pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Bukunya mas Pitoyo bagus2!!"
Harmanto


Home
Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Menjadi Pemenang (1) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 15 March 2009 07:00

Mungkin kalau kita mau merenung, sebenarnya tidak sederhana, ketika kita mengemukakan sebuah nasehat untuk ‘Menjadi Pemenang’. Sebuah nasehat yang sepertinya saat ini begitu sering terdengar di telinga. Dan saya memang lebih suka mempersepsikan hal ini pada sebuah tingkatan pemahaman, yang tentunya kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk paham pada sesuatu yang saat ini belum berada tingkat pemahamannya. Seperti analogi pada seseorang yang masih pada tahap awal belajar piano, rasanya tidak mungkin kalau dia sudah disodori deretan partitur gubahan yang begitu rumit untuk dimainkan. Hanya saja, yang penting bagi si murid sekolah piano ini, bahwa di awal proses belajarnya dia paham akan tingkatan-tingkatan yang harus dilaluinya.

Entah kita sadari atau tidak, tapi perilaku budaya kita saat ini juga banyak menggiring pemahaman akan makna pemenang. Bahkan sampai membuat makna itu cukup berbeda signifikan secara umum secara gender. Mari coba kita renungkan, seorang anak laki-laki lebih banyak dari kecil dididik untuk melihat bahwa dunia ini adalah sebuah persaingan. Sementara anak perempuan secara naluriah lebih melihat kehidupan sebagai sebuah kebersamaan.

‘Menjadi Pemenang’ bagi sebuah paradigma ‘persaingan’ tentunya akan diterjemahkan secara berbeda oleh seseorang yang memiliki paradigma ‘kebersamaan’. Hal inilah yang mungkin membuat slogan dan penjelasan panjang lebar ‘Menjadi Pemenang’ tanpa diikuti oleh perenungan akan pemahaman paradigma diri, akan menyebabkan penajaman makna persaingan atau kebersamaan itu sendiri dalam diri.

Read more...
 
Mensyukuri Perbedaan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 26 February 2009 07:00

Orang yang duduk di depan itu tampak dengan berapi-api menjelaskan segala macam argumentasinya untuk mencoba memberi alasan logis atas pendapatnya. Terkadang disela kalimatnya, nada bicaranya harus meninggi. Dari rentetan kalimat yang diucapkannya, sangat terasa bahwa orang ini –sebut saja Pak Bejo-, sangat berusaha ingin meyakinkan para pendengarnya bahwa pendapatnyalah yang benar.

Ketika Pak Bejo selesai bicara panjang lebar, kemudian giliran moderator mempersilahkan seorang tua lain yang duduk di meja seberang pak Bejo –sebut saja namanya pak Untung- untuk bicara. Giliran pak Untung bicara. Tak kalah gegap gempitanya dengan pak Bejo. Dan yang menarik, semua ucapan pak Untung ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pak Bejo. Pak Untung menganggap pendapat pak Bejo salah, dan dengan sama meyakinkannya, berbekal dalil-dalil yang bersumber dari referensi yang sama dengan yang diucapkan pak Bejo sebelumnya, pak Untung seolah memberi pandangan persepsi lain atas referensi itu.

Peristiwa di atas adalah salah satu acara di televisi yang menampilkan dua orang yang berdebat dari dua kubu yang berpendapat berseberangan akan suatu hal. Ditemani oleh satu orang moderator yang selalu tertib menjalankan tugasnya agar pembicaraan tidak melebar kemana-mana dan semua yang hadir di situ menghargai waktu dan tata tertib yang sudah ditentukan.

Read more...
 
Antara Anugrah Dan Bencana PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 12 February 2009 07:00

Agak seperti judul sebuah film, tapi begitulah saya menyimpulkan topik hangat yang saat ini menjadi pembicaraan bapak-bapak warga di lingkungan tempat saya tinggal. Hampir selalu ketika kami kumpul, entah itu saat ronda, saat pertemuan warga, dua minggu terakhir ini selalu diisi pembicaraan dan diskusi atas sesuatu yang menimpa lingkungan perumahan tempat saya tinggal dua minggu lalu.

Setahun lalu, menurut analisanya adalah banjir terbesar yang terjadi di Solo sejak banjir besar tahun 1965. Lebih dari separuh wilayah ex karesidenan Surakarta terendam banjir. Dan kami harus bersyukur pada saat banjir besar tahun lalu, hal itu tidak masuk menimpa pemukiman perumahan tempat saya tinggal. Namun aneh memang, tahun ini, banjir kembali melanda Surakarta dan sekitarnya, tidak separah tahun lalu, tapi air itu masuk ke perumahan kami. Di jalan depan rumah saya sampai setinggi lutut, masuk ke rumah kira-kira lima centimeter-an.

“… ini pertanda kita manusia sudah banyak dosanya..!”, salah seorang bapak tetangga saya mengemukakan pendapatnya. “..ah! Ini akibat diantara kita tahun kemarin ada yang pongah dan sombong, karena tidak kena banjir,.. jadinya tahun ini kita digilir juga..” sergah yang lain. “..buang sampah sembarangan adalah sebab utamanya..”, seorang bapak lain yang tampak mencoba ilmiah mengemukakan pendapatnya.

Read more...
 
Iklim Kejujuran PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 28 January 2009 07:00

Tidak jauh dari tempat saya tinggal ada sebuah jalan yang cukup panjang, sebuah jalan pedesaan yang rimbun berjajar rapi di sebelah kanan kirinya pohon rindang. Sejauh mata memandang di kiri dan kanan adalah sawah subur membentang. Setiap kali saya lewat jalan itu, saya lebih suka memacu mobil saya perlahan, mematikan AC dan membuka kaca jendela lebar-lebar sambil sesekali menarik nafas panjang menikmati segarnya udara.

Tapi, setiap lima tahun sekali, saya atau mungkin siapa pun yang lewat jalan itu, harus bisa berlapang dada. Manakala saat ini di sepanjang jalan itu tiba-tiba saja berubah begitu ramai oleh gambar caleg partai yang begitu lebat memenuhi kanan kiri tepi jalanan. Saya tidak tahu persis apakah cara kampanye seperti ini cukup efektif, yang jelas cara inilah yang saat ini banyak dilakukan. Yang kemudian sebagai orang yang harus bisa berbagi, maka kita harus bersabar untuk membiarkan itu terjadi sampai musim kampanye usai.

Beberapa hari lalu, ada sebuah kejadian yang cukup lucu. Dimana seseorang di jalan itu, hampir saja dikeroyok beramai-ramai gara-gara kedapatan mengambili dan merobek-robek beberapa gambar caleg. Untunglah polisi segera mengamankannya. Dan selidik punya selidik, ternyata dia adalah seseorang yang terganggu jiwanya. Sudah beberapa tahun terakhir ini dia mengalami depresi berat sehingga terkadang dia melakukan sesuatu diluar kendali akal sehatnya.

Hal yang lucu adalah, kabarnya ketika ditanya polisi, apa motivasi-nya mengambili gambar caleg itu, dia dengan ringan dan cengengesan menjawab, bahwa gambar-gambar itu merusak pemandangan. Nah..!

Read more...
 
Maafkan Saya ... PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 11 January 2009 07:00

“Tadi uang papa limapuluh ribu kan,.. mana kembaliannya..” sebuah kalimat, malam itu menarik perhatian saya. Di sebuah sudut sebuah supermal, saya berdiri sambil menunggu anak saya bermain di sebuah pusat permainan anak di situ. Seperti biasa, memang dalam keramaian seperti itu, sebenarnya saya sedang menikmati kesendirian mengamati segala hal di sekeliling saya. Lalu lalang orang di pusat pertokoan itu, tawa canda anak dan orang tua di situ, kelucuan-kelucuan orang tua yang lebih menikmati suasana tinimbang anak-anaknya yang dibiarkan berjalan bersama pengasuhnya. Atau silang pendapat yang biasa terjadi dalam hubungan keluarga juga sering terlihat di sana, seperti juga yang tertangkap oleh telinga dan mata saya malam itu.

“..lah, kan sudah aku kasih ke papa..” tukas sang anak, dengan nada agak tinggi. Si anak adalah seorang bocah laki-laki kira-kira umur belasan tahun, sementara si ayah, mungkin beberapa tahun lebih tua dari saya.

“..kamu jangan bohong, yaa..” sergah sang ayah, sambil tampak sang ayah menunjuk ke muka sang anak. Sepertinya kesabarannya sudah mulai habis.

“..sudah aku kasih ke papa…!!” teriak si anak sambil pergi menjauh dari ayahnya. Tampak sang ayah kemudian merogoh-rogohkan tangan ke saku, kemudian buka-buka dompet, sampai kemudian tangan kanannya tampak meraih beberapa lembar uang kertas di saku atas bajunya, dahi berkernyit pada raut mukanya, beberapa saat menghitung lembaran uang itu. Tampak seperti ragu, kemudian memasukkan uang itu ke dompet.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 5 of 12
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo