pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..memuaskan nafsu dahaga saya untuk menyelami dunia Wayang"
Ujang Dede Lasmana


Home Lelakon Menginspirasi
Makutarama PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 13 June 2011 12:25

Perjalanan Arjuna sampai pada reruntuhan kuno negri Ayodya. Bekas sebuah kerajaan yang dulu pernah jaya bertahta raja Ramawijaya. Dimana saat itu sang raja memerintahkan untuk membuat sebuah prasasti. Prasasti itu berisi sebuah ajaran tentang kepemimpinan yang ditulis oleh Rama Wijaya. Sebuah gambaran ideal seorang pemimpin yang diwujudkan dalam bait-bait puisi yang diberi judul Astabrata. Apa yang terkandung dalam prasasti adalah sebuah proses belajar Rama selama hidupnya saat mengembara dulu, itulah mengapa bagi sebagian sesepuh dunia wayang pada masa ini, prasasti itu begitu penting. Isinya dipercaya merupakan wahyu yang diperoleh Rama selama pengembaraannya.

Wahyu itu hanyalah berupa sebuah pemikiran. Pemikiran sang Rama yang menjadi pegangannya saat kemudian menjadi raja dan memerintah Ayodya dulu. Sehingga berhasil membawa negri itu gilang gemilang, dan lolos dari segala cobaan. Sehingga kemudian dianggap pemikiran Rama Wijaya itu adalah merupakan mahkotanya. Yang menjadi isi kepalanya. Yang kemudian terkenal dengan sebutan Mahkota Rama, atau disebut dengan istilah wahyu Makutarama.

Makutarama yang kemudian dari cerita mulut ke mulut menjadi semacam mitos dan berubah sakral. Sehingga sebagian orang justru merasa penting untuk hanya sekedar memiliki prasasti-nya tinimbang berusaha memahami apa yang terkandung di dalamnya.

Setelah melepas meletakkan keranjang anak panah dari pinggangnya, Arjuna mengambil posisi bersedaku dan memusatkan perhatian pada bait-bait puisi dalam prasasti itu. Sebuah pelajaran Astabrata, tentang bagaimana sebaiknya seorang pemimpin berlaku, dengan belajar dan mengamati alam sekitar. Tentang bagaimana seorang pemimpin yang bisa memahami watak-watak alam dan mengejawantahkan-nya dalam semangat kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang bisa menyatu dengan alam, menggenggam dan menjabarkan delapan watak alam, yaitu watak Bumi, yang memiliki sifat menampung hal yang ada diatas dunia ini, baik, buruk, berat, ringan, semua diterima apa adanya. Bumi tak pernah membedakan bahwa dia hanya akan menerima yang baik untuk hidup diatasnya, sementara si jahat di lempar ke angkasa,.. tidak, bumi tidak demikian. Dia menerima semuanya.

Kemudian watak Matahari. Yang menerangi seluruh permukaan bumi sama rata. Tak ada hal lain yang dilakukan matahari selain selalu memberi sinarnya demi menebar manfaat kepada siapa pun yang ada dimuka jagad. Adanya matahari juga memungkinkan siklus air terjadi. Oleh matahari, air laut menguap, menjadi awan diangkasa, dan ketika saatnya untuk turun menjadi hujan, maka air itu tercurah memberikan kesegaran bagi semua makhluk, dan kembali mengalir  ke laut. Begitu seterusnya. Sebuah penggambaran bahwa watak matahari memberikan contoh bahwa seorang pemimpin harus mampu peka menangkap pendapat  dari masyarakat bawah, yang kemudian pada saat yang tepat mencurahkan kembali kepada semua orang yang dipimpinnya untuk mendapatkan kesegaran baru.

Yang ketiga adalah watak Rembulan. Sebuah sifat unik dari rembulan adalah, walaupun dia tidak memiliki sinar sendiri, tapi dia mampu menerangi gelap malam. Seorang pemimpin, harus bisa menggalang kekuatan walaupun kekuatan itu tidak dari dirinya sendiri, untuk kemudian memberi sinar terang pada setiap kegelapan. Dengan kekuatan itu memberi penyelesaian dari setiap masalah.

Watak Angin, tak kalah menariknya. Angin tak dapat dipegang, tak dapat dilihat, tapi kekuatannya mampu menjungkir balikan bebatuan besar sekalipun. Angin dapat menyusup kemana-mana bahkan ke lubang kecil. Sehingga dari gambaran watak angin, seorang pemimpin harus mampu melihat dan mendengar apa yang tersembunyi. Seorang pemimpin walaupun dia memiliki kekuatan harus bisa memperlihatkan kesejukannya, dan hanya menggunakan kekuatannya bila keadaan memang benar-benar perlu.

Watak berikutnya adalah Samudra. Terdiri dari air dengan jumlah yang begitu banyak mengisi cekungan-cekungan. Yang menjadi ciri khas dari air dalam samudra, adalah sifatnya yang begitu luas, seorang pemimpin harus bisa melihat wawasan secara luas. Mampu melihat hal-hal yang orang lain tidak melihat. Sementara ada lagi sifat air yang menarik yaitu selalu mengisi apa pun wadahnya, menyesuaikan bentuknya. Pertanda pemimpin harus bisa menyelami setiap orang yang dipimpinnya, dan mampu memahami masing-masing orang ataupun kelompok demi mendengar kepentingan ľkepentingan mereka.

Yang berikutnya adalah Api. Sebuah tanda alam, yang dengan kekuatannya mampu membakar dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Sebuah penggambaran watak agar dalam menyelesaikan persoalan haruslah tuntas. Sampai benar-benar tujuannya tercapai.  Tidak sepotong-sepotong. Semuanya harus sesuai porsinya dan selesai sampai seperti yang direncanakan. Penggambaran api ini juga melambangkan seorang pemimpin harus jelas dan tegas dan melaksanakan hukuman atau memberi hadiah kepada setiap orang yang dipimpinnya.

Bintang, banyak dikenal sifatnya selain wujud keindahannya, bintang juga memberi arah kemana harus pergi. Demikian juga seorang pemimpin. Keindahan berarti, bahwa pemimpin harus dapat memberikan rasa ketentraman kepada siapa pun yang dipimpinnya. Juga pemimpin harus dapat memperlihatkan arah. Yang berarti dapat memberikan petunjuk secara tepat kepada orang-orang yang dipimpinnya tentang dimana mereka saat ini berdiri, dan kemana mereka sebaiknya berjalan menuju.

Watak yang kedelapan adalah Awan. Banyak juga ditafsirkan sebagai sifat mendung. Satu keadaan alam yang bisa berarti dua, yaitu sebuah kecerahan, yang berarti sebuah harapan, dan awan gelap yang memberi makna agar dapat menciptakan kondisi wibawa terhadap siapa saja yang dipimpinnya. Tapi dua sisi ini bisa dianggap benar, kesan seorang pemimpin suatu ketika harus mampu memberikan sebuah harapan sehingga setiap orang tumbuh keinginan untuk selalu menjadi lebih baik. Dilain pihak, suatu ketika pemimpin harus memperlihatkan ketegasan-ketegasan demi sebuah wibawa, agar orang-orang yang dipimpin patuh untuk bersama-sama mencapai tujuan.

Begitu khusyu Arjuna menyelami dan berusaha memahami apa yang tertulis dalam prasati itu. Tak terasa pagi keesokan hari menjelang. Menghela nafas panjang, kemudian Arjuna beranjak dari duduknya. Rona wajah itu tampak berbeda. Terlihat raut muka yang menjadi lebih dewasa karena pemahaman atas apa yang dia baca pada prasasti itu.

 

Pitoyo Amrih

(tulisan diatas adalah salah satu penggalan episode "Wahyu Makutarama" di salah satu novel saya "Pertempuran 2 pemanah Arjuna-Karna")

 




Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:42
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo