pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Pitoyo Amrih, menceritakan dengan gaya novelis yang mengasyikkan. Sehingga kita seperti dibawa dalam cerita dunia pewayangan yang penuh intrik, tipu maupun cerita heroik.."
Marbot


Home
Seri Cermin Dunia Wayang
Perjalanan Bima Mencari Sang Pencipta PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 14 October 2011 09:18

BimaBima adalah putra kedua Pandu. Sekaligus menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Bentuk fisiknya istimewa, karena memiliki tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tidak banyak bicara.

Dan ada yang istimewa dari Bima, yang ketika kecil sampai menjelang dewasa dijuluki Bratasena ini, yaitu ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Karena sekilas, tulang itu nampak seperti kuku yang menyembul. Dalam keadaan biasa, kuku ini hanya menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima bisa membuat kuku itu keluar memanjang, bahkan sampai sepanjang lengan! Kuku yang ternyata begitu tajam, bahkan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membuat tinju Bima begitu mematikan dan sangat ditakuti musuh-musuhnya. Karena selain dapat memukul juga dapat merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar biasa. Kunti, sang ibu, tidak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang tampak biasa dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti menjelang kelahiran Bima tampak begitu besar. Jalannya pun kepayahan, terkadang harus di tatih oleh para dayang. Dan ketika sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Semua orang terkejut, karena bayi yang keluar sebagian tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu tampak sehat, walaupun tak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang sudah lebar dan tajam. Sekilas tampak seperti sosok bayi besar yang terbungkus, yang bila diamati seksama, bungkus itu ternyata adalah ari-ari yang begitu kuat menempel di tubuh bayi besar dan seperti tak mungkin untuk dilepaskan.

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:51
Selengkapnya..
 
Yudhistira, Memimpin Perlawanan tanpa Melawan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 08 October 2011 08:32

yudhistiraDia adalah sulung Pandawa. Putra Raja Hastinapura Pandu Dewanata dengan permaisuri Dewi Kunti, putri kerajaan Mandura. Memiliki nama kecil Samiaji. Dari kecil banyak mendapat ilmu kautaman dari ayahnya, Pandu. Sejak kecil Samiaji belajar begitu banyak naskah-naskah kuno pustaka negri Hastinapura. Perjalanan batin dan pencarian makna kehidupan baginya, sudah dimulai sejak usia masih kanak-kanak. Sementara adik-adiknya lebih tertarik kepada ilmu kanuragan dan menggembleng diri mereka sehingga sakti mandraguna, Samiaji justru memperdalam ilmu kautaman. Kesaktiannya hanya sebatas kesaktian rata-rata seorang ksatria. Kepandaiannya memanah dan bermain pedang tidak begitu istimewa. Tapi pemahamannya akan berserah diri sebagai makhluk ciptaan Sang Pencipta, membuat segala pikiran, ucapan dan perilakunya seakan sejalan dengan kehendak alam.

 

Dari sisi tafsir kisah Dunia Wayang secara kejawen, Samiaji dikenal memiliki pemahaman yang begitu dalam akan makna ‘ngelmu suwung’. Dalam terminologi Jawa, ‘suwung’ berarti sebuah rumah yang kosong. Tidak hanya kosong ditinggal penghuninya, tapi juga kosong dari perabot dan segala macam isi rumah. Ngelmu Suwung, adalah pengertian dimana sang empunya bisa membawa diri pada pemahaman hidup bahwa dirinya tidak punya apa-apa, karena pada dasarnya segala yang ada dan merasa dipunyai, secara hakiki, adalah milik Sang Pencipta.

 

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:52
Selengkapnya..
 
Kepemimpinan ala Kresna PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 29 September 2011 09:53

KresnaKresna adalah salah seorang pemimpin yang memiliki karakter unik dan karisma tersendiri di era Mahabarata. Lahir di negri Mandura, dibesarkan dan digembleng di desa terpencil Widarakandang, yang masih menjadi bagian dari negri Mandura. Dan kemudian menjadi raja besar di negri Dwarawati. Kresna adalah seorang raja sekaligus politisi dan diplomat ulung di jamannya. Kresna adalah putra kedua Prabu Basudewa, raja dari Mandura. Basudewa yang memiliki tiga orang putra, yaitu Baladewa, yang memiliki nama muda Kakrasana, Narayana yang ketika bergelar raja bernama Kresna, dan Rara Ireng, yang kemudian dikenal dengan nama Dewi Wara Sumbadra.

Ketiga bersaudara putra Basudewa ini, sejak kecil dititipkan di padepokan Widarakandang, diasuh oleh Ki Demang Antagopa, dan istrinya Nyi Ken Sagupi. Ini terjadi ketika sebelum mereka bertiga lahir, menurut desas-desusnya, permaisuri Mandura, Dewi Maerah telah melahirkan seorang putra yang berwujud raksasa, dan beranjak remaja, bernama Kangsadewa yang sesumbar akan membunuh adik-adiknya bila mereka besar demi mendapat tahta Mandura. Sehingga demi keselamatan Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng, mereka disembunyikan di desa terpencil itu.

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:53
Selengkapnya..
 
Kekuasaan Yang Membuat Lupa PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 23 March 2007 07:00

Sulit memperkirakan apa yang ada dalam pikiran Duryudana, apa yang ada dikedalaman lubuk hatinya. Sang raja Hastinapura ini selalu lebih banyak diam pada setiap pertemuan petinggi kerajaan. Banyak orang menganggap dia sebagai orang yang keras kepala, sementara sebagian orang menganggap dia sebagai orang yang terpengaruh oleh hasutan sang patih Arya Sangkuni. Dan hampir semua pendapat itu selalu menempelkan sifat jahat dan keji pada diri Duryudana.

Sebagian besar rakyat Hastipapura sendiri terkadang kasak-kusuk mempergunjingkan keabsahan sang Duryudana dalam menduduki tahta pimpinan kerajaan. Karena pada kenyataannya sebenarnya bukan dia yang ditunjuk memerintah Hastinapura. Destarastra-lah, ayah dari Duryudana, yang sebenarnya untuk sementara waktu diminta memerintah Hastinapura atas mangkatnya Prabu Pandu Dewanata. Karena Samiaji, putra sulung Pandu dianggap masih terlalu muda untuk memimpin sebuah negri besar seperti Hastinapura.

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:57
Selengkapnya..
 
Benar dan Paling Benar PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 07 February 2007 00:00

Kumbakarna adalah seorang patriot. Seorang keturunan Bangsa Raksasa yang beda dari kebanyakan bangsa Raksasa. Wujud fisiknya seperti umumnya bangsa Raksasa, tinggi besar, lebih dari tiga kali tinggi bangsa manusia. Tapi hatinya,.. pemahamannya akan kehidupan begitu luhur. Dialah salah satu ksatria bangsa Raksasa yang senantiasa belajar dan berusaha untuk memahami sejati hidupnya. Bahkan sebagian orang menganggap dia sebagai seorang yang menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun hidup di dalam megahnya kehidupan istana Alengkadiraja.

Dan perang harus pecah. Sebuah perlawanan bangsa Manusia atas sikap semena-mena Raja Rahwana sang pimpinan Alengka. Sebuah pilihan sulit bagi Kumbakarna. Dia yang begitu menjunjung tinggi sikap ksatria, dan sangat tidak suka dengan keangkaramurkaan, sudah sejak awal dengan tegas tidak menyetujui sikap Rahwana, sang kakak, yang demikian jahat.

Dan ketika perang harus berkobar. Kumbakarna tetap harus memilih. Alengkadiraja adalah negri tanah tumpah darahnya. Negri yang memberinya kehidupan, penghidupan dan pembelajaran, sejak dia dilahirkan sampai pada pemahamannya sekarang ini. Dan Kumbakarna memilih untuk berjuang, terlibat perang, membela negrinya, walaupun dia tahu bahwa itu semua akibat sikap Rahwana yang salah.

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:56
Selengkapnya..
 
« StartPrev123NextEnd »

Page 3 of 3
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo