pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Bagus, bahasanya mudah dimengerti runtut peristiwa demi peristiwa diselingi penjelasan di sana sini membuat ane yg kurang paham dunia wayang jadi tau sedikit banyak tentang silsilah keluarga dalam pewayangan..."
Azzazel Creep


Home Lelakon Menginspirasi
Ngelmu Suwung PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 05 July 2012 15:04

Sudah lebih dari separoh hari mereka lewatkan dengan adu bermain dadu itu sampai suatu saat Sangkuni berkata, “..ayo siapa menang boleh tinggal di istana Hastinapura, dan siapa kalah harus mau tinggal di Wanamarta..”

Wanamarta adalah hutan luas, hampir seluas wilayah negri Hastinapura, yang terletak di sebelah barat Hastinapura. Dulu sekali sebelum kekuasaan Santanu, hutan ini pernah menjadi wilayah Hastinapura. Tapi dengan berjalannya waktu, juga karena letak hutan ini yang jauh dari ibukota, serta hutan ini yang hampir tidak ada bangsa Manusia tinggal di sana, maka hutan ini dibiarkan terbengkalai. Jadilah hutan ini semakin lebat dan semakin lebat saja, hanya dipakai sebagai tempat berburu. Itupun hanya di wilayah bagian timur hutan yang dekat dengan Hastinapura. Agak ke tengah, tak seorang pun berani ke sana.

Kabarnya disana bermukim penduduk bangsa Gandarwa yang gemar memangsa bangsa Manusia. Maka benarlah kabar itu, setiap bangsa Manusia yang kesana, pastilah tak pernah pulang kembali.

“..sampai kapan, paman..” teriak Dursasana.

“..selamanya,..he..he..” jawab Sangkuni sekenanya sambil menyerangai. Yang kemudian diikuti sorak sorai para Kurawa. “mau kan, ngger..?” tanya Sangkuni sambil menoleh ke arah Samiaji. Samiaji hanya diam saja, beberapa saat kemudian dia mengambil dadu di atas cawan itu sebagai tanda menyetujui tawaran Sangkuni, diikuti sorak para Kurawa.

Samiaji pun melempar ketiga dadu itu. Dan tepat setelah dadu-dadu itu berhenti bergerak, suasana tiba-tiba hening! Ah, apa yang terjadi. Ruangan yang begitu gegap gempita sorak-sorai Kurawa itu mendadak sepi. Tak ada sedikit pun suara. Bahkan desah nafas orang yang disitu pun tak terdengar!

 

Ada apa ini! Sulit dinalar akal sehat! Alam semesta seperti tiba-tiba berhenti! Duryudana tampak duduk diam sambil tersenyum memandang ke arah dadu! Sangkuni berdiri mematung sambil wajah menyerengai, Dursasana tampak terbahak dengan mulut menganga diam seperti membeku, Durmagati mengerutkan dahi sambil tertawa lebar diam kaku. Demikian juga yang lain yang berdiri! Bahkan ada yang aneh! Durkarana terlihat melompat berjingkrak, tapi diam mematung seperti melayang di udara tak bergerak. Wajahnya juga kaku!

Demikian juga Nakula dan Sadewa. Wajah was-was terlihat jelas. Mereka seperti duduk menjadi patung diam berhenti. Semuanya seperti berhenti! Waktu seolah berhenti! Apa yang terjadi! Hanya Samiaji yang tampak berbeda! Terlihat hanya dia yang diam sambil dadanya kembang kempis mengambil nafas panjang. Tatapan matanya tertuju ke arah dadu itu! Terlihat di sana memang dadu menunjukkan bahwa kali ini Samiaji harus kalah. Yang berarti bila janji itu harus ditepati, dia dan seluruh keluarganya harus mengembara ke hutan Wanamarta.

Beberapa saat kemudian, semakin aneh! Dalam keheningan itu, entah muncul dari mana, tiba-tiba disamping Sangkuni yang mematung tampak berdiri sosok yang sangat mirip Samiaji! Melangkah mendekati meja, memungut dadu, sesaat membalik-balikkan dadu itu!

“..paman Sangkuni telah menukar dadu ini,.. semua sisi dadu hanya berisi angka satu..” kata sang sosok mirip Samiaji itu.

“..saya tahu..” jawab Samiaji. Sementara yang lain yang ada di situ tampak diam membeku. Sungguh keadaan yang benar-benar aneh! Ada dua sosok Samiaji, yang duduk di hadapan Duryudana, dan berdiri di samping Sangkuni. Mereka bercakap, dan seperti berada diantara beberapa patung yang diam kaku sama sekali tak bergerak!

Ternyata legenda kuno tentang ilmu itu benar! Dan kini Samiaji mungkin satu-satunya orang yang bisa mengamalkannya. Puncak amalan kesempurnaan ajian Kalimasada, yang bisa dikembangkan menjadi ajian-ajian yang mungkin tak terpikirkan sama sekali oleh orang lain. Pernah suatu ketika dulu diamalkan menjadi Dewa Amral. Tak seorang pun tahu, hanya Samiaji seorang yang tahu kemampuan luar biasanya. Dan kini dia amalkan menjadikannya sebuah ilmu bernama “Ngelmu Suwung”.

Sebuah ilmu luar biasa yang membawa badan dan pikirannya lepas dari ketergantungan waktu! Dirinya bisa bergerak bebas diantara lipatan waktu! Sehingga dari penglihatan Samiaji seolah waktu berhenti dan semua orang seolah mematung! Tidak hanya itu, semua hal, angin, serangga, tumbuhan, matahari di atas sana, bulan, bintang, semua semesta berhenti bergerak dari penglihatan Samiaji! Dengan Kalimasada, Samiaji berhasil mengurai salah satu rahasia Sang Pencipta tentang waktu dan bagaimana menyiasatinya!

Tepat sesaat setelah dadu berhenti bergerak, Samiaji sejenak keluar dari waktu untuk mencoba melihat hasil permainan dadu sebelum dilihat orang lain. Tidak hanya itu, dia juga tahu bahwa selama bermain dadu, Sangkuni begitu cekatan curang menukar butiran dadu setiap dipakai Samiaji.

Tidak hanya itu! Ngelmu suwung konon juga bisa membawa sifat yang dimiliki seseorang untuk keluar menjadi sosok lain dan bisa diajak berbicara berdiskusi. Sosok Samiaji yang tiba-tiba muncul, yang sebenarnya juga drinya sendiri dengan sifat yang terpilah. Dia sedang memisahkan diri antara dua karakter Samiaji dalam dirinya yang berbeda!

“..bila mereka curang, maka janji tak berlaku..” kata Samiaji yang berdiri.

“..janji adalah janji..” jawab Samiaji yang duduk.

“.. lalu apakah harus mengorbankan juga saudara dan istri untuk menggelandang di hutan Wanaramarta..?” lanjut Samiaji berdiri.

“.. mungkin itu adalah sebuah pengorbanan,.. untuk sebuah pembelajaran, bagi mereka saudara Kurawa, juga bagi umat manusia kelak…” jawab Samiaji duduk.

“apakah itu pantas..?”

“..bukan kita yang menilai pantas tidaknya..”

Sejenak keduanya hening. Kedua Samiaji diam sambil tetap memperhatikan dadu-dadu itu.

“..kita bisa merubah letak dadu sehingga menang..” kembali Samiaji berdiri berkata.

“.. maka kita sama buruk dan curangnya seperti mereka..” jawab Samiaji duduk.

“.. bukankah Sang Pencipta sudah memberi kita kemampuan untuk merubah takdir.?”

“..apakah itu bukan berarti justru agar kita tahu dan mampu menjaga dan mengamankan takdir yang sudah digariskan..?” jawab Samiaji duduk.

Sebuah kesaktian yang mungkin hanya Samiaji yang bisa melakukannya. Membawa kebimbangannya sendiri sehingga bisa dipikirkan secara jernih. Tidak hanya dalam hati dan pikiran diri, tapi dimunculkan dalam dua sosok Samiaji dengan pendapatnya masing-masing!

 

Kedua Samiaji itu kemudian saling pandang. Perlahan-lahan Samiaji yang berdiri, lenyap begitu saja dari pandangan seolah menguap larut di udara.

Tiba-tiba suasana kembali riuh rendah membisingkan. Waktu kembali berjalan. Tapi mungkin berhentinya waktu hanya berlaku bagi Samiaji. Yang lain yang ada di situ, bahkan semua orang di seluruh jagad, yang mereka rasakan, hanya biasa saja. Waktu berjalan seperti biasa.

 

Dan terlihat wajah Nakula dan Sadewa yang tampak pucat memandang dadu. Sementara para Kurawa semakin terbahak berteriak-teriak memekakkan telinga. Samiaji hanya diam sambil menunduk.


5 Juli 2012

Pitoyo Amrih

(merupakan cuplikan dari novel wayang "PANDAWA TU7UH")






Last Updated on Saturday, 28 July 2012 10:13
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo