pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku kisah pewayangan yang disajikan dengan gaya penulisan Novel, sangat enak dibaca dan membuat kita sulit melepaskannya. Sangat bagus, angkat jempol buat penulisnya !!!!"
Oei Djiang Ming


Home
Seri Kearifan Budaya Jawa
Integritas Rasa Nusantara PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 07 December 2012 08:06

(Tulisan dibawah adalah artikel yang saya buat dan dimuat di majalah internal perusahaan tempat saya bekerja. Saya pikir tak ada buruknya tulisan ini untuk juga dibagi ke semua, mengingat di dalamnya berisi perspektif nilai-nilai yang bersifat universal dan tak ada materi tulisan yang dapat mengganggu prinsip kode etik tugas dan tanggung jawab saya sebagai karyawan perusahaan)

 

Anda tentu mengenal tokoh wayang bernama Petruk. Dia orang baik. Seringkali menjadi olok-olok. Tapi dia orang baik. Apakah karena dia orang baik kemudian menjadi bahan olok-olok? Menurut saya itu adalah sebuah logika yang salah kaprah. Sama salah kaprahnya ketika misal kita menonton acara televisi yang memperlihatkan adegan saling menampar adalah sebuah dagelan dan kejadian orang terjerembab dari duduknya dianggap lucu.

 

Tapi demikianlah seorang Petruk. Ketika banyak orang menganggap tokoh ini hanya sekedar guyonan, dia tidak protes. Ketika Petruk hanya diingat kelucuannya, dia tidak kecil hati. Dia tetap melakukan pengabdian. Dia tetap mengingatkan rajanya yang mungkin suatu saat salah. Dia tetap melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dia tetap menjalankan apa yang menurutnya benar. Dia akan selalu memenuhi kewajiban atas apa yang selalu dia katakan. Dan sebuah istilah modern ternyata sampai juga akhirnya memberi predikat sifat itu. Seseorang yang memiliki integritas!

 

Last Updated on Friday, 07 December 2012 08:28
Selengkapnya...
 
Jagad Gedhe Jagad Cilik PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 26 November 2012 10:11

"Saya merasa, konsep 'jagad cilik'-jagad gedhe' di Serat Cipta Waskita sepertinya mirip dengan terminologi 'paradigm-principle' di buku Covey. Di Serat Cipta Waskita  yang berbunyi 'jagad cilik jenenge manungsa, batinira ... yen jagad gedhe Hyang Manon' .. mungkin bisa didekati bahwa pemahaman 'jagad gedhe' adalah apa yang benar-benar seharusnya terjadi,.. garis Tuhan.. Sunatullah.. hukum alam. 

'Jagad gedhe' mungkin tak akan pernah kita jangkau, tak bisa dengan tajam kita definisikan. Terhadap 'jagad gedhe', kita hanya bisa mempersepsikan, menelaah, membuat rumusan. Model, kesimpulan, peta di otak kita. Manusia yang melihat 'jagad gedhe' tak akan benar-benar melihat yang sebenarnya. Dia hanya memetakan penglihatan itu di kepala mereka sambil kemudian merekonstruksikannya dengan memadukan unsur pengalaman, pengetahuan, pendidikan, paradigma sebelumnya. Jadilah gambaran 'jagad gedhe' itu di kepala kita masing-masing, yang saya yakin peta 'jagad gedhe' berbeda-beda di kepala kita masing-masing. Padahal 'jagad gedhe' itu satu, unik, hakiki, ketentuan Ilahi. 

Last Updated on Monday, 26 November 2012 10:21
Selengkapnya...
 
Gentong dan Ceret PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 12 May 2012 10:41

Pengantar : Tulisan di bawah adalah penggalan di bab dalam Kata Pengantar, salah satu buku kumpulan artikel saya berjudul "Ilmu Kearifan Jawa" (Pinus, 2009). Beberapa waktu lalu saya baca lagi tulisan ini, untuk mengenang salah seorang tokoh budayawan dan jurnalis Surakarta yang telah berpulang, sekitar satu bulan lalu, KRT Kresna Handayaningrat, sering juga dipanggil dengan sebutan hormat 'pak Kanjeng'. Beliau secara pribadi pernah memberi saya sebuah bendel yang berisi kumpulan tulisan-tulisan beliau, baik yang pernah dipublikasikan maupun belum. Tulisan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap berbau supranatural. Namun bagi saya, tulisan-tulisan itu sangat ilmiah, hanya masih butuh pembelajaran, juga kedalaman hati dan pikiran untuk mampu melihat sisi lain yang masih gelap dari Ilmu Pengetahuan Semesta. Pak Kanjeng, yang saya anggap sebagai salah satu gentong saya.

 

Ada sebuah kisah perumpamaan yang cukup menarik yang selalu saya ingat sampai saat ini. Ditulis oleh Emha Ainun Nadjib di salah satu bukunya. Kisah yang menceritakan tentang Gentong dan Ceret.

Dalam wilayah rumah tangga tradisional Jawa. Ada perangkat yang disebut Gentong. Sebuah wadah tempat air yang cukup besar. Biasanya mampu menampung air antara duapuluh sampai limapuluh liter. Terbuat dari tanah liat. Rata-rata berbetuk seperti bola agak oval ke bawah, dengan mulut menghadap ke atas.

Gentong difungsikan untuk menampung air yang biasanya khusus air yang diperuntukkan untuk dimasak dan dimanfaatkan untuk minum atau membuat sayuran. Untuk fungsi demikian, air yang tertampung bisa dikatakan cukup banyak. Karena tuntutan untuk pengisian gentong kembali bisa dilakukan setiap satu minggu sekali. Sehingga fungsi Gentong sangatlah vital. Tapi tidak sepadan dengan fungsinya, perlakuan si empunya atau apa yang terjadi pada gentong tidaklah se-elok manfaatnya. Gentong selalu ditaruh di ujung belakang rumah, dibiarkan berdebu, terkadang posisinya tidak begitu terlihat, tertutup oleh barang-barang perkakas rumah tangga lainnya. Atau terkadang ruang tempat gentong berada, selalu juga sekalian difungsikan sebagai gudang. Gelap dan penuh dilingkupi jaring laba-laba.

Last Updated on Saturday, 12 May 2012 11:09
Selengkapnya..
 
Tampil Untuk Berani Mengalah PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 20 September 2011 10:05

(Sebuah perspektif dan renungan makna tembang “Mijil”). Tahun 1993, kira-kira beberapa minggu setelah wisuda sarjana, kakek saya menghadiahi sebuah bingkisan atas kelulusan saya. Berisi sebuah pena dan secarik kertas. Secarik kertas berisi syair tembang Macapat, yang berjudul “Mijil”. Saya ingat tembang itu juga pernah dilafalkan ketika saya usia SD sebagai salah satu bahan mata pelajaran sekolah. Dan seperti ketika sekolah dulu, saat saya membaca deretan kalimat “Mijil” di depan kakek saya, kala itu, juga terasa biasa saja. Namun waktu berjalan, sesekali juga saya membaca lagi syair “Mijil” itu. Semakin terasa ada makna di sana. Dan kini, ketika saya membaca lagi syair itu, saya semakin merasa, bahwa hadiah berupa catatan syair “Mijil” adalah sebuah hadiah yang sangat berharga bagi saya.

Saya yakin setiap orang yang memiliki akal sehat pasti berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi hari demi hari menjalani hidupnya. Tinggal mungkin masalahnya, persepsi dan definisi ‘baik’ bagi setiap orang pastilah berbeda-beda. Ada yang menganggap keadaan baik adalah ketika kita mencari kebenaran, upaya lebih baik hari demi hari bisa diartikan sebagai semakin luas mendapatkan penglihatan akan kebenaran. Sementara sebagian lain menganggap baik adalah mendapat keuntungan, bila esok hari aset yang dimilikinya lebih banyak maka berarti hari esok lebih baik daripada hari ini. Ada juga yang melihat pada tolok ukur kemenangan akan sebuah persaingan. Karir meningkat, semakin dikenal banyak orang, bagi kelompok orang ini akan dianggap sebagai sebuah perjalanan menjadi baik.

Last Updated on Tuesday, 20 September 2011 13:22
Read more...
 
Cakra Manggilingan PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 11 September 2011 10:32

Dunia berputar, semua pasti setuju. Berotasi berputar pada sumbunya, juga ber-revolusi berputar mengelilingi matahari. Kalau kita mau merenung, mungkin timbul pertanyaan, mengapa perputaran tak pernah berhenti? Akankah suatu saat berhenti? Bisa jadi kita akan menjawab memang begitulah kuasa Ilahi, namun mungkin kita bisa mengembangkan pertanyaan menjadi : Mengapa Tuhan membuat hukum alam yang demikian?

Saya mungkin bisa ceritakan sedikit pemahaman saya tentang filsafat hukum alam, tentang hal di atas, bukan pada pendekatan ilmu astronomi, tapi dari pendekatan kosmologi ilmu fisika alam. Dunia tak pernah berhenti berputar, karena konon seorang pintar cendekia fisika alam semesta pernah sampai kepada perenungan bahwa ‘entropi’ alam semesta ini menuju tak terhingga. Apa itu entropi? Sebuah pengertian sederhana tentang ini bisa didekati dengan gambaran sebuah ketidakstabilan. Entropi berjalan menuju tak hingga artinya semakin menuju ke-ketidakstabilan. Hukum alam Tuhan memang mengatakan sebuah kondisi tak stabil akan membuat ‘pergerakan’ untuk menuju ke-stabilan, tapi apa yang terjadi di alam hampir selalu, perjalanan  menuju ke-stabilan itu menyebabkan ke-ketidakstabilan ke-ketidakstabilan baru yang selisihnya justru semakin banyak ketidakstabilannya daripada ke-stabilannya. Perlu dahi berkerut untuk memikirkannya memang, tapi begitulah teori itu. Pemahaman yang membuat sang filsuf fisika ini konon menjalani kehidupan sufi dan tak henti-hentinya selalu memuja kebesaran Ilahi.

Last Updated on Sunday, 11 September 2011 16:40
Read more...
 
« StartPrev123NextEnd »

Page 1 of 3
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo