pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..sisi sisi gelap tokoh tokoh utama wayang diceritakan dengan sangat lancar, seakan akan penulis ada disitu dan mewawancarai langsung sang tokoh...imajinatif!"
Te Effendi


Home Seri 7Habits dalam Keseharian
Lebaran, Latihan dan Ujian Mentalitas Kelimpahan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 05 September 2011 12:01

Tidak mudah memang mengaplikasikan sebuah paradigm mentalitas kelimpahan. Sekedar meyamakan persepsi akan istilah ‘mentalitas kelimpahan’ ini, kalimat ini berasal dari terjemahan kata ‘ abundance mentality’. Lawan katanya adalah ‘scarcity mentality’ atau mentalitas kekurangan. Walaupun makna kata ini sebenarnya banyak tertuang di kearifan-kerifan budaya kita, kata ini banyak disebut di bukunya Stephen Covey “7 Habits of Highly effective people”. Mentalitas Kekurangan selalu melihat bahwa apa yang ada serba terbatas, dan kita semua harus saling berebut untuk mendapatkannya, ketika orang lain mendapat lebih maka ‘mentalitas kekurangan’ akan membawa pemahaman bahwa hal itu akan mengurangi apa yang seharusnya kita dapatkan. Sementara mentalitas kelimpahan adalah kebalikannya. Selalu melihat bahwa apa yang ada pastilah lebih dari cukup untuk kita semua.

Untuk semakin lebih mudah melihat pengertian ini, saya biasanya membawa kepada pemahaman tentang hak. Yang saya maksud ini lebih kepada hak yang bersifat umum, bukan hak yang khusus dimiliki seseorang. Hak khusus saya maksudkan adalah ketika kita memiliki hak karena kita sudah melakukan sebuah kewajiban, hak akan gaji misalnya, yaitu hubungan hak-kewajiban antara sesama manusia, atau antara manusia dengan sebuah organisasi. Sedang hak umum, adalah hubungan kita dengan kehidupan kita sendiri. Hak hidup, hak untuk mendapatkan kesempatan nafkah secara fair dalam kita berkehidupan, hak kita mengolah bumi dan isinya, hak kita di jalan raya, dan sebagainya. Hak khusus biasanya dijaga oleh sebuah koridor hukum, sedang hak umum lebih banyak berada di wilayah etika dalam berkehidupan. Pada daerah hak umum-lah pengertian akan mentalitas kelimpahan maupun mentalitas kekurangan ini bisa dilihat lebih mudah, karena hak umum susah dicari garis batas secara jelas, dan hubungan hak-kewajiban sendiri tidak sekedar antara orang per orang, tapi lebih kepada hubungan orang dengan komunitas non-formalnya, hubungan orang dengan kehidupan lingkungannya, hubungan orang dengan alam, bahkan mungkin hubungan seorang manusia dengan Tuhan-nya.

Seseorang dengan mentalitas kekurangan, yang masih bersifat ‘bertahan’ bisa didekati dengan pengertian seseorang yang benar-benar menjaga hak umum-nya. Dia akan terganggu rasa amannya, bahkan bisa tersulut marah, bila orang lain mengambil bagian hak-nya. Sementara ada juga orang yang memiliki mentalitas kekurangan, yang bersifat ‘menyerang’, untuk menjamin haknya aman, maka sesekali dia tidak malu untuk secara sengaja mengambil hak umum orang lain.

Nah, pada pendekatan ini, pengertian mentalitas kelimpahan, bisa didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki mentalitas tanpa ragu, bisa dengan mudah memberikan sebagian hak umum-nya kepada orang lain, tanpa sama sekali merasa bahwa hal itu akan mengurangi hak-nya.

Saya merasakan, perikehidupan kita, sistem pendidikan, lingkungan, dan segala macam yang membangun peta kehidupan di kepala kita masing-masing, sepertinya semakin mengarah kepada sebuah paradigma bahwa hidup adalah sebuah persaingan. Pemahaman yang membawa sikap hidup bila anda tidak menang berarti anda kalah, bila kita tidak untung berarti kita rugi, bila kita saat ini tidak mendapatkannya, berarti kita tak akan pernah mendapatkannya. Pemahaman ini sangat sulit menerima hal-hal misalnya bahwa tidak menang itu tidak selalu ada pada kondisi kalah, bahwa keuntungan tidak harus selalu diukur dengan materi, dan tidak harus dikorelasikan dengan hukum dagang.

Hal inilah yang menurut saya menjadi salah satu hal yang membuat kita merasa asing atau sulit untuk sekedar membawa kita kepada pemahaman mentalitas kelimpahan. Dan bahkan semakin sulit untuk bersikap dan bertingkah laku menjadi seseorang yang memiliki mentalitas kelimpahan.

Hal inilah yang kemudian seharusnya memberikan rasa syukur kepada kita bangsa Indonesia, bahwa momentum Lebaran tidak hanya dilihat sebagai bagian dari ritual aqidah agama Islam, tapi sudah menjadi ritual budaya bangsa Indonesia yang pelakunya tidak hanya kaum muslimin saja, tapi semua masyarakat Indonesia. Sebuah hal unik yang tidak terjadi di negara lain.

Bagi seorang muslim sendiri, seperti saya, membayar zakat saat idul fitri adalah sebuah kewajiban, artinya perbuatan membayar zakat tentunya diluar konteks apakah seseorang memiliki mentalitas kelimpahan atau mentalitas kekurangan. Karena membayar zakat adalah sebuah keharusan. Ukuran mentalitas kelimpahan justru bisa kita lihat dalam tataran budaya dalam kita bangsa Indonesia ber-lebaran. Dan itu menjadi sebuah latihan sekaligus ujian!

Apapun motivasinya, paling tidak ada secuil mentalitas kelimpahan ketika orang memilih berdesak-desakan naik transportasi umum untuk pulang ke kampung halamannya bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak famili. Orang-orang ini rela menyerahkan sebagian hak umumnya, waktunya, kenyamanannya, untuk diberikan kepada orang tua dan saudaranya di kampung. Ada semangat mentalitas kelimpahan ketika orang mau ‘membeli rugi’ uang baru, untuk kemudian dibagi-bagikan begitu saja kepada orang lain. Entah karena terpaksa atau bukan, pasti juga terdapat mentalitas kelimpahan ketika di suatu malam di sudut kota Yogya beberapa hari lalu saya melihat pemudik dengan mobil mewah, bersama anak istri yang bergaya kota, rela menghentikan perjalanannya untuk makan malam di sebuah warung kaki lima yang –maaf- agak kumuh, makan dengan lahap, dan dengan ringan merelakan uang kembalian –yang justru lebih banyak tinimbang ongkos makan mereka di situ- kepada sang penjual.

Inilah lebaran, setiap tahun kita dilatih untuk selalu menjaga sekecil apa pun itu agar mentalitas kelimpahan selalu ada dalam hati dan pikiran kita. Dan sesulit apa pun kita melakukan perbuatan yang berawal dari sebuah mentalitas kelimpahan di lain kesempatan, kita akan selalu ingat bahwa saat lebaran kita mampu menaklukan diri kita untuk sejenak melupakan rasa takut kita akibat mentalitas kekurangan, sehingga tentunya hal itu juga bisa dilakukan di saat lain selain lebaran.

Tapi lebaran juga bisa menjadi ujian bagi sikap mentalitas kelimpahan. Jalan raya adalah contoh kasus yang paling mudah. Bisa dengan mudah kita melihat orang yang bahkan mempraktekan mentalitas kekurangan yang ‘menyerang’. Mereka tidak malu untuk mengambil jalan orang lain untuk menjamin bahwa hak-haknya aman. Sebagian orang ini tidak malu untuk menerobos antrian, agar segera mendapat haknya, yang seharusnya lebih dulu menjadi hak orang yang tiba lebih awal. Ujian yang sama juga terjadi ketika sebagian orang tergoda untuk memamerkan kekayaannya saat silaturahmi bersama kerabat. Satu pihak mereka melatih mentalitas kelimpahan ini dengan membagi-bagikan sebagian uangnya kepada yang tidak mampu agar juga sejenak saat itu bisa merasakan senang, tapi di pihak lain mereka membagi-bagi uang disertai rasa bangga berlebihan pada diri sambil memakai perhiasan mewah untuk dipertontonkan kepada orang-orang yang menerima ‘kebaikan’-nya. Saat itulah mentalitas kelimpahan juga diuji, ketika hak sesama manusia dari para penerima uang itu ‘dirampas’ oleh sebuah pemandangan yang membuat mereka menginginkan sesuatu hal yang mereka tak mampu beli.

Tapi bagaimanapun juga, kita harus selalu bersyukur ketika paling tidak setiap tahun kita memiliki budaya untuk berkesempatan melatih dan menguji mentalitas kelimpahan dalam diri kita…

5 September 2011

Pitoyo Amrih




Last Updated on Monday, 05 September 2011 12:40
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo