pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku bukunya pak Pitoyo keren keren, cerita wayangnya dimuat dalam novel yang sangat menakjubkan!"
Nanang Roedy Wibowo


Home Seri Cermin Dunia Wayang
Menggagas Kesetiaan Sang Arjuna PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 26 October 2011 14:03

ArjunaOrang yang dilahirkan dalam kondisi yang begitu istimewa. Dia adalah putra ketiga pasangan Pandu Dewanata dan Dewi Kunti. Lahir di lingkup istana negri besar, Hastinapura. Yang istimewa dari anak ini, selain dia adalah putra seorang raja besar, dia juga memiliki kharisma tersendiri yang terpancar dari wajahnya. Sejak dia bocah, semua orang yang melihatnya sepakat bahwa anak ini memiliki anugrah paras wajah dan sorot mata yang bisa membuat siapa saja yang melihat terkesima. Apalagi para wanita, hampir bisa dipastikan bila melihat wajahnya, dan juga tutur katanya, mata dan hati mereka akan tertarik kepadanya.

Lahir dengan nama Permadi, keelokan wajahnya begitu tersohor di seluruh negri Hastinapura, bahkan berita dari mulut ke mulut itu sampai menyebar di seluruh jagad wayang. Saking kuatnya pergunjingan itu, berakibat, hampir semua wanita yang mendengar berita tentang Permadi muda itu pun bisa langsung jatuh cinta, bahkan sebelum si wanita bertatap muka langsung dengannya. Sebagian lagi membawa cerita-cerita ketampanan Permadi sampai ke dalam mimpi, sehingga menjadikan obsesi tersendiri bagi setiap perempuan di dunia wayang.

Permadi lahir di dalam istana megah Hastinapura. Masa kecilnya berisi kemudahan-kemudahan. Selain kesempurnaan paras wajahnya, Permadi juga diberi anugrah talenta kecerdasan yang luar biasa. Dia bisa dengan mudah belajar, baik ilmu kautaman maupun ilmu kanuragan. Namun kungkungan istana di dalam istana megah itu tetap saja memisahkannya dari dunia luar. Jadilah seorang Permadi kecil yang pandai dan dengan pesat bisa belajar ilmu pedang dan memanah, tapi tak pernah mengenal kerasnya dunia luar.

Di masa kecilnya, hanya sedikit orang yang dikenalnya secara dekat. Yaitu ayah dan ibunya, pun ayahnya Pandu juga tidak begitu sering bersama anaknya, karena Pancu lebih sering berkeliling negri dengan Madrim, ibu tirinya. Kemudian eyangnya, Bisma Dewabrata, yang mengasuhnya ketika kecil, tapi jarang berkata-kata kepadanya. Kakak sulungnya Samiaji, yang lebih banyak memberi wejangan tentang ilmu kautaman selain ibunya, Dewi Kunti. Kakaknya yang lain, Bratasena, yang bertubuh tambun besar, yang lebih banyak diam dan menyendiri, sementara adik tirinya kembar, Nakula dan Sadewa, yang masih kecil-kecil.

Sehingga, dimata Permadi, kesehariannya, hanya berisi nasehat dan segala wawasan dari sang kakak Samiaji. Walaupun Kunti sering juga menasehati, tapi yang paling terasa terpatri dalam hati Permadi, adalah kedekatannya dengan si sulung, Samiaji. Dengan Bratasena, mereka tentu saja dekat, tapi Bratasena jarang sekali berkata-kata. Sehingga yang dikaguminya, hanyalah sang kakak sulung, Samiaji. Orang yang dianggapnya mempunyai jawaban dari setiap pertanyaannya. Permadi juga terkadang sadar, bahwa orang-orang diluar istana banyak mempergunjingkan ketampanannya, tapi Permadi seperti tak peduli, dia menganggap kehidupan di luar istana bukanlah bagian dari kehidupannya, sehingga kala itu dia merasa tak ada pentingnya untuk menghiraukan pergunjingan itu.

Sampai kemudian sebuah peristiwa merubah hidupnya. Permadi menerima kabar kematian ayahnya Pandu. Dia pun sedih, tapi sedihnya, lebih banyak bukan karena berita kematian itu, karena toh dia sudah sering jauh dari ayahnya. Sedihnya dikarenakan melihat kakaknya, Samiaji, yang tampak begitu terpukul atas kematian Pandu.

Dan tak lama kemudian, dunia Pemadi seperti berubah menjadi hingar bingar. Permadi yang belum juga berusia sepuluh tahun, tanpa tahu kenapa, istana yang semula begitu tenang, tiba-tiba dipenuhi oleh pemuda belasan tahun yang begitu liar. Separuh perasaannya merasa iba bercampur heran atas keberadaan pemuda-pemuda itu. Puluhan pemuda yang dimatanya begitu liar tanpa tata krama, yang memenuhi istana. Para pemuda yang setiap kali melihat makanan dan buah-buahan, bertingkah seperti layaknya bocah yang berhari-hari tidak makan enak. Para pemuda yang begitu rakus dan tak tahu aturan.

Namun sebagian perasaan Permadi juga mulai merasa terganggu. Kehidupannya tidak seperti dulu lagi. Permadi, yang gembira bila melihat kakaknya, Samiaji, gembira, itu tampak sedih karena sering melihat Samiaji menjadi pendiam sejak kehadiran para pemuda itu, yang tak lain adalah sepupu Permadi sendiri. Seratus bocah yang dijuluki Kurawa. Samiaji yang sebenarnya lebih berhak atas wilayah istana, justru menyingkir karena dominasi anak-anak Kurawa itu. Yang juga membuat Permadi semakin terbatas tempatnya bermain di istana.

Suatu ketika, sebuah peristiwa terjadi. Kejadian yang terekam di benak Permadi adalah, bahwa malam itu telah disiapkan sebuah perjamuan yang begitu mewah. Sangat jarang ada perjamuan di dalam istana. Dan anehnya, perjamuan itu justru diadakan oleh Duryudana, saudara sepupunya, yang merupakan sulung Kurawa. Permadi merasa aneh karena biasanya, dia merasa bahwa kehidupan di dalam istana adalah haknya sebagai putra raja, tapi kali ini, mengapa Kurawa, yang dianggapnya sebagai pendatang, justru bisa mengadakan perjamuan pesta? Perjamuan mewah yang diselenggarakan di sebuah tempat pertemuan di dalam lingkungan istana, yang disebut Bale Sagalagala.

Yang juga kemudian aneh dimata Permadi, adalah ketika para Kurawa itu justru pergi keluar dari situ, padahal malam belum begitu larut. Permadi dan seluruh saudaranya, bersama ibunya, Kunti yang duduk satu meja pun berusaha menikmati suasana oleh hiburan tari-tarian yang diselenggarakan di sana. Sampai Permadi merasa lelah dan tertidur di situ.

Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba badan Permadi terasa panas. Belum juga penuh kesadarannya terbangun dari tidurnya, yang tampak di sekelilingnya hanya api yang menyala menjilat apa saja. Belum sempat dia bangun dari duduknya, sosok tambun besar menyambarnya, mengangkatnya dan menyandarkan tubuh Permadi yang kebingungan itu di bahu sosok besar itu yang tak lain adalah Bratasena. Sekilas Permadi melihat ibunya Kunti, juga dibopong di bahu kiri Bratasena, sementara Permadi sendiri berada di pundak kanan, setengah sadar. Dia melihat kakaknya, Samiaji, berjalan terseok digandeng Bratasena dengan tangan kanannya, menembus api berkobar. Sementara kedua adiknya kembar yang masih kecil, dijinjing oleh tangan kiri Bratasena. Ibunya, Kunti, tampak pingsan. Kedua kembar Nakula dan Sadewa, juga tampak pingsan, sementara Samiaji tampak kepayahan dengan nafas tersengal oleh asap berusaha mengikuti langkah Bratasena. Permadi sendiri setengah sadar, berusaha mengenali keadaan. Seluruh gedung itu telah terbakar! Syukurlah fisik Bratasena begitu kuat. Asap tebal dan panasnya api seperti tak mampu melemahkan tenaganya.

Tiba-tiba saja suasana menjadi gelap. Bratasena dengan langkah lebar, membawa mereka semua turun menyusuri lorong yang seperti tak berujung. Udara yang semula begitu panas oleh api, tiba-tiba suasana di situ menjadi dingin, pengab dan basah. Permadi tak sadarkan diri, ketika kemudian saat kembali siuman, tubuhnya seperti duduk di atas benda lunak, licin dan basah, yang bergerak begitu cepat menyusuri lorong-lorong gelap pekat. Permadi terkejut ketika sadar atas apa yang dia duduki. Pertama kalinya dalam hidupnya, dia mengalami suasana di luar istana. Dan kali pertama ini dia duduk di atas sosok ular besar yang bergerak begitu cepat. Tapi rasa takutnya pun reda, ketika menyadari, ada Samiaji yang duduk tenang tepat di depannya. Duduk di atas tengkuk sang ular besar, mengikuti saja kemana sang ular itu melata menyusuri lorong perut bumi.

Peristiwa Bale Sagalagala, yang cukup tragis, itu memberikan pengalaman pertama kalinya para Pandawa hidup di luar istana. Dan mereka disambut oleh ramah tamah penguasa dasar bumi, bernama Antaboga, pimpinan bangsa ular, yang hidup di di gua-gua jauh di kedalaman tanah.

Cukup lama mereka ditampung di sana, apalagi ketika mendengar bahwa konon ada unsur kesengajaan dalam peristiwa terbakarnya Bale Sagalagala, sehingga Kunti berpikir ada baiknya mereka tinggal di Sapta Pratala, istana dasar bumi tempat Antaboga bermukim. Permadi pun semakin merasa dekat dengan sang kakak, Samiaji. Karena Kunti lebih sering bersama istri Antaboga, sementara Bratasena, justru di sana, dijodohkan dengan anak Antaboga, bernama Dewi Nagagini.

Pulang ke Hastinapura, semua serasa tak sama. Di sana ada Pandita Drona, sering juga dipanggil guru Durna. Guru ilmu kautaman dan kanuragan, yang dulu sempat beberapa kali muncul di istana tapi belum menetap, saat ini sepertinya sudah tinggal di istana Hastinapura, atas restu Bisma. Pandita Drona yang sedianya dipanggil khusus oleh Bisma, untuk menjadi guru membimbing tata krama, juga ilmu kanuragan para Kurawa.

Demi keadilan, Bisma pun kemudian meminta Drona untuk juga menjadi pembimbing bagi Pandawa. Adalah Samiaji, yang sudah mulai dewasa, dan merasa pemikirannya berbeda dengan Drona, sehingga Samiaji lebih banyak menyendiri, belajar ilmu kanuragan sendiri, dan ilmu kautaman dari buku-buku yang ditulis oleh mendiang ayahnya, Pandu. Sementara Bratasena, yang terkadang masih ikut berguru bersama, rupanya juga lebih cocok belajar ilmu kanuragan sendiri. Bratasena merasa tak tahan atas tingkah polah Kurawa, yang selalu saja membuat onar sehingga selalu hampir menyulut emosinya, sehingga pelajaran dari Drona dianggapnya tak pernah maju. Permadi yang merasa butuh untuk menimba ilmu dengan Drona yang dulu ketika muda dan belum cacat tangan, konon kabarnya adalah seorang yang jawara dalam memanah, adalah yang kemudian sering terlihat dekat dengan Drona. Menjadi ksatria pemanah sakti adalah salah satu yang menjadi keinginan Permadi.

Permadi yang kemudian semakin menjadi seorang pemanah yang tangguh, dibuktikan ketika acara gladi Drupadi di negri Cempalareja, dalam rangka perjodohan Samiaji dengan Drupadi, justru semakin menyulut rasa iri para Kurawa, dan menuding Drona sebagai seorang begawan yang pilih kasih. Sementara Permadi bisa begitu sakti, tapi Kurawa tak satupun yang menyamai kesaktian Permadi. Ditambah lagi adanya kasak-kusuk berita yang mengabarkan Drona sampai hati memerintahkan memotong jari seseorang, gara-gara orang ini berlatih memanah sendiri, di depan patung Drona, dan memiliki kesaktian memanah yang luar biasa.

Perlakuan Drona terhadap Permadi ini, membuat iri para Kurawa, yang kemudian terang-terangan menyampaikan protes, sementara Permadi menjadi seorang pemanah sakti, tapi Kurawa, tak ada diantara mereka yang memiliki kemajuan berarti dalam hal olah kanuragan. Walaupun jelas itu salah mereka sendiri, yang tidak pernah serius dalam belajar. Membuat Drona yang dalam hatinya sebenarnya sangat kagum dengan Permadi sebagai murid kesayangannya, tapi dia harus mengambil keputusan untuk menjaga jarak terhadap Permadi, dan lebih dekat ke Kurawa. Ditambah anak kesayangan Drona semata wayang, Aswatama, yang lebih merasa karib dengan para Kurawa, khususnya  dengan Kartamarma, salah satu Kurawa itu.

Merasa dijauhi Drona, Permadi kembali lebih banyak melewatkan waktunya bersama Samiaji, kakaknya. Berusaha memperdalam ilmu kautaman dari sang kakak Samiaji. Lebih banyak menimba ilmu dengan sang kakak, ada hal yang merasuki hati Permadi, yaitu rasa semakin kagum dan hormat kepada sang kakak atas luasnya pengetahuan dan wawasannya tentang kehidupan. Sehingga setiap kali kemudian Permadi keluar istana, merasa haus ilmu kanuragan dan berusaha berguru ke resi-resi dan begawan di pegunungan, terkadang selama berbulan-bulan, dia selalu merasa perlu untuk kembali ke istana dan melewatkan waktu berhari-hari bersama sang kakak, Samiaji, untuk berdiskusi tentang makna kehidupan. Setiap dia melakukan kembara dan belajar di luar istana, terdapat ribuan pertanyaan tentang makna kehidupan dalam pikirannya, yang Permadi merasa, hanya Samiaji yang bisa memberikan jawaban yang diharapkan.

Sehingga ketika dengan tipu muslihat Kurawa, Samiaji harus keluar istana Hastinapura, semua Pandawa bersaudara termasuk Permadi, dan Drupadi, istri Samiaji, pun merasa harus ikut bersama Samiani secara rela. Sebuah wujud kesetiaan sang Permadi kepada sang kakak, Samiaji. Kesetiaan yang didasarkan pada kekaguman Permadi atas luas dan dalamnya Samiaji terhadap makna kehidupan, yang membuat Permadi percaya bahwa setiap langkah dan keputusan yang diambil oleh Samiaji, adalah keputusan yang layak untuk diikuti dan diambil hikmahnya. Termasuk ketika harus keluar dari istana yang menurut prasangka orang dikarenakan keteledoran Samiaji yang mau saja diperdaya Kurawa bermain dadu, Permadi dengan mantab berada dibelakang Samiaji.

Dan rasa percaya Permadi terhadap Samiaji itupun terbukti. Beberapa bulan hidup prihatin di hutan Wanamarta, ternyata berbuah hikmah bahwa mereka akan mendapat hadiah kekuasaan di wilayah bekas hutan Wanamarta itu. Dan juga istana megah bangsa Jin yang semula tak kasat mata, itu disulap sehingga tampak. Termasuk istana yang kemudian dihadiahkan kepada Permadi di wilayah Madukara, yang kemudian sebagai pimpinan disana, Permadi berganti nama menjadi Arjuna.

Walaupun sejak itu, Arjuna lebih banyak waktunya untuk berkelana dan semakin mempertajam ilmu kautaman dan kanuragan. Tapi dia tetap selalu pulang, sebagai bentuk kesetiaannya kepada sang kakak, Samiaji yang sangat dihormatinya. Samiaji yang ketika naik tahta menjadi raja Amarta, bergelar Yudhistira. Pengembaraan Arjuna yang menyebabkan dia dikaruniai begitu banyak istri, para perempuan yang langsung bertekuk lutut melihat ketampanan wajahnya.

Ketika kemudian, hak Pandawa terhadap negri Hastinapura, kembali dicoba untuk diungkap. Kedua kalinya Yudhistira menerima ajakan Kurawa untuk bermain dadu, yang kali ini justru juga mempertaruhkan seluruh negri Amarta. Inilah saat dimana tingkat kepercayaan Arjuna terhadap kakaknya mencapai titik terendah. Sehingga ketika pada permainan itu, Yudhistira kembali kalah. Arjuna pergi sendiri berpisah dengan kakaknya. Arjuna percaya bahwa Samiaji akan menjalani pembuangan selama tigabelas tahun sesuai pertaruhan itu, dan Arjuna pun pergi tidak kembali ke Madukara, tapi juga melakukan penyamaran selama tigabelas tahun. Walaupun ada rasa kecewa, ternyata Arjuna tetap menaruh hormat kepada sang kakak, Yudhistira. Rasa hormat yang diwujudkan juga ikut menjalani masa penyamaran, walaupun terpisah dari sang kakak.

Arjuna menyaru sebagai seorang guru tari di ibukota Wirata, bernama Kandhi Wrehatnala. Seorang guru tari yang berlagak seperti seorang banci. Di masa penyamaran inilah, Arjuna juga ditempa oleh cobaan kehidupan yang diluar dari perkiraannya sebelumnya. Dimana Arjuna sebagai Wrehatnala, sempat mengalami sakit, dicemooh orang, tekanan batin yang begitu dalam, untuk menahan kerinduannya dengan istri dan anak-anaknya.

Jalan terang kembali terlihat, ketika ternyata dibalik derita itu terdapat hikmah, bahwa mereka dipertemukan lagi dengan saudara jauh, penguasa negri Wirata, yang selama ini hampir tidak pernah berkomunikasi. Dan ketika masa pembuangan itu selesai, segalanya menjadi terang ketika semua kedok Pandawa dibuka di istana Wirata. Arjuna tiba-tiba sadar bahwa jalan ruhani yang ditempuh kakaknya, dengan bersikap seperti seolah mau saja menerima penderitaan, adalah justru sebuah jalan menuju pencerahan kehidupan. Saat itulah kembali Arjuna, menaruh pengabdiannya kepada sang kakak Yudhistira, untuk selalu berada dibelakang keputusan-keputusannya.

Sampai kemudian mereka harus menerima tantangan Kurawa, untuk menggelar perang terbukan di Kurusetra. Walaupun Arjuna dilanda kebimbangan diawal Baratayudha, nasihat Kresna kembali membuka mata hati dan pikirannya, betapa, apa yang dilakukan Yudhistira, kakaknya, adalah sesuatu yang selama ini masih diluar pemikiran dan pemahamannya. Semakin hormat dan setia Arjuna kepada sang kakak Samiaji.

Satu hal yang mengganggu pemahaman orang atas Arjuna adalah perihal akan begitu banyak istrinya. Semua sepakat Arjuna bukanlah seorang lelaki pengumbar nafsu, dia juga bukan seorang yang sengaja selalu menebar pesona. Dia hanya ditakdirkan menjadi seorang yang tampan dan mempesona setiap wanita yang melihat. Dan, dia adalah orang yang tak kuasa berkata tidak pada setiap wanita yang berkehendak menjadi istrinya. Walaupun mungkin itu menyisakan luka di hati, terutama perasaan Sumbadra, istri pertamanya. Dan pemahaman akan kesetiaan kepada istrinya tetap gelap untuk dimengerti.

Arjuna, adalah salah satu sosok ksatria yang mengalami pasang surut kehidupan yang cukup tajam. Masa kecil yang begitu indah di istana, sampai perjalanan hidup yang harus menjadi seorang kembara hidup di hutan, bahkan pernah menjadi sosok Wrehatnala yang suatu ketika menjadi bahan cemooh orang kebanyakan. Semua perjalanan hidup itu justru banyak memberi pembelajaran dan pengkayaan wawasannya yang membuat semakin kagum dan hormat kepada sang kakak, Yudhistira. Membuat Arjuna semakin diuji rasa kesetiaannya kepada sang kakak, Yudhistira. Dan setiap berada di ujung ujian itu, selalu menjadikan Arjuna bertambah rasa pengabdiannya.

Kita mungkin pernah merasa kagum kepada seseorang yang ada disekitar kita. Entah kagum karena kecerdasannya, kewibawaan, kecantikannya mungkin, yang menyebabkan kita begitu setia dan merasa terikat dengannya. Apa yang tampak buruk padanya, biasanya diikuti dengan upaya diri kita dalam hati untuk selalu mencari alasan baik dibalik keburukan. Alasan baik yang bisa jadi memang demikian adanya, ada juga yang hanya sebatas upaya menutupi keburukan-keburukan yang ada padanya.

Bagaimanapun juga, bentuk kesetiaan seperti ini bisa jadi sangatlah subyektif. Tapi paling tidak kita bisa belajar sesuatu dari Arjuna. Belajar untuk setia kepada apa-apa yang dicintai dan dikaguminya.

26 Oktober 2011

Pitoyo Amrih




Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:50
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo