pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Saya suka pendalaman karakter wayang dalam setiap tulisannya, berasa hadir, terasa hidup.."
Muhammad Ihwan


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
When Enough is Enough PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 19 August 2009 07:00

Bila anda sempat berkunjung ke kota Solo, ada suatu hal yang cukup khas menghiasi tepi-tepi jalan kota ini, bahkan mungkin sampai masuk ke jalan-jalan kecil kampung atau pun perumahan. Sebuah warung tenda sederhana yang menjajakan segala macam makanan, nasi bungkus, gorengan, makanan kecil ringan. Anda jangan bayangkan sebuah warung tenda modern warna warni yang ada di kawasan hunian modern, warung tenda khas Solo ini umumnya hanya ditutup kain terpal, nuansa gelap diterangi lampu minyak tanah, atau kalaupun lampu listrik, hanya berupa lampu remang-remang lima watt.

Sekitar lima belas tahun lalu, saya pernah memiliki langganan warung kaki lima ini. Sang penjual seorang bapak tua, yang di usia tuanya dengan tekun dia melayani pembeli. Segala macam profesi kehidupan pernah mampir di warung ini, sopir, polisi, tukang becak, pemulung, sales-man, dan selalu saja setiap malam para pelanggan ini juga seringkali bercerita kesana kemari tentang apa saja kepada bapak tua penjual. Semacam curahan hati. Dan sang bapak penjual, dalam ritual melayani si pelanggan itu, juga setia menjadi pendengar yang baik bagi si pembeli.

Read more...
 
What You See is not What You See PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 15 July 2009 07:00

Wajahnya terlihat garang, sorot matanya juga memancarkan sebuah pengalaman hidup yang keras. Seseorang dengan potongan cepak, terlihat parut luka di dagunya. Tubuhnya gempal berotot, memakai baju lengan pendek yang ketat, sehingga sangat jelas terlihat hiasan tato di lengannya yang kekar itu. Memesan makanan pada seorang penjual bakmi dengan suara yang lantang. Mungkin memang demikian cara bicaranya. Sebuah pemandangan yang saya yakin hampir semua orang akan sepakat kira-kira profil seperti apa orang ini. Mungkin ada yang langsung menyebutnya seorang preman dan menilai dia sebagai seorang yang keras, kasar, dan tidak begitu menghargai orang lain.

Tapi apa yang membuat saya kemudian menuliskan apa yang saya lihat saat itu, adalah, ketika pikiran saya tergiring kepada definisi seorang preman, apa yang saya lihat saat itu menjadi sebuah pemandangan yang ganjil. Si tubuh kekar wajah garang ini, dengan sabar dan santun menuntun seorang tua yang berjalan tertatih-tatih. Saat itu saya sedang menikmati makanan di sebuah warung bakmi, ketika kemudian sebuah mobil merapat di sisi warung di tepi jalan, seorang kekar berwajah garang, yang saya ceritakan tadi, keluar dari pintu pengemudi, bergegas setengah berlari menuju pintu depan kiri, membukanya, dan menuntun seorang tua itu. Keluar dari mobil, berjalan perlahan mengikuti irama jalan si orang tua, tanpa sama sekali menunjukkan wajah kesal atau buru-buru, sambil berteriak memesan makanan, menuju meja yang berseberangan dengan tempat saya duduk, sehingga saya dengan leluasa bisa melihat setiap gerak gerik mereka.

Read more...
 
Rule of Engagement PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 02 June 2009 07:00

Beberapa hari ini, yang memenuhi berita di media, selain gegap gempita seputar Pilpres, kemudian riuh rendah kasus Manohara, juga diisi dengan kisah klasik tentang beberapa kali kapal tempur Malaysia melanggar batas wilayah di perairan Ambalat. Banyak opini disampaikan, terutama yang banyak saya lihat di blog, jejaring sosial dan sebagainya, dari yang berusaha bersabar, dan mengedepankan dialog dan akal sehat untuk menghindari perseteruan, sampai komentar-komentar yang memerahkan telinga, baik dari pihak Indonesia sendiri maupun pihak Malaysia.

Banyak diantara para pengomentar kita yang cenderung menghakimi angkatan laut penjaga perbatasan Indonesia yang lamban, kurang tegas. Sepertinya para pengomentar itu lupa, bahwa segala hal terutama mengenai sengketa perbatasan, terkait tindakan di lapangan, apalagi pada situasi hubungan dua negara yang sangat kondusif, pastilah ada aturannya, dan semua harus tunduk pada aturan itu. Beberapa hari lalu, di siaran Televisi, dari wawancara salah satu Komandan perbatasan di sana, mengatakan bahwa respon terhadap insiden pelintas batas seperti itu tetap ada aturannya, mereka sebut dengan istilah ‘the rule of engagement’, sifatnya hanya memberi peringatan sambil melakukan pengawalan agar sang pelintas batas berbalik arah. Tembakan hanya dalam rangka untuk membela diri, atau memang sudah mendapat persetujuan dari presiden dan DPR. Dan respon utama yang diberikan adalah melalui diplomasi yang dimotori oleh Departemen Luar Negri.

Read more...
 
Pemimpin Yang (boleh jadi) Menyenangkan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 03 May 2009 07:00

Di komunitas jejaring sosial Facebook yang saya ikuti, beberapa hari lalu ada sebuah pertanyan menggelitik disampaikan dalam sebuah note yang salah satunya ditujukan kepada saya. Isinya berupa sebuah pertanyaan apakah seorang pemimpin sebaiknya disenangi oleh orang-orang yang dipimpinnya. Banyak komentar kemudian muncul, pro kontra pun timbul. Sebuah pertanyaan menarik yang kemudian juga sempat membuat saya merenung cukup lama.

Kata ‘pemimpin’ menurut pengamatan saya memang terkadang membuat rancu banyak orang. Adalah jarak antara seorang yang memiliki ‘jabatan pimpinan’ dengan orang yang memiliki ‘sifat menjadi pemimpin’. ‘Jabatan pimpinan’ adalah sebuah predikat terhadap seseorang yang disana mengandung konsekuensi dimana orang tadi serta merta akan mengemban tanggung jawab untuk menjadi pemimpin terhadap apa –atau siapa- yang dipimpinnya, memiliki tugas untuk membawa semua yang dipimpinnya mencapai tujuan, juga memiliki wewenang agar tugas tadi bisa dilakukan secara efektif dan efisien. Begitu banyak predikat jabatan pimpinan di kehidupan kita. Dari yang paling sederhana semisal ketua RT, pimpinan karang taruna, mandor bangunan, sampai yang besar kompleks seperti jabatan presiden, direktur perusahaan besar, dan sebagainya.

Last Updated on Friday, 08 October 2010 10:11
Read more...
 
Menjadi Pemenang (2) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 04 April 2009 07:00

Di era 80-an, mungkin bagi anda yang se-generasi dengan saya, tentunya pernah merasa asyik dengan lagu-lagu grup band terkenal dari Inggris bernama Queen. Ada satu lagu dari grup ini yang juga cukup dikenal dan mudah akrab ditelinga berjudul “Hammer to Fall”. Sebuah lagu yang mencoba menceritakan kepada kita sebuah pendapat bahwa hidup ini tak ubahnya seberti sebuah palu yang diketok. Artinya apa pun yang terjadi kepada kita seperti sebuah misteri yang diputuskan oleh sebuah kekuatan yang maha besar, dan ketika itu semua sudah diputuskan, maka tak ada yang bisa kita lakukan.

Saya sendiri tidak begitu setuju dengan bung Freddy Mercury, atas pendapatnya dalam lagu ini. Namun kurang lebih semangat dalam lagu ini seperti apa yang coba saya gambarkan ketika melihat ‘Menjadi Pemenang’ pada iklim ‘kebersamaan’. Kita coba hilangkan dulu penilaian akan negatif maupun positif, atau benar-salahnya. Kita coba melihat apa adanya, bagaimana sebuah semangat Menjadi Pemenang dalam iklim kebersamaan.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan segala apa yang terjadi pada kita adalah takdir. Mungkin juga hal itu bisa menjadi pendekatan terjemahan bebas dari ‘palu diketok’ pada ‘Hammer to Fall’. Kebersamaan yang melihat bahwa kita manusia diciptakan secara sama, dan harus bersama-sama menanggung segala hal yang menimpa kita. Setiap bentuk tantangan selalu didahului tengok kanan tengok kiri melihat respon orang-orang di sekitar kita untuk pengatasannya. Sehingga ketika respon terhadap masalah itu sudah dilakukan, yang terjadi kemudian, baik buruk, menjadi pemenang atau tidak lebih disikapi sebagai takdir yang harus kita terima sebagai keputusan terhadap kita. Sebuah ‘hammer to fall’ untuk diri kita masing-masing.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 4 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo