pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Saya sudah lama menjadi penggemar,.. sejak novel Darkness of Gatotkaca, dan saya selalu terinspirasi oleh tulisan tulisan pak Pitoyo.. "
Hendranto Pratama


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Menghakimi PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 26 September 2008 07:00

Sebuah pemandangan yang memilukan! Wajah orang itu nampak penuh luka, bengkak-bengkak, dan guratan darah di sana-sini. Saya tak tega berlama-lama memandang wajah orang ini. Sebuah pengalaman baru malam itu yang cukup lama membuat saya tercenung malam harinya. Beribu pertanyaan ‘mengapa’, memenuhi kepala saya.

Kejadian yang terjadi beberapa hari lalu. Selepas sholat tarawih, kampung sebelah perumahan tempat saya tinggal dikejutkan oleh teriakan ‘maling’ yang menggema di ketenangan malam. Saya sendiri tidak begitu paham bagaimana detail kejadiannya. Bagaimana sampai sang pencuri itu mencuri. Bagaimana dia kemudian ketahuan. Bagaimana kemudian kabarnya puluhan orang langsung ‘menyerbu’-nya. Saya hanya kebetulan lewat di tempat kejadian ketika orang yang dicurigai mencuri itu digelandang. Sehingga pemandangan memilukan wajah luka itu sempat terlihat oleh mata saya di keremangan malam.

Read more...
 
Menjadi Berguna dan Berkompeten PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 11 September 2008 07:00

Beberapa hari terakhir ini, kembali terlintas di pikiran saya sebuah pesan yang pernah diberikan oleh almarhum kakek saya, sekitar limabelas tahun lalu. Kebetulan saat ini saya sedang menulis buku saya yang ke-enam, yang rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat, masih dalam rangka menggali budaya dan kearifan-kearifan Jawa. Dan ketika saya harus menggali bahan-bahan, buku-buku, saya kembali menemukan sepenggal bagian dari tembang Mijil yang membuat saya merenung begitu dalam. Jabaran dari tembang Mijil ini-lah yang menjadi salah satu pesan kakek saya ketika itu. Sebuah deretan kalimat yang sama, yang digagas dan direnungi dalam beda kurun waktu limabelas tahun, saat ini saya melihat pesan itu menjadi sebuah nasehat yang begitu dalam maknanya.

Tiga bait pertama dalam tembang tersebut, yang berbunyi :

Dedalane Guna lawan Sekti

Kudu Andhap Asor

Wani Ngalah Dhuwur (Luhur) Wekasane

Ketika pertama kali pesan itu disampaikan kepada saya beserta penjelasannya waktu itu, sungguh saya hanya mendengar itu tak lebih dari sebuah kata-kata simbol yang mungkin hanya bersifat klasik. Tapi saat ini ketika saya merenungi kembali kata-kata itu. Walaupun dengan pengungkapan yang berbeda, saya merasakan bahwa ungkapan bait-bait ini mirip sekali dengan semangat kebiasaan Menang-menang yang dikemukakan Stephen Covey dibukunya 7 Habits of Highly Effective People.

Read more...
 
Para Pejuang Ekstrim PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 29 August 2008 07:00

Minggu lalu, selama beberapa hari, saya kebetulan bertugas ke kota yang sampai saat ini, tak henti-hentinya saya memberi predikat sebagai kota yang memiliki penduduk yang sangat luar biasa. Kota Jakarta! Walaupun saya cukup rutin mengunjungi kota itu, tapi pada setiap saya kembali menginjakkan kaki di sana melihat di sekeliling, rasa kagum itu tak pernah berhenti.

Terkadang dalam hati, saya selalu menjuluki penduduk kota Jakarta dengan sebutan para pejuang ekstrim. Bukan dalam hal ketahanan fisik mereka terhadap tuntutan ritme kerja mereka, tapi lebih kepada kehebatan mereka dalam mengelola perasaan terhadap suasana seperti itu sepanjang hidup mereka.

Saya bukannya menafikkan penduduk kota lain, bahwa mereka pasti mengalami tekanan kehidupan yang lebih ringan, tapi saya sendiri yang berdomisili di Solo, merasakan bentuk perjuangan itu beda. Bentuk perjuangan kehidupan yang tidak hanya mengelola stamina fisik, tapi tuntutan stamina hati yang lebih. Karena kalau direnungi lebih dalam dari sisi stamina fisik, saya yang tinggal di sekitar lingkungan persawahan, hampir setiap hari melihat bagaimana bapak-bapak petani yang setelah subuh harus sudah pergi ke sawah yang mereka garap, seharian bekerja di bawah terik matahari, seharian bergulat dengan lumpur, dan pulang kembali ke rumah menjelang petang. Alokasi waktu sepertinya kurang lebih sama. Ada juga saya kenal dengan seorang pedagang sate ayam, yang tiap hari, dimulai setelah subuh sudah berbelanja ayam, memotong, menguliti, menyiapkan tusuk satenya, dan seterusnya dilakukan selama seharian. Sore hari dia harus membuka warung satenya, dan tutup kira-kira hampir tengah malam. Waktu yang digunakan selama sehari untuk bekerja bahkan lebih panjang. Lelah fisiknya juga demikian, sepadan dengan teman-teman yang tinggal di kota besar.

Read more...
 
Menembus Batas PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 17 August 2008 07:00

Minggu lalu boleh jadi adalah sebuah sejarah dalam hidup saya, dimana saat itu untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan darat ke Bandung mengendarai mobil memegang stir sendiri. Jarak Solo-Bandung, odometer mobil saya mencatat empatratus limapuluh kilometer lebih sekali jalan, adalah jarak terpanjang yang pernah saya lakukan dalam berkendara membawa mobil sendiri. Dan itu saya lakukan pulang pergi. Saya catat perjalanan selama sebelas setengah jam saat berangkat, dan duabelas jam saat pulang dua hari kemudian.

Bisa jadi bagi sebagian besar orang, jarak sejauh itu adalah jarak yang tergolong biasa saja. Terutama bagi bapak-bapak yang memang berprofensi sebagai sopir angkutan umum antar propinsi. Tapi bagi saya, hal itu adalah sesuatu yang luar biasa. Pada saat itu seolah saya telah menembus batas kemampuan saya selama ini dalam mengendara mobil sekali tancap. Biasanya paling jauh, saya mengendara sendiri mobil saya, paling hanya seputaran Solo-Yogya atau Solo-Semarang. Bila bepergian sampai jauh, biasanya saya memilih dengan kendaraan umum. Dan minggu kemarin saya telah berketetapan hati untuk menaikkan batas kemampuan saya dalam berkendara. Sesuatu yang selama ini, untuk memulai selalu dihantui perasaan ‘mampu nggak yaa?’

Read more...
 
Diuji Dengan Kenyamanan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 07 August 2008 07:00

“..dia sedang menghadapi ujian dalam hidupnya..”, bila saja anda mendengar kalimat tersebut, saya berani memastikan bahwa persepsi dalam melihat si ‘dia’ pastilah saat ini sedang mengalami kesusahan. Sedang terlibat kasus hukum misalnya, mengalami tekanan ekonomi, dan sebagainya. Jarang sekali dari kita yang mengagas persepsi umum terhadap istilah ‘ujian’ ini, bahwa pada seseorang yang mendapat kesenangan atau kenyamanan pun bisa jadi dia sedang mendapat ujian.

Saya bisa berpikir seperti ini, karena dalam kosa kata bahasa Indonesia sendiri hanya dikenal satu kata dalam konteks ini, yaitu ‘diuji’. Dan dengan kata ganti ini, persepsi hampir semua orang bergeser pada pengertian bahwa ‘diuji’ adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah kondisi susah. Sesuatu yang sebenarnya justru menjadi menyempit. Ketika kata itu sendiri justru mengecil artinya.

Setiap individu seharusnya memiliki tujuan dalam hidupnya. Memiliki sebuah misi pribadi. Mission Statement kalau kita meminjam istilahnya Stephen Covey pada habit ‘Begin With The End in Mind’. Cpvey mengajarkan kita untuk suatu ketika menuliskan apa misi hidup kita di dunia ini, setiap kali secara rutin harus melakukan review kembali. Untuk mungkin dilengkapi, atau tetap seperti itu dan membuat semakin kuat pemahaman atas misi itu, atau mungkin dirubah sama sekali menjadi sebuah misi yang baru. Setiap orang pastilah berbeda misi hidupnya. Hal ini sah-sah saja. Karena memang sudah menjadi anugrah dari Sang Pencipta, bahwa manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada benar atau salah dalam misi hidup seseorang, yang penting harus ada selalu proses pembelajaran orang tersebut dalam mensikapi kehidupannya.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 7 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo