pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Artikel Pitoyo Amrih
Costumer Delightful PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 31 October 2009 07:00

Sesuatu yang sudah jamak bagi sebuah organisasi usaha bilamana mereka menempatkan laba sebagai tolok ukur utama unjuk kerja organisasinya. Beda dengan organisasi sosial misalnya, dimana fungsi pelayanan lebih utama, dan faktor laba seolah hanya sebagai tolok ukur keberlangsungan organisasi itu dalam menghidupi dirinya sendiri. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah bila sebuah organisasi usaha yang bisa mendapatkan labar yang besar, bisa dikatakan organisasi ini baik? Tak mudah menjawabnya. Karena saya yakin seorang pakar pun akan tidak bisa dengan mantabnya berkata ‘ya!’ tanpa melihat tolok-ukur tolok-ukur lain.

Terbukti era perdagangan saat ini, yang tentunya juga melibatkan pelaku organisasi usaha, ada istilah yang disebut ‘costumer satisfaction’, dengan berbagai metoda tolok ukur kuantitatif yang bisa selalu dilihat indeks pencapaiannya dari waktu ke waktu. Bila suatu saat turun, ada keinginan organisasi usaha itu untuk selalu memotivasi setiap lini fungsinya, agar meningkatkan indeks tingkat kepuasan pelanggan ini, entah itu pelanggan eksternal maupun internal, antar fungsi organisasi didalam perusahaan itu sendiri. Walaupun misalnya pada kenyataannya neraca pertumbuhan finansial mereka bagus. Mengapa?

Read more...
 
When Enough is Enough PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 19 August 2009 07:00

Bila anda sempat berkunjung ke kota Solo, ada suatu hal yang cukup khas menghiasi tepi-tepi jalan kota ini, bahkan mungkin sampai masuk ke jalan-jalan kecil kampung atau pun perumahan. Sebuah warung tenda sederhana yang menjajakan segala macam makanan, nasi bungkus, gorengan, makanan kecil ringan. Anda jangan bayangkan sebuah warung tenda modern warna warni yang ada di kawasan hunian modern, warung tenda khas Solo ini umumnya hanya ditutup kain terpal, nuansa gelap diterangi lampu minyak tanah, atau kalaupun lampu listrik, hanya berupa lampu remang-remang lima watt.

Sekitar lima belas tahun lalu, saya pernah memiliki langganan warung kaki lima ini. Sang penjual seorang bapak tua, yang di usia tuanya dengan tekun dia melayani pembeli. Segala macam profesi kehidupan pernah mampir di warung ini, sopir, polisi, tukang becak, pemulung, sales-man, dan selalu saja setiap malam para pelanggan ini juga seringkali bercerita kesana kemari tentang apa saja kepada bapak tua penjual. Semacam curahan hati. Dan sang bapak penjual, dalam ritual melayani si pelanggan itu, juga setia menjadi pendengar yang baik bagi si pembeli.

Read more...
 
What You See is not What You See PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 15 July 2009 07:00

Wajahnya terlihat garang, sorot matanya juga memancarkan sebuah pengalaman hidup yang keras. Seseorang dengan potongan cepak, terlihat parut luka di dagunya. Tubuhnya gempal berotot, memakai baju lengan pendek yang ketat, sehingga sangat jelas terlihat hiasan tato di lengannya yang kekar itu. Memesan makanan pada seorang penjual bakmi dengan suara yang lantang. Mungkin memang demikian cara bicaranya. Sebuah pemandangan yang saya yakin hampir semua orang akan sepakat kira-kira profil seperti apa orang ini. Mungkin ada yang langsung menyebutnya seorang preman dan menilai dia sebagai seorang yang keras, kasar, dan tidak begitu menghargai orang lain.

Tapi apa yang membuat saya kemudian menuliskan apa yang saya lihat saat itu, adalah, ketika pikiran saya tergiring kepada definisi seorang preman, apa yang saya lihat saat itu menjadi sebuah pemandangan yang ganjil. Si tubuh kekar wajah garang ini, dengan sabar dan santun menuntun seorang tua yang berjalan tertatih-tatih. Saat itu saya sedang menikmati makanan di sebuah warung bakmi, ketika kemudian sebuah mobil merapat di sisi warung di tepi jalan, seorang kekar berwajah garang, yang saya ceritakan tadi, keluar dari pintu pengemudi, bergegas setengah berlari menuju pintu depan kiri, membukanya, dan menuntun seorang tua itu. Keluar dari mobil, berjalan perlahan mengikuti irama jalan si orang tua, tanpa sama sekali menunjukkan wajah kesal atau buru-buru, sambil berteriak memesan makanan, menuju meja yang berseberangan dengan tempat saya duduk, sehingga saya dengan leluasa bisa melihat setiap gerak gerik mereka.

Read more...
 
Internet,.. Ancaman atau Kekuatankah? (3) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 27 June 2009 07:00

Terasa sekali, mulai sekitar sebulan lalu, kerja laptop saya menjadi amat sangat melambat. Buka file yang biasanya cepat, sejak sebulan lalu terasa berat. Saya juga tidak begitu paham benar mengapa bisa menjadi demikian. Teman-teman saya berpendapat bahwa laptop saya itu sudah terjangkiti banyak virus, worm, spy-ware, dan sebagainya. Akses internet dengan broadband yang biasanya cepat juga seperti menjadi tertatih-tatih. Saya yang sudah memasang jenis free antivirus yang selalu ter-update secara online ternyata belum cukup menangkal itu semua.

Kita manusia kebetulan memang hidup ditengah bermacam ragam sifat dan tabiat manusia. Ada baik, ada jahat, ada yang ramah, ada yang pendendam. Perlu telaahan yang tidak sederhana ketika kita coba memahami orang-orang yang secara sadar dan sengaja menggunakan keahliannya untuk membuat repot orang, seperti para pencipta virus komputer. Tapi itulah yang terjadi, suka atau tidak suka, ada orang-orang seperti mereka hidup di antara kita. Orang seperti ini ada, sama tuanya dengan usia teknologi komputer itu sendiri. Sama seperti sifat buruk dari seseorang, seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya, ada dan sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri.

Dulu sekali, ketika komputer masih lebih banyak bersifat stand alone, wabah merebaknya suatu jenis virus komputer juga tak seheboh sekarang. Dulu, bilasaja kita selalu disiplin untuk memantau setiap external disc yang dibaca komputer, maka sudah menyumbang solusi yang jitu untuk menangkal virus masuk ke hard disc komputer kita.

Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, orang beli atau memiliki komputer, entah itu desktop ataupun mobile, hampir bisa dipastikan bahwa komputer itu nantinya, atau paling tidak direncanakan untuk bisa terkoneksi dengan internet. Ditambah lagi saat ini, banyak sekali provider koneksi internet yang berlomba-lomba memberikan penawaran murah kepada konsumen. Sehingga selain perlu disiplin dalam hal tukar menukar data dari hard-drive, juga kita musti pandai-pandai dalam menyiapkan penangkal dari ancaman luar yang bisa jadi masuk ke dalam komputer dengan memanfaatkan koneksi internet.

Last Updated on Wednesday, 05 January 2011 11:45
Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 10 of 32
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo