pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..bahasa dalam novelnya tidak semata mata mengandalkan pengetahuan wayang yang ada namun jauh lebih ke bahasa hati!"
Mochtar Bungkus


Home Seri Cermin Dunia Wayang
Sinergi Kembar Nakula Sadewa PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 01 December 2011 09:20

Nakula dan Sadewa (wayang golek)

 

Nakula dan Sadewa memang sosok yang unik. Keduanya kembar identik. Hampir sulit dibedakan kedua wajah dan fisik mereka. Mereka juga sama-sama kidal. Walaupun tangan kanan dan kiri mereka bisa melakukan hal yang sama, tapi tangan kiri mereka seperti lebih bertenaga daripada tangan kanan mereka. Kemampuan olah kanuragan mereka juga hampir sama. Sama-sama memiliki kesaktian yang tinggi dalam memainkan pedang dan keris. Juga kemampuan memanah mereka, walaupun masih jauh bila dibanding kakak mereka, Arjuna, tapi kemampuan memanah mereka masih diatas rata-rata kemampuan memanah para ksatria pada umumnya.

Hal yang paling membedakan keduanya, antara Nakula dan Sadewa, adalah dalam hal kepribadian mereka. Nakula memiliki pribadi yang pendiam. Dia adalah seorang ksatria dengan tipe pemikir. Setiap kejadian, selalu kemudian ditelaah, diurai maknanya, dan coba dijabarkan di dalam hatinya. Nakula hanya berbagi dan menyampaikan pendapatnya, ketika diminta. Berbeda dengan Sadewa. Sadewa adalah seorang yang pandai dalam menyampaikan pendapat. Dia juga cerdas. Sadewa yang juga dikenal sebagai seorang pembicara, bila menyampaikan sesuatu hal kepada senapati prajurit atau rakyat kebanyakan. Gabungan Nakula dan Sadewa, saya bayangkan seperti sebuah miniatur dari kombinasi Yudhistira –yang lebih banyak diam dan berpikir- dan Kresna –yang lebih banyak menyampaikan pendapat dan membangun hubungan dengan orang lain-. Hanya bedanya, kalau Yudhistira dan Kresna, biasanya bekerja sama dalam ranah kebijakan strategis yang luas, menyangkut kehidupan dan hubungan antar negri di dunia wayang, Nakula dan Sadewa, lebih banyak menjalin kerjasama, untuk mengejawantahkan hal-hal yang harus dibina dan diperbaiki di lapangan, pada orang kebanyakan, terutama di lingkup dalam negri Amarta dan sekutu-sekutunya.

Keistimewaan lain dari kembar Nakula dan Sadewa, adalah, bahwa keduanya sangat menguasai perihal ilmu obat-obatan dari tumbuhan. Mereka pandai sekali meramu makanan dan obat-obatan. Kemampuan meramu obat-obatan, banyak mereka dapat ketika muda mereka berdua sempat belajar tentang hal ini dengan dua Batara Kembar, Sang Hyang Aswan (beberapa pustaka lama menyebut nama lain yaitu Batara Aswi) dan Sang Hyang Aswin. Sedang pengetahuan mereka yang begitu luas tentang tanaman, didapat dari dua orang bangsa Jin bernama Sapujagad dan Sapulebu. Dua orang kembar penguasa bangsa Jin di negri Sawojajar, masih kerabat dengan raja Jin Yudhistira, penguasa hutan Wanamarta, sebelum alas angker itu dibuka menjadi sebuah negri bernama Amarta.

Hampir dalam setiap kesempatan, Nakula dan Sadewa, selalu tampil berdua. Selalu menunjukkan kekompakkannya. Kondisi ini tentunya lebih banyak dikarenakan oleh Nakula, yang lebih tua daripada Sadewa, yang bisa menjaga hubungan dan mempelopori keteladanan bagaimana harus bersikap sebagai seorang kakak terhadap adiknya.

Pada peristiwa Bale Sagalagala, Nakula dan Sadewa mungkin masih terlalu kanak-kanak untuk bisa berkiprah dan lebih berperan dalam kehidupan mereka. Pada kisah gladi Drupadi, mereka justru mengalami kejadian luar biasa, ketika tiba-tiba, mereka yang masih sangat belia disambangi oleh dua Batara kembar, bernama Batara Aswan dan Batara Aswin. Nakula dan Sadewa terpisah dari rombongan, dan selama berbulan-bulan, di negri Cempalareja, belajar ilmu pengobatan dari dua bangsa Dewa itu. Ketika kemudian Pandawa harus terusir dari Hastinapura, dan pergi ke hutan angker Wanamarta, kembar ini pun ikut serta. Saling pengertian antara mereka berdua, dan saling melengkapi karakter mereka, membuat mereka seperti dua sosok pribadi yang saling melengkapi dalam setiap peran mereka.

Saat wilayah Wanamarta diserahkan dari raja jin Yudhistira kepada Samiaji, sulung Pandawa, sehingga kemudian Samiaji menggelari dirinya dengan nama Yudhistira ketika bertahta di istana Amarta, Nakula dan Sadewa mendapat petunjuk agar pergi ke wilayah selatan Amarta, dimana disana terdapat sebuah wilayah luas yang begitu subur dan asri, yang didiami dua jin kembar bernama Sapujagad dan Sapulebu. Wilayah yang bernama Sawojajar.

Sampai kemudian kedua sesepuh bangsa jin yang memiliki penampilan yang begitu mengerikan tapi berhati mulia ini, memilih menempuh jalan kematian, hilang bersama raganya di bumi Sawojajar. Bertemu pribadi Nakula dan Sadewa, mereka merasa mendapat sebuah pertanda bahwa saat itu sudah saatnya, wilayah Sawojajar diserahkan pengelolaannya kepada bangsa manusia. Dan Nakula dan Sadewa adalah figur yang mereka harapkan dapat mewarisi dan meneruskan pengabdian mereka pada wilayah Sawojajar. Dan selain mendapat hadiah, wilayah subur Sawojajar, serta pengetahuan yang begitu luas tentang tanaman, Nakula dan Sadewa sekaligus mendapat hadiah istana yang semula tak kasat mata, sepeninggalan Sajagad dan Sapulebu, istana itu menjadi kasat mata dan tampak begitu megah. Istana yang kokoh berdiri megah, berbentuk dua bangunan besar dan luas yang bersebelahan dipisahkan oleh jalan batu lebar yang disepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat pohon sawo berjajar yang ditata sangat indah. Istana megah milik Nakula yang dinamai istana Sawojajar, seperti nama wilayahnya, sementara istana milik Sadewa, dihadapannya, dinamai istana Bumirahtawu.

Dan inspirasi kesetiaan dan kesalingpengertian itu dicontohkan oleh dua pribadi Nakula dan Sadewa. Mendapat wilayah kekuasaan yang begitu luas serta subur, istana megah, itu tidak membuat mereka kemudian berebut kekuasaan, tidak membuat mereka saling berusaha mendominasi satu dengan yang lain, bahkan tidak membuat mereka kemudian mengambil jalan pintas dengan membagi dua wilayah Sawojajar, seperti yang biasa dilakukan dua orang, sebagai jalan pintas bentuk berbagi. Mereka bersinergi demi sebuah visi yang lebih besar yang sama-sama mereka lihat. Sawojajar tetap menjadi sebuah wilayah luas tanpa harus dibagi dua. Dan mereka seperti menjadi nahkoda kembar. Di ruang-ruang tertutup, mereka mungkin sesekali berbeda pendapat atas suatu hal, karena pada dasarnya mereka tetap dua sosok individu yang memiliki cara pandang yang bisa jadi berbeda untuk beberapa hal. Tapi beda pendapat mereka adalah dalam rangka untuk saling melengkapi penglihatan terhadap masalah yang dihadapi, bukan dalam rangka mencari siapa yang lebih benar dan siapa yang salah.

Sehingga dimuka khalayak mereka kemudian terlihat kompak. Sadewa yang lebih muda, mengerti, dimana pada suatu titik tertentu harus ada sebuah keputusan akan suatu hal menyangkut wilayah Sawojajar, dimana bila hal itu terjadi, keputusan itu diserahkan kepada Nakula. Dilain pihak, Nakula, pun sadar akan kelebihan dan kekurangannya. Nakula sadar bahwa, adiknya Sadewa memiliki kemampuan berkomunikasi yang istimewa, sehingga ketika keputusan diambil olehnya, biasanya selalu dia meminta Sadewa yang menginformasikannya kepada khalayak. Sebuah sinergi yang luar biasa. Demi kemajuan dan kemakmuran wilayah Sawojajar.

Hal ini mungkin tidak terjadi bila saja, mereka ketika itu justru membagi dua wilayah Sawojajar. Mereka dengan wilayah masing-masing akan membawa daerah mereka dengan pertimbangan dan keputusan yang mungkin kurang lengkap, sehingga besar kemungkinan Sawojajar yang terbagi dua, tidak akan lebih baik dengan Sawojajar yang tetap satu dengan Nakula dan Sadewa yang bersinergi memimpin wilayah itu.

Ketika kemudian Nakula dan Sadewa harus mengikuti kakak mereka, Yudhistira memenuhi undangan Duryudana di Hastinapura. Mereka juga kompak sepakat untuk mengawal kakak mereka. Dan ketika kembali Yudhistira terperosok kembali dalam tipu muslihat, walaupun sempat emosi hampir menyulut mereka, Nakula dan Sadewa, jauh di dalam hati mereka, mempunyai pondasi yang kokoh untuk tetap saling setia sesama saudara dan terutama juga dalam rangka menghormati kakak mereka Yudhistira. Sehingga, dengan pondasi kesetiaan yang kokoh ini, insiden itu tetap membuat mereka konsisten terhadap apa yang ketika itu diputuskan oleh Yudhistira, untuk tunduk kepada kesepakatan permainan itu. Dimana Pandawa dan Drupadi harus menjalani pengasingan selama tigabelas tahun.

Sempat Bima dan Arjuna, kakak mereka, memisahkan diri dengan Yudhistira. Sementara Nakula dan Sadewa, mereka berdua mendampingi sang kakak Yudhistira dan istrinya, Drupadi. Kesabaran mereka selama tigabelas tahun menjalani pengasingan itu, sekaligus menjadi bukti kesetiaan mereka sebagai saudara.

Dalam kisah Baratayudha, perang besar di Kurusetra, Nakula dan Sadewa juga selalu tampak bersama. Kesaktian mereka berdua seperti saling melengkapi. Ketika mereka harus menghadapi uwa mereka sendiri, Prabu Salya, mereka juga teguh dan setia kepada persaudaraan mereka, dan menghadapi Salya, orang yang mereka cintai dan mereka hormati itu, secara bersama dalam pertempuran dahsyat.

Pergolakan batin itu, mereka olah sendiri dalam relung batin masing-masing. Sehingga yang tampak adalah kekompakan mereka berdua sebagai dua individu. Anda bisa coba selami ini dalam buku saya berjudul “Narasoma, Ksatria Pembela Kurawa” (Pinus, 2007).

Seusai Baratayudha, mereka harus terpisah cukup jauh. Nakula, sesuai amanah Prabu Salya, Nakula mewarisi tahta kerajaan Mandraka yang ditinggal oleh Salya. Sehingga kemudian Nakula memboyong seluruh keluarganya, tinggal di negri Mandraka. Menemani kesendirian dan rasa kehilangan Banowati dan Surtikanti, anak-anak Salya, yang suami meraka tewas di perang Baratayudha. Banowati yang istri Duryudana, dan Surtikanti yang istri Adipati Karna.

Sedang Sadewa, bersama anak dan istrinya tetap tinggal di Sawojajar, setelah sebelumnya mendapat peran yang sangat penting untuk memimpin pencarian sisa Kurawa agar dampak paska perang Baratayudha tidak memupuk dendam.

Dan ketika tiba waktunya, kekuasaan negri mereka masing-masing diserahkan kepada keturunan mereka, mereka pun kembali bersama untuk menempuh perjalanan. Nakula dan Sadewa, bersama kakak-kakaknya Pandawa, di usia senja, mereka bersama menempuh perjalanan ke utara. Pengabdian mereka pada kehidupan dunia wayang, mereka anggap telah cukup ketika melihat cucu mereka, Parikesit, telah mampu membangun wibawa untuk mempersatukan seluruh wilayah negri Dunia Wayang, dalan koridor kedaulatan masing-masing negri yang saling menghormati.

Pandawa, menempuh perjalanan ke utara, mendaki tingginya pegunungan di utara, menjadi bagian dari alam.

Kisah kesetiaan dua sosok pribadi Nakula dan Sadewa, adalah kisah yang seharusnya bisa menginspirasi kita, bagaimana sebaiknya kita bersikap, terutama kepada saudara kandung kita sendiri. Banyak kita mendengar kisah perpecahan dua saudara yang sebenarnya dipicu oleh hal-hal yang seharusnya justru jangan sampai melunturkan kesetiaan sebagai saudara.

Sebagai contoh, mungkin kita dengan mudah menemukan, banyak kasus, bagaimana dua orang saudara harus berhadapan ‘hanya’ berusaha berebut harta warisan. Kata hanya saya tanda kutip sebagai tanda bahwa, seharusnya masalah harta, tidak bisa disebandingkan dengan rasa saling memiliki sebagai saudara. Artinya, seolah-olah orang-orang ini justru menginginkan lebih baik mendapatkan harta dengan konsekuensi hati mereka harus berpisah dengan saudara-saudara mereka. Seharusnya mereka belajar pada kisah Nakula dan Sadewa.

 

1 Desember 2011

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Friday, 17 January 2014 09:39
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo