pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Wah! Sip tenan mas Pitoyo.."
Anjar Wibisono


Home Seri Wacana Budaya
Membawa Pentas Wayang Dalam Novel PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 12 August 2018 08:21

Ditulis sebagai makalah seminar dalam rangka Gerakan Buku Wayang Untuk Indonesia, diselenggarakan oleh ASIA WANGI, Paguyuban Karyawan BCA Pecinta Wayang Indonesia, Malang, 7 Juli 2018, di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Dalam seminar tersebut, selain saya, hadir pula narasumber dari yayasan wayang Indonesia "Senawangi", Bp Sumari, dan seniman kondang, mas Sujiwo Tejo. Seminar yang berlangsung selama lebih dari 3 jam, dipandu oleh guru besar Universitas Negeri Malang, Prof. Heri Suwignyo.

 

Tepat pada tanggal 7 November 2003, Wayang, sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia, mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai: The World Masterpiece of Intangible Cultural Heritage of Humanity. Sebuah kebanggaan bagi kita bangsa Indonesia. Lalu apa setelah itu? Apakah kemudian dengan penghargaan itu, maka tanpa upaya pun dengan sendirinya wayang sebagai budaya akan selalu megah berdiri sepanjang masa? Siapa yang harus menjaga agar itu semua tetap lestari?

 

Sebelum kita mendiskusikan hal ini lebih lanjut, mungkin kita perlu sepakat dulu terhadap apa yang disebut dengan ‘wayang’. Banyak praktisi, akademisi, pengamat, pencinta wayang mencoba membuat definisi apa itu wayang dari perspektif mereka masing-masing. Suatu hal yang akan selalu semakin memperlebar cakrawala kita melihat apa dan mengapa wayang itu. Dari sekian banyak pendapat mengemuka, saya mencoba mendengar, merenungi apa itu wayang, kemudian mencoba menawarkan sebuah pijakan bagaimana wayang itu kita lihat bersama-sama. Kurang lebih dengan penjabaran:

 

Media kreatif pertunjukkan dengan peraga, menceritakan simbol-simbol berbentuk kisah, dalam rangka mengkomunikasikan nilai-nilai nusantara.

 

Ada tiga hal yang menjadi pilar seperti jabaran di atas yang saya beri garis tebal, yaitu:

  • Pertunjukkan dengan peraga
  • Simbol-simbol berbentuk kisah, dan
  • Mengkomunikasikan nilai-nilai nusantara.

 

Tiga hal yang bila dilihat secara keseluruhan membangun pengertian apa itu ‘wayang’, namun dengan tiga hal itu pula kita bisa memerinci elemen yang membangun wayang sehingga bisa kita semua sentuh dan selalu bawa ke permukaan secara bersama-sama, di tengah anggapan bahwa melestarikan ‘wayang’ hanya mampu digapai oleh mereka para praktisi pertunjukkan wayang tradisional dan para akademisi budaya ‘wayang’.

 

Pertunjukkan dengan peraga ada yang dikemas menggunakan kriya tatah sungging pada kulit binatang, ada dalam bentuk ukiran kayu, bahkan bisa berupa peraga manusia betulan. Lalu apa bedanya dengan pertunjukkan boneka yang ada di banyak negara? Yang membuatnya unik adalah pilar berikutnya: simbol sebuah kisah dalam mengkomunikasikan nilai nusantara. Nilai kehidupan nusantara hanya ada dalam keseharian nafas pertunjukkan peraga yang ada di sekitar kita. Yang sejarahnya ternyata juga tidak sederhana. Konon bermula dari apa yang disebut wayang beber sebelum abad 10 M. Terbangun berawal dari sesuatu yang sangat sederhana, sekedar kumpul-kumpul, seseorang diantara mereka menggelar gambar sebuah cerita, kemudian dia bertutur tentangnya. Ada nilai-nilai yang kemudian disisipkan. Seperti orang tua yang menemani anaknya menjelang tidur malam dengan kisah menggugah dan memberi pelajaran.

 

Kumpul-kumpul itu pun berkembang. Kemudian dibuat tetabuhan agar semakin membangun suasana. Diciptakan tata cara dialog antar tokoh agar lebih kuat membawa karakternya. Disusun pola urutan cerita agar menarik semarak. Dari generasi ke generasi. Muncullah apa yang disebut sebagai pakem pertunjukkan tradisional wayang. Standar-standar yang harus dipatuhi dalam pentas wayang. Apa yang disebut antawacana, suluk yang dipakai, pilihan tembang, urutan lakon dalam pementasan. Hingga sekarang kita mengenal pertunjukkan peraga wayang tradisional yang begitu kaya. Wayang kulit, wayang golek, wayang orang. Walau beberapa diantaranya juga sudah mulai dilupakan orang: wayang klithik, wayang thengul, wayang beber, wayang potehi, wayang suket.

 

Cerita yang digunakan pun kemudian juga berkembang. Seringkali juga membawa kisah keseharian dimana pentas itu diselenggarakan. Jadilah cerita dengan peraga itu membawa simbol-simbol sebuah kisah. Kisah yang populer memang terisnpirasi dari kitab Ramayana-nya Walmiki dan Mahabharata-nya Vyasa. Namun kehidupan khas nusantara berangsur menyulam gubahan cerita hingga sama sekali tak ada lagi kesan darimana cerita itu berasal. Yang terjadi justru tutur kisah itu menjadi begitu me-lokal. Semar, Gareng, Petruk, Bagong membuatnya menjadi sangat Jawa. Cepot dan Dawala membangun atmosfir cerita begitu berasa Sunda. Di seputaran Yogya, Gatotkaca pun dibuat memiliki saudara dengan Antareja dan Antasena. Bahkan sedikit ke barat pada cerita gagrak Banyumasan, anak-anak Bima pun menjadi lima. Ada tokoh Besut sebagai penyeimbang celoteh Bagong di gagrak Jawa Timuran.

 

Dan ternyata tak hanya itu! Imajinasi yang begitu kaya menggubah cerita yang populer itu dengan sebutan Wayang Purwa, sebuah cerita pembukaan. Dibuatlah kemudian juga sanggit cerita Wayang Madya, hingga Wayang Wasana, mempertemukannya tokoh-tokoh yang juga ada dalam sejarah dan legenda tanah Jawa. Seolah cerita itu menyambung menjadi babad tanah Jawa. Kisah Ramayana dan Mahabharata pun digubah hingga tak berjeda. Tokoh Hanoman dibuat merentang ada di segala jaman.

 

Ada juga gubahan cerita Timur Tengah yang dibuat cerita dalam wayang menak. Kisah panji dalam wayang panji. Bahkan hikayat binatang dalam wayang kancil, kisah dan legenda para wali, sejarah kemerdekaan, bahkan juga mengangkat cerita orang-orang keseharian desa pada wayang kampung sebelah.

 

Itu semua dalam rangka bercerita tentang nilai yang ada di sekitar kita. Nilai yang membawa kepribadian kita sebagai bangsa yang menghuni nusantara ini. Jadilah wayang sebagai pengkomunikasi nilai-nilai nusantara. Nilai keseharian tradisional, bahkan nilai kehidupan modern negri kita. Baik ciri khas lokal di setiap daerah, maupun nilai universal. Seperti kejujuran, integritas, watak ksatria. Komunikasi yang juga merentang waktu, tidak hanya ditransmisikan dalam satu waktu, tapi juga dibawa estafet dari generasi ke generasi.

 

Secara kolektif kita berbangsa, memang ada tanggungjawab agar ini semua lestari. Agar penghargaan UNESCO tidak hanya menggelegar saat itu dicanangkan di tahun 2003, tapi juga terus menggema abadi. Adalah negara yang kemudian merasa perlu menciptakan kesinambungan dengan dibuatnya lembaga pendidikan formal yang mencetak akademisi dan praktisi wayang sebagai kesatuan dari tiga pilar di atas. Lalu diluar itu, kita sebagai yang bukan akademisi dan praktisi wayang apakah hanya duduk diam, sementara teknologi dan budaya kekinian begitu gegap gempita menawarkan semua hal dari segala penjuru dunia?

 

Seminar Wayang BCA 7 Jul 2018Ketika definisi wayang bisa diurai dalam tiga komponen di atas, rasanya akan lebih mudah bagi kita diluar akademisi dan praktisi wayang untuk menjangkau peran kita dalam berkontribusi positif dalam pelestarian wayang itu. Di ranah nilai-nilai nusantara, siapa saja bisa membangun narasi, menelaah, merangsang diskusi tentang apa itu nilai-nilai nusantara. Dalam pengkayaan kisah-kisah yang digunakan dalam wayang, siapa saja bisa menggali kembali, merepresentasikan ulang, merekontruksi segala cerita yang pernah digunakan dalam pentas pertunjukkan wayang.

 

Seperti hal yang saat ini coba saya upayakan untuk sekedar menyumbang peran. Dengan merangkai kembali kisah itu dalam naskah. Memperlihatkan pentas dalam bentuk buku. Sebuah novel. Hal yang juga saya rangkai setiap detailnya dengan serius. Bertitik tolak dari cerita pedalangan Yogyakarta-Surakarta, saya ciptakan peta dunia wayang, daftar tokoh karakter, timeline masing-masing perjalanan hidupnya, gambaran-gambaran detail kostum, bangunan, tata kehidupan masyarakat, dan jalinan narasi unik seolah kehidupan itu nyata. Dengan pendekatan cerita close-up tokoh-tokoh yang membawa inspirasi. Tidak hanya tentang kehebatannya, tapi juga sifat manusiawinya, kepahlawanan dan lembar hitamnya. Yang kemudian tersaji dalam sebuah novel. Sekian yang sudah terbit bisa dinikmati secara terpisah, tapi bila membaca keseluruhannya akan terasa benang merah keterkaitan antar satu novel dengan lainnya.

 

Sehingga ketika nilai dan kisah wayang itu selalu kita bawa ke permukaan, setiap pentas wayang pun akan selalu terasa relevan dalam apapun suasana dan waktu, juga dimanapun pertunjukkan itu digelar.

 

Dan semuanya akan menjadi selalu hidup. Diskusi tentang nilai-nilai yang harus diangkat dalam pentas wayang akan selalu ada, tidak harus oleh akademisi dan praktisi wayang, tapi bisa dan boleh disemarakkan oleh semua yang merasa mencintai wayang. Kisah-kisah yang memungkinkan untuk selalu ditawarkan oleh siapa saja. Tidak hanya dalam bentuk novel, bisa kumpulan cerita, cerita bergambar, komik. Tidak hanya dalam bentuk naskah, bisa juga pada apa pun karya visual yang kini begitu banyak ragam medianya. Dan pentas pun semakin kaya. Yang pentas kontemporer akan selalu kemudian tercipta, yang pagelaran tradisional membuat orang akan selalu haus mencari.

 

Sehingga seribu tahun di depan sana, nilai-nilai dalam wayang akan selalu didiskusikan, cerita-cerita wayang ada dimana-mana dalam bentuk naskah dan karya visual, dan kebutuhan terhadap pagelaran wayang tradisional untuk selalu dihidupkan.

 

 

Solo, Juni 2018

Pitoyo Amrih

Penulis Novel Dunia Wayang




Last Updated on Sunday, 12 August 2018 08:36
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2018 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo