pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"This book is amazing, its like watching a martial arts movie....and everything is actually make sense to me.."
Nia Yanurita


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Kecanduan Akan Minyak PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 30 July 2008 07:00

Kecanduan akan minyak..! Hmm,..sebuah kalimat yang pagi tadi sempat mencuri perhatian saya. Menjadi keterangan sebuah gambar di Majalah National Geographic edisi bulan Agustus 2008. Apa yang membuat saya tertarik bukanlah dari untaian kata itu sendiri, karena terdengar memang kalimat itu terasa biasa saja tidak ada yang istimewa. Yang membuat kalimat itu terkesan beda adalah dari substansi-nya yang bagi telinga saya sangat terasa menggugah keterlenaan kita selama ini, betapa kita saat ini sangat tergantung akan bahan bakar minyak. Setiap sendi kehidupan kita, tidak ada satu pun yang terbebas dari kebutuhan kita akan bahan bakar minyak.

Mari kita coba jabarkan sejak kita bangun tidur, menjangkau surat kabar pagi, tinta yang menyusun huruf menjadi kata pada koran itu dibuat sebagian fraksinya dari minyak. Bergegas mandi, air yang mengalir, dipompa dengan tenaga listrik, yang saat ini sebagian besar pembangkit listrik bertenaga diesel. Kalaupun ada pembangkit tenaga air, maka yang menggerakkan turbin pembangkit, juga air yang sudah diubah menjadi uap bertekanan yang diperoleh dari pemanasan dengan tenaga solar,..ah! Lagi-lagi minyak! Berangkat ke kantor berkendara mobil, saat ini yang paling populer masih mobil bertenaga mesin berbahan bakar minyak. Sesampainya di kantor, seharian kita butuh lisrik, mengelola industri yang hampir bisa dipastikan ada kontribusi minyak di sana. Sore hari perjalanan ke rumah kita kembali harus mengkonsumsi minyak. Sampai di rumah masih butuh lisrik, bahkan tidur pun rasanya tak nyaman bila AC tidak menyala, lagi-lagi butuh listrik, butuh minyak!

Read more...
 
Krisis Listrik Bukan Kiamat!! PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 21 July 2008 07:00

Dikisahkan sebuah cerita yang memperlihatkan gambaran potret sebuah hari Minggu ‘kebanyakan’ yang terjadi di sebuah kompleks perumahan di sebuah pagi yang cerah. Tampak beberapa orang mencuci mobil mereka di depan rumah. Terdengar dari dalam rumah suara riuh rendah anak-anak kecil bermain play-station di rumah mereka. Satu-dua rumah diantaranya juga terdengar menyalakan radio dan televisi mereka keras-keras terdengar sampai ke jalan.

Tiba-tiba,.. pet!! Suasana sepi, beberapa orang terlihat sempat bengong, berusaha menyadari apa yang terjadi. Aliran listrik padam! Air untuk cuci mobil berhenti perlahan mengalir. Terdengar suara anak-anak berteriak-teriak kecewa, sampai kemudian hening tak ada suara.

Beberapa orang mencoba angkat telepon untuk melaporkan keluhan listrik mati kepada pihak otoritas listrik kota itu. Tapi telpon sunyi, tak ada suara, tak ada nada. Demikian juga telepon genggam, tak ada sinyal. Seseorang berlari menghampiri mobilnya, berpikir bahwa dia punya ide untuk menyalakan radio di mobilnya, yang mungkin menyiarkan perihal mati listrik yang tiba-tiba dan tidak biasanya itu. Tapi sia-sia, tak ada satu pun siaran stasiun radio mengudara. Hanya suara mendesis sepanjang pindai dari ujung ke ujung gelombang.

Read more...
 
Melihat Kepentingan Apa Yang Kita Makan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 11 July 2008 07:00

Sampai saat ini saya masih merasa kesulitan untuk menemukan cara yang pas bila saja suatu ketika saya harus bernegosiasi dengan anak saya yang masih berumur enam tahun, ketika dia mengajak saya untuk mampir makan di restoran cepat saji yang hampir selalu ada di setiap mall-mall di kota besar. Dengan sajian khas berupa burger, kentang atau fried-chicken. Terutama bagi anak-anak, cita rasa menu mereka memang mengundang selera. Dan hampir selalu menawarkan gift-gift paket mainan menarik yang selalu baru.

Kira-kira bentuk penjelasan seperti bagaimana yang harus saya sampaikan kepada anak saya? Apakah karena makanan-makanan itu tidak memiliki nilai gizi yang optimum bagi pertumbuhan? Ataukah karena harga makanan itu yang sebenarnya tidak sepadan bagi nilai tambah kesehatan bagi tubuh kita (dalam arti bahwa kalau ‘hanya’ butuh makan, harga segitu masih membuka banyak kemungkinan untuk mendapatkan makanan yang jauh lebih bermanfaat bagi tubuh)? Ataukah mencoba memberi penjelasan bahwa yang dikatakan diiklan-iklan itu sebenarnya tidak selalu mencerminkan keadaan sesungguhnya, bahwa apa yang disampaikan di iklan adalah dalam rangka persuasi untuk sekedar membeli produk mereka?

Read more...
 
Tindakan Nyata! Bukan Hanya Sekedar Kata-kata... PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 04 July 2008 07:00

Beberapa hari lalu saya kebetulan berkesempatan berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang pakar teknologi solar energy dari negri Jerman. Dia telah lebih dari duapuluh tahun sebagai praktisi di aplikasi pemanfaatan energi surya. Sempat bercerita kepada saya, bahwa ini adalah kali pertama dia berada di kawasan Asia, juga di Indonesia tentunya.

Setiap kali bercerita berdiskusi kepada saya, tak henti-hentinya dia begitu mengagumi sumber daya energi matahari yang –dia sebut- begitu berlimpah, karena letak geografis Indonesia yang berada di khatulistiwa. Maklumlah, saya bisa mengerti apa yang ada di kepalanya. Dia seorang ilmuwan yang menekuni energi surya. Ketika pertama kali ke Indonesia dan melihat sendiri betapa sinar matahari bersinar begitu terang di sini sepanjang hari –tidak seperti di tempat asalnya, pada musim panas sekalipun-, saya bayangkan bak seperti seorang yang haus di padang pasir dan mendapati sebuah oase.

Read more...
 
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu (2) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 25 June 2008 07:00

Cukup membuat saya terhenyak ketika melihat iklan layanan di National Geographic Channel yang menyatakan bahwa empat ratus juta ton pohon harus ditebang setiap tahunnya demi sebuah kebutuhan akan kertas di dunia. Hmm, mungkin masih membuat kita berkenyit dan berpikir untuk mengira-ngira. Tapi kalimat berikutnya seharusnya cukup membuat shok kita sebagai manusia. Bahwa kertas-kertas hasil produksi tadi cukup untuk menutup wilayah Belanda setiap lima menit! ..Nah!

Apa makna kalimat dan angka-angka ini bagi kita? Mungkin anda bisa berpendapat lain, tapi bagi saya, kalimat ini sudah cukup bagi kita manusia untuk segera berpikir keras dan segera merubah perilaku kita akan kebutuhan terhadap kertas. Anda bisa bayangkan hutan yang harus ditebang sekian banyak setiap tahunnya itu, adalah sebuah angka yang terlalu fantastis bagi kemampuan kita secara kolektif –entah alam, maupun reboisasi yang paling artifisial sekalipun- untuk merecovery kembali luasan jumlah hutan di seluruh dunia.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 8 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo