pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..sangat menarik sekali! Berharap sekali suatu saat kisah2 yang pak Pitoyo tulis dapat difilm kan.."
Hamzah Fanshury


Home Karepe Bilung
Blusukan sambil Ngangkang PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 09 January 2013 15:01

karepe bilung gbrWeih! Ini bagus ini,.. dua kata bahasa Jawa yang tadinya jarang diomongkan, hanya jadi guyonan saudara-saudara di desa, itupun pelosok, sekarang kok jadi me-nusantara. Semua seantero Indonesia kini tahu apa itu ‘blusukan’ dan arti kata ‘ngangkang’. Tapi ya itu, sebagian orang menggagas keras nan serius kedua kata ini, tapi sebagian lagi di belakang terkekeh mengejek. Wong ‘blusukan’ dan ‘ngangkang’ kok tiba-tiba menjadi kata yang sering diucap dan ditulis akhir-akhir ini. Di berita koran, televisi, internet. Ada yang berdebat seru berdiskusi, ada yang menjadikannya lelucon.

Kalau dari kata Jawa, ‘blusukan’ itu artinya apa ya? Coba aku ingat-ingat. Waktu aku kecil dulu, kang Togog suka mewanti-wanti supaya aku tidak dolan blusukan, bisa digigit ular, kena duri, nanti bisa kesambet. Berarti kira-kira ‘blusukan’ itu artinya ya pergi ke tempat rimbun, kotor, kebon liar. ‘Blusukan’ mungkin juga boleh diartikan dengan pergi ke tempat yang jarang atau belum pernah disinggahi orang. Sehingga yang melakukan blusukan akan kemungkinan mendapat resiko. Resiko badan kotor, menjadi bau, luka mungkin, atau bahkan sakit. ‘Blusukan’ juga diartikan sebagai kegiatan yang spontanitas, tak direncana, tanpa ijin, diam-diam.

 

Nah, ‘blusukan’ yang dulu disampirkan pada perilaku bocah yang dianggap tidak seperti kebanyakan bocah, akhir-akhir ini, entah siapa yang memulai istilahnya, tiba-tiba menjadi kebiasaan. Mungkin karena kebiasaan pak Jokowi yang bekas Walikota Solo sekarang jadi Gubernur Jakarta itu, yang tidak seperti wong gedhe kebanyakan yang naik mobil kempling, duduk di ruang adem. Beliau ini sukanya masuk keluar kampung kumuh dan tempat-tempat kotor di wilayahnya. Mungkin juga beliau yang pertama kali nyeletuk istilah ‘blusukan’, wong dia orang Jawa tulen.

Tapi bukan berarti pejabat ‘blusukan’ baru pertama kali dilakukan. Sejarah dulu pernah mencatat jaman Romawi juga ada yang suka blusukan, Khalifah Umar juga konon suka menyamar dan keluar masuk orang keramaian, beberapa raja Mataram juga ada yang sukanya diam-diam memantau kesejahteraan rakyatnya dengan cara mendatangi kampung-kampung. Kalau di jaman Wayang dulu sih yang terkenal suka ‘blusukan’ tiba-tiba muncul di tengah keramaian ya si Wong Agung Dwarawati Prabu Kresna itu.

Sebenarnya menurutku tidak ada yang istimewa. Seorang pejabat yang ‘blusukan’, berkotor-kotor masuk ke daerah miskin dan jorok, tanpa protokoler kaku. Seorang pejabat itukan bukan dilayani, mereka dibayar, digaji itu untuk melayani. Sudah sewajarnya beliau-beliau pejabat itu masuk ke tempat-tempat yang mungkin paling buruk, paling jauh dari jangkauannya, untuk memastikan sendiri apakah strategi memajukan menyejahterakan masyarakatnya memang nyata menyentuh lapisan masayarakat paling bawah.

Masalahnya kan jadi salah kaprah, ketika kebiasaan sebelumnya para pejabat itu sukanya hanya duduk-duduk saja perintah sana perintah sini, tak pernah melihat langsung hasil nyata di lapangan, ketika kemudian ada pejabat yang melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh abdi masyarakat malah jadi aneh. Blusukan jadi terlihat aneh, dipergunjingkan banyak orang. Mungkin membuat pejabat yang tersadar peran dan tugas sebenarnya, ikut ‘blusukan’, jadi terkesan ikut-ikutan, jadi ramai kasak-kusuk. Ada yang mencibir, membuatnya semakin ramai. Ya, memang seperti itulah manusia. Hal yag seharusnya justru tidak biasa dilakukan, ketika mulai dilakukan menjadi tidak biasa dan malah dipergunjingkan.

Nah, kalau ‘ngangkang’ ini lain lagi kejadiannya. Sulit juga langsung menilai ini benar ini salah. Dari kacamata agama, wong satu agama saja bisa ada beragam tafsir dan pandangan. Apalagi dari sudut pandang etika, sangat tergantung dari budaya lokal.

Kalau direnungi sih mungkin boleh-boleh saja satu daerah semua masyarakatnya sepakat bahwa duduk naik motor ‘ngangkang ‘ itu tak baik. Tapi masalahnya kan apa ya benar hal itu menjadi prioritas untuk diatur-atur. Orang berkendara naik motor itu kan dalam rangka orang itu pergi dari suatu tempat menuju tempat lain. Pilihannya bisa macam-macam. Kalau dekat ya jalan kaki, jauh naik kendaraan, punya mobil naik mobil, adanya motor naik motor, terjangkau kendaraan umum ya naik kendaraan umum. Dan yang utama dari pindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain, selain tercapainya tujuan, yang paling penting lagi adalah tercapainya tujuan dengan selamat. Mungkin bisa diembel-embeli lebih lengkap misalnya dengan definisi: tercapai tujuan dengan selamat secara pantas, gampang dan murah.

Dari hakekat diatas ini kalau aku kok rasanya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk diatur saat orang berkendara daripada memaksa-maksa orang untuk tidak boleh duduk ‘ngangkang’.

Tapi ya memang jamannya sedang berubah. Otonomi daerah, keterbukaan, bebas bicara, membuat yang tidak prioritas malah digagas, yang tidak penting malah banyak didiskusikan, dan yang pokok-pokok malah dilupakan.

Kalau aku sih sudah biasa ke sawah, ‘blusukan’ sambil ‘ngangkang’, lha wong naik kebo..

 

9 Jan 2013

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Wednesday, 09 January 2013 15:12
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo