pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..karangan Pak Pitoyo Amrih, saya sudah baca semuanya!"
Intan Laksmi


Home
Seri Belajar Kaya
Tak Perlu Berlagak Kaya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 30 May 2007 07:00

“Eh, mbak Caca (bukan nama sebenarnya),.. liburan anak-anak, ada rencana pergi kemana, mbak..?

“Aduh, mbak Reza (juga bukan nama sebenarnya),.. nggak tahu ya mbak, cuman, anak saya itu,… kalo liburan panjang biasanya penginnya ke Singapore atau ke Australi. Yaaa.. namanya juga anak-anak…”

Seorang ibu muda yang lain, yang sedari tadi mengikuti pembicaraan tadi, juga tak kalah gesit menimpali mereka. Sebut saja mbak Widi namanya. “Aduuh, coba kalo suamiku tidak sedang sibuk-sibuknya ngurusi proyek, pasti deh juga nyusul ke Singapore,..” begitu katanya. “Nggak tahu, tuh, apa proyek kantornya,..kerjanya bolak-balik kalo nggak ke Jakarta,..ya, Singapore…” lanjutnya. “Paling-paling liburan nanti bisanya cuman ke Bali aja,… hotel bintang lima yang bagus di sana apa, yaaa..?”

Siang itu saya kebetulan berkesempatan menjemput sendiri anak saya di sekolah. Dan kebetulan di ruang tunggu sekolah itu, kata-kata pembicaraan di atas tertangkap oleh telinga saya. Sebuah pembicaraan yang menarik menurut saya. Sungguh! Kalimat-kalimat percakapan, yang semula saya berpikir hanya ada pada naskah-naskah sinetron, ternyata kalimat-kalimat itu bisa muncul di sebuah kehidupan nyata. Dan ada di sekitar saya.

Percakapan mereka kemudian masih berlanjut cukup lama. Saya tidak ingat secara detailnya, tapi yang saya rasakan, dan mungkin juga dirasakan pada semua orang yang mendengar mereka. Seolah mereka berusaha untuk berlomba memperlihatkan kepada siapa pun yang mendengar mereka bahwa mereka adalah orang kaya.

Last Updated on Thursday, 26 August 2010 16:07
Read more...
 
Tidak Ada Jalan Pintas Menjadi Kaya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 15 May 2007 07:00

Beberapa minggu ini, orang-orang cukup dibuat bertanya-tanya akan kehadiran sebuah iklan yang agak nyeleneh. Muncul dihampir semua suratkabar terkenal dan televisi, disitu tergambar jelas, ada mobil yang seolah nemplok di atas atap rumah, ada mobil yang nyangkut di atas pohon, mobil yang seperti karam di bawa ombak laut ke tepi. Aneh-aneh aja idenya memang. Tapi terbilang iklan ini cukup sukses, paling tidak membuat setiap orang yang melihat, sejenak berhenti, mengernyitkan dahi, dan bertanya-tanya apa gerangan itu semua.

Beberapa hari kemudian memang itu terjawab sudah. Sebuah iklan dari salah satu bank, yang berusaha memberikan persuasi bila anda menjadi nasabahnya, bisa harus bersiap-siap tertimpa mobil dan sebagainya. Secara ide, bagi saya tidak ada yang baru. Hanya saja cara mengemasnya, yang seolah sempat membuat semacam ‘suspend’ , sehingga orang bertanya-tanya.

Saya sebut secara ide, tidak ada yang baru. Coba kita simak, kalo kita menjadi nasabah anu, siap-siap mendapat durian runtuh. Menjadi nasabah bank itu, bakalan dibagi mobil tiap hari. Nabung di bank sana, terserah bebas memilih apa hadiahnya. Tidak hanya promosi bank saya kira. Hampir semua promosi, seakan basi bila tanpa diembel-embeli ‘trade-promo’ yang memberi janji akan hadiah dibuat sedemikian sehingga begitu menggiurkan. Deterjen dengan hadiah uang belanja setahun, obat nyamuk berhadiah mobil, minuman berhadiah satu milyard. Sampai-sampai ada salah seorang tetangga saya rela menumpuk pembelian sabun mandi yang belum pernah dia beli, hanya untuk berharap mendapatkan sebuah cincin berlian di dalam sabun itu.

Last Updated on Thursday, 26 August 2010 16:04
Read more...
 
Kaya Dengan Hidup Sehat PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 29 April 2007 07:00

Tahukah anda bahwa sebungkus rokok bahkan ada yang harganya sama dengan satu kilogram apel segar? Saya yakin semua orang sepakat bahwa rokok memberikan dampak buruk yang jauh lebih banyak bagi kita, daripada kegunaannya. Dan semua orang tahu bahwa apel segar sangatlah bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. Tapi kenapa sebagian besar dari kita lebih suka membelanjakan uangnya untuk sebungkus rokok daripada satu kilo apel segar. Bahkan kalau dihitung setiap harinya, ada orang yang sampai membelanjakan satu bungkus rokok bahkan lebih satu harinya. Sedangkan satu kilo apel, normalnya untuk satu orang bisa untuk dua-tiga hari.

Bagi saya, ini adalah salah satu hal yang aneh yang menimpa kita manusia. Bahkan dibungkus rokok sudah jelas-jelas ditulis peringatan pemerintah akan bahayanya merokok. Tapi sebagian orang ini lebih suka merokok dari pada menikmati sebuah apel segar!

Merokok, adalah salah satu contoh dimana kita manusia masih menganggap tidak begitu penting kebiasaan pola hidup sehat. Saya yakin hampir semua dari kita bisa dengan lancar menyebutkan bagaimana berpola hidup sehat. Makan tidak berlebihan, utamakan kebutuhan serat, seimbangkan makanan berkalori dengan aktifitas, olahraga, istirahat cukup, mampu memimpin diri sendiri untuk mengelola stress sebaik-baiknya. Dan itu semua penting, kenapa?.. Karena pada dasarnya aset yang paling berharga dari kita adalah apa yang ada pada diri kita. Badan kita secara fisik, pikiran kita, hati kita. Dan itulah kekayaan kita yang paling berharga.

Last Updated on Thursday, 26 August 2010 16:00
Read more...
 
Kaya Dengan Hidup Sederhana PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 14 April 2007 07:00

Saya terkadang bingung, jika suatu kali ada pembicaraan yang kemudian menjurus kepada hakekat arti sebuah kata ‘kaya’. Seperti yang beberapa waktu lalu, ada orang yang berkata kepada saya ditengah sebuah perhelatan mewah sebuah pesta. Orang ini berkomentar terhadap sang empunya pesta. “enak ya,.. jadi orang kaya..” katanya. Bingung saya bukan kepada arti kata ‘kaya’ itu sendiri. Tapi kepada kita manusia yang sudah sekian ribu tahun generasi menghidupi dunia ini, masih menempelkan arti kata kaya kepada sesuatu yang bersifat materi saja.

Tapi mungkin ini bukan salah siapa-siapa. Mungkin juga dalam bidang bahasa, kaya memang dimaksudkan dengan arti demikian. Namun pertanyaan yang timbul kemudian adalah kenapa harus begitu? Apakah sebuah kekayaan –bila itu diartikan sebagai kepemilikan atas materi diatas rata-rata kebanyakan orang- begitu penting?

Mungkin anda akan menimpali dengan nada tinggi, bahwa jelas itu penting! Masuk sekolah harus pakai uang. Sakit, akan banyak kemungkinan sembuh bila kita punya uang. Dihargai dan dihormati orang sepertinya akan lebih mudah bila punya uang. Menjalani hidup tampak begitu enak bila punya uang –seperti komentar kenalan saya di depan tulisan ini di atas-.

Lalu kenapa demikian?

Last Updated on Thursday, 26 August 2010 15:36
Read more...
 
Taat Aturan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 30 March 2007 07:00

Ah! Hampir saja! Hampir saja kendaraan roda dua itu diseruduk sebuah mobil mewah. Sebuah kejadian tepat di depan mata saya, saya berhenti di lampu merah di mulut sebuah perempatan. Jalan melintang di sisi kiri dan kanan saya saat itu giliran hijau, dan jalan di depan saya arah berlawanan tentunya sama seperti saya, mendapat giliran lampu merah. Kendaraan roda dua segera memacu dari jalan arah kanan saya, begitu lampu hijau, sepertinya sang pengendara buru-buru. Tapi pada saat yang sama sebuah mobil sedan mewah melaju dari arah depan menyerobot lampu merah. Bunyi berdecit menggema, untunglah roda dua itu gesit berkelit, sementara sang mobil sejenak mengerem, dan melaju kembali dengan tenangnya. Dibalik kaca hitam itu masih terlihat seorang muda berdasi sambil masih menggenggam telepon genggam di telinganya, menoleh sekilas atas kejadian itu dan berlalu melewati saya.

Melihat kejadian itu, saya hanya bisa tercenung, membuat saya teringat salah satu motto sebuah iklan rokok: tanya kenapa? Tapi itu mungkin memang menarik untuk sedikit dikupas. Sang pengemudi mobil, terlihat dari penampilannya, kemungkinan adalah sang pemilik mobil, dan memiliki mobil jenis itu, pastilah banyak duit, tapi kenapa melanggar lampu merah? Apakah sebuah lampu merah tidak terlalu penting bagi kemendesakkan urusannya? Apakah keselamatan orang lain –juga keselamatan dirinya sendiri- masih tidak begitu penting dibanding dengan keburu-buruannya.

Last Updated on Thursday, 26 August 2010 15:57
Read more...
 
« StartPrev123NextEnd »

Page 2 of 3
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo