pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..bukunya Pitoyo Amrih tiap terbit baru, selalu rame dikampus kami.."
Te Effendy


Home Seri Kisah Danen
Sampai Dimanakah Kesabaran Kita..? PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 24 October 2004 07:00

Percayakah anda kalau saya katakan bahwa anak-anak kita sebenarnya adalah guru-guru kita dalam kita menjalani kehidupan sebagai orang tua? Bisa jadi anda melihat hal ini sebagai sesuatu yang rada aneh. Saya menganggap seseorang bisa dikatakan sebagai guru ketika dia antara lain mampu menunjukkan kepada orang lain – yang dalam hal ini tentunya bisa kita sebut sebagai murid - sebuah ‘pintu’ untuk dibuka. Kemampuan sang guru hanya sebatas menunjukkan ‘pintu’ tadi. Apakah ‘pintu’ tadi kemudian akan dibuka sehingga memberikan nilai tambah –bisa berupa pengetahuan, ketrampilan, ataupun budi pekerti- akan sangat tergantung dari kemauan sang murid.

Segala tingkah polah anak saya setiap detik interaksinya dengan kehidupan, telah memperlihatkan begitu banyak ‘pintu’ kepada saya. Itulah mengapa anak saya, saya katakan sebagai guru saya, yang mendidik dan mengajari saya bagaimana menjadi orang tua. Begitu banyak ‘pintu’ yang anak saya perlihatkan kepada saya, sungguh saya berusaha keras untuk selalu mau membuka setiap ‘pintu’ tadi sehingga saya bisa menimba ilmu bagaimana berpengetahuan tentang orang tua yang baik, memiliki ketrampilan yang menjadi kewajiban setiap orang tua, dan berbudi pekerti yang contoh nyata-nya akan efektif menjadi cermin bagi sang anak.

Dan menjadi murid dari guru saya yang satu ini ternyata tidaklah mudah, karena semangat untuk mau membuka ‘pintu’ tadi tidaklah selalu ada ketika ‘pintu’ tersebut sudah berada dihadapan kita.

Guru saya yang satu ini, tidak lain adalah Danen, anak saya yang masih berumur dua tahun dua bulan. Seminggu terakhir ini telah menunjukkan kepada saya sebuah ‘pintu’ yang begitu susah untuk saya buka. ‘Pintu’ tadi dia wujudkan dengan tingkah laku dia yang hampir setiap hari menyebar semua mainannya di semua penjuru rumah.

Lebih-lebih beberapa hari yang lalu, ketika kebetulan karena tugas di kantor saya harus pulang rada malam. Sesampai saya di rumah, saya dapati dia begitu riangnya mengeluarkan semua mainannya dari dalam lemari. Mainan-mainannya yang tersimpan di dalam beberapa kotak, setiap kotak dia keluarkan dia bawa ke ruang tamu, kemudian kotak tersebut dia balik sehingga seluruh isinya jatuh menyebar di lantai. Kemudian dia ambil kotak yang lain, dia bawa ke dapur, kembali kotak dia balik sehingga hal yang sama pun terjadi. Kotak yang lain dia bawa ke kamar tidur untuk ‘ritual’ yang sama.

Saya kebetulan termasuk orang yang kurang begitu suka terhadap keadaan berantakan ada di hadapan saya, walaupun saya sadar bahwa kegiatan yang dilakukan anak saya tadi adalah dalam rangka pembelajaran dirinya, masih saja keadaan itu mengganggu saya malam hari itu sepulang saya dari kantor.

“Danen,..mainannya diberesin, yuk.., papa bantuin...”, saya mencoba untuk bernegosiasi agar dia menghentikan apa yang dilakukannya.

“Jangan..! ini baru mau dibetulin sama Danen,” jawabnya singkat.

Ketika dia sibuk bermain dengan mainannya yang tersebar di ruang tamu, mainan-mainannya yang berserakan di dapur dan kamar tidur, saya kumpulkan untuk saya kembalikan ke kotak, kemudian saya kembalikan ke lemari di bawah tangga tempatnya semula.

Belum sempat saya duduk setelah itu, Danen pun kemudian berlari mengambil kotak-kotak yang saya masukkan ke lemari tadi, kembali dia tuang kotak-kotak mainan itu di dapur dan kamar tidur. Ketika itu kemudian dia bermain dengan mainan-maianannya yang berserakan di dapur, sehingga kesempatan itu saya gunakan untuk membereskan mainanya yang di ruang tamu.

Namun hal yang sama terulang lagi, dia berlari mengambil kotak mainan yang telah saya bereskan, kembali dia tuang di tempatnya semula di mana mainan itu berserakan. Begitu seterusnya kejadian yang sama berulang sampai beberapa kali sampai tiba-tiba tanpa sadar saya pun berucap dengan intonasi yang rada tinggi, “Danen! Kalau bermain di satu tempat saja! Jangan semua tempat diberantakin..!”

Sesaat kemudian, dia pun terkejut sambil dia mulai menangis sesenggukan. Sepanjang ingatan saya, memang tidak pernah saya berucap sekeras itu kepada dia. Sehingga beberapa saat kemudian saya pun dihinggapi rasa kecewa yang amat sangat. Sebuah ‘pintu’ yang telah diperlihatkan ke hadapan saya oleh anak saya, sehingga yang saya lakukan tinggal mengumpulkan kemauan untuk membuka ‘pintu’ itu, tiba-tiba hilang tepat ketika saya berucap setengah berteriak kepada guru saya. Sebuah ‘pintu’ yang berisi tentang ‘paket pelatihan’ untuk melatih rasa sabar dalam diri.

Kesabaran bagi saya adalah sebuah pilihan respon untuk menyikapi terentangnya jarak antara harapan dan kenyataan. Jarak ini bisa berwujud ruang atau pun waktu. Pilihan respon inilah yang bisa memberikan predikat kepada seseorang apakah dia termasuk orang yang proaktif atau reaktif. Orang mampu memilih untuk bisa sabar, konon katanya, itu adalah sebuah ketrampilan, bukan sebuah pengetahuan atau pun salah satu komponen budi pekerti. Dan biasanya kualitas sebuah ketrampilan banyak dipengaruhi oleh ‘jam terbang’ seseorang dalam melakukan ketrampilan tersebut.

Sehingga apa yang saya lakukan tadi telah menyia-nyiakan kesempatan saya mendapatkan ‘paket pelatihan’ untuk menambah ‘jam terbang’ saya untuk bisa melatih sabar.

Memang tidak mudah untuk menjawab, ketika kita diberi pertanyaan “Sampai dimanakah kesabaran kita....?”

 

24 Okt 2004

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Thursday, 05 August 2010 09:08
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo