pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"novel2 karya Pitoyo Amrih ini menarik utk dikoleksi!!"
Bee Jay


Home Lelakon Menginspirasi
Dewa Ruci PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 28 July 2012 10:22

Suasana tiba-tiba menjadi merah. Sejauh mata memandang hanya warna merah, di atas juga penuh warna merah seperti tak berujung! Dan dibawah,.. semakin aneh! Bima seperti tak menapak apa pun. Dibawah sana hanya warna merah! Dan Bima seperti menginjak landasan berwarna merah yang terasa menapak di kaki, tapi bila diamati seperti tak ada apa-apa di sana. Inikah yang dinamakan alam Awanguwung? Entahlah.

“..kamu berada di tengah-tengah rasa marahmu, ngger.. sebuah alam pikiran yang dinamakan Amarah..” tiba-tiba terdengar suara di kepala Bima. Dan muncul sosok yang aneh di depan Bima. Sosok yang sama seperti wujud Bima! Tapi sangat kecil! Hanya setinggi satu jengkal.

Bima hanya diam, terlihat bingung melihat dirinya sendiri dihadapannya dalam wujud kecil.

“..tak usah bingung, ngger,.. aku adalah kamu,.. dan yang kamu lihat pada diriku sebenarnya adalah dirimu sendiri.., disini,.. kamu bisa melihat siapa kamu, .. mengapa kamu, dan.. bagaimana kamu…. Suasana merah ini untuk mempermudah kamu melihat dirimu sendiri saat kamu marah, ngger..”

Bima hanya diam. Terlihat mencoba memindai sekeliling yang hanya berwarna merah sejauh mata memandang. Tiba-tiba suasana menjadi gelap hitam! Dan sosok Bima kecil dihadapan Bima menjadi berpendar sehingga terlihat jelas.

“.. kini kita berada di alam pikiranmu, yang lain bernama Luamah, ngger.. adalah dirimu sendiri saat kamu begitu rakus ingin menggapai sesuatu yang kamu ingin dapatkan,.. bisa saja itu hal baik,.. tapi tetap saja itu membutakanmu, ngger..”

Cukup lama ketika kemudian suasana berubah menjadi kuning. “..alam ini bernama Supiah, ngger… adalah hal yang suatu ketika mendorong kamu untuk ingin berbuat baik..”. Kemudian warna itu berganti lagi menjadi serba putih. “..disini namanya alam Mutmainah..” lanjut Bima kecil itu, “.. adalah nuranimu terdalam,.. adalah yang bisa membuatmu membedakan mana benar dan salah bila kamu mau untuk mendengarnya..”. Kembali warna berganti menjadi serba hijau. “ini adalah alam Mulhimah… adalah dasar kemampuanmu sebagai manusia untuk bisa memilih apa yang sebaiknya kamu lakukan..”

Bima diam, seperti berpikir dan merenung. Dan Bima kecil juga nampak diam sambil tengadah tersenyum memandang Bima.

“..apakah mengenal warna dalam diri pribadi ini berarti memahami Tirtapawitra..?” terdengar Bima bertanya dengan suara beratnya. Bima kecil hanya menggeleng.

“..apakah sampeyan yang dinamai Tirtapawitra..?”

Bima kecil kembali menggeleng. Kemudian berkata, “.. saya adalah dirimu, ngger,.. membantumu untuk memudahkan melihat dirimu..”

“..lalu dimana Tirtapawitra..?”. tanya Bima kemudian. Bima kecil terlihat kembali tersenyum. Kemudian menunjuk ke arah Bima sendiri.

Bima kecil kemudian berkata, “..apa yang saya tunjuk bukan badan wadag kasarmu, ngger.. tapi yang ada jauh di dalam sana,.. itulah Tirtapawitra,.. air kehidupan yang ditiup Sang Pencipta sehingga membuat kamu hidup, menghidupkan jasad Bima, menggerakkan pikiran seorang Bima,.. dan membangun kesadaran jiwa sosok diri Bima.. mencari air Tirtapawitra tak lebih adalah perjalanan untuk mencari siapa yang mengerakkan dirimu sendiri, ngger,.. mengendalikan kemauanmu,..”

 

Panjang lebar kemudian Bima kecil terus saja berkata memberi wejangan kepada Bima. Semakin dalam. Tak mudah untuk dipahami hanya dengan mendengar dan merenungi kata-katanya. Sampai suatu ketika diam. Dan suasana hening. Suasana alam serba hijau, perlahan berganti kembali menjadi suasana gua dalam air. Mulai tampak kembali beberapa rombongan ikan lalu lalang.

Tiba-tiba Bima menjatuhkan diri. Berlutut dan bersujud kepada Bima kecil dihadapannya. Hampir tak pernah sepanjang hidup Bima terlihat berlutut menghormat kepada seseorang sedemikian rupa.

“.. salah, ngger… bukan aku yang seharusnya disembah,.. tapi aku juga paham, bahwa kamu hanya sedang berusaha menyembah dan bersujud kepada Siapa dibalik aku, karena hanya itu yang bisa dan mampu dilakukan untuk berserah kepada Siapa dibalik aku..”

“..semua ini mulai terasa menyejukkan hati,.. saya ingin tetap di sini..”

“..salah juga, ngger.. setiap orang memiliki waktunya sendiri ketika tabir itu disingkap dari pandangan matanya yang menipu, dan sampai saat itu tiba, tugas kita adalah melakukan sesuatu dengan kesadaran yang kita mampu, sebaik yang kita mampu, dan selalu bersyukur atas apapun yang kita capai kita mampu..”


(Cuplikan dalam bab "Bima Suci", novel PANDAWA TU7UH)


28 Juli 2012

Pitoyo Amrih





Last Updated on Saturday, 28 July 2012 10:42
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo