pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Coba baca cerita pewayangan karya orang lain, ternyata masih lebih suka dengan rangkaian kata di buku bukunya pak Pitoyo.."
Rosalia IP


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu (1) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 14 June 2008 07:00

Beberapa kali saya amati, rupanya topik yang saat ini masih relatif hangat –selain kejuaraan sepakbola piala Eropa- adalah masih seputar kenaikkan harga BBM. Seperti biasa ada yang pro ada kontra. Yang kontra ada yang berusaha mengerti kebijakan pemerintah, ada yang masih juga tak henti-henti menghujat. Ada yang sampai sekarang tak henti-hentinya melakukan demo. Apakah demo mereka memang murni menyuarakan teriakan rakyat kebanyakan? Entahlah.

Dalam hal ini saya memilih untuk tidak akan larut dengan hanya berkutat pada wilayah –kalau istilahnya 7 Habits- lingkaran kepedulian. Biarlah kenaikkan harga BBM sebagai sebuah keputusan yang harus kita hargai karena diambil oleh penguasa yang mendapat legitimasi rakyat. Sehingga dari sisi manapun, akan sangat kontra produktif bila kita selalu saja menyalahkan pemerintah atas apa yang mereka putuskan. Kritik boleh, tapi alangkah lebih baik bila saja kita juga berusaha untuk mengambil bagian dari solusi. Bukan justru menjadi sumber masalah baru.

Itulah mengapa saya ajak anda untuk coba –terhadap kenaikkan harga BBM ini- untuk berkonsentrasi kepada lingkaran pengaruh kita masing-masing. Apa yang bisa kita masing-masing lakukan terhadap kondisi ini?

Read more...
 
Kemajuan Yang Mengasingkan Kita PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 06 June 2008 07:00

Empat orang perempuan belasan tahun itu duduk dalam satu meja. Mereka pastilah berteman akrab, terbukti mereka saat itu berkumpul bersama di sudut lantai food-court sebuah mall. Untuk remaja pada usia mereka, pastilah mereka hanya akan menghabiskan waktu berjalan-jalan di pusat perbelanjaan hanya dengan teman-teman dekat mereka. Tapi aneh pemandangan siang itu. Karena saya perhatikan mereka berempat tidak saling ngobrol atau bersenda gurau layaknya para remaja yang ngeriung bersama teman-teman mereka. Mereka masing-masing memegang handphone di kedua tangannya di atas meja, sambil pencat-pencet sana-sini. Masing-masing asyik seolah ngobrol sendiri dengan telepon genggam mereka, tertawa sendiri, senyum sendiri. Seperti berada di dunia mereka sendiri masing-masing, tak perduli apa yang terjadi di sekitar mereka.

Anda bisa bayangkan, tidak perlu jauh-jauh menengok ke belakang. Andai saja mereka melakukan itu sekitar duapuluh tahun lalu. Bisa jadi setiap orang yang melihat akan heran. Ketika diberitahu tentang mereka, orang tua mereka mungkin buru-buru memeriksakan mereka ke psikiater memeriksakan kesehatan jiwa mereka. Tapi saat ini hal itu menjadi sesuatu yang biasa.

Read more...
 
Kekerasan di Sekitar Kita PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 28 May 2008 07:00

Saya merasa sedih ketika melihat tayangan berita di televisi beberapa hari lalu. Yang memperlihatkan bagaimana ‘garang’-nya para generasi mahasiswa kita melakukan demonstrasi menentang kenaikan harga BBM. Entah apa yang ada dibenak mereka, para mahasiswa ini begitu gegap gempita melempar, membakar foto, berteriak-teriak di tengah jalan. Saya yakin apa yang mereka lakukan pastilah bermula dari sesuatu yang baik. Saya yakin sebagian besar dari mereka masih begitu kental memiliki idealisme demi membangun sebuah komunitas yang mereka harapkan tentunya atas dasar pemahaman mereka atas apa yang disebut baik. Pertanyaannya adalah, mengapa harus melempar?

Sekian ribu tahun generasi, sejak Nabi Adam sampai detik ini, ternyata kita manusia masih susah untuk berusaha meminimalkan sebuah budaya kekerasan. Banyak orang yang dengan sadar berkata bahwa bahasa kekerasan adalah sebuah bahasa yang seharusnya tidak dilakukan tapi justru mereka sendiri yang mempraktekan hal-hal tersebut. Banyak orang yang mengenyam pendidikan yang begitu tinggi dan sudah dipredikati sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, ternyata masih juga dalam beberapa situasi mensahihkan keputusan untuk melakukan hal-hal yang menjurus kepada kekerasan dan anarki. Bahkan kita lihat misal negara Amerika yang konon katanya sebagai barometer paham demokrasi di dunia –yang seharusnya memberi ruang perbedaan dan dialog- justru yang selalu tak pernah sabar untuk segera melakukan misi militer kepada negara-negara yang tidak sepaham dengan mereka.

Read more...
 
Pentingnya Nilai-nilai Keluarga PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 21 September 2005 07:00

“Huuaaaaa…,” seorang anak sekitar umur tiga tahunan tiba-tiba menangis keras di depan sebuah rumah beberapa blok tidak jauh dari rumah saya, ketika saya jalan melewati rumah itu suatu pagi. Selidik punya selidik, anak ini adalah anak dari si pemilik rumah, yang walaupun jarang sekali ketemu beliau masih juga terhitung sebagai tetangga saya, yang ternyata juga belum lama meninggali rumah tersebut. Saya pun baru tahu saat itu bahwa sang tetangga saya ini ternyata mempunyai anak yang sebaya dengan anak saya.

Sambil mengobrol basa-basi kesana-kemari, tetangga saya ini bercerita tentang kejadian yang membuat sang anak menangis. Entah bagaimana, sang anak ini beberapa saat sebelum menangis rupanya menemukan dompet ibunya. Ibunya sendiri saat itu sedang mandi. Si anak pun membawa dompet tersebut ke depan rumah, dan dengan rasa keingintahuannya, dia pun ‘membongkar’ isi dompet ibunya. Keluarlah segala macam surat-surat berharga dan sejumlah uang.

Last Updated on Thursday, 12 August 2010 10:19
Read more...
 
Paradigma Keluarga PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 08 September 2005 07:00

Kaya, bagi sebagian besar kita -kalau kita mau jujur-, adalah sesuatu yang masih saja dilihat sebagai sesuatu yang paling menyenangkan. Boleh jadi bila anda memiliki waktu luang, mencoba secara acak menanyai orang-orang yang anda kenal, katakanlah pada rentang usia duapuluhan sampai empatpuluhan, kemudian anda tanya orang-orang tersebut tentang imajinasi apa yang begitu favorit untuk dibayangkan terjadi pada diri mereka.

Jawaban mereka bisa jadi bermacam-macam, ingin punya rumah mewah, ingin memiliki mobil mewah, ingin jalan-jalan ke mana pun di dunia ini tanpa harus pusing akan pengeluaran biaya yang harus dipikul, ingin belanja terhadap setiap yang diingini tanpa harus berpikir dua kali akan segi biaya dan manfaat dari keinginan tersebut. Dari semua yang bernada ‘egois’ seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sampai yang berbau ‘sosial’ seperti membayangkan untuk bisa setiap hari berderma, setiap hari naik haji, punya panti asuhan dengan ribuan anak asuh dan sebagainya. Yang bila kita telusuri lebih jernih, semua imajinasi tersebut ternyata berujung pada sebuah keinginan yang boleh dibilang sederhana, yaitu ingin punya uang tak berhingga alias ingin kaya!

Last Updated on Wednesday, 11 August 2010 19:15
Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 9 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo