pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..buku buku yang membuat saya semakin penasaran dan tertarik dengan kisah kisah perwayangan.."
Hery Prabowo


Home Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Generasi Muda Indonesia bukan Lesmanamandrakumara! PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 03 November 2012 10:24

Anda bisa jadi melihat saya sebagai orang yang terlalu optimis, atau mungkin melempar angan-angan. Tapi sungguh, ditengah hingar bingar media pemberitaan tentang negri kita sendiri yang membuat banyak orang memandang Indonesia sedang carut-marut, krisis sosial, ekonomi, dan sebangsanya, saya kok melihat secara berbeda. Kita bangsa Indonesia sebenarnya secara perlahan tapi pasti sedang bergerak menyongsong era kebangkitan negri kita sebagai negara maju! Di tengah proyeksi negara maju yang semakin murung dan tak pasti, bangsa Indonesia sedang yakin menuju kebangkitannya. Semua faktor untuk mendukung itu semua tampak nyata, hanya tinggal satu yang tersisa, kemauan kita untuk bergerak ke sana!

Mari kita bicara data. Data yang konon berasal dari lembaga terhormat yang melewati berbagai proses validasi yang tak sederhana. Tak ada alasan untuk meragukan data ini. Saya bukanlah seorang ahli ekonomi makro, tapi saya pikir tak begitu sulit mengenali dan menggagas data-data tersebut.

Entah siapa yang pertama kali melempar gagasan ini. Saat ini ada definisi terhadap negara-negara di seluruh dunia, dengan tolok ukur secara ekonomi. Yaitu negara maju, definisi itu bernama Advance Economies. Dan istilah Emerging and Developing Economies, diterjemahkan dengan kalimat sopan negara berkembang. Tolok ukur bernama PDB (Produk Domestik Bruto) Dunia, yang bila angkanya tumbuh berarti secara ekonomi membaik, memperlihatkan bahwa pada tahun 1960 kontribusi negara maju adalah 89%. Sementara negara berkembang sisanya. Krisis Amerika dan Eropa barat membuat kontribusi negara maju turun menjadi 82% pada tahun 2002. Otomatis negara berkembang yang naik.

Lembaran-lembaran data itu berisi angka-angka, yang sampai pada analisa bahwa proyeksi nanti di tahun 2025, kontribusi PDB negara maju semakin turun menjadi 54%. Artinya negara berkembang akan terus naik. Sampai kemudian analisa proyeksi optimis, bila sosial politik di negara berkembang bisa dikelola secara normatif saja, proyeksi di tahun 2050, negara maju semakin turun tinggal 28% kontribusinya. Artinya definisi anggota negara maju dan anggota negara berkembang seharusnya direvisi dan bertukar tempat. Nah!

Lalu dimana letak Indonesia? Dari data yang ada, baik dari besaran maupun kecenderungan, Indonesia termasuk negara yang tampak meyakinkan terus tumbuh ekonominya! Saya lihat sejak tahun 2000 sampai tahun 2011, Amerika yang masih dilihat sebagai negara adidaya, sebenarnya secara ekonomi, pertumbuhannya semakin menurun, sampai hanya pada angka 1,7%. Negri Eropa Barat yang masih meyakinkan hanya tinggal Jerman dengan pertumbuhan yang juga cenderung turun sampai  3,1%, di tahun 2011. Sementara di Asia, Jepang yang dulu perkasa, kini pertumbuhannya minus.  Korea Selatan dan Singapore cenderung konservatif di angka  4%. Tertinggi di Asia adalah Cina dan India, tapi angkanya cenderung turun dari tahun ke tahun, satu tahun terakhir di angka sekitar 8%. Kawasan Timur Tengah tak begitu meyakinkan karena krisis politik yang belum menunjukkan kepastian bahkan sampai perkiraan satu dasawarsa mendatang. Sementara di Kawasan Asia Tenggara, adalah Indonesia yang memiliki pertumbuhan tertinggi di angka 6%, pergerakannya mantab, dan dunia yakin akan terus tumbuh! Lagi-lagi,.. nah!

Perspekif ekonomi makro memang belum tentu bisa langsung menyentuh keseharian kehidupan kita, tapi potret di atas sebenarnya lebih banyak memberi peluang tinimbang sebuah ancaman. Dan peluang yang lebih banyak tidak seharusnya disikapi dengan perilaku yang cenderung mengeluh, seperti misal tak henti-hentinya kita menganggap keadaan kita yang carut-marut. Bukankah akan jadi menggelikan bagi orang yang melihat ketika kita dihadapkan pada situasi yang menjanjikan tahun-tahun ke depan, tapi justru terus saja menyesali keadaan.

Tinggal pilihan masing-masing kita secara individu, apakah kita akan menjadi bagian yang bangkit dan bersemangat ikut memperbaiki keadaan agar semua ramalan itu mantab menjadi sebuah kenyataan, atau justru kelompok yang menjadi beban bagian dari masalah.

******

Di kisah Wayang Jawa, apa sih yang tak kurang dari sosok bernama Lesmanamandrakumara. Dia dilahirkan di lingkup istana negri yang cukup kaya bernama Hastinapura. Dia adalah anak sang raja. Segala kesempatan belajar olah kanuragan dan olah kautaman bisa dia dapatkan dan selalu tersedia secara istimewa baginya. Semua orang menyediakan kebutuhannya. Belum lagi dia memiliki paman yang jumlahnya begitu banyak dan hampir tak pernah menolak segala permintaannya.

Namun apa yang terjadi. Lesmanamandrakumara cenderung malas. Latihan olah kanuragan tak pernah dia hadiri. Selalu mangkir dalam pendidikan olah kautaman yang sebenarnya tersedia di istana. Kehidupan yang berkecukupan justru disikapi dengan tabiat yang selalu saja mengeluh. Menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain. Seorang muda bernama Lesmanamandrakumara yang seharusnya penuh semangat menyongsong masa depan gemilang karena keadaan sudah menyokong demikian, justru tak pernah bersyukur, dan selalu memaki dengan sumpah serapah segala hal yang tidak menyenangkan terjadi pada dirinya. Hal yang sebagian besar sebenarnya adalah akibat dari perilaku pilihan dia sendiri yang tak pernah berusaha menjadi lebih baik.

Saat adu ketangkasan memanah, Lesmanamandrakumara selalu mengeluh memaki ketika menyadari dirinya ternyata memiliki kemampuan jauh dibawah rata-rata seorang ksatria umumnya. Sebuah hal lumrah karena dia memang selalu mangkir berlatih. Tapi mata telinganya seperti tertutup bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah akibat ulahnya sendiri. Dia tetap saja terus memaki, menganggap orang lain yang lebih piawai sebagai orang yang sedang beruntung, menganggap gurunya pilih kasih dalam mendidik siswanya, terkadang bahkan menghujat resi pembuat anak panah dan gendewa yang dipakainya, sebagai orang yang tak becus membuat senjata.

Atau kejadian saat dia gagal meminang perempuan pujaannya. Sungguh wajar bagi seorang gadis semacam Pregiwa yang memilih Gatotkaca yang dari segala segi lebih baik daripada Lesmanamandrakumara. Tapi kekecewaan itu terus saja membutakan Lesmanamandrakumara. Terus saja marah dan mengumpat orang tua dan paman-pamannya yang tak becus melamarkan untuk dirinya.

Dan jalinan cerita itu cukup lengkap. Orang seperti Lesmanamandrakumara tak pernah diceritakan dia menjadi seorang senapati handal. Dia tak pernah dianggap sebagai ksatria wibawa. Orang tak ada yang melihat dia pantas duduk sebagai seorang panglima. Dia anak raja, tapi orang tuanya sendiri pun ragu untuk menyiapkan Lesmanamandrakumara menjadi penerus tahta.

*****

Keadaan ekonomi makro Indonesia yang menjanjikan seperti itu memang banyak digagas para ahli sebagian besar didorong oleh faktor luar dan faktor kekuatan pada kita yang sudah bersifat ‘given’ seperti misal memiliki bahan komoditas yang berlimpah, wilayah yang luas, jumlah penduduk yang besar.

Bolehlah itu dianggap sebagai kita yang tiba-tiba hidup terlahir diberi kecukupan berada di ‘istana’ seperti Hastinapura. Tinggal pilihan kita yang tersisa, apakah kita akan memilih menjadi seorang ksatria atau menjerumuskan diri menjadi seorang Lesmanamandrakumara.

Kita bisa lihat proyeksi negara maju yang diramalkan terlihat terasakan mulai tahun 2025. Pemimpin Indonesia saat itu adalah para pemuda kita yang saat ini usia 30 sampai 40-an. Dan ramalan kejayaan Indonesia tahun 2050, tentunya berisi masyarakat yang harus siap menyangga predikat kejayaan itu. Adalah masyarakat pengambil keputusan yang berisi anak-anak kita yang saat ini masih usia dibawah 10 tahun!

Kita semua yang merasa bersemangat generasi muda penerus bangsa, tentunya tak ingin suatu saat nanti justru menjadi beban seperti sosok Lesmanamandrakumara. Termasuk kita sebagai orang tua, tentunya kita tak ingin anak-anak kita menjadi para Lesmanamandrakumara nantinya. Dan anak-anak kita lebih banyak belajar bukan dari apa yang kita katakan, mereka akan banyak belajar dari apa yang kita contohkan. Keseharian kita. Sehingga hal-hal yang saat ini kita lakukan sekecil apa pun akan menjadi hal yang penting yang bisa jadi mempengaruhi kejayaan Indonesia di tahun 2050 nantinya!

Berdiskusi, bertukar pikiran, berbeda pendapat adalah hal yang sangat sehat untuk bisa saling melengkapi menuju kebaikan bersama. Tapi terkadang saya tak habis pikir ketika banyak orang mempertontonkan sikap arogan, menyerang pribadi orang lain, memaki, merasa paling benar, menghujat keadaan, memaksakan kehendak, mengolok-olok pemerintahan yang sah, dan setiap hari itu dipertontonkan di media di depan anak-anak kita sendiri. Bukankah itu akan justru mengajari generasi muda kita sikap suka mengeluh ala Lesmanamandrakumara?

Tak ada yang melarang orang bercita-cita suatu saat mendapatkan kelimpahan secara finansial. Tapi sungguh, andaikan anda semua melihat apa yang saya lihat, uang hanyalah bagian kecil dari arti mengapa kita dicipta hidup di dunia ini. Sehingga esensinya bukanlah tentang kekayaan yang akan kita dapatkan, tapi pada upaya yang kita lakukan untuk mendapatkannya. Saya sangat sedih ketika masih banyak di sekitar kita banyak orang memberikan pengaruh buruk mengkampanyekan mendapat banyak uang tanpa kerja keras. Tak lebih seperti Lesmanamandrakumara yang melihat bahwa tak penting untuk bekerja keras, yang penting dapat uang.

Era kebangkitan Indonesia menuju bangsa yang memimpin dunia yang diramalkan terjadi tahun 2050 amatlah sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan saat ini. Segala hal dari luar yang menyokong terwujudkannya prediksi itu, bahkan para ahli dunia pun melihat itu sebuah keniscayaan. Seharusnya kita malu bila kita tidak segera memupuk keyakinan pada diri kita semua kan terwujudnya hal itu suatu saat nanti. Berhentilah mengeluh dan mulailah berbuat apa yang kita mampu. Sekecil apa pun itu akan sangat berarti. Percayalah! Kita semua mampu, tinggal bagaimana kita memberi pengertian diri kita sendiri agar mau. Saya yakin tak ada diantara kita yang membayangkan akan menjadi seorang Lesmanamandrakumara. Saya yakin kita semua tentu memilih untuk berkontribusi positif menuju Indonesia yang memimpin dunia!

 

3 Nov 2012

Pitoyo Amrih

Klik disini untuk melihat kritik dan komentar artikel di atas di Kompasiana.com

 




Last Updated on Saturday, 03 November 2012 10:33
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo