pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..memuaskan nafsu dahaga saya untuk menyelami dunia Wayang"
Ujang Dede Lasmana


Home
Seri Wacana Budaya
Sastra Hati Nurani Romo Mangun PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 15 March 2013 13:58

Pendapa di halaman luas belakang rumah dinas Walikota Solo itu memang terasa asri dan menentramkan. Sungguh tepat pengelenggara dalam hal ini Kompas meminjam tempat itu untuk membangun keindahan sebuah diskusi tentang karya YB. Mangunwijaya, atau orang akrab menyebut dengan nama Romo Mangun. Diskusi tentang karya esai, prosa maupun novel Romo Mangun yang pada akhirnya bermuara pada upaya menyelami, memahami dan berusaha mengerti segala ide, pemikiran, dan pilihan sikap beliau.

Pilihan pembicara utama di acara diskusi itu pun menurut saya juga cukup mewakili segala sisi perpektif untuk membuka cakrawala seluas-luasnya tentang Romo Mangun. Ada B. Rahmanto seorang dosen sastra yang tentunya akan melihat segala karya sang Romo dari sisi elok susastra. Kemudian sosok Emha Ainun Nadjib, yang mungkin diharapkan akan melihat karya Romo Mangun dari sisi spiritualitas. Mungkin itu yang dimaui panitia, karena toh agak sulit bagi kita untuk menempatkan Cak Nun ini pada sebuah kotak, karena dia pasti akan berada lepas dimana-mana. Kemudian ada Ayu Utami, yang saya sendiri di awal merasa yakin mbak Ayu Utami, bagaimana pun juga akan melihat dan membedah karya sang Romo dari sisi feminitas seorang perempuan. Kemudian yang disebut wakil dari seorang muda, seorang penggiat sastra dari Solo, Bandung Mawardi. Diskusi yang dengan tangkas bernas dipandu oleh Joko Pinurbo, yang banyak dikenal sebagai seorang penyair.


Last Updated on Saturday, 16 March 2013 06:31
Selengkapnya...
 
Novel Wayang untuk Perpustakaan Sekolah PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 03 August 2012 14:45

Mengapa Novel Wayang harus ada di Perpustakaan Sekolah? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya saya yakin kita semua setuju akan jawaban bahwa Novel Wayang harus tersedia di perpustakaan sekolah. Anda boleh mengunjungi sembarang sekolah di Indonesia, khususnya pulau Jawa, kemudian luangkan riset kecil tentang seberapa besar buku tentang budaya bangsa Indonesia tersedia di sana, dan di antara buku-buku tersebut, berapa tentang wayang?

‘..naskah wayang kebanyakan berat,.. kurang diminati oleh usia remaja..’, demikian salah satu pendapat mengemuka. Itulah mengapa menurut saya kisah wayang dalam bentuk novel perlu berada ditengah-tengah remaja kita. Bahasa novel lebih mudah diterima oleh semua kalangan terutama usia muda. Sebuah pendapat sempat mengemuka ketika setahun lalu saya kebetulan menjadi pembicara dalam sebuah seminar guru. Salah seorang peserta yang kebetulan kepala sekolah –yang kebetulan sudah membaca beberapa novel saya- memberi usul kepada saya agar novel-novel tersebut yang menurut beliau mudah diterima anak muda, dan tetap relevan masa kini, walaupun tetap memakai pakem cerita klasik versi Jawa, berada di perpustakaan sekolah.

Sebuah diskusi yang memberi gagasan bagi saya agar novel-novel saya bisa menjangkau perpustakaan sekolah, tersedia bagi para usia remaja. Gagasan ini semakin kuat ketika beberapa bulan lalu berkunjung ke Singapore, saya menyempatkan mampir ke Perpustakaan Nasional Singapore, dan beberapa novel saya ada di sana! Seharusnya novel-novel saya juga ada di perpustakaan sekolah-sekolah di negri kita! Andai saya memiliki sumberdaya dana yang tak terbatas, saya ingin mengisi semua perpustakaan sekolah di Indonesia dengan novel wayang saya, pernah saya mengkhayal demikian.

Last Updated on Friday, 03 August 2012 15:03
Selengkapnya..
 
PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 31 July 2012 12:25

“Menurut saya,.. lebih pas kalau adegan ‘Karna Tanding’..”, kata saya.


“… kenapa, mas?”, terdengar lagi suara di seberang telepon. Sejenak saya berpikir. Memang terkadang ada hal-hal yang menjadi pilihan lebih didasari pada hati dan perasaan. Bukan berarti keputusan atau pilihan dengan pertimbangan hati itu kurang logis, tapi pilihan perasaan itu biasanya terjadi karena rasa yang timbul, umumnya disana terdapat keterbatasan bahasa dan kata ganti untuk memberi makna pada rasa yang menjadi pertimbangan itu.


Adalah sepenggal pembicaraan telepon saya dengan seorang sekretaris direksi sebuah perusahaan. Perusahaan ini dalam waktu dekat akan melepas salah satu konsultan senior-nya yang sudah memasuki masa pensiun. Sebuah tanda kenangan atas kebersamaan yang terjalin begitu lama akan diberikan. Walaupun perusahaan ini menerapkan prinsip manajemen modern dalam budaya pengambilan keputusan mereka, namun perusahaan yang kebetulan berada di kota dengan budaya Jawa ini juga masih menjunjung tinggi karakter Jawa. Dan pilihan memberikan kenangan sebuah simbol karakter wayang kulit terbuat dari perak kepada salah seorang yang mereka anggap sangat berarti bagi pertumbuhan perusahaan sekian puluh tahun terakhir dianggap menjadi hal yang penting.

 

Last Updated on Tuesday, 31 July 2012 17:18
Selengkapnya..
 
Wayang Masa Depan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 22 June 2012 13:39


(Sebuah catatan atas diskusi “Menuju Wayang Masa Depan”, Taman Budaya Jawa Tengah, 13 Juni 2012)

“.. pertunjukkan wayang klasik itu biasa,.. itulah mengapa media juga menganggapnya biasa,.. membuatnya tidak selalu heboh..” demikian kurang lebih apa yang disampaikan sahabat saya, seorang pelopor penggiat komunitas Wayang Urban di Jakarta, mas Nanang Hape.

Berdiskusi tentang wayang memang tidak ada habisnya. Tapi mungkin itulah mengapa wayang sebagai bahan diskusi akan selalu terdengar dan disikapi secara biasa saja. Karena terdapat riwayat yang begitu panjang dan terbukti nafasnya, sejak jaman kerajaan Kediri sampai sekarang, tetap terjaga. Bahkan sampai mendapat pengakuan dari Unesco. Bagai seorang pelari marathon yang berlari secara perlahan, tapi akan terus berlari, sehingga jarak panjang yang harus ditempuh, setiap orang yang mendapatinya akan selalu melihat dia dalam keadaan berlari, walaupun perlahan.

Wayang terbukti sampai sekarang tidak terkikis habis, walaupun segala macam gempuran budaya pop kontemporer datang dan pergi. Sehingga kemudian disikapi secara biasa, masyarakat menganggapnya biasa, media juga membawa kepermukaan secara biasa. Jadilah semua perihal wayang menjadi terkesan biasa. Ada pertunjukan wayang kulit, ah, biasa,.. kemarin ada, besok juga pasti akan selalu ada. Mungkin demikian pendapat kebanyakan orang. Sehingga media tidak perlu banyak menyoroti.

wayang masa depan pic(foto dari kiri ke kanan : Ki Jlitheng Suparman (dalang Wayang Kampung Sebelah), Pitoyo Amrih (Novelis Dunia Wayang), Sinarto (Kepala Taman Budaya Jatim), Nanang Hape (Komunitas Wayang Urban)).

Yang luar biasa adalah ketika ada pertunjukkan wayang yang berbeda dari biasa. Para selebritas bermain wayang, tokoh politik ternyata bisa mendalang, bukan dalang ternyata memiliki peran melestarikan wayang, di sanalah media tertarik untuk meliput mengangkat. Sehingga wayang tetap terselip diantara gemuruh publikasi media. Tetap terdengar walau samar-samar. Bisa jadi kurang lebih seperti inilah, sebuah keresahan yang dirasakan oleh mas Nanang.

Saya juga kurang lebih setuju bahwa di jaman ini, peran media bisa menjadi salah satu kunci, apabila sesuatu hal ingin selalu berada dipermukaan, tetap eksis, menjadi kepedulian khalayak. Ketika sesuatu perlahan hilang dari media, maka tinggal menunggu waktu sesuatu itu juga akan hilang menjadi kenangan sejarah.

Last Updated on Wednesday, 03 September 2014 16:24
Selengkapnya..
 
Antareja dan Durna di Singapura PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 02 June 2012 21:42

“..bukumu ada di Perpustakaan sini, Pit… kamu musti lihat..”, begitu kalimat terlontar dari salah seorang sahabat yang tinggal di Singapura, ketika kami bertemu beberapa hari lalu saya berkesempatan beberapa hari tugas di negri itu. Di hari keempat saya di sana, sore hari kami pun menyusuri jalan Victoria Street, dari hotel ke arah utara. Sungguh kebetulan, hotel tempat saya menginap ternyata tidak begitu jauh dengan National Library Board of Singapore. Dan betul kata teman saya, kunjungan saya ke negri itu tidak boleh melewatkan agenda ‘menjenguk’ buku saya yang menjadi koleksi perpustakaan di sana.NLBSing2

Singapura adalah negri yang menarik. Sekitar setahun lalu juga saya pernah berkunjung ke sana. Tak banyak yang berubah. Semua tertata rapi. Segala infrastruktur dan prasarana kehidupan seolah ditata dan disiapkan begitu rupa dengan sempurna. Kereta MRT yang murah dan tak pernah terlambat. Lalu lintas yang terkelola kepadatannya. Taman kota yang selalu tertata rapi. Pejalan kaki yang ditempatkan lebih tinggi kedudukannya daripada pengguna jalan lainnya. Fasilitas yang juga selalu tersedia bagi para difabel. Saya yang kebetulan menginap di bilangan City Hall, dengan agenda seminar di gedung Suntec City, jarak yang harus ditempuh kurang lebih sekitar dua kilometer, tapi terasa nyaman dan tak terasa, ketika jalur jalan kaki ke sana menyusuri jalan bawah tanah bernama City-Link yang ditata bak super market dengan gerai-gerai toko aneka macam di kiri-kanan sepanjang perjalanan.

Belum lagi tentang aturan dan hukum yang dijunjung tinggi ditegakkan. Saya bahkan hampir tak pernah melihat lalu-lalang atau polisi penegak hukum di pinggir jalan. Tapi orang-orang itu begitu taat. Tak ada buang sampah sembarangan. Larangan merokok di tempat umum, membuat seorang perokok yang pernah saya jumpai seperti terpaksa malu-malu merokok di sudut pojok bangunan dan merasa kikuk bila ada orang melihatnya merokok. Tak ada corat-coret di dinding ataupun fasilitas umum yang rusak.

Last Updated on Saturday, 02 June 2012 21:59
Selengkapnya..
 
« StartPrev12345NextEnd »

Page 2 of 5
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo