pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Kisahnya sesuai dengan cerita wayang yang sebenarnya meski ada penafsiran penafsiran kembali dengan gaya saat ini"
Ki Jlitheng Suparman


Home Seri Cermin Dunia Wayang
KPK-Polri ala Karna-Salya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 18 October 2012 09:03

Membaca majalah Tempo minggu ini, ada hal menarik ketika mencermati berita tentang kisruh KPK-Polri yang belakangan begitu kentara dipertontonkan di panggung politik negri ini. Detik-detik menjelang Presiden memberi pidato dalam mengambil keputusan untuk mengelola perkembangan yang terjadi, sehari menjelang ternyata masih hangat perdebatan dan adu argumentasi antara Ketua KPK dan Bapak Kapolri dalam upaya memberi penjelasan dari perspektif hukum dan etika bahwa apa yang institusi mereka masing-masing lakukan adalah benar.

Satu lagi yang menjadi perhatian saya ketika membaca berita itu, adalah bahwa hari ketika kedua pemimpin institusi terhormat itu saling berbeda pendapat, beliau berdua sama-sama tengah menjalankan ibadah puasa. Nah!

Dari kacamata saya, di jaman yang sudah sedemikian rumit ini, seseorang yang melakukan ibadah puasa diluar puasa wajib adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Butuh sebuah integritas, kejujuran pada diri, dan komitmen. Itu baru wilayah lahiriah sebuah ibadah yang dinamakan puasa. Belum bila kita mencoba masuk pada hakekat puasa, yang bisa dimaknai dengan niat untuk menahan diri. Menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan dan mengenakkan yang seharusnya boleh, tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Dan itu hanya masing-masing individu yang bisa menilai nilai tambahnya bagi diri masing-masing.

Anda bisa bayangkan, bila suatu hari anda niat puasa sunah, diluar rencana, ketika siang hari panas terik anda disuguhi makanan minuman yang mengundang selera. Sang penyuguh yang tulus bisa jadi memang tak tahu anda sedang berpuasa. Di sini mungkin sulit untuk memandang secara hitam-putih keputusan apa yang benar, apakah menerima suguhan dengan niatan menghormati sang penyuguh, atau menolak dengan alasan berpuasa.

Dan contoh kejadian diatas masihlah sangat mudah dipahami, bila dibanding kita melihat sosok Pak Abraham dan Pak Timur yang hari itu sama-sama puasa dan harus membawa dan menempatkan diri pada situasi yang pasti tidaklah hitam-putih. Beliau-beliau ini juga pasti sadar bahwa dimana pun mereka berdiri, sejarah akan mencatat. Termasuk sejarah yang akan menilai benar-salah keputusan mereka. Ditambah kesadaran pilihan mereka saat itu dilakukan saat melakukan ibadah puasa.

*****

Suatu ketika dalam kisah wayang ada sosok bernama Salya. Dia adalah raja besar, sangat mencintai istri dan anak-anaknya, teguh menjaga pendirian hidupnya, dicintai rakyatnya. Diujung perjalanan hidupnya memang kemudian dia memilih memihak Kurawa. Tapi kita sedang tidak membicarakan pilihan dia mengapa memihak Kurawa. Saya ajak anda mencoba melihat bagaimana seorang Salya mengelola tarik-ulur sikap kepada menantunya. Bernama Karna.

Karna adalah seorang adipati yang cakap. Karirnya begitu cemerlang. Hanya dalam waktu singkat dia dipercaya dan disegani oleh seluruh angkatan perang negri Hastinapura. Awal perjalanan hidupnya memang dia dikenal sebagai anak kusir. Sebuah karakter yang pasti diluar peta politik elit akan menjadi penentu sebuah kebijakan negri. Termasuk Salya sang raja besar yang suatu saat pernah meragukan Karna akan mampu memimpin pasukan. Membuat Karna tersinggung tak berkesudahan. Di depan Salya dia selalu bersikap keras dan cenderung menentang. Sementara Salya yang jauh lebih senior untuk urusan ini cenderung kokoh berdiri pada pendirian sikap. Tanpa ragu membenarkan Karna bila dia memang benar, suatu ketika juga mengkritik pedas Karna bila menantunya itu dinilai salah. Seperti juga Salya yang dengan lapang dada mau menerima Karna menjadi menantunya, karena memang itu pilihan putrinya.

Dan begitulah hubungan Salya dan Karna memang dilihat tak pernah indah. Mereka selalu mengambil jarak. Selalu menyimpan bara dalam sekam terhadap banyak hal. Memuncak sampai suatu ketika menjelang Baratayudha, Karna memutuskan dengan lantang agar Salya, sang mertua menjadi kusir keretanya. Banyak orang menilai itu sebagai penghinaan, tapi Salya menerima. Berujung pada saat di medang perang, Salya justru beberapa kali mengambil sikap yang merugikan Karna. Tapi Salya melihat itulah kebenaran yang dia pegang. Sementara Karna juga merasa Salya lebih banyak menjadi pengganggu daripada membantunya mengendalikan kereta perangnya saat perang tanding terjadi. Tapi Karna juga sadar bahwa Salya adalah pilihan terbaik sosok yang mampu mengendalikan keretanya.

*****

Korupsi adalah sebuah kejahatan yang luar biasa. Semua orang sepakat. Korupsi harus diberantas sampai keakar-akarnya, semua orang juga sepakat. Tapi membayangkan korupsi akan hilang dalam semalam mungkin juga terlalu berlebihan. Semua harus berjalan dalam rel hukum yang sudah kita sepakati bersama, dan etika budaya karakter kita dalam berperi kehidupan. Aturan hukum yang ada pun, bila kita mau berpikir logis pasti juga keluar diundangkan atas hasil dari pintu-pintu kesepakatan bersama  yang tidak akan pernah bersih dari segala macam kepentingan.

KPK adalah penegak hukum dan aturan yang sudah diundangkan. Demikian juga Polri adalah institusi yang harus kita hormati dan junjung tinggi keberadaannya, juga demi penegakkan hukum dan aturan yang sudah diundangkan. Hukum yang ditegakkan yang seyogyanya melihat dari perspektif sama pun bisa jadi suatu saat akan ditafsirkan berbeda oleh dua lembaga ini. Tak ada hitam putih. Bisa jadi keduanya benar. Itulah dinamika yang harus kita hormati bersama.

Tidak pada tempatnya kita mengagung-agungkan satu institusi, sementara memandang rendah institusi lembaga lain. Keduanya sama-sama menjadi tanggung jawab bersama untuk kita jaga kewibawaannya. Juga saya pikir tidak pada tempatnya ketika kita mulai menyanjung berlebihan, dan mencibir membabi buta terhadap individu orang per orang. Jangan lupa, mereka adalah sosok Salya dan Karna yang melaksanakan tugas dan menjaga kebenaran dari perpektif tanggung jawab masing-masing. Bahkan mereka pun bertugas dengan berpuasa, pertanda mereka berani mempertanggung jawabkan pendirian mereka dihadapan Tuhan.

Baik Salya dan Karna harus tetap kita hormati bersama. Biarkan hukum yang akan menghakimi benar dan salahnya mereka. Sambil selalu kita kawal dengan kritik dan bicara santun agar hukum selalu menjawab rasa keadilan. Dan ketika hukum sudah memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, kita harus selalu sadar, benar dan salah adalah atas apa yang mereka lakukan. Bagaimana pun juga kita harus tetap menghormati sosok Salya dan Karna sebagai seorang individu. Sebagai seorang pejuang yang bersama-sama kita mencari kebenaran. Demi kehidupan yang lebih baik tentunya..

17 Oktober 2012

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com

www.galeri.wayang.pitoyo.com

Klik disini untuk melihat artikel yang sama dan komentarnya di kompasiana.com




Last Updated on Thursday, 18 October 2012 09:11
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo