pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Novel yg luarbiasa! Semua novel2 pak Pitoyo dari yang pertama sampai sekarang. Semuanya bersambung dan melengkapi. Novel2 luarbiasa!"
Sugiharto Gandamihardja


Home Seri Kisah Danen
Hiii.. Nanti Ada Hantu lho..! PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 10 February 2005 07:00

Bagi anda yang pernah membaca kisah raja-raja Romawi kuno, tentunya pernah mendengar seorang tokoh bernama Hannibal. Dia sebenarnya adalah termasuk keluarga bangsawan, hanya saja karena suatu peristiwa sehingga merasa dikecewakan oleh Raja Romawi yang berkuasa saat itu, dia bersama pengikut-pengikutnya kemudian mengasingkan diri di pegunungan-pegunungan untuk melakukan semacam gerilya menteror bangsanya sendiri.

Secara berkala dia bersama pengikutnya berbondong-bondong berkuda masuk ke desa-desa juga perkotaan untuk merampok siapa saja yang dilewatinya baik itu orang yang lewat, ataupun harus mendobrak rumah-rumah disepanjang perjalanan yang dilewati mereka.

Tentara Roma pun selama beberapa tahun sampai akhirnya dia tertangkap, dibuat tidak mampu menahan aksi Hannibal dan pengikutnya yang selalu berpindah-pindah secara acak. Dari legendanya pun diceritakan bahwa aksi mereka sering diikuti pembantaian terhadap orang-orang yang berusaha melawan mereka untuk mempertahankan desa-desa mereka. Selama bertahun-tahun saat itu, Hannibal dan gerombolannya telah memberikan teror yang luar-biasa menakutkan bagi penduduk Romawi.

Desa-desa di daerah Romawi kala itu umumnya berbentuk cluster-cluster, dimana setiap clusternya merupakan satu wilayah desa. Setiap cluster umumnya dikelilingi oleh pagar pengaman, dan hanya terdapat satu pintu saja yang berupa gerbang besar untuk lalu-lintas keluar masuk ke wilayah desa tersebut.

“Hannibal ad portas !!!” atau kurang lebih berarti “Awas…Hannibal menuju gerbang..!!!”, adalah sebuah teriakan penjaga gerbang desa yang selalu menjadi teror mengerikan bagi warga desa tersebut. Walaupun kedatangan Hannibal dan rombongannya ini tidak berarti selalu menimbulkan korban manusia, tapi setiap teriakan tadi selalu menimbulkan suasana mencekam dan ketakutan yang luar biasa.

Bagi orang-orang dewasa Romawi teriakan “Hannibal ad portas !!” ini menjadi usang dan tidak begitu menakutkan lagi setelah Hannibal tertangkap dan gerombolannya menjadi tercerai berai karenanya. Tapi ternyata tidak bagi anak-anak, bahkan sampai lima abad setelah kejadian itu menjelang abad ke duapuluh, kata-kata itu masih cukup efektif untuk ‘menakut-nakuti’ anak-anak terutama di wilayah pedesaan di Italy, agar anak-anak tersebut tidak melakukan hal-hal yang dilarang orang tuanya. Bila saja ada seorang anak yang menurut orang-tuanya, sudah waktunya untuk masuk rumah di malam hari tapi masih ingin bermain di luar rumah, sang orang tua cukup berkata “Hannibal ad portas..!”. Sang anak akan menjadi pucat ketakutan membayangkan seorang Hannibal yang mengerikan berdasar bayangannya atas dongeng turun-temurun  kisah Hannibal yang semakin generasi demi generasi ceritanya dibuat semakin mengerikan. Yang kemudian si anak akan buru-buru lari masuk rumah.

Menurut saya cara mendidik anak seperti ini adalah cara paling primitif, yaitu dengan cara menciptakan ketakutan-ketakutan. Yang walaupun secara jangka pendek cukup efektif membuat si anak melakukan sesuatu sesuai harapan, saya tetap tidak suka bila melihat orang-tua mendidik dengan cara demikian, karena secara jangka panjang menurut saya tidak begitu baik bagi perkembangan jiwa si anak.

Di negara asalnya sana, cara “Hannibal ad portas” ini, saat ini sudah banyak hilang seiring dengan semakin berkembangnya cara berpikir para orang-tua di sana untuk memberikan pendidikan yang lebih sehat kepada anak-anaknya.

Hanya saja di negara kita, saya melihat masih saja cara-cara semacam “Hannibal ad portas” ini dipakai agar mungkin tidak begitu merepotkan bagi orang-tua untuk tidak berlama-lama memberikan pengertian kepada anak untuk tidak melakukan sesuatu hal.

Dan sedihnya, saya melihat semakin banyak saja sosok-sosok “Hannibal” sebagai sumber teror, yang dengan mudah orang tua dapatkan tanpa perlu repot-repot mendongengkan kisahnya kepada anak-anak mereka. Karena semakin banyaknya tayangan di televisi yang begitu mengekspos kisah-kisah horor tanpa makna. Bahkan pada tayangan sinetron yang katanya dimaksudkan untuk segmen anak dan remaja juga menampilkan sosok-sosok –yang menurut saya lucu- mengerikan. Sehingga orang-tua sekarang bila dirasa anaknya diluar kendalinya, dengan mudah tinggal berkata : “awas, lho..nanti ada setan yang di tivi kemarin itu lho…!!”

Suatu malam anak saya sedang asyik bermain sepeda dengan teman sebayanya, yang saking asyiknya mereka lupa waktu, dimana sudah saatnya mereka untuk tidur. Cukup lama saya bernegosiasi dengan anak saya, memberi pengertian kepada anak saya bahwa saat itu sudah saatnya untuk tidur. Yang walaupun susah payah, saya merasa senang karena telah berusaha memberikan pengertian yang sehat kepada anak saya.

Saya hanya ikut sedih merasakan teman sebaya anak saya yang juga ikut sepedaan. Sementara orang-tuanya yang begitu mempercayakan si anak kepada pengasuhnya, ketika menghampiri si anak, sang pengasuh cukup berteriak singkat : “Ayo masuk!!…awas lho ada hantu gentayangan…”. Si anak pun dengan ketakutan berlari masuk rumah.

Saya nggak tahu mengapa harus demikian….

 

10 Februari 2005

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Thursday, 05 August 2010 11:52
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo