, berdebu, tidak banyak diketahui orang keberadaannya.

Lain lagi dengan orang pandai tipe ceret. Anda bisa perhatikan bapak-bapak trainer motivator, atau para up-liner MLM yang dengan gegap gempita bersemangat dan sangat bersifat ‘entertaining’ menyampaikan ilmunya. Mereka menyampaikan ilmunya begitu hangat, sehingga up-to-date bisa diaplikasikan bagi kehidupan kita saat ini. Ilmu mereka enak dan manis, begitu nikmat untuk dinikmati, begitu mudah dimengerti, sangat komunikatif, inspiring, selalu bisa menjawab setiap pertanyaan hidup keseharian kita akan tuntutan-tuntutan saat ini. Dan seperti sebuah ceret atau teko, bapak-bapak ini biasanya begitu mentereng. Menyelenggarakan seminar di hotel berbintang, naik mobil mewah dibalut dengan event-organizer profesional yang bisa membuat wah siapa pun yang melihat.

Bila anda mengambil air dalam gentong, hampir pasti tanpa biaya, tinggal ambil kapan pun juga, hanya konsekuensinya belum dimasak, terasa tawar, dan mungkin anda tidak dengan mudah bisa menemukan gentong.

Beda dengan air dalam teko yang sudah berujud teh, kopi hangat, es sirup, jahe, dan sebagainya. Rasanya enak, siap diminum, hangat, dimana-mana dapat dengan mudah dicari. Tapi anda harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Kalo di warung-warung bisa jadi lebih murah. Tapi kalau anda menimbanya di hotel berbintang, wajar kalau anda juga harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Terlebih lagi kalau ‘teko’ ini sudah tertempeli brand tertentu, yang kemudian menjadi sebuah tuntutan orang-orang akan kebutuhan brand tertentu. Walaupun teh merk A sampai merk B sama rasanya, tapi ketika merk A jauh lebih terkenal, maka orang yang mampu membeli merk A tetap akan berduyun duyun untuk mendapatkan ilmu dari merk A, walaupun kalau digagas-gagas ilmu itu menyampaikan ide yang sama.

Tapi ada yang menarik di sini. Seperti analogi di atas, bagaimana pun juga ceret tetap selalu butuh akan keberadaan gentong. Karena bagaimana pun juga air dalam gentong adalah sumber dari mana air dalam ceret berasal.

Inilah maksud dari apa yang akan saya sampaikan. Pengertian ceret mungkin bisa saya perluas tidak hanya kepada orang yang menyampaikan ilmunya saja, tapi juga sampai kepada orang-orang yang bisa mengamalkan ilmunya sehingga bermanfaat bagi orang banyak. Terlebih lagi bila ilmunya itu bisa membuat apa yang dia peroleh (uang, pendapatan, privilege, pengakuan, dsb) menjadi meningkat.

Sehingga pengertian ceret, tidak hanya sampai kepada para bapak-bapak trainer yang saya contohkan di atas, tapi lebih jauh lagi bisa sampai kepada para pengusaha sukser, artis-artis sukses, orang yang berhasil dalam karirnya, orang yang sukses dengan profesinya. Karena mereka semua toh mendapatkan semua itu atas ilmu atau kepandaian yang mereka miliki. Sehingga pengamalan ilmunya, entah itu dalam bentuk mengajar, memimpin perusahaan, melakukan profesinya, tak ubahnya seperti air yang keluar dari teko atau ceret.

Bapak-bapak ceret ini, bagaimana pun juga sadar atau tidak sadar, bila dia tetap selalu ingin agar air ceretnya selalu dapat dinikmati banyak orang, sebagian agenda hidupnya akan terisi untuk mencari para gentong-gentong. Entah bisa ketemu langsung orangnya, mencari bukunya, menggagas makna-makna dari teori yang ditinggalkannya.

Sehingga, ..saya tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkannya secara mudah, tapi ungkapan sebenarnya mungkin bisa saya sampaikan,.. sebaiknya orang kaya selalu ingat gentongnya. Karena mungkin karena gentongnya-lah, kita-kita para ceret bisa menikmati apa yang kita peroleh saat ini.

 

30 Juni  2007

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga

 




Last Updated on Friday, 03 September 2010 10:40
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo