pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku kisah pewayangan yang disajikan dengan gaya penulisan Novel, sangat enak dibaca dan membuat kita sulit melepaskannya. Sangat bagus, angkat jempol buat penulisnya !!!!"
Oei Djiang Ming


Home Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Suara Keheningan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 04 May 2012 08:23

Ada yang menarik sempat saya catat pada acara diskusi tadi malam. Bahwa setiap orang sebaiknya mampu menemukan ‘irama’ dalam dirinya. Itulah yang akan membantu kita menemukan keseimbangan diri, sehingga bisa hidup secara berkualitas, memiliki ketenangan hati dan pikiran. Semakin menarik ketika sang narasumber mendefinisikan apa itu irama. Karena ternyata sesuatu bisa dikatakan ber-‘irama’ ketika disana terdapat paduan kombinasi harmoni antara suara dalam sebuah nada, dan suara keheningan. Nah!

Dia istilahkan dengan sebutan ‘Sound of silence’. Kenihilan sebuah suara ternyata adalah salah suatu suara yang penting, yang berkontribusi sehingga tercipta sebuah harmoni. Lebih jelasnya, beliau membandingkan ketika saat kecil di Inggris limapuluhan tahun yang lalu. Dimana suara yang terbentuk dan terdengar di telinga di sepanjang kehidupan, ketika berangkat ke sekolah, saat bermain, lebih banyak didominasi oleh suara ‘alam’. Burung berkicau, gemericik air, gemeresak daun ditiup angin, suara teratur yang keluar dari seorang pandai besi saat menempa. Semua itu berpadu, dan tanpa sadar kadang membentuk alunan melodi senandung diri yang spontan. Sambil berangkat ke sekolah, sepanjang jalan dia bersenandung dengan kombinasi nada dan diam, yang bisa jadi selalu berganti-ganti saban harinya. Itulah yang kemudian membentuk irama dalam diri. Mempengaruhi bioritme, dan pada akhirnya selalu menjaga keseimbangan dan kesehatan fisik dan jiwa. Hal itu kemudian dia bandingkan dengan keadaan sekarang, dimana suara menjadi semakin individu dan bising. Banyak orang kemudian menjaga jarak dengan kebisingan sekitarnya, memakai ear-phone di telinga untuk mendengarkan lagu. Alhasil, di tambah suara latar yang gemuruh kebisingan kehidupan kota seakan tak pernah henti, suara keheningan itu seolah hilang. Semakin sulit mencipta komposisi irama yang lengkap karena ketiadaan suara keheningan. Sehingga semakin sulit orang menemukan irama dalam dirinya.

Agak berat memang bagi saya mendengar teori itu. Tapi coba perlahan apa yang dia sampaikan tidak hanya saya olah melalui pikiran, tapi juga dengan hati. Malam itu cukup memberi saya tambahan ilmu berarti. Seorang pakar dibidang musik, seni suara, seorang penulis, komposer, music-therapist, seorang akademisi, profesor dalam bidang ‘applied music’. Yang dalam usianya yang sudah hampir tujuhpuluhan, masih bersemangat untuk menempuh perjalanan panjang dari Inggris, domisilinya, terbang ke Indonesia, dan berbagi ilmu dan pengetahuan serta pengalamannya di sebuah diskusi budaya di Solo. Banyak para peserta diskusi malam itu, adalah para akademisi musik dan seni. Juga terdapat beberapa seniman dan budayawan. Saya yang juga diundang dalam pertemuan itu melihat diskusi tadi malam adalah sebuah kesempatan langka yang tidak boleh saya lewatkan. Sang maestro yang karya-karyanya, baik buku, tulisan, maupun komposisi musiknya sudah menjadi bahan diskusi tidak hanya di negrinya, tapi juga di seluruh dunia, Prof. June Boice-Tillman.June Boyce Tilman

Satu hal yang menarik bagi saya, yang juga saya sempat tanyakan kepadanya saat sesi tanya-jawab, adalah tentang musik sebagai media penyembuhan. Baik itu sakit fisik maupun sakit pikirannya. Hal yang saya tanyakan lebih kepada, apakah musik penyembuhan ini lebih kepada menciptakan komposisi tertentu yang secara teori mampu memancarkan daya penyembuhan bagi si sakit kemudian diperdengarkan kepadanya, atau lebih kepada, si sakit diberi pelatihan dan terapi kegembiraan dalam memainkan musik, untuk kemudian mereka diberi kesempatan untuk selalu mempraktekan bermain musik untuk membantu proses penyembuhan dirinya.

Prof. June lebih suka pendekatan yang kedua, seperti yang pernah dia alami tentang seorang bocah usia sepuluh tahun yang karena kondisi keluarganya, di sekolahan dia menjadi anak yang suka merusak dan mengancam teman-temannya. Sampai kemudian pada puncaknya ketika sang anak ini menusuk temannya sendiri dengan pensil. Membuat sang bocah dikeluarkan dari sekolah dikembalikan kepada keluarganya. Sampai kemudian dia mendapat terapi dari seorang music-therapist. Dalam waktu tiga bulan, sang anak menemukan keasyikannya sendiri dalam memainkan drum. Sejak itu dia mulai bisa mengekspresikan perasaannya, mulai bisa mengelola emosinya, dan bisa mengkomunikasikan perasaannya kepada orang lain.

Di penutup akhir diskusi, Prof. June bahkan mengucap salam, mengajak para peserta untuk berekspresi secara bebas dalam mengucap kata ‘salam’. Yang menariknya kemudian tercipta semacam harmoni kata ‘salam’, sambil dia berimprovisasi dalam lantunan berbagai nada, yang begitu pas terdengar di telinga.

Saya sendiri dibanding sebagian besar peserta diskusi malam itu, mungkin masih sebatas hanya penikmat musik, maupun pemain instrumen musik amatiran sekedar mencipta suasana rileks saat di rumah. Tapi benar, di tengah segala macam teori yang beliau paparkan, dalam aplikasi musik untuk keseharian, jujur saya katakan, ketika beban pikiran terasa berat, seringkali kemudian saya lewatkan waktu bernyanyi ataupun bermain instrumen musik. Ketika saya renungi, di sanalah kemudian saya merasakan kehadiran, selain suara-suara harmoni nada, juga terasa adanya ketidak adaan suara, saat hening jeda antara petikan gitar, atau misal antara perpindahan chord piano. Sesuatu yang katanya akan lengkap membentuk sebuah irama. Untuk membangkitkan irama dalam diri. Entahlah, tapi yang jelas setelah itu, pikiran berat itu menjadi terasa ringan.

 

3 Mei 2012

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Friday, 04 May 2012 08:31
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo