pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Saya senang akhirnya bisa menemukan wadah untuk mengetahui dan berbagi budaya wayang.."
Widya Violetta


Home Lelakon Menginspirasi
Kresna Duta PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 08 June 2013 09:16


“Begitu mengerikan..!! Makhluk apa ini..!!”

 

“Tolooong..!!”

 

“Aampuun Gusti.., ampuun Gusti…, bencana apa yang menimpa kami ini..Gusti…”

 

Begitulah teriakan memilukan terdengar di sana-sini. Pasar di sisi selatan alun-alun Hastinapura yang semula begitu ramai orang riuh-rendah menjajakan dagangannya, serta merta berubah menjadi jeritan-jeritan mengerikan. Orang-orang berlarian tak tentu arah. Ada yang mengaduh kesakitan karena terinjak-injak. Ada yang tiba-tiba badannya kaku tak kuasa untuk bergerak melihat pemandangan yang terjadi di situ. Ada juga yang begitu takutnya melempar begitu saja semua barang yang dibawanya dan berlari kesana kemari tak karuan.

 

Sebuah pemandangan yang begitu membelalakkan mata memang. Di tengah alun-alun Hastinapura itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba telah berdiri sesosok raksasa yang begitu besar. Begitu besarnya, terlihat pucuk istana Hastinapura yang begitu tinggi itupun hanya sejajar dengan betis bawah sang raksasa. Si Raksasa terlihat menggerang-erang, berulangkali menghantam-hantamkan sendiri kepalan tangannya ke dada. Teriakannya seakan menggema ke seluruh penjuru negri Hastinapura, menciptakan teror dan ketakutan sendiri bagi rakyat Hastina. Kengerian yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

 

Setiap hentakan kakinya seperti menghujam ke tanah, menimbulkan getaran yang hebat. Bangunan-bangunan kecil di sekitar istana pun mulai retak, sebagian bahkan sudah roboh, setiap tergetar hentakan kaki itu. Suara dentuman kepalan sang Raksasa begitu memekakkan telinga. Suara yang keluar dari sang raksasa juga meraung-raung keras membuat tuli siapa saja yang tidak sempat menutup telinganya.

 

Setiap erangan itu diikuti kemilau kobaran api yang begitu hebat keluar dari mulutnya.

 

“Rrraaaarghh…!!” kembali suara keluar dari mulutnya. Kali ini teriakan dilakukan dengan kepala setengah tertunduk, membuat kobaran api yang keluar dari mulutnya dalam sekejap menyambar bangunan pasar di selatan alun-alun. Merah menyala, berkobar, asap membumbung tinggi, dan tak berapa lama bangunan pasar itu menjadi ludes tak tersisa.

 

“Krrreeegggahrghh..!” kembali sang raksasa berteriak. Kali ini kepalanya setengah tertunduk menoleh ke kiri. Membuat bangunan tiang menara candi di sisi timur alun-alun menyala seketika. Dan seketika itu pun juga api padam menyisakan reruntuhan bangunan candi menjadi tak berbentuk.

 

“Toooloong..!” terdengar suara teriakan orang berlari di dekat telapak kaki sang raksasa. Orang yang berusaha lari menyelamatkan diri. Tapi.., blup! Bedebuumm! Tiba-tiba tubuh yang berlari ini hancur tak berbentuk lagi ditimpa kaki besar sang raksasa, yang dihentakkannya.

 

Terlihat para pembesar istana Hastinapura hanya mampu berdiri terpaku menyaksikan Raksasa yang tampaknya sedang marah. Para petinggi Hastinapura ini jelas semuanya sakti. Tapi entah karena mereka terlalu takut, atau sengaja membiarkan kemarahan sang raksasa, yang jelas terlihat beberapa orang berdiri dengan baju kebesaran kerajaan. Mereka hanya berdiri menengadahkan kepala melihat sang raksasa.

 

“Bapa Salya..!! Tampaknya hanyalah Bapa Prabu saja yang mampu dan layak menandingi amarah raja Dwarawati ini..” terdengar lengkingan teriakan seseorang diantara para petinggi istana di pendapa.

 

Prabu Salya yang dihardik setengah membentak hanya terdiam. Badannya tetap mematung tak bergerak, kepalanya tengadah memperhatikan gerak-gerik Sang Raksasa. Entah sudah berapa ratus korban jiwa rakyat jelata, dan sekian puluh bangunan hancur oleh sepak terjang Sang Raksasa ini.

 

“Bapa Salya..!!!” kembali terdengar lengkingan berteriak dari ksatria tadi setengah membentak Prabu Salya.

 

Prabu Salya hanya menoleh kearah sang ksatria yang menghardiknya. Pandangan matanya tajam pertanda rasa tak suka. Beberapa saat kemudian, kembali dia menancapkan pandangan kepada Sang Raksasa. Sambil kemudian berkacak pinggang.

 

“Heeii, ..orang tua macam apa kamu, Bapa Salya.., tidak peduli kepada kesusahan anak-anaknya..!!” kembali sang ksatria yang sama melengking berteriak. Teriakan yang cukup memerahkan telinga. Bahkan bagi siapa pun yang mendengar di situ. Sampai-sampai membuat orang-orang yang ada disitu menoleh ke arah sang ksatria.

 

Ksatria ini begitu tajam mulutnya. Matanya terlihat melotot ke arah Salya, sambil berkacak pinggang. Seorang ksatria dengan perawakan sedang. Berwajah tampan, berkulit hitam, kumis tipis, dan bermahkotakan seorang raja. Ada yang beda dengan yang lainnya, ksatria ini memakai hiasan seperti anting-anting bulat berwarna keperakan menempel di kedua telinganya.

 

“Hei, ..bapa Salya…, untuk apa kamu datang ikut bergabung dengan kami, bila saat dibutuhkan kamu hanya diam saja…!” kembali sang ksatria berkata begitu pedasnya. “Tak menyangka, kamu begitu pengecut.!! Apakah kamu masih belum cukup tua untuk bisa mengendalikan amarah Raja Kresna.., ha! Apakah kamu sengaja kesini tapi berpihak dengan mereka.., kamu tuli, bapa Prabu..!!”

 

“Sudahlah, dimas..” terdengar suara berat dari belakang sang ksatria. Seseorang yang berdiri paling belakang di bawah pintu pendapa bagian dalam. Seseorang dengan perawakan tinggi besar, bermahkota seorang raja. Duryudana.

 

“Suruh pulang saja, sang bapa Prabu ini bila tidak ada gunanya disini..!!”, kembali sang ksatria berbaju perak ini menukas menyakitkan telinga.

 

“Dimas Karna…,” kembali sang Duryudana memotong, “Saya pikir tak ada untungnya juga bila saat ini meladeni kemarahan Prabu Kresna, biarkan dia meluapkan kemarahannya, bila dia melihat korban berjatuhan dari rakyat tak berdosa, biasanya akan meluruh sendiri kemarahannya..”

 

Tak berapa lama kemudian, ksatria yang dipanggil Karna ini berjalan tegap keluar pendapa. Dengan satu hentakan kaki, dia melesat tinggi. Lompatan yang melesat ke arah utara. Setengah terbang melompati pucuk-pucuk kubah istana Hastinapura, pergi menjauhi alun-alun.

 

 

*****

 

 

Eleg-eleg-eleg, werkincong warudoyong…,” terdengar suara menggema muncul entah darimana. Suara yang dari latah kalimatnya bisa ditebak adalah ungkapan latah Sang patih bangsa Dewa, Sang Hyang Narada. Suara itu terdengar tidak begitu menggelegar, lembut dan datar, tapi atas kesaktiannya sebagai bangsa Dewa, suara itu begitu terdengar ke seluruh penjuru ibukota Hastinapura. Suara yang terdengar sama, baik oleh yang si alun-alun dekat sumber suara, maupun bagi yang di ujung pelosok ibukota jauh dari sumber suara. Begitu luar biasa kesaktian bangsa Dewa ini.

 

“Sabarlah adik Wisnu, sabar.., janganlah kamu menurutkan amarahmu seperti itu, janganlah korbankan orang yang tak berdosa hanya karena keras kepalanya mereka para raja..” kembali terdengar suara itu, suara Sang Hyang Narada, yang tak satu pun orang disitu tahu persis dimana posisi Narada berdiri.

 

Narada memanggil sang Raksasa dengan sebutan adik Wisnu. Karena sang Raksasa sebenarnya adalah perwujudan amarah tiwikrama raja Dwarawati Sri Baginda Prabu Kresna. Sementara itu beberapa puluh warsa yang lalu ketika Kresna masih muda, karena kebijaksanaanya, salah seorang petinggi bangsa Dewa, Sang Hyang Wisnu, memilih jalan kematiannya dengan cara lenyap beserta raganya merasuk ke tubuh Sri Kresna.

 

Sehingga sampai saat itu pun, para bangsa Dewa masih sering menyebut Sri Baginda Prabu Kresna dengan sebutan Wisnu.

 

“Kembalilah ke wujud asalmu, Wisnu…, tak ada untungnya kamu menciptakan ketakutan seperti itu,” kembali suara Narada terdengar. “Duryudana dan para Kurawa tidak akan merubah pendiriannya walau kamu mengancam seperti itu…, dan lagi mereka tahu bahwa yang kamu lakukan sebenarnya hanyalah sebatas ancaman dan teror, tidak benar-benar akan melakukan kerusakan di ibukota Hastinapura ini…”

 

“Ppeerraarrggghh..!!!” terdengar suara bagai halilintar keluar dari mulut sang Raksasa. Suara yang begitu memekakkan telinga. Diikuti kobaran api berbentuk bola menjalar ke arah langit. Bersamaan dengan itu, kakinya dihentakkan ke tanah, Beddegarrhh!! Membuat seluruh tanah di alun-alun itu bergetar dan bangunan di atasnya mulai retak-retak.

 

Terlihat ratusan prajurit Hastinapura, atas inisiatif senapati mereka, membentuk barisan dan melepas ratusan anak panah ke arah sang Raksasa. Tapi bagaikan bulu-bulu berterbangan, sebelum menyentuh tubuh sang Raksasa, atas kibasan angin yang keluar dari mulut Raksasa, panah-panah itu berjumpalitan tak karuan, kemudian melayang jatuh ke tanah.

 

Tapi rupanya para prajurit tidak putus asa. Beberapa kali senapati-senapati mereka memberi semangat untuk tidak henti-hentinya melemparkan ratusan, bahkan ribuan panah ke arah Raksasa. Tapi kejadian yang sama selalu terjadi, panah selalu mental membentur udara, dan jatuh ke bawah.

 

Tapi anehnya, diperlakukan demikian, sang Raksasa masih juga hanya berdiri ditempatnya berdiri. Tidak ada gerakan sang Raksasa yang menandakan akan menyerang memporak-porandakan para prajurit pemanah. Karena bilasaja sang Raksasa mau, sekali kibas, ratusan prajurit itu bisa langsung meregang nyawa.

 

Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh terjadi. Suasana siang itu yang semula panas terik, berubah menjadi jingga dimana-mana. Yah,..sinar matahari itu seperti berubah warna, yang semula putih terang, cahayanya meredup dan menebarkan warna jingga dimana-mana. Seluruh bangunan disitu, alun-alun, dan wujud Raksasa jelmaan Kresna itu pun menjadi tampak jingga.

 

“..Apakah kehidupan di atas dunia wayang akan kamu musnahkan hari ini, kakang Wisnu…?” terdengar suara menggema, sepertinya berasal dari langit. Suara yang bernada datar tapi juga terdengar ke seluruh penjuru negri. Tidak seperti Batara Narada yang parau, suara ini lebih terdengar halus dan jernih. Begitu tajam dan membujuk. Siapa pun yang mendengar seperti terbuai akan daya magis suara itu. Sehingga orang yang panik berlari ketakutan pun bisa menghentikan langkahnya dan menengadah mencari asal suara. Bahka para prajurit yang siap memanah, memilih tak mengindahkan senapatinya, urung memanah dan mendongakkan kepala mereka.

 

Tak ada yang nampak diatas, selain matahari yang redup dan berwarna jingga, dan hamparan langit yang juga ikut berwarna jingga.

 

Suara itu datang dari atas sana, hanya orang-orang dengan tataran kesaktian yang sangat tinggi dan sasmita yang terlatih yang mampu melihat asal suara ini. Suara yang keluar dari mulut seseorang yang duduk di singgasana, jauh diatas langit, diatas tempat berdiri berbentuk seperti lingkaran pipih bersinar terang yang selalu bergerak mengikuti lintasan matahari. Sehingga selalu berada pada posisi antara matahari dan jagad dunia wayang. Orang biasa tak akan mampu melihat singgasana ini. Mata mereka tidak akan mampu berlama-lama melihatnya karena kemilau sinar matahari. Terlihat seseorang duduk disinggasana itu, memakai mahkota seorang dari bangsa Dewa. Mahkota, jubah lengan panjang, terompah, bahkan singgasananya berwarna perak bersinar terang. Wajah tampannya tidak bisa terlihat secara jelas karena silau cahaya perak ini.

 

Salah seorang bangsa Dewa yang merasa diberi mandat Sang Pencipta untuk selalu memelihara sinar Matahari yang bersinar memberikan nafas kehidupan bagi rakyat dunia wayang. Sang Dewa bernama Sang Hyang Batara Surya.

 

“Haaaoohhghh..!!” sebuah lolongan panjang keluar dari sang Raksasa. Bersamaan dengan itu keluar dari hidung sang Raksasa, asap tebal berwarna putih pekat. Asap putih itu begitu banyaknya sehingga mampu menyelimuti seluruh ibukota Hastinapura. Seluruh kota berwarna putih bagaikan dilanda kabut tebal. Pun termasuk seluruh tubuh Raksasa seolah lenyap ditelan kabut putih yang kemuar dari lobang hidungnya sendiri. Terdengar suara batuk-batuk dari ratusan prajurit. Hanya putih sejauh mata mereka memandang. Bahkan teman prajurit disekitar mereka pun tak nampak.

 

Cukup lama kabut putih itu menyelimuti. Warna jingga di langit perlahan kembali menjadi sediakala. Cerah langit biru dengan matahari terik tepat diatas kepala. Sinar matahari itu begitu menjadi benderang, sehingga seolah membantu berlalunya sang kabut putih tebal.

 

Semakin terang dan semakin terang, kabut putih menghilang. Terlihat orang-orang yang berjatuhan di sepanjang tepi lapangan serta ratusan prajurit tersebar di sudut-sudut bangunan, dengan membawa gandewa. Mereka semua seperti melongo terbengong-bengong mendapati Raksasa itu telah lenyap dari pandangan mata, bersamaan dengan berlalunya kabut putih tebal yang semula menyelimuti seluruh tubuhnya.

 

Begitu suasana terang, tampaklah sosok bergelimpangan tersebar di alun-alun itu. Sebagian besar manusia-manusia mati ini sudah hancur tak bisa dikenal lagi karena terinjak. Tapi jika dilihat lebih teliti, bayangan kengerian bahwa korban akibat ulah Raksasa jelmaan Kresna, yang semula dianggap dapat mencapai ribuan, ternyata tidak! Sosok-sosok mayat rusak berserakan itu paling banyak mungkin sekitar seratus-duaratus orang.

 

Bangunan pasar terlihat hangus terbakar. Beberapa menara di sekitar bangunan istana juga roboh. Sejenak orang-orang mulai reda dari rasa panik. Mereka melihat dan terheran, ternyata bayangan kengerian akan Raksasa yang mengamuk tidak begitu kentara memperlihatkan kerusakan di ibukota negri Hastinapura ini. Ketika suasana berangsur-angsur tenang, orang-orang mulai membereskan puing-puing itu. Hiruk-pikuk orang-orang terdengar untuk memberikan penghormatan yang pantas bagi yang mati, dan pertolongan bagi yang luka.

 

Diantara hiruk pikuk itu, tampak berdiri ditengah alun-alun seseorang dengan mahkota seorang raja berwarna keperakan. Berkulit gelap dengan kumis tipis di wajah, memakai jubah warna perak kehijauan. Berterompah warna emas. Berdiri diam mematung. Matanya terpejam. Tanganya dilipat didepan. Terlihat dia seperti bernafas panjang terus menerus.

 

Orang-orang disekitar situ, sepertinya tidak peduli terhadap orang bermahkota raja ini. Mereka sibuk mengurusi diri sendiri dan kerusakan yang terjadi di alun-alun itu. Sepertinya tidak ada yang tahu, bahwa wujud Raksasa marah adalah jelmaan dari orang yang bermahkota raja itu. Sang raja yang terkenal akan kebijaksanaanya, titisan Dewa Wisnu, bernama Sri Batara Kresna.

 

“Tidak ada gunanya adik Wisnu menuruti amarah seperti itu.., Baratayudha seperti sudah digariskan Sang Pencipta, cepat atau lambat perang itu akan terjadi, adik Wisnu..” suara Narada berucap.

 

*****

 

“Rupanya tidak ada jalan lain selain perang..” terdengar suara datar Prabu Salya. Mereka semua sudah berkumpul di sisi dalam pendapa. Semua duduk dikursi besar yang berjajar melingkar di sisi dalam pilar-pilar utama pendapa.

 

Di sisi pendapa paling dalam duduk Prabu Duryudana, dengan sorot mata tajam dan ekspresi wajah yang seolah menyimpan sesuatu yang sangat berat di hatinya. Disebelah kirinya duduk Pati Sangkuni, seperti biasa selalu menyerengai, dengan mata yang selalu bergerak-gerak lirik kiri lirik kanan.

 

Berjajar di sisi kiri Patih Sangkuni, tampak duduk berurutan Raden Widura, Pandita Drona dan Resi Bisma. Wajah-wajah prihatin tersirat dimata mereka. Sementara sebelahnya lagi berjajar beberapa kursi kosong.

 

Sisi sebelah kanan Duryudana, sedikit agak jauh dihadapannya duduk Sri Baginda Kresna, pandangan matanya masih memperlihatkan rasa amarah yang belum sepenuhnya reda. Sementara di sebelah Kresna, duduk Satyaki yang bersedaku.

 

Burisrawa terlihat agak jauh di sisi luar pendapa, duduk bersila dilantai sambil memijit-mijit pundaknya sendiri, dan terdengar berulangkali bersendawa keras. Seperti rata-rata bangsa Raksasa, Burisrawa ini memang tidak mengenal tata sopan santun.

 

“.Ehe,..he, bukankah memang seharusnya begitu, nakmas Duryudana,..” terlihat Sangkuni membuka mulutnya sambil menyerengai. Suaranya setengah bergumam setengah diseret, sangat tidak enak didengar. “..Sri Baginda Kresna ini sudah tidak pada tempatnya lagi marah seperti itu, ehe..he, ..daulat raja bukankah sudah di…”

 

“Sebaiknya kamu diam, Sangkuni…” terdengar suara berat. Datang dari mulut Resi Bisma. Menghardik dan memotong kata-kata Sangkuni. “Jaga kesopananmu, tidakkah kau lihat kehadiran bangsa Dewa disini..?!”

 

Sangkuni pun tampak terkesiap, dengan muka berubah pucat pasi. Secara olah kanuragan, Sangkuni memang tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk disetarakan dengan para ksatria. Tapi pikirannya begitu licik, dan lidahnya begitu licin, sehingga dapat saja membuat orang yang tidak begitu kuat pendiriannya, terpikat oleh segala bujukannya.

 

Sehingga Sangkuni tidak begitu paham akan hadirnya empat bangsa Dewa disitu. Hanya mereka yang memiliki sasmita tinggilah yang tahu persis bahwa disitu juga hadir sukma tanpa raga para bangsa Dewa. Yang dengan kesaktiannya ikut hadir pada pertemuan itu. Mungkin dimaksudkan agar Kurawa bisa berlaku sopan terhadap tamu mereka, Sri Kresna.

 

Karena tidak hanya bangsa manusia, bangsa Dewa pun yang merupakan ras yang diciptakan memiliki kedudukan istimewa di dunia wayang, sangat merasa takut bila Kresna tiwikrama merubah dirinya menjadi Brahalasewu. Kehadiran sukma para petinggi Dewa ini untuk menjaga perasaan Kresna.

 

Para petinggi bangsa Dewa ini berdiri berjajar di sebelah duduk Satyaki. Butuh waskita yang sangat tinggi untuk merasakan apalagi melihat kehadirannya. Tampak lamat-lamat garis perwujudan empat orang. Tubuh gemuk Batara Narada yang tak asing lagi, disebelahnya seorang tinggi besar Sang Hyang Ramaparasu. Sementara dua orang bangsa dewa lagi berdiri agak kebelakang. Dengan postur sedang bermahkotakan dewa, memakai jubah yang serba putih semua. Satu orang dikenal dengan nama Sang Hyang Janaka, sementara disebelahnya tidak banyak yang tahu. Seorang bangsa Dewa yang masih sangat muda, baru sekali itu berkunjung ke marcapada dunia wayang, bernama Batara Kanwa.

 

Sangkuni tampak grogi dan tengok kanan tengok kiri. Tapi tetap Sangkuni tidak memiliki kemampuan untuk melihat perwujudan keempat orang bangsa Dewa ini.

 

“Nakmas Duryudana,..” terdengar Widura membuka pembicaraan setelah sejenak suasana hening. “Kalau memang perang adalah keputusan yang harus ditempuh, marilah kita sepakati apa yang harus disiapkan..”. “Mungkin waktu nakmas Kresna juga tidak begitu banyak…”

 

Duryudana hanya terdiam. Berulang kali dia terlihat menghela nafas dalam-dalam. Sekilas memang terasa ada sedikit rasa sesal atas apa yang menjadi keputusannya selama ini terhadap para saudaranya, Pandawa.

 

“Nakmas Duryudana…” terdengar Pandita Drona ikut juga angkat bicara. Suaranya begitu parau. “Bila memang nakmas merasa paling berhak terhadap tahta Hastinapura,…maka perang adalah jalan satu-satunya..”

 

“Dimanakah perang itu sebaiknya kita lakukan, nakmas Kresna..?” terdengar Resi Bisma.

 

“Maafkan saya, Resi…, mungkin juga ini semua salah saya sehingga semuanya jadi begini..” sahut Kresna.

 

“Sudahlah, nakmas,..takdir sudah digariskan Sang Pencipta. Mungin kita bisa belajar sesuatu darinya..” kata Resi Bisma kembali.

 

Terdengar Sri Kresna menghela nafas, kemudian melanjutkan, “Ada sebuah daerah yang sangat luas berada diantara negara Amarta dan Hastinapura. Sebuah padang tandus yang tak berpenghuni. Sebuah tempat yang menurut saya layak untuk menjadi saksi pertempuran suci Pandawa dan Kurawa..”

 

“Hmm, ya..ya..padang Kurusetra.., bagus juga pendapat nakmas Kresna ini, nakmas Duryudana..” terdengar Drona menimpalinya dengan berkata kepada Duryudana.

 

Duryudana masih terdiam. Terlihat ekspresi wajahnya yang begitu berat memikirkan sesuatu masalah. Sementara para bangsa Dewa masih dengan taklim mengikuti sidang itu, diam berdiri, tanpa berkata-kata. Seolah mereka memposisikan diri mereka hanya sebagai saksi. Tidak akan melibatkan terlalu banyak akan perseteruan Pandawa dan Kurawa ini.

 

 

*****

 

 

“..Saya tidak ingin berbagi kekuasaan dengan Pandawa, di Hastinapura ini..!!” tiba-tiba terdengar suara lantang Duryudana. “..Saya hanya akan menyerahkan Hastinapura ketika seluruh darah Kurawa telah tertumpah dan mati..!!” sulit melukiskan kata-kata Duryudana ini. Diucapkan dengan datar tapi begitu lantang. Bahkan terlihat Burisrawa sekilas menelan ludahnya sambil bergidik dengan ekspresi kecut. Sementara Satyaki seperti menahan emosi di wajahnya.

 

Sejenak berhenti, kemudian Duryudana kembali melanjutkan, “..Dan semua ini harus dilalui dengan perang!!…maka dua warsa dari sekarang, purnama ke-lima setelah saat musim kering tiba, ..Padang kurusetra akan menjadi saksi hari pertama pertempuran suci Kurawa dan Pandawa…!!”

 

Semua yang hadir disitu menjadi tercenung mendengar kata-kata Duryudana. Keputusan telah diambil oleh Duryudana, dan genderang perang telah ditabuh atas keputusan itu. Wajah-wajah prihatin semakin terlihat pada para sesepuh. Terutama Resi Bisma, bagaimana pun juga Pandawa maupun Kurawa, adalah masih sama-sama cucunya.

 

Kresnalah yang kemudian pertama kali berdiri. Berjalan mendekati Duryudana sambil berkata, “Baiklah, dimas Duryudana. Keputusan sudah diambil. Pertanda takdir Sang Pencipta akan berlaku. Sebuah perang suci yang memang sudah digariskan….”. Sejenak berhenti, kemudian lanjutnya, “Saya mohon pamit, dimas.. Harus segera saya kabarkan ke Amarta,…begitu banyak yang harus disiapkan..”. Sejenak kemudian berpaling ke Satyaki, “Satyaki…, tolong bawa pulang kereta Dwarawati. Aku akan terbang langsung menuju Amarta…”

 

Belum sempat Satyaki menjawab, Kresna segera bergegas keluar pendapa. Satu hentakan kaki kanan, dalam sekejap membuat Kresna terbang lenyap dari pandangan.


 

8 Jul 2013

Pitoyo Amrih

(adalah cuplikan dari novel "Narasoma", klik disini untuk pembelian ebook)




Last Updated on Saturday, 08 June 2013 09:55
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo