pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Coba baca cerita pewayangan karya orang lain, ternyata masih lebih suka dengan rangkaian kata di buku bukunya pak Pitoyo.."
Rosalia IP


Home Seri Belajar Kaya
Bagi Yang Jeli, Kaya itu Tidak Susah.. ?! PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 30 July 2007 07:00

Kehidupan artis itu koq sepertinya enak, ya?! Mungkin demikian gambaran sebagian besar dari kita bila kita sesekali melongok berita-berita infotainment artis. Apakah itu artis kita sendiri ataukah artis luar negri. Banyak orang yang membayangkan hidup seperti mereka. Kesana-kemari naik mobil mewah. Hidup dari hotel ke hotel. Dari hotel berbintang ini ke hotel berbintang berikutnya. Pakaiannya bagus-bagus. Sepertinya mereka begitu mudah mendapatkan uang.

“… enak ya,..masih usia belasan tapi sudah kaya..,” begitu komentar istri saya suatu kali ketika melihat tayangan berita selebriti yang mengulas seorang bintang sinetron yang memang sedang menanjak popularitasnya. Wajahnya ada di setiap stasiun televisi serta majalah remaja, di usianya yang masih duduk di bangku SMP.

Bagi saya, masalah enak nggak enak sih relatif. Karena biasanya kita melihat sesuatu yang enak pada orang lain ketika kita merasa bahwa yang dirasakan orang itu adalah enak menurut kita. Apakah dia juga merasa enak, belumlah tentu. Bisa jadi ditengah kehidupan glamour mereka, terkadang mereka harus menangis, terkadang mereka harus hutang sana-sini, terkadang mereka menemui kesulitan hidup. Dan hal-hal tersebut di depan kamera tentunya sudah terpoles sehingga seolah menjadi drama yang bisa jadi semakin mendongkrak popularitas mereka, menambah panjang daftar kontrak mereka, ujung-ujungnya bisa jadi menambah pemasukan mereka.

Sehingga yang terlihat enak mungkin sepertinya tidaklah semudah itu kita mengatakannya, sedang yang sepertinya tidak enak, bisa jadi sebuah berkah buat mereka. Tapi mungkin begitulah kehidupan mereka. Karena bagaimanapun juga, namanya juga pesohor, setiap langkah mereka, perkataan mereka, aksi mereka, bisa jadi memang dalam rangka untuk mencari uang.

Tapi bukanlah hal itu yang hendak saya ceritakan di sini. Apa yang coba saya ungkap sebenarnya adalah, betapa peluang untuk mendatangkan income secara halal dan legal itu akan selalu ada bila saja kita mau untuk selalu belajar mengasah kompetensi kita –di bidang apa saja-, sehingga menciptakan diferensiasi, dan namanya juga mekanisme pasar, setiap diferensiasi, ketika disana ada kebutuhan pasti ada harganya. Yang berarti bisa menjadi pemasukan.

Tapi hal ini memang menarik untuk di simak. Suatu kali pernah suatu ketika seorang teman saya bercerita, mencoba berlogika, mengapa para selebritis baik di dalam negri maupun luar negri itu begitu banyak uang. Ujung-ujungnya teman saya ini menghubungkan bahwa supply-demand yang terjadi, ada pada kebutuhan akan hiburan bagi sebagian besar masyarakat kita. Sehingga logikanya berlanjut pada, bahwa kehidupan di dunia ini begitu berat, sehingga segala bentuk penghibur dan yang dapat menghibur, begitu dihargai.

Dan jangan salah, bentuk hiburan itu bukan berarti hanya sesuatu yang bisa membuat kita tertawa, sesuatu yang dapat membuat kita menangis pun bagi sebagian orang juga merupakan bentuk hiburan. Coba anda simak, bisa jadi ada salah seorang anggota keluarga kita yang setiap sore sudah rapi duduk di depan televisi, melewatkan waktunya melihat sinetron yang menyebabkan sepanjang waktu cerita bisa berurai air mata dibuatnya. Dan ketika pertunjukan selesai, sang penonton mengusap sisa air mata yang membasahi pipi sambil bernafas lega dan merasa pikiran, hati dan tenaganya segar kembali. Artinya dengan sinetron seperti itu pun mereka terhibur.

Kalau kita bicara mengenai pesohor, tentunya tidak hanya para pemain film, presenter, komedian, dan sebagainya, bahkan para olahragawan, ditangan manajemen yang profesional, jalur mereka sebenarnya diarahkan menjadi seorang selebriti. Bagaimana membuat penampil olahraga ini, tidak hanya menang dalam pertandingan, tapi juga enak ditonton sehingga pemirsa suka. Kita lihat bagaimana setiap pertandingan sepakbola para bintang, bisa membius jutaan penggemar sehingga mereka rela memenuhi café-café nonton bareng. Begitu juga para pembalap formula, pemain basket, bulu-tangkis. Dan terbukti para olahragawan yang banyak fans, kebanyakan dari mereka kaya-kaya.

Ada lagi pernah suatu ketika ada survey mengenai penghasilan di Amerika sono, yang hasil akhirnya mengatakan bahwa rata-rata peringkat penghasil tertinggi di duduki oleh mereka yang berprofesi sebagai pengacara. Lagi-lagi diskusi saya dengan teman saya itu berujung juga pada kesimpulan bahwa hidup ini begitu berat. Buktinya banyak orang yang memilih untuk berurusan dengan masalah hukum sehingga jasa profesi pengacara begitu menjanjikan pendapatan yang tinggi.

Peringkat berikutnya, ternyata diduduki oleh orang yang memiliki profesi dokter. Aha! Lagi-lagi saya dan teman saya harus tertawa bersama bahwa itu semakin memperkuat dugaan tentang betapa beratnya hidup ini. Terbukti bahwa jasa dokter begitu laku. Menandakan begitu banyak orang yang merasa dirinya sakit. Merasa diri sakit masih mengandung kemungkinan bahwa orang itu memang sakit atau sebenarnya tidak sakit, hanya beban kehidupan yang membebaninya membuat dia merasa menjadi seorang pesakitan.

Sekarang tiga contoh profesi dengan pendapatan rata-rata teratas, terlihat bahwa sebenarnya yang dilakukan mereka adalah ‘sekedar’ berupaya memperkaya kompetensi sehingga bisa menjadi kebutuhan semua orang yang merasa terbebani akan kehidupan ini. Mereka orang-orang yang punya masalah –yang mungkin juga mendominasi populasi di planet bumi ini- menjadi konsumen yang mendatangkan begitu banyak pemasukan bagi para penghibur, bagi para pengacara yang membantu upaya penyelesaian masalah hukum, juga bagi para dokter untuk orang-orang yang merasa dirinya sakit.

Yang coba akan saya katakan di sini adalah: bahkan para ‘pencari penghasilan’ dengan target pasar orang-orang bermasalah pun, ternyata malah memiliki pendapatan rata-rata dengan peringkat tertinggi. Harusnya logikanya justru para ‘pencari penghasilan’ yang membidik segmen pasar orang dalam kondisinya tidak bermasalah, mustinya akan lebih mudah untuk diciptakan.

Ya! Kaya seharusnyalah tidak begitu susah untuk dicapai, tinggal masalahnya anda ingin atau tidak. Karena diluar sana sebenarnya begitu banyak peluang. Dan, bahkan orang-orang bermasalah pun bisa menjadi peluang!..nah! 

 

30 Juli  2007

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga




Last Updated on Friday, 03 September 2010 10:58
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo