pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..baru saja menuntaskan Memburu Kurawa nya Pitoyo Amrih.. awesome, he knows the whole history of kurawa in detail!!"
Defarmen Mehan, ST, MSc


Home Seri Wacana Budaya
Diskusi Masa Depan Wayang Orang Sriwedari PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 03 August 2011 09:25

Diskusi terbatas itu diawali dengan pembukaan dan paparan yang berisi arahan dan harapan-harapan Joko Widodo selaku walikota Solo. Beliau berharap ada wacana komperhensif yang bisa segera diwujudkan dalam usulan-usulan mengenai masa depan Pertunjukan Seni Wayang Orang (WO) Sriwedari, yang tahun 2011 ini sudah berusia 101 tahun. Dua perspektif yang Jokowi –demikian walikota Solo akrab disapa- sempat sampaikan sebagai awal melangkah adalah melihat bagaimana WO Sriwedari sebagai pusat pengembangan nilai-nilai seni budaya, dan melihat pengembangan WO Sriwedari sebagai entertainment atau bisnis pertunjukan.

Beliau juga coba bandingkan dengan theater seni budaya kelas dunia seperti di Jepang, China, Thailand, yang bisa terus maju, berkembang dan menjadi industri pertunjukkan maju yang menyejahterakan para pelakunya, tanpa meninggalkan konsep tradisional yang menjadi identitas seni budaya itu sendiri. Harapan seperti itulah yang kurang lebih bisa menjadi referensi bagaimana WO Sriwedari dibangun dan dikembangkan.

saya yang duduk di sebelah Joko Widodo (walikota Solo) di samping kanan saya, dan Tohiran Sastrokusumo (mantan pimpinan WO Sriwedari) di sebelah kiri saya (dok. Ardus M. Sawega)

Diskusi yang diadakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2011 yang baru lalu bertempat di Gedung Sasana Mangunsuka, House of Danar Hadi, Solo itu, mengundang sembilan pembicara utama. Yang dari perspektif mereka kemudian berkembang diskusi, pendapat dan komentar rancak dari para tamu undangan terbatas hari itu, yang dihadiri sekitar 40-an orang. Termasuk saya, yang juga kebetulan mendapat kehormatan untuk diminta hadir dalam diskusi yang berlangsung dari pagi sampai sore tersebut. Saya juga kebetulan mendapat kesempatan bicara kurang lebih sekitar 15 menit, mencoba memberikan gagasan bagaimana membangun WO Sriwedari, yang sempat sebelumnya, gagasan tersebut saya buat dalam bentuk tulisan dan dibagikan ke peserta pada hari itu. Tulisan dalam bentuk artikel yang bisa anda simak di bawah.

Pembicara berikutnya, yaitu KP Sulistyo TirtoKusumo, Direktur Kesenian Kementrian Budpar, memaparkan bagaimana penerapan otonomi daerah, salah satunya bisa memicu pengembangan potensi seni dan budaya daerah, selain sebagai upaya perkembangan budaya juga diharapkan bisa menjadi komoditi yang memajukan daerah itu sendiri. Dan aset WO Sriwedari yang dimiliki kota Solo bisa menjadi kekuatan bagi terwujudnya hal tersebut. Beliau mencontohkan pengembangan menggembirakan komunitas WO Bharata di Jakarta. Penekanan yang lain dari Sulistyo adalah pentingnya tata kelola manajemen yang berwawasan modern, juga penerapan kajian-kajian  teori bisnis tentang positioning, segmentasi penonton, diferensiasi, dan sebagainya.

Giliran berikutnya adalah Diwasa Ssn, yang saat ini menjabat sebagai manajer WO Sriwedari. Apa yang beliau utarakan lebih berisi sharing, bagaimana WO Sriwedari dengan tertatih-tatih tetap berusaha eksis. Bagaimana para pelaku WO Sriwedari yang oleh kebijakan Pemkot Solo, diangkat sebagai PNS, bisa berdampak positif dari sisi jaminan kesejahteraan pelaku, tapi juga bisa berdampak negatif bagi pengembangan kreatifitas dan kualitas pertunjukan. Diwasa, secara mendasar memberikan empat masalah pokok yang dihadapi WO Sriwedari, yaitu masalah manajemen, kompetensi teknis SDM yang tidak memadahi, miskin akan konsep pertunjukkan, dan promosi yang kurang terkelola.

Walikota Solo Joko Widodo, memberikan arahannya (dok. Ardus M. Sawega)

Gambaran yang cukup jelas dan terstruktur tentang potret saat ini apa yang terjadi pada WO Sriwedari diberikan oleh Dr Hersapandi SSn MHum, Dosen ISI Yogyakarta, karena kebetulan disertasi beliau, meneliti cukup detail tentang WO Sriwedari. Kajian beliau ini juga akan dijadikan dalam bentuk buku, yang bisa menjadi acuan untuk menilai kondisi WO Sriwedari saat ini dan menjadi tolok ukur untuk menentukan opsi langkah-langkah yang harus dilakukan terhadap WO Sriwedari.

Kesempatan berikutnya adalah pendapat dari Prof. Dr. Rahayu Supanggah , guru besar ISI Surakarta, yang juga bercerita banyak tentang pentingnya pendekatan manajemen modern dalam menata kembali WO Sriwedari. Sementara itu narasumber berikutnya, Retno Maruti, praktisi sendratari dan wayang orang yang tinggal di Jakarta, diawal bicaranya, mengungkapkan bagaimana WO Sriwedari saat ini jauh dari kesan memberikan pertunjukkan yang menarik bagi penontonnya. Letaknya terkesan kumuh, gelap, adegan-adegan yang diperagakan kurang berisi karakter yang menyentuh dan membangkitkan rasa penonton, sehingga pembenahan memang mendesak untuk dilakukan.

Amna Kusuma, pimpinan yayasan Kelola, yang bergerak dalam seni dan kebudayaan, juga memberi paparan yang cukup tajam yang berisi kritik-kritik dan saran terhadap pengembangan WO Sriwedari. Dan pembicara berikutnya, Sentot Sudiarto, yang dosen IKJ, adalah sosok yang juga memiliki ikatan emosional yang bergitu dalam terhadap WO Sriwedari.  Beliau adalah putra dari Bp. Tohiran Sastrokusumo, sosok yang tercatat dalam sejarah pernah memimpin WO Sriwedari tahun 1954 s.d 1968, dimana saat itu WO Sriwedari mengalami masa puncak kejayaannya. Dan yang istimewa adalah Bp. Tohiran, masih sehat sampai saat ini pada usianya ke-91! Dan juga hadir pada diskusi tersebut, kebetulan duduk di sebelah saya. Sentot Sudiarto mencoba membandingkan kondisi WO Sriwedari saat jaya dibanding WO Sriwedari saat ini.

Paparan pembicara utama, ditutup oleh paparan narasumber Dr Sal Murgiyanto, beliau adalah Dosen di Taipei National University of the Arts. Beliau yang juga lahir di Solo, dan kecintaannya pada seni tari juga tumbuh bersama WO Sriwedari, sempat melawat ke banyak Negara, menjadi pengajar seni tari dan pertunjukkan tradisional Jawa, saat ini tinggal di Taipei. Yang menarik dalam paparannya, ketika beliau memperlihatkan sebuah video, saat murid-muridnya di Taipei latihan tari, yang memperlihatkan gerakan joget kera yang terlihat atraktif, modern, hidup, dan yang penting lagi, sangat kental disana kesan akan tari tradisional Jawa. Saya sendiri ketika melihat pemutaran video itu langsung bisa membayangkan bagaimana bagusnya bila tarian itu menjadi bagian dari pertunjukkan sepak terjang prajurit kera di kisah Ramayana.

Lewat tengah hari, diskusi semakin marak. Banyak dari peserta diskusi juga mencoba menyumbangkan ide, gagasan serta apa yang saat ini mereka lihat atas WO Sriwedari dan saran bagaimana sebaiknya. Termasuk saya yang juga diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Pada diskusi itu juga hadir Prof. Dr. Mudji Sutrisno, seorang budayawan UI, tokoh-tokoh seni dan budaya di Solo dan Yogya, beberapa juga dari Jakarta, wartawan media cetak dan elektronik, juga beberapa praktisi bisnis pertunjukkan dan event organizer.



Pada kesempatan itu, pertemuan tersebut juga merupakan momentum yang mengukuhan dibentuknya “Komite Revitalisasi Wayang Orang Sriwedari”, dengan penasehat para pembicara utama, ketua Ardus M. Sawega, wartawan senior Kompas, dan sekretaris BRM. Bambang Irawan, dosen manajeman UNS sekaligus juga tokoh dari lingkungan dalam kraton Surakarta. Dalam hal ini saya juga mendapat kehormatan menjadi salah satu anggota dalam komite tersebut, tentunya dengan harapan bisa memberikan kontribusi positif bagi pengembangan WO Sriwedari, dengan modal kecintaan dan pengetahuan saya akan wayang, dan kompetensi saya di bidang engineering yang mungkin berguna ketika WO Sriwedari juga akan mengakomodasi teknologi dalam seni pertunjukannya kelak.

Output dari Komite ini diharapkan akan memberi masukan dan pilihan-pilihan arah bagaimana WO Sriwedari harus dikembangkan di masa mendatang.

Pitoyo Amrih






Last Updated on Wednesday, 03 August 2011 09:59
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2020 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru


Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Popular


Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo