pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"cerita yang ditampilkan merupakan cerminan kehidupan masyarakat sekarang, bukan cerminan kehidupan masa lampau seperti kebanyakan cerita wayang yang ada"
Budi Adi Soewiryo


Home
Seri Bisnis di Internet
Social Media (4) : Siklus Social Media PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 24 August 2011 15:02

(Bagian ke-empat dari lima artikel bersambung tentang Social Media – lanjutan tulisan sebelumnya)

Lalu bangunan besar sebuah siklus Social Media kira-kira seperti apa? Darimana semua itu harus diawali? Bila saat ini kita melihat semuanya sudah begitu kompleks terpampang, rasanya memang bisa jadi memberikan rasa gamang. Langkah untuk memulai sebuah Social Media terasa begitu jauh untuk ditempuh. Sehingga saya pikir perlu untuk meminta anda sejenak menghilangkan begitu gaduhnya social media yang terjadi di jagat internet. Bayangkan kita berada pada sebuah komunitas internet bukan sebagai analogi sebuah kota besar yang begitu hingar bingar, tapi bayangkan sejenak kita saat ini berdiri di dunia maya yang tak lebih berupa sebuah pemukiman sepi di pegunungan.

Dan untuk memudahkan bayangan membangun social media itu, bayangkan bahwa hal itu merupakan kegiatan nyata di dunia nyata. Seumpama kita di sebuah desa terpencil di pegunungan itu memiliki sebuah toko cinderamata. Anda sebagai pemilik toko tersebut, kemudian bersosialisasi secara wajar seperti layaknya seseorang yang berada dalam sebuah komunitas dengan komunikasi yang sehat. Tiap pagi anda menyapa setiap pengunjung, keluar toko sesekali menyapa setiap orang yang lewat, menanyakan kesehatannya, kabar keluarganya dan sebagainya. Terkadang ada orang lewat yang cukup punya waktu untuk menghentikan langkahnya sejenak, ngobrol sana-sini, sampai akhirnya pembicaraan sampai kepada topik segala hal tentang toko anda. Anda pun tentunya merespon setiap pertanyaan, dengan jawaban-jawaban seolah sang penanya adalah calon pelanggan besar toko anda.

Last Updated on Thursday, 25 August 2011 08:05
Read more...
 
Social Media (3) : Social Media Formats PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 05 July 2011 16:13

(Bagian ketiga dari lima artikel bersambung tentang Social Media – lanjutan tulisan sebelumnya)

Melanjutkan pembicaraan kita pada artikel sebelumnya, sekarang mari kita coba analogikan dunia internet, ketika membangun social media dalam rangka SEO (Search Engine Optimization) ataupun SMM (Social Media Marketing), dengan sesuatu yang mudah misalnya kita akan membangun rumah. Yang disebut rumah sendiri, seumpama itulah Social Media. Sementara yang kita sebut Social Media Tools adalah alat-alat yang dibutuhkan untuk membangun rumah. Yang saya contohkan pada artikel sebelumnya bisa kita analogikan sebagai serok-pasirnya, palu, obeng, ember-semen, dan lain sebagainya.

Nah, sebuah rumah untuk dibangun pastilah butuh bahan. Ada semen, batu-bata, kayu, paku, keramik, dan sebagainya. Analogi bahan dalam social media bisa kita dekati dengan terminologi ‘Format’. Karena bagaimana pun juga, bahan penyusun social media adalah berupa perangkat lunak, maka yang menjadi pembeda adalah bagaimana tampilan file perangkat lunak itu. Itulah yang saya maksud sebagai format.

Saya akan coba buat daftar dengan penjelasan singkat apa saja format yang saat ini dipakai. Termasuk juga pemahaman kita, paling tidak pengertian awal akan pentingnya kompatibilitas format. Karena secara detail teknis hal ini memang membutuhkan telaahan yang cukup mendalam, dan para praktisinya memang butuh kompetensi minimal untuk mengaplikasikannya. Pilihan format itu kurang lebih bisa saya jabarkan sebagai berikut:

Last Updated on Wednesday, 06 July 2011 09:21
Read more...
 
Social Media (2) : Social Media Tools PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 17 June 2011 11:00

(Bagian kedua dari lima artikel bersambung tentang Social Media – lanjutan tulisan sebelumnya)

Melakukan Social Media butuh alat (tools). Bisa saja alat tersebut kita buat sendiri, atau memang kita upayakan manfaat sebesar-besarnya dari apa yang saat ini tersedia. Sebelum kita bicara yang mungkin juga akan terlalu rumit bagi kepala saya, ada baiknya kita coba dulu melihat segalanya dari perspektif yang mudah-mudah saja. Alat bagi social media bila kita melongok teknologi kemarin mungkin kita mengenal cara-cara konvensional semacam menyebar brosur, buat event-event marketing campaign, seminar, forum diskusi, radio/TV talk-show, dan sebagainya. Nah, dari gambaran model tools social media konvensional ini, mari kita coba sama-sama diskusikan, ketika kita mencoba menggeser penglihatan kita pada teknologi apa yang ada saat ini bagi sebuah social media.

Contoh social media konvensional yang saya contohkan di atas, tentunya bila hal itu kita masukan kerangka cara pandang kita pada media konvensional, seperti people-gathering, radio, telephon, TV.  Modern Social Media (kalau saya boleh menyebut demikian, karena toh pada dasarnya istilah social media sendiri baru dikenal pada kehidupan modern saat ini), mau tidak mau kita harus menggeser kerangka pandang terhadap teknologi media pada teknologi paling terakhir yang mungkin ada. Secara umum teknologi ini memang berkutat pada hal-hal seputar multimedia dan internet. Tapi dari dua kata ini saja, didalamnya kita bisa menemukan begitu banyak kemungkinan social media tools yang sebagian besar diantaranya akan saya utarakan di bawah, dan bisa jadi pada prakteknya merupakan gabungan dari item-item yang disebut. Tidak tertutup kemungkinan ada variasi dan inovasi lain, tugas kita untuk selalu membuka lebar mata dan telinga  dan selalu mengasah ide kreatif kita.

Last Updated on Friday, 17 June 2011 12:55
Read more...
 
Social Media (1) : Social Brand dan Social Bussiness PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 06 June 2011 10:09

(Bagian pertama dari lima artikel bersambung tentang Social Media)

Beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya bertanya makna dari istilah yang saat ini sepertinya begitu sering terdengar di telinga. Social Media! Saya anggap sebagai terminologi yang relatif  baru dari bahasa asing yang mungkin boleh saya terjemahkan secara bebas dengan Media Sosial, media yang memfasilitasi interaksi social. Mengenai definisi ini mungkin boleh anda mendebat atau memberikan alternatif definisi yang lebih pas.

Menarik ketika dari sononya sendiri istilah ini sebenarnya masih ‘bergerak’ belum sampai pada sebuah kesepakatan tentang definisi baku sebuah istilah. Seorang teman chat saya dalam hal beginian kebetulan tinggal di Amerika dan kebetulan beberapa minggu lalu berpartisipasi dalam sebuah panel diskusi yang mencoba membuat ruang lingkup berbagai terminologi agar ketika hal ini menjadi sebuah istilah yang dipakai dalam diskusi resmi membawa setiap orang yang terlibat didalamnya pada satu perspektif yang sama. Adalah terminologi tentang Social Media, Social Brand dan Social Bussiness.

Last Updated on Monday, 06 June 2011 10:19
Read more...
 
Revolusi Budaya Komunikasi PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 08 March 2011 12:35

Mungkin sudah basi kalau saya bercerita terlalu banyak tentang Facebook, Twitter dan semacamnya. Teknologi memang tengah melaju begitu cepat. Diikuti dengan budaya masyarakat pengguna teknologi yang juga ikut berlari mengikuti kemana arah teknologi menuju. Dan disinilah kita saat ini berada, generasi yang tiba-tiba berada pada situasi bahwa komunikasi begitu mudah. Sebuah evolusi budaya diam, menjadi budaya lisan, melalui komunikasi verbal, kemudian ber-evolusi menjadi budaya tulisan melalui komunikasi dalam bentuk artikel, buku, karya sastra, seakan semua itu menjadi tergempur begitu saja ber-revolusi menjadi sebuah budaya internet. Saya sebut demikian karena untuk sementara, saya belum bisa menemukan istilah yang pas bagi gegap gempita perubahan budaya komunikasi ini.

Budaya diam, dimana bentuk komunikasi kala itu lebih banyak diekspresikan melalui karya berwujud benda, baik iptek maupun seni, seperti gedung, patung, wahana, foto, akan sangat bersifat lokal. Hanya bisa terkomunikasi kepada komunitas dimana benda itu berada. Mungkin penemuan teknologi telepon dan radio, yang mendorong evolusi budaya lisan, dimana komunikasi diolah menjadi sebuah bahasa untuk diucap. Definisi lokal menjadi semakin luas menjangkau komunitas sekitar.

Last Updated on Tuesday, 08 March 2011 12:39
Read more...
 
« StartPrev12345678NextEnd »

Page 1 of 8
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo