pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Kalau di barat ada The Lord of The Ring, sebenarnya kita punya Baratayudha, Pitoyo merangkaikannya kembali untuk kita. Dan bukunya yang luar biasa ini...saya yakin barulah sebuah permulaan..."
Kerabat Kraton Yogyakarta (keberatan disebutkan namanya)


Home Lelakon Menginspirasi
Cinta Sumbadra PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 06 March 2011 19:30

“..apakah arti cinta,.. kakang?” seorang putri cantik tampak duduk termangu sambil berkata. Duduk termangu di sebuah serambi istana. Duduk termangu dengan pandangan mata melihat jauh ke arah taman indah yang terhampar. Sebuah taman indah yang merupakan bagian dalam dari istana Madukara.

Sang putri dengan rambut digelung kebelakang rapi, mengenakan mahkota permaisuri. Alis tipis, mata lentik, hidung mancung. Kulit muka sawo matang, dengan sunggingan senyum yang seperti dipaksakan.

“..eeee, mbegegeg ugeg-ugeg,.. ndoro putri..” sebuah suara latah terlontar begitu saja dari seseorang yang terlihat tak wajar. Duduk bersimpuh di lantai serambi beberapa tombak di depan sang putri. Kepala menunduk. Rambutnya putih dikuncir bulat ke atas. Dengan muka bulat berwarna pucat. Susah sekali mengartikan perasaan apa yang ada pada orang ini. Mulutnya terlihat lebar seperti tertawa, sementara dari tepi mata sipitnya, selalu tampak basah seperti orang yang tak henti-hentinya menangis. Hidungnya kecil, mulutnya lebar. Juga susah ditebak berapa usia orang ini. Kadang cahaya muka itu tampak seperti usia yang tak begitu tua, tapi bila diamati dengan seksama, terkadang orang yang melihat akan terkejut, betapa keriput-keriput itu begitu kentara. Tubuh orang ini tampak gemuk, memakai busana seorang abdi. Dada dan pantat yang begitu besar. Dialah salah satu punakawan yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai sesepuh dunia wayang. Dia yang dipanggil dengan sebutan Ki Lurah Semar Badranaya. Hidup bertani di wilayah yang masih masuk daerah Madukara, bernama Karang Kedempel.

Konon kabarnya Semar adalah wujud jalan kematian dari salah satu sesepuh bangsa Dewa bernama Sang Hyang Batara Ismaya. Usia sebenarnya mungkin sudah menginjak lebih dari seribu warsa. Betapa dia telah banyak melihat merah hitamnya dunia wayang. Itulah mengapa semua orang menyebutnya dengan panggilan 'kakang'. Walaupun pada kenyataannya dia hanyalah seorang abdi istana. Termasuk sang putri yang duduk di sana, sang permaisuri istri raja yang juga memanggil dengan sebutan 'kakang' secara sopan.

Sang putri yang tak lain adalah permaisuri negri Madukara, bernama Dewi Wara Sumbadra. Istri pertama Arjuna, juga adik bungsu sang penguasa Dwarawati, Sri Batara Kresna.

“..pertanyaan ndoro putri begitu berat untuk digagas,.. ndoro,.. tapi sebenarnya jawaban itu selalu ada di dalam diri kita... begitu dekat, tapi susah untuk dilihat, ..” kata Semar kemudian.

“..apakah yang dirasakan kangmas Arjuna kepada saya adalah cinta?” lanjut Sumbadra dengan kalimat datar. “..apakah yang saya rasakan adalah cinta yang sama kepadanya.?”. Sejenak diam, kemudian lanjut Sumbadra, “..lalu,.. apa yang dirasakan kangmas Arjuna kepada semua perempuan yang dinikahinya..?” suara Sumbadra terdengar datar. Tapi sangat terasa gemuruh emosi di dada Sumbadra yang seperti sekian lama berusaha dipendamnya. Tampak mata Sumbadra berkaca-kaca.

Semar kali ini hanya diam.

“..seorang resi pernah berkata kepada saya bahwa cinta seharusnya adalah sebuah ujung perasaan,.. orang boleh senang,..suatu saat benci,.. orang boleh tertawa suatu saat bersedih, tapi cinta.. tidak ada makna yang mewakili lawan kata darinya,.. mencintai seseorang pasti akan selalu senang dan sayang kepadanya,.. tapi suatu saat bisa juga marah karena orang pada dasarnya tak sempurna,.. tapi betapa pun marah seseorang, bila dia cinta,.. maka tetaplah cinta,.. akan selalu saja ada pintu maaf atas apa yang menyebabkan dia marah..” lanjut Sumbadra. Semakin terasa getaran kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya.

Semar tetap diam. Wajahnya menunduk. Mulutnya semakin tampak lebar seperti menahan senyum, tapi air mata tampak mengalir dari sudut matanya.

“.. tapi aneh, kakang... semakin saya membenci apa yang saya dengar tentang kangmas Arjuna yang selalu saja menyetujui setiap wanita yang ingin menjadi istrinya,.. semakin saya merasa untuk harus memahaminya..”

Sejenak suasana hening. Sumbadra tetap memandang ke arah bunga-bunga dan pepohonan di taman itu. Tampak beberapa abdi di kejauhan sana sedang merawat taman dan tanaman di sana.

Sementara Semar menunduk. Sampai kemudian Semar membuka kalimat, “.. ee, mbegegeg ugeg-ugeg,.. ketampanan ndoro Raden Arjuna,.. adalah sebuah anugerah, ndoro putri,.. tapi sekaligus menjadi cobaan dan ujian,.. bukan maksud ndoro Raden Arjuna untuk selalu menebar pesona,.. karena apa yang terlihat memang begitu mempesona setiap wanita yang melihat,..”

Sejenak Sumbadra diam. Kemudian berkata lirih, “..kangmas Arjuna sering datang dan pergi dalam waktu lama, tak pernah diam cukup lama di Madukara.., saya bisa mengerti itulah hakekat seorang ksatria utama yang selalu ingin belajar memaknai kehidupan dengan melakukan perjalanan,.. tapi walaupun kangmas Arjuna tak pernah bercerita perjalanannya,.. semua abdi di sini tahu, bahwa kangmas Arjuna selalu menikah di setiap dia singgah,.. hal ini juga yang membuat nimas Srikandi memilih pulang ke Cempalareja..” sejenak diam menghela nafas. “..mengapa kangmas Arjuna tidak bercerita apa adanya kepada saya, kakang Semar?” kalimat Sumbadra terdengar bergetar membuat trenyuh siapa pun yang mendengar.

“..mungkin ndoro-Raden Arjuna tak ingin menyakiti hati ndoro-ayu...”

“.. terkadang saya merasa sakit justru ketika kangmas Arjuna diam...” potong Sumbadra lirih. Sumbadra mengakhiri kalimatnya sambil berdiri dan masuk ke bagian dalam istana Madukara. Meninggalkan Semar seorang diri yang masih duduk bersila di lantai.

“Oalah.., mbegegeg-ugeg-ugeg,..” terdengar latah Semar sambil menghela nafas, kemudian lanjutnya bergumam, “... bisakah nilai sejati seorang pria dinilai dari raut wajah istrinya..?”. Nada suaranya seperti meratap.

 

Pitoyo Amrih

Tulisan yang merupakan cuplikan dari Novel Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna

 

 




Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:43
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo