pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Artikel Pitoyo Amrih
Wayang Membangun Budaya Konstruktif Bangsa PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 01 July 2011 15:07

(adalah catatan saya saat diminta sebagai pembicara dalam Seminar “Reinterpretasi dan Rekonstruksi Budaya Konstruktif, 28 Juni 2011, di Gd Nehru, Universitas Widya Mataram, Yogyakarta)

Kali ini tema yang diberikan panitia kepada saya, sedikit membuat saya tercenung berpikir keras. Dari makna yang ingin disampaikan memang sepertinya pilihan kalimat itu seperti menjadi satu-satunya pilihan, sehingga mungkin itu yang menjadi pertimbangan panitia, tetap memakai tema itu walaupun seperti menjadi asing di telinga. Apalagi ketika tema itu justru diangkat ke permukaan justru dalam rangka untuk mengumpulkan kembali puing-puing kearifan budaya lokal khususnya budaya Jawa.

Panitia memberi saya tema agar saya susun menjadi suatu makalah untuk sebuah diskusi. Yaitu “Reinterpretasi dan rekonstruksi budaya konstruktif”, saya bisa bayangkan anda pun bisa jadi merasa tercenung dengan tema ini. Dan benar, ketika sesi pertanyaan dalam diskusi itu dibuka, beberapa yang hadir melontarkan kritik terhadap panitia yang justru tidak membawa tema itu mem-“bumi” bagi tujuan diskusi itu sendiri yang sebenarnya berisikan semangat untuk mem-“bumi”-kan kembali budaya-budaya membangun yang sebenarnya sudah kita miliki yang terkadang tanpa sepenuhnya kita sadari.

Dalam seminar yang diselenggarakan pada tanggal 28 Juni 2011, ybl, bertempat di Gedung Nehru, Kampus Universitas Widya Mataram, Yogyakarta, ini juga cukup istimewa setelah beberapa kali saya diberi kehormatan untuk berbagi tentang penglihatan saya terhadap budaya Jawa, khususnya Wayang, di berbagai acara. Adalah ketika dari rencana terdapat tiga pembicara, mendadak dua pembicara berhalangan hadir. Sehingga alokasi waktu bagi saya untuk berbicara yang semula hanya sekitar empatpuluhan menit, pada kesempatan itu, karena praktis saya menjadi pembicara tunggal, maka panitia memberi saya kelonggaran waktu untuk berbicara memaparkan apa yang telah saya susun dalam presentasi saya. Lebih dari satu setengah jam waktu saya manfaatkan. Dan sesi tanya jawab setelah itu pun cukup hangat, sehingga acara yang semula direncanakan selesai jam duabelas pun molor ditutup sekitar jam satu siang.

 

 

Secara khusus bahan yang saya sampaikan saya beri judul “Wayang Membangun Budaya Kostruktif Bangsa”, diselaraskan dengan tema dan saya upayakan selalu berada dalam koridor kontribusi yang saya lakukan terhadap Wayang sebagai penulis novel Dunia Wayang. Anda bisa simak presentasi saya diatas sebagai panduan terhadap apa yang saya ringkaskan atas paparan saya ketika itu, dalam artikel ini.

Last Updated on Thursday, 07 July 2011 10:07
Read more...
 
Membuat Indah Hidup Ini... PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 21 June 2011 15:05

Ada sebuah ungkapan, saya lupa siapa pertama kali menulis, saya hanya ingat, ungkapan itu saya baca di majalah Intisari. Sebuah ungkapan yang saya ingat sampai sekarang: "..agama membuat hidup ini terarah,..ilmu membuat hidup ini menjadi mudah,.. dan seni membuat hidup ini menjadi indah..". Saya terkesan betul dengan kata-kata ini. Itulah mengapa di sela-sela waktu saya, ber-seni adalah sesuatu yang sangat penting. Saya tidak tahu apa yang dirasakan seseorang yang begitu taat pada keyakinannya, dan begitu pandai, tapi tidak bisa merasakan gairah sebuah seni. Tapi betul,.. saya punya seorang teman yang berprofesi sebagai dalang, beliau pernah berkata bahwa ada hal-hal yang otak manusia ini tak mampu untuk menggapainya lewat nalar dan rasio, di sanalah rasa akan menggapai, dan itu semua bisa diakomodasi dengan seni. Yang pada akhirnya bisa menciptakan imajinasi sebagai lokomotif bagi perkembangan ilmu, dan di ujung penelusuran rasa itu, suatu ketika hati kita bisa semakin mengenal kehadiran Sang Pencipta, sehingga bisa selalu menyegarkan semangat keyakinan kita.

Hal itu yang membuat saya juga merasa bertanggung jawab untuk memfasilitasi anak saya dalam mengenal seni, diluar pendidikan formal yang wajib dia jalani. Ketika seorang tua menganggap seni adalah suatu hal yang penting, maka tidak hanya sekedar menikmati seni, di sana juga ada tanggung jawab agar seni bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar saya, terutama oleh anak-anak saya. Dan tak terasa beberapa tahun berlalu, ketika anak saya mulai memperlihatkan bakat seninya.

Last Updated on Wednesday, 22 June 2011 11:21
Read more...
 
Social Media (2) : Social Media Tools PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 17 June 2011 11:00

(Bagian kedua dari lima artikel bersambung tentang Social Media – lanjutan tulisan sebelumnya)

Melakukan Social Media butuh alat (tools). Bisa saja alat tersebut kita buat sendiri, atau memang kita upayakan manfaat sebesar-besarnya dari apa yang saat ini tersedia. Sebelum kita bicara yang mungkin juga akan terlalu rumit bagi kepala saya, ada baiknya kita coba dulu melihat segalanya dari perspektif yang mudah-mudah saja. Alat bagi social media bila kita melongok teknologi kemarin mungkin kita mengenal cara-cara konvensional semacam menyebar brosur, buat event-event marketing campaign, seminar, forum diskusi, radio/TV talk-show, dan sebagainya. Nah, dari gambaran model tools social media konvensional ini, mari kita coba sama-sama diskusikan, ketika kita mencoba menggeser penglihatan kita pada teknologi apa yang ada saat ini bagi sebuah social media.

Contoh social media konvensional yang saya contohkan di atas, tentunya bila hal itu kita masukan kerangka cara pandang kita pada media konvensional, seperti people-gathering, radio, telephon, TV.  Modern Social Media (kalau saya boleh menyebut demikian, karena toh pada dasarnya istilah social media sendiri baru dikenal pada kehidupan modern saat ini), mau tidak mau kita harus menggeser kerangka pandang terhadap teknologi media pada teknologi paling terakhir yang mungkin ada. Secara umum teknologi ini memang berkutat pada hal-hal seputar multimedia dan internet. Tapi dari dua kata ini saja, didalamnya kita bisa menemukan begitu banyak kemungkinan social media tools yang sebagian besar diantaranya akan saya utarakan di bawah, dan bisa jadi pada prakteknya merupakan gabungan dari item-item yang disebut. Tidak tertutup kemungkinan ada variasi dan inovasi lain, tugas kita untuk selalu membuka lebar mata dan telinga  dan selalu mengasah ide kreatif kita.

Last Updated on Friday, 17 June 2011 12:55
Read more...
 
Social Media (1) : Social Brand dan Social Bussiness PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 06 June 2011 10:09

(Bagian pertama dari lima artikel bersambung tentang Social Media)

Beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya bertanya makna dari istilah yang saat ini sepertinya begitu sering terdengar di telinga. Social Media! Saya anggap sebagai terminologi yang relatif  baru dari bahasa asing yang mungkin boleh saya terjemahkan secara bebas dengan Media Sosial, media yang memfasilitasi interaksi social. Mengenai definisi ini mungkin boleh anda mendebat atau memberikan alternatif definisi yang lebih pas.

Menarik ketika dari sononya sendiri istilah ini sebenarnya masih ‘bergerak’ belum sampai pada sebuah kesepakatan tentang definisi baku sebuah istilah. Seorang teman chat saya dalam hal beginian kebetulan tinggal di Amerika dan kebetulan beberapa minggu lalu berpartisipasi dalam sebuah panel diskusi yang mencoba membuat ruang lingkup berbagai terminologi agar ketika hal ini menjadi sebuah istilah yang dipakai dalam diskusi resmi membawa setiap orang yang terlibat didalamnya pada satu perspektif yang sama. Adalah terminologi tentang Social Media, Social Brand dan Social Bussiness.

Last Updated on Monday, 06 June 2011 10:19
Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 7 of 32
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo