pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku Memburu Kurawa mas Pitoyo Amrih bener bener bikin saya males tidur, ngga berasa 1 jam lagi dah mo sahur.."
Uda Dede Desmond


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Cermin Perilaku di Jalan, Cermin Perilaku Diri Kita PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 03 December 2008 07:00

Setiap pagi, Senin sampai Jumat, saya selalu mengantar anak saya ke sekolah. Berangkat sekitar pukul setengah tujuh dari rumah. Tidak begitu jauh sih, .. hanya sekitar empat kilometer dari rumah, melewati sekitar tujuh perempatan, lima diantaranya perempatan kecil menuju jalan besar, tanpa traffic-light. Yang bisa anda bayangkan pada jam-jam segitu tentunya begitu sibuk intensitas lalu-lalang orang berkendara, terutama para pengantar sekolah, atau pun juga para anak sekolah itu sendiri, bersepeda, dan berkendara motor.

Bagi anda mungkin tidak ada yang begitu istimewa dengan ‘ritual’ yang saya lakukan di atas, tapi sungguh, tiap pagi saya disuguhi pemandangan yang bagi saya cukup mengharukan dan selalu membuat hati saya tersentuh.

Memang dari kacamata saya, lingkungan tempat saya tinggal masihlah bisa digolongkan sebagai lingkungan pinggiran kota yang tidak terlalu besar. Perbatasan selatan kota Solo, walaupun saya rasakan memiliki kadar kesibukan yang kurang lebih sama di jam-jam sibuk, tapi bila berkendara di sini, perasaan itu tidak begitu resah memburu, dibanding bila berkendara di kota besar seperti Semarang, Surabaya, Bandung, atau bahkan Jakarta.

Pada jam intensitas lalu lintas yang tinggi, bahkan jalan raya kota Solo pun seringkali macet, walaupun tidak sampai berjam-jam tentunya. Tapi suasana macet itu terasa ringan setiap kali saya coba pandangi sorot mata dan wajah para pelaku kemacetan itu. Beda sekali dengan misal ketika saya sesekali ke Semarang, Bandung, atau bahkan Jakarta. Wajah-wajah pelaku macet di jalan itu begitu tegang, memasang muka tajam, dahi berkerut, dan hampir tak pernah saya melihat mereka tersenyum.

Read more...
 
Kita Harus Berubah PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 20 November 2008 07:00

Semua yang ada di sekitar kita berubah! Semua apa yang bisa ditangkap oleh panca indera kita berubah! Dan bila anda coba renungi, semakin ke sini, perubahan itu semakin cepat! Coba anda tengok sejarah, era seribu tahun lalu, orang hanya mengenal siapa saja yang hanya ada di sekitar kehidupannya secara fisik. Beberapa orang mungkin bisa mengenal orang-orang, jauh dari tempat dia dilahirkan, tapi itupun harus dilalui dengan keberanian untuk melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, kebanyakan perjalanan darat, kalaupun ada perjalanan laut hanya terbatas pada jarak pendek antar pulau, karena perahu yang bisa tercipta hanya perahu ukuran kecil. Seperti sejarah mengenal Marco Polo, pelaut Viking, Columbus.

Kita tengok di era seratusan tahun lalu. Revolusi Industri di Eropa, merubah budaya. Kapal-kapal besar tercipta, jalan darat pun bisa dilakukan lebih cepat dengan kendaraan bermesin. Membuat semakin banyak orang pergi dari tempatnya tinggal. Semakin banyak orang pergi lebih jauh lagi. Semakin banyak orang bisa mengenal orang lain yang bukan dari tempat kelahirannya, lebih banyak lagi. Apa yang ‘ditangkap’ panca indera sebagian besar orang pun semakin banyak dan beragam. Orang di negara tropis pun mengenal salju, sebaliknya orang-orang yang hidup di musim dingin, banyak yang mulai bisa merasakan hangatnya matahari tropis.

Read more...
 
Merayakan Perbedaan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 06 November 2008 07:00

Sebuah pertanyaan yang mungkin sederhana, tapi mendasar, yang menurut saya cukup menarik adalah, mengapa kita diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta, secara berbeda-beda? Saya mungkin juga perlu hati-hati dalam menyampaikan pertanyaan ini, karena bagi sebagian dari kita pertanyaan ini mungkin sensitif dengan mudah bisa menyulut kecurigaan. Kecurigaan bahwa bila kita bertanya seperti ini dianggap sebagian orang sebagai rasa ketidak puasan terhadap mengapa Tuhan menciptakan kita manusia. Padahal tidak, ..pertanyaan seperti ini sebenarnya lebih kepada, kita sama-sama secara jernih menggali apa makna dibalik ini semua, karena kita memang diberi bekal akal pikiran oleh-Nya untuk selalu berusaha memaknai itu semua.

Saya adalah orang yang yakin akan keberadaan Tuhan di atas sana. Begitu Maha Besar menguasai seluruh jagad alam semesta mencakup sampai ke wilayah-wilayah yang belum dan mungkin tidak akan pernah kita mengerti. Begitu besar ke-Maha-an-Nya bahkan sampai merasuk ke dalam aliran terkecil sel darah masing-masing kita manusia. Pengertian logis dari hal ini adalah, tentunya akan sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan kita secara sama. Tidak ada macam ragam ras suku bangsa, tak ada perbedaan ideologi dan paham, semua sama dalam memandang, semua berpersepsi sama terhadap satu hal, semua memiliki tingkat ekonomi yang sama, semua melihat segala sesuatu dalam perspektif yang sama, semua sama. Tapi ternyata tidak demikian. Tuhan Sang Pencipta menciptakan kita manusia berbeda-beda. Tak ada dua orang yang diciptakan benar-benar sama. Bahkan manusia yang lahir kembar, ketika dia tumbuh dewasa, pasti mengalami kejadian dan perlakuan yang tidak sama persis, yang tentunya akan membangun pemahaman dunia bagi mereka secara berbeda.

Read more...
 
Semangat Menghargai Apa Yang Kita Punya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 23 October 2008 07:00

“..Borobudur menyedihkan..!!” begitu kata salah seorang kolega saya. Membuat saya berpikir dan merenung. Bukan karena bangunannya, bukan karena bentuk fisiknya, bukan karena perawatan bangunannya, tapi bagaimana pengelola di sana melayani para tamu-tamu pengunjung sebagai bentuk penghargaan terhadap aset Borobudur itu sendiri.

Kolega saya ini kebetulan seorang pengusaha, tinggal di Surabaya, tapi lebih banyak berada di kantornya di Jakarta. Sesekali datang ke Solo, mengunjungi perusahaan tempat saya bekerja karena kami adalah salah satu costumer-nya. Dan bila beliau datang, biasanya saya diminta untuk menemuinya. Kolega saya ini, dari kaca mata saya juga termasuk orang yang istimewa, caranya berbicara, bagaimana dia melihat suatu masalah dan gayanya yang selalu bersemangat, membuat saya melihat beliau ini mungkin lebih mirip seperti seorang motivator daripada seorang pengusaha.

Dan disela-sela pembicaraan kami, pagi itu, beberapa hari lalu, sampailah dia bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya, dia duduk di pesawat bersebelahan dengan dengan seorang bule dalam penerbangan dari Yogya ke Surabaya. Omong punya omong, sampailah kemudian kolega saya ini bercerita, bagaimana sang bule itu kecewa atas kunjungannya ke Borobudur. “..Borobudur  menyedihkan!!”, begitu kata kolega saya menirukan sang bule.

Read more...
 
Belajar Dari Kesalahan Orang Amerika PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 10 October 2008 07:00

Suatu masa dulu, ketika saya kuliah terutama, pernah saya begitu kagum dengan negara Amerika. Bukan karena apa-apa, kekaguman saya lebih kepada ketika masa-masa itu saya termasuk penggila film. Dan film-film yang banyak beredar di pasaran saat itu –sampai sekarang sepertinya- adalah film-film Hollywood, karya orang Amerika tentunya.

Begitu banyak saya belajar dari film. Film-film yang begitu banyak memberi pencerahan, memberi ide, merubah cara pandang, menggeser paradigma kehidupan saya. Dan semua itu ditawarkan dan dikemas dalam sebuah fim oleh orang-orang Amerika. Saya pun kemudian berpikir, begitu hebat mereka, memiliki wawasan luas, mampu menawarkan cara pandang dari berbagai sisi (walaupun hanya tercermin dari sebuah film).

Tapi waktu berjalan, memaksa saya memberi penilaian bahwa orang Amerika ternyata tidak sehebat yang saya kira. Dan krisis ekonomi yang terjadi baru-baru ini di sana yang dipicu dari macetnya sub-prime Mortgage, semakin memberi kepada saya bukti bahwa sistem ekonomi kapitalis yang mereka pakai ternyata membentuk sikap manusia-manusia-nya menjadi orang yang rakus. Semakin kabur antara keinginan dan kebutuhan. Ketika mereka ‘hanya’ sekedar butuh kendaraan, mereka ingin mobil kecil, bisa beli mobil kecil, mencari yang lebih besar, terbeli yang lebih besar, ingin yang lebih mewah, kesampaian mobil mewah, ingin beli dua, dan seterusnya, tak ada habisnya. Sampai kemudian tersadar bahwa kemampuan untuk menyokong keinginan itu ternyata tidak cukup kokoh, maka pecahlah krisis itu. Dan seperti sebuah gelombang lautan, gelombang pasang yang terjadi diikuti gelombang-gelombang yang bergulung-gulung merembet ke segala bidang (tidak hanya Mortgage, di sektor perumahan), dan merembet mengglobal ke seluruh dunia.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 6 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo