pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Omagaahh!!You have to read it bro! Keren!..akan saya ambil beberapa part utk ide radioplay!"
Arie Dagienkz


Home Karepe Bilung
mBagusi PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 03 December 2012 20:11

karepe bilung_gbrOalah,.. jaman sekarang kok ya masih ada seorang priyayi, pemimpin, pejabat, yang kelakuannya mbagusi. Sungguh, aku pikir kelakuan mbagusi bagi seorang pemimpin itu hanya terjadi di jaman wayang dulu. Jaman sekarang kok ya masih ada, seorang bupati yang pethitha-pethithi kemaki. Berdalih dalil-dalil agama untuk membenarkan kelakuan dan akal bulusnya. Inilah yang membuat aku semakin curiga pada orang-orang jaman kini. Agama yang seharusnya menjadi pintu yang memiliki perbawa bagi perenungan diri pribadi masing-masing menuju Tuhannya, kini agama telah menjadi komoditas. Menjadi dasar pembenaran bagi sebuah kepentingan. Menjadi kedok dibalik nafsu. Nafsu keserakahan maupun birahi. Ternyata orang-orang para pemimpin sekarang bisa jadi lebih edan dan nggilani daripada para raja yang pernah saya ikuti dulu.

Kelakuan yang sudah meninggalkan budaya kemanusiaan, yang kemudian berlindung dibalik dalil agama yang tentunya dipelintir dari persepsinya dan kebenarannya sendiri, juga berkilah dengan aturan-aturan hukum yang ditarik ulur, kelakuan seperti inilah yang aku sebut dengan watak mbagusi. Tindak-tanduk yang sebenarnya tidak bagus, tidak baik, tapi dibuat seolah-olah menjadi boleh, bahkan dijejal-jejalkan dengan norma seolah menjadi sesuatu yang baik. Terkadang jadi fetakompli. Oaalaah, bener-bener mbagusi orang-orang ini!

 

Dulu aku pernah ikut mengabdi pada raja Jin yang namanya Jungkungmardea. Orang ganteng. Betul-betul ganteng. Tapi rupanya dia suka memburu perempuan. Dia ini pemimpin yang gak bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Pemimpin yang ngurus dirinya saja ndak bisa, apalagi ngurus orang lain. Ngurus rakyatnya. Aku pikir orang semacam Jungkungmardea ini sudah berlalu dulu di jaman wayang. O ladalah! Jaman sekarang kok ya masih ada. Gaya mbagusi seperti Jungkungmardea ini kok ya masih ada. Tobat,.. tobat, .. paringono sabar!

 

Baca koran tadi pagi, itu ada kabar seorang bupati kok tega-teganya menikahi perempuan masih belia, kemudian dicerai begitu saja dengan alasan yang betul-betul wagu. Sama mbagusi-nya seperti Jungkungmardea. Rumangsa-nya dia adalah orang yang paling bagus apa? Lihatlah gayanya, penampilannya bak santri, gaya ngomongnya seperti ustadz, dalil-dalil keluar dari mulutnya agar orang memahami yang dia lakukan. Ini aku yang bodo, atau dia yang terlalu pinter ya..? Ini mungkin contoh orang yang pinter tapi tidak mbudoyo, tidak memahami hakekat budaya, tidak mau memahami hakekat kemanusiaannya sebagai manusia.

 

Andaikata aku ini diberi kesempatan bertatap muka sama pak bupati ini, aku pengin ngomong: .. ndoro, juragan, kang bupati,.. sampeyan itu dipilih rakyat, dipercaya rakyat untuk menjadi pemimpin, lah kelakuan sampeyan itu kok ya mbagusi betul toh, kang! Aku ini percaya sampeyan itu orang pinter, tapi mbok jangan minteri orang-orang,.. kamu anggap kita semua ini bodo apa,.. yang paling cilaka, sampeyan itu pinter tapi tidak minterke malah minteri orang-orang yang gak paham,.. perempuan yang kamu rendahkan itu masih bocah, seharusnya kamu hormati, kamu bimbing, we ladalah, la kok malah kamu injak-injak kehormatannya?! Yang lebih cilaka lagi, sampeyan masih bisa berkelakar di depan media, di depan sakit hatinya dan keluarganya. Dan yang paling mbagusi dari sampeyan adalah, di depan kamera, sampeyan tanpa rasa bersalah menyampaikan pembenaran dengan meminjam terminologi dalam agama. Sampeyan itu orang pinter tapi buat minteri orang lain. Pinter tapi niatnya untuk butuhnya sendiri,.. mbagusi!

 

Tapi kata-kata tadi itu cuman dalam angan,.. aku percaya di negri ini yang banyak sekali orang pinter-pinter, juga di-prek-kan sama dia, apalagi aku yang bodo. Tapi aku herannya juga ternyata kalau digagas lebih dalam, masih banyak priyayi dengan kelakuan mbagusi seperti Jungkungmardea yang berkeliaran di negri ini. Orang-orang seperti kang bupati tadi. Bahkan orang ini ada yang pengin jadi presiden. Orang yang sama sekali merasa benernya sendiri, menutup mata dan telinga, tanpa malu pengin jadi presiden. Membangun keluarga yang baik saja tidak bisa kok mau membangun negri.  Tidak ada komentar yang pantas buat dia selain ya itu,.. mbagusi!

 

Aku ini bingung bagaimana harus bersikap pada priyayi mbagusi ala Jungkungmardea ini. Kadang aku ini ikut malu. Lha, aku ini ya laki-laki, ketika mereka orang-orang mbagusi ini semena-mena dan tak menghormati harkat perempuan, aku ini ya tentunya malu. Malu sama ibuku, malu sama istriku, malu sama saudara perempuanku, malu sama semua perempuan.

 

Atau mungkin aku mustinya marah ya. Marah karena mereka itukan orang pinter. Tahu mana yang baik, mana yang seharusnya, wee,.. la kok sengaja keblinger. Orang seperti itu mungkin sebaiknya kita sikapi dengan marah-marah, demo, sumpah serapah! Tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin aku justru kasihan sama mereka. Mereka ini seperti orang yang hidup di dunianya sendiri, merasa apa yang dia tahu itu paling benar sendiri, dan dengan yakin bicara disana-sini bahwa semua orang keliru dan dia yang benar. Orang mbagusi yang memang terkadang harus dikasihani.

 

Dulu di jaman wayang, banyak juga yang berkata kepadaku kalau Bilung itu ya terkadang mbagusi. Kalau ngomong gak pernah ngaca diri. Tapi sungguh, apa yang aku lihat sekarang ini pada mereka adalah mbagusi yang keterlaluan..!

 

 Moga-moga masih ada jalan terang buat mereka, dan moga-moga kata-kataku tidak mbagusi

 

 

3 Des 2012

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Tuesday, 04 December 2012 08:19
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo