pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku Memburu Kurawa sampai 3 kali khatam saya baca!!"
Wiwik Aja


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Antara Jalan Raya, Waktu, Kendaraan dan Kita PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 23 February 2012 11:37

Berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir ini kita di suguhi berita-berita mengerikan tentang jalan raya yang merenggut banyak nyawa. Tentang seseorang yang ngebut, sementara dia sedang dalam kondisi tidak layak mengendara karena pengaruh obat sehingga sembilan nyawa harus berpulang di Tugu Tani, Jakarta. Tentang sekian banyak bus yang karena berbagai sebab telah menelan puluhan korban. Dan belum lama kemarin, saya juga membaca berita di koran lokal Surakarta, tempat saya tinggal, sebuah kejadian memilukan, dimana seorang bapak dan anaknya meninggal. Pagi hari saat ‘rush hour’ menjelang tenggat masuk sekolah, dengan mengendarai motor roda dua mereka diserempet sebuah truk tronton besar.

 

Rentetan kejadian itu seolah menguatkan sebuah persepsi yang sekarang merebak, bahwa jalan raya menjadi salah satu tempat yang paling berbahaya di atas bumi ini. Jalan raya yang dibuat oleh manusia sebagai jalur lalu-lalang untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya, digunakan secara bersama-sama oleh manusia, menjadi tempat yang berbahaya bagi manusia sendiri. Tidak hanya itu, kendaraan, yang pada dasarnya ‘hanya’-lah sebuah alat, dibuat oleh manusia, digunakan oleh manusia, tapi bisa jadi mengancam jiwa manusia sendiri.

 

Perkara siapa yang bersalah dari setiap kejadian di atas, biarkan proses hukum –yang juga dicipta oleh manusia sebagai bagian dari sistem kehidupan bernegara- yang berbicara. Tapi bila anda merenungi kalimat saya di alenia di atas, mungkin anda bisa merasakan apa yang coba saya tawarkan agar kita semua mencoba melihat dari perspektif yang lebih luas. Yang akan membawa kepada ujung tanggung jawab akan semua masalah itu adalah juga di pundak manusia, kita semua! Bukan hanya pelaku, bukan hanya pemerintah yang berwenang mengelola jalan raya, bukan hanya komunitas orang-orang di sekitar pelaku dan korban yang bisa jadi berkontribusi menyumbang mengantarkan perilaku sehingga sampai ke titik kejadian. Tapi juga mungkin saya, mungkin anda yang saat ini membaca tulisan saya, dan saya yakin mungkin juga seluruh manusia di muka bumi ini.

 

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 11:50
Read more...
 
Orang Tua Harus Belajar (2) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 04 April 2010 07:00

Saya mungkin termasuk orang tua yang bisa jadi dianggap ‘jadul’ oleh anak saya untuk urusan satu ini,.. main game! Ketika saya kecil dulu, video-game memang barang yang terlalu mewah bagi saya. Beranjak remaja, beberapa kali saya juga lewatkan dengan teman saya bermain game di tempat-tempat umum yang ketika itu banyak menjamur. Tentunya tidak seperti game masa kini yang begitu canggih dan seolah bisa memberikan imagi tiga dimensi yang begitu nyata, game jaman saya dulu hanya terlihat dua dimensi. Dan sampai kini, ketertarikan saya terhadap permainan video-game juga biasa-biasa saja. Saya bahkan punya seorang teman sebaya, juga seorang profesional, punya anak dua, yang tidak pernah ketinggalan untuk menjajal game-game komputer atau play-station baru. Terhadap urusan permainan video-game ini, saya menganggap dia aneh, dia juga menganggap saya juga aneh. Hmm..

Anak saya kini menjalani sebuah dunia yang tentunya berbeda dengan dunia ketika saya kecil dulu. Termasuk urusan game ini. Melalui pergaulannya dengan teman di sekolah maupun di lingkungan rumah, saya perhatikan dia termasuk anak yang tidak pernah ketinggalan untuk ingin mencoba permainan ini. Baik itu yang portabel, melalui layar PC, play-station lewat televisi, atau pun pemainan game keluarga yang banyak terdapat di pusat-pusat perbelanjaan. Sampai sekarang saya belum juga mengabulkan permintaannya untuk punya permainan play-station sendiri di rumah. Saya memilih untuk sewa atau pun mengajaknya ke pusat game di pusat perbelanjaan, sekaligus sebagai hadiah setiap kali dia selesai test atau semacamnya. Karena menurut saya bagi anak seusianya yang masih belum bisa mengelola waktunya dengan baik, permainan ini masih lebih banyak memberikan dampak buruk bagi seorang anak dari pada dampak baiknya.

Read more...
 
Orang Tua Harus Belajar (1) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 21 February 2010 07:00

Tidak biasanya sore itu, salah satu tetangga jauh saya datang bertandang, tergopoh, menghampiri istri saya. Dia adalah seorang ibu pengusaha, setiap harinya mengelola sebuah toko grosir yang tidak bisa dianggap kecil, dan hampir selalu, dari pagi hingga malam hari, sang ibu ini berada di tokonya, memimpin semua pegawainya melayani pembeli. Sehingga bisa dimengerti, bila sang ibu tidak begitu memiliki banyak waktu untuk sekedar bersosialisasi dengan tetangga di sekitar rumahnya. Apalagi sampai datang ke rumah saya yang terpisah beberapa blok dari tempat tinggalnya. Kami hanya saling tahu, tapi tak pernah secara khusus saling bicara.

Mungkin karena beliau tahu, bahwa istri saya mengelola on-line store, sore itu, tanpa basa-basi langsung bertanya perihal internet, dan kira-kira apa yang dikerjakan seorang anak sehingga bisa asyik berlama-lama di sebuah warnet. Dia bercerita bahwa anak perempuannya yang menginjak remaja, hampir setiap hari selalu pamit pergi ke warnet beralasan tugas dari sekolah, dan bisa berlama-lama di sana.

Tidak mudah bagi istri saya untuk menjelaskan menjadi bahasa sederhana kepada sang ibu itu, yang memang sepertinya beliau sangat awam terhadap apa itu komputer, apalagi internet. Istri saya coba jelaskan apa itu internet, manfaatnya, dan yang paling penting adalah potensi bahayanya bila kita sebagai orang tua tidak peduli terhadap interaksi yang dilakukan anak-anak kita dengan dunia maya. Karena bisa jadi masalah-masalah yang bisa timbul adalah nyata!

Read more...
 
Fait Accompli PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 31 December 2009 07:00

Jaman memang selalu berubah. Tapi terkadang saya harus terkagum-kagum dan tergagap heran karena perubahan akhir-akhir terasa semakin cepat dan semakin cepat. Gegap gempita itu terutama bila kita berbicara tentang komunikasi dan informasi yang saat ini rasanya begitu mudah orang saling berinteraksi satu sama lain, begitu mudah orang beropini sehingga berjuta-juta orang dalam hitung detik bisa membaca dan saling menimpali, membuat begitu mudah kesimpulan terbentuk, membuat begitu mudah orang menilai, baik yang mendukung maupun menghujat, begitu mudah orang lain terpengaruh, begitu mudah suatu hal yang semula sekedar opini itu berubah menjadi sejarah, dan begitu mudah dalam jangka waktu sebentar ‘sejarah’ itu dilupakan ketika ada lagi opini baru yang bisa dijadikan ‘begitu mudah’ berikutnya!

Aturan, etika, apalagi produk hukum formal terasa menjadi terengah-engah mengejar semua hal baru yang begitu saja datang dan pergi. Jangankan para penonton, para pelaku pun terkadang dibuat terkesiap ketika harus terlibat hiruk pikuk episode berikutnya saat cerita yang masih lewat belum juga usai.

Read more...
 
Costumer Delightful PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 31 October 2009 07:00

Sesuatu yang sudah jamak bagi sebuah organisasi usaha bilamana mereka menempatkan laba sebagai tolok ukur utama unjuk kerja organisasinya. Beda dengan organisasi sosial misalnya, dimana fungsi pelayanan lebih utama, dan faktor laba seolah hanya sebagai tolok ukur keberlangsungan organisasi itu dalam menghidupi dirinya sendiri. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah bila sebuah organisasi usaha yang bisa mendapatkan labar yang besar, bisa dikatakan organisasi ini baik? Tak mudah menjawabnya. Karena saya yakin seorang pakar pun akan tidak bisa dengan mantabnya berkata ‘ya!’ tanpa melihat tolok-ukur tolok-ukur lain.

Terbukti era perdagangan saat ini, yang tentunya juga melibatkan pelaku organisasi usaha, ada istilah yang disebut ‘costumer satisfaction’, dengan berbagai metoda tolok ukur kuantitatif yang bisa selalu dilihat indeks pencapaiannya dari waktu ke waktu. Bila suatu saat turun, ada keinginan organisasi usaha itu untuk selalu memotivasi setiap lini fungsinya, agar meningkatkan indeks tingkat kepuasan pelanggan ini, entah itu pelanggan eksternal maupun internal, antar fungsi organisasi didalam perusahaan itu sendiri. Walaupun misalnya pada kenyataannya neraca pertumbuhan finansial mereka bagus. Mengapa?

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 3 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo