pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Artikel Pitoyo Amrih
Sangkuni Dalam Diri Kita PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 13 April 2012 10:54

Hiruk pikuk itu sepertinya sudah berakhir. Benarkah berakhir? Mungkin tak akan pernah berakhir. Menjelang 1 April beberapa waktu lalu, kita disuguhi hiruk pikuk oleh para elemen masyarakat, mahasiswa, yang turun ke jalan begitu masif, sebagian menggelar aksi damai sebagian berteriak-teriak sambil merusak. Ada yang sampai membakar mobil polisi, menyandera truk angkutan bahan bakar. Menuntut agar harga bahan bakar jangan sampai naik. Sebuah kejadian yang klasik sebenarnya. Karena dulu pernah terjadi, hampir selalu terjadi setiap kali ada rencana wacana harga BBM naik, dan kemungkinan akan selalu terjadi, karena bagaimanapun juga, cepat atau lambat, harga itu akan selalu naik selama kebutuhan selalu lebih besar dari ketersediaan.

Siapakah mereka? Benarkah mereka para mahasiswa? Ternyata memang benar sebagian dari mereka bisa dipastikan identitasnya sebagai para mahasiswa. Benarkah mereka memang benar-benar bertindak dalam rangka membela kepentingan rakyat kecil seperti yang mereka selalu teriakkan? Bila memang ya, benarkah mereka semua tahu duduk perkaranya, sehingga merasa bahwa apa yang akan diputuskan adalah sesuatu yang salah. Bila memang tahu permasalahannya, lalu mengapa mereka justru melakukan sesuatu yang bisa memperburuk keadaan yang justru akan semakin membuat rakyat yang sulit semakin sulit. Atau mungkinkah memang mental 'Lose-lose' yang lebih mereka sukai tinimbang memilih 'Win-win'.

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:47
Selengkapnya..
 
Kapan Kita Selesai Dengan Diri Kita? PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 31 March 2012 12:37

Beberapa hari lalu ada sebuah kalimat penggugah luar biasa keluar diucap Anies Baswedan dalam sebuah acara talk-show di sebuah stasiun televisi. Dalam pembicaraan itu, dia bersama tamu narasumber Dahlan Iskan dan Machfud MD. Berdiskusi tentang definisi dan kebutuhan akan seseorang dengan sikap kenegarawanan bagi pemimpin bangsa Indonesia. Sebuah kalimat yang saya ingat sampai sekarang, bahkan beberapa malam ini sempat selalu saya renungkan. Bung Anies mencoba menggaris bawahi definisi seseorang yang memiliki ciri-ciri kenegarawanan adalah seseorang yang salah satu tanda-tandanya, bahwa dia merasa ‘sudah selesai dengan dirinya’. Kalimat yang sederhana, dipikiran saya langsung bisa mendudukkan pada sebuah definisi yang sangat tepat mengena.

Seseorang yang ‘sudah selesai dengan dirinya ‘,.. hmm. Begitu jauh pikiran saya mencoba merenungi makna ini. Dalam acara itupun bung Anies mengutarakan keterangan penjelasan mengenai definisinya, bahwa setiap pemikiran seorang negarawan bangsa adalah ‘its not about me, its about this republik…’.

‘Sudah selesai dengan dirinya’, membawa pemahaman bahwa orang tersebut sudah selesai dengan kebutuhan bagi dirinya. Lalu pikiran saya pun mencoba membongkar-bongkar tentang apa itu kebutuhan manusia. Dan teorinya Abraham Maslow tentang ini mungkin bisa menjadi salah satu pijakan untuk memahami kebutuhan manusia.

Last Updated on Saturday, 31 March 2012 12:47
Read more...
 
Berbagi Cerita Tentang Wayang PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 19 March 2012 12:22

Sabtu, 17 Maret 2012, saya mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan saya tentang wayang dan proses kreatif penulisan novel wayang yang saya lakukan, dalam sebuah forum dengan tema “Wayang dan Pemuda Masa Kini” di komunitas Akademi Berbagi (Akber) wilayah Solo. Berikut catatan saya :

Perempuan muda ini begitu bersemangat memberi komentar terhadap apa yang sekitar satu setengah jam baru saja saya sampaikan tentang Wayang. Dia mengacungkan tangannya, tidak seperti yang lain yang bertanya, dia justru memberi komentar. Bukan komentar tentang saya, atau bagaimana saya berbicara tentang wayang, tapi tentang wayang sendiri. Dengan jujur dia berkata bahwa wayang begitu berjarak dengannya. Dia tidak pernah melihat pertunjukan wayang klasik. Dia hanya menganggap bahwa cerita-cerita fiksi babad tanah jawa yang beberapa sudah diangkat dalam layar kaca dalam bentuk sinetron, dengan penggarapan yang tidak begitu membuatnya tertarik untuk menonton, itulah yang menurutnya adalah wayang.

 

Last Updated on Monday, 19 March 2012 12:40
Read more...
 
Antara Jalan Raya, Waktu, Kendaraan dan Kita PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 23 February 2012 11:37

Berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir ini kita di suguhi berita-berita mengerikan tentang jalan raya yang merenggut banyak nyawa. Tentang seseorang yang ngebut, sementara dia sedang dalam kondisi tidak layak mengendara karena pengaruh obat sehingga sembilan nyawa harus berpulang di Tugu Tani, Jakarta. Tentang sekian banyak bus yang karena berbagai sebab telah menelan puluhan korban. Dan belum lama kemarin, saya juga membaca berita di koran lokal Surakarta, tempat saya tinggal, sebuah kejadian memilukan, dimana seorang bapak dan anaknya meninggal. Pagi hari saat ‘rush hour’ menjelang tenggat masuk sekolah, dengan mengendarai motor roda dua mereka diserempet sebuah truk tronton besar.

 

Rentetan kejadian itu seolah menguatkan sebuah persepsi yang sekarang merebak, bahwa jalan raya menjadi salah satu tempat yang paling berbahaya di atas bumi ini. Jalan raya yang dibuat oleh manusia sebagai jalur lalu-lalang untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya, digunakan secara bersama-sama oleh manusia, menjadi tempat yang berbahaya bagi manusia sendiri. Tidak hanya itu, kendaraan, yang pada dasarnya ‘hanya’-lah sebuah alat, dibuat oleh manusia, digunakan oleh manusia, tapi bisa jadi mengancam jiwa manusia sendiri.

 

Perkara siapa yang bersalah dari setiap kejadian di atas, biarkan proses hukum –yang juga dicipta oleh manusia sebagai bagian dari sistem kehidupan bernegara- yang berbicara. Tapi bila anda merenungi kalimat saya di alenia di atas, mungkin anda bisa merasakan apa yang coba saya tawarkan agar kita semua mencoba melihat dari perspektif yang lebih luas. Yang akan membawa kepada ujung tanggung jawab akan semua masalah itu adalah juga di pundak manusia, kita semua! Bukan hanya pelaku, bukan hanya pemerintah yang berwenang mengelola jalan raya, bukan hanya komunitas orang-orang di sekitar pelaku dan korban yang bisa jadi berkontribusi menyumbang mengantarkan perilaku sehingga sampai ke titik kejadian. Tapi juga mungkin saya, mungkin anda yang saat ini membaca tulisan saya, dan saya yakin mungkin juga seluruh manusia di muka bumi ini.

 

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 11:50
Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 5 of 32
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo