pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Saya suka kisah ini, saya pernah tahu kisah ini dari nonton wayang dengan Dalang Ki Mantep Sudarsono"
Yusuf Supriadi


Home Seri Belajar Kaya
Kaya Berarti Bisa Berbagi PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 14 June 2007 07:00

Sebuah pemandangan yang menurut saya indah! Terkadang saya bisa berlama-lama menikmati pemandangan ini. Anak saya bersama-sama teman-temannya bermain di teras rumah ngeriung. Celotehan para balita ini sesekali bisa membuat saya tersenyum atau tertawa sendiri. Mereka bermain mainan, ngobrol kesana – kemari dengan bahasa dan logika mereka sendiri. Terkadang saya sendiri tidak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi itulah mereka, dan ketika momen itu terjadi, saya biasanya sengaja mengambil jarak terhadap keasyikan mereka, tidak berusaha terlibat dengan menggurui dan menghakimi keasyikan mereka.

Dan momen-momen itu biasanya berakhir dengan dua orang dari anak-anak itu kemudian saling ngotot adu mulut atau fisik berebut sebuah mainan. Ada salah seorang anak itu yang menangis, atau marah-marah, teriak-teriak. Dan menurut saya juga bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Karena itu semua adalah bagian dari proses pembelajaran mereka tentang bagaimana harus berbagi. Termasuk juga proses pembelajaran kita sebagai orang tua tentang bagaimana menyikapi anaknya yang sedang mengalami proses pembelajaran untuk berbagi.

Dan bila hal ini terjadi, saya kembali ingat cerita Stephen Covey dalam bukunya ‘7 Habit’. Dimana disitu dia bercerita tentang anaknya yang waktu itu berulang tahun pada usia ke tiga, mendapatkan banyak sekali kado dari anak-anak tetangganya. Tibalah saat bermain di mana seluruh kado dibuka. Tapi apa yang terjadi, si Covey kecil ini sama sekali tidak mau meminjamkan mainannya ke pada teman-temannya. Berbagai upaya dilakukan oleh ayahnya untuk membujuk si anak agar mau berbagi mainan. Tapi si anak, tetap dengan berteriak-teriak menolak meminjamkan mainannya. Pelajaran yang berusaha diperlihatkan Covey adalah setiap manusia punya proses pembelajaran sampai seseorang mampu untuk berbagi. Seseorang yang semula bersifat sangat posesif, dengan kemauan akan bisa menjadikan dia belajar untuk bisa berbagi. Dalam arti bahwa, setiap orang yang bisa berbagi, pastilah dulu pernah juga bersifat posesif, dan dengan berjalannya waktu mau belajar untuk berbagi.

Masih seperti yang pernah diutarakan Covey dalam bukunya, hal ini atas persepsi saya sebenarnya bermuara pada pergeseran paradigma dari mentalitas scarcity menjadi mentalitas abundance. Bergesernya mentalitas yang semula melihat bahwa semua ini layaknya sepotong kue, dimana kalau orang lain sudah mengambil separuh bagian, paradigma ini selalu menganggap bahwa apa yang tersisa hanyalah separuhnya. Semangat berbagi akan timbul dengan sendirinya ketika kita mulai bisa menggeser paradigma itu ke arah mentalitas abundance yang melihat bahwa begitu banyak ‘kue-kue’ lain selain ‘kue’ yang ada.

Mengapa saya mengawali cerita ini? Mari kita lihat apa yang terjadi disekitar kita. Sengketa tanah ada di mana-mana. Sengketa usaha, perebutan kursi politik yang memakai cara-cara diluar aturan main. Dalam skala lebih luas, kita melihat perang masih ada dimana-mana. Mereka semua yang terlibat adalah orang dewasa, dalam artian atas definisi umur mereka sudah tidak bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Mereka semua yang terlibat adalah kaum intelektual, lalu mengapa ‘berebut’ itu masih ada? Anda boleh mendebat saya, tapi bagi saya, kejadian dua orang balita berebut mainan, esensinya sama dengan misalnya dua orang dewasa yang bersengketa.

Betul mereka menempuh jalur hukum misalnya, memakai cara-cara sesuai aturan main, tapi sebuah sengketa muncul karena masih adanya sebuah paradigma scarcity. Walaupun itu bukan berarti setiap kejadian sengketa saya menyarankan untuk sudahlah kita abundance saja sebaiknya, bukan itu.. Karena sebuah sengketa bisa jadi akibat dari silang sengkarut banyak hal dan banyak kepentingan yang belum tentu justru disebabkan oleh dua orang yang terlibat secara langsung sendiri.

Dan untuk menggeser ke abundance tidaklah bisa terjadi dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kemauan dari diri sendiri untuk merubahnya. Dan ketika kemauan itu ada, pergeserannya juga tidaklah dengan serta merta bisa memperbaiki kedewasaan berpikir kita untuk bisa berbagi.

Secara logika, seseorang yang merasa dirinya kaya, seharusnyalah sebuah mentalitas abundance yang ada pada dirinya. Karena logikanya, ketika seseorang merasa kaya, yang dilihat di depan matanya bukan lagi memikirkan sisa ‘kue’ orang lain yang harus dia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana dia menciptakan ‘kue-kue’ baru yang bisa dia dapatkan, syukur-syukur menjadi inspirasi orang lain untuk juga menciptakan kue yang sama.

Misalnya ada sebuah potret kejadian demikian, seorang pengusaha yang mengawali usahanya dari kecil, kemudian menabung sedikit demi sedikit. Sekian tahun usahanya maju dan berjalan cukup bagus. Sebuah jerih payah itu kemudian sebagian tabungannya diwujudkan dalam bentuk sebuah mobil mewah yang dari dulu dia impikan. Setiap hari selalu dia lewatkan mengendara mobil itu. Pada kesempatan lain dia menghabiskan waktunya berlama-lama memoles mobilnya. Tapi tanpa sengaja, suatu ketika ditempat parkir, seorang tukang sampah tidak sengaja menarik gerobagnya agak ke tepi sehingga menggores panjang, mobil sang pengusaha.

Disinilah sebenarnya saya melihat kedewasaan sang pengusaha diuji. Bagaimana respon dia ketika melihat goresan di mobil barunya, sebenarnya bisa menjadi indikator sampai dimana dia merasa dirinya kaya. Bagaimana kaya (secara ekonomi)-nya dia bisa memberi kemauan baginya untuk menggeser paradigmanya ke arah abundance. Bagaimana dia melihat kehidupan sebagai sesuatu yang dijalani dengan sesama dengan cara berbagi.

Ada satu contoh lagi yang cukup menarik untuk direnungi. Anda ingat film Matrix..? Sang kreator film ini adalah dua orang muda bersaudara yang selalu bekerja keras. Sebuah ide orisinil yang tampil dalam film Matrik adalah teknik pengambilan gambar dimana kamera yang berjumlah puluhan dipasang melingkar mengelilingi obyek adegan yang diambil gambarnya. Kemudian dipandu dengan ketekunan saat proses editing jadilah sebuah hasil dilayar berupa gerak slow-motion (terkadang juga dibuat berhenti) tapi pada saat yang sama sudut pandangnya bisa ‘berjalan’ memutar.

Pada saat karya itu tersaji. Semua sineas bertanya-tanya. Teknik apa yang dipakai? Gambar itu terlihat jelas bukan merupakan manipulasi animasi digital. Apakah mungkin sebuah kamera dibuat bergerak dengan kecepatan melebih kecepatan gerakan obyek yang ditangkap ketika sang obyek bergerak begitu cepat –orang melompat misalnya-? Ide pengambilan gambar itu bila sang dua bersaudara ini berniat mengkomersialkan tentunya akan menjadi sumber pemasukan lain yang sangat besar nilainya –selain hasil dari film itu sendiri- tentunya.

Tapi apa yang dilakukan dua bersaudara ini. Ketika orang bertanya-tanya, justru dia dengan gencar dan bersemangat menceritakan ‘resep rahasia’ mereka itu kepada semua orang. Jadilah sekarang kita menyaksikan begitu banyak film aksi yang memberi bumbu pengambilan gambar dengan teknik yang dilakukan seperti film Matrix itu.

Menurut saya, apa yang mereka lakukan adalah sebuah sikap atas mentalitas abundance. Dan sikap itu dibuktikan oleh orang yang merasa dirinya ‘kaya’. Secara ekonomi –dibanding sineas rata-rata lain di Amerika sono- ketika itu, mereka masih belum bisa dikatakan kaya. Tapi keputusan saat itu mempublikasikan begitu saja idenya adalah sebuah terobosan bagaimana mereka menyikapi hidup mereka. Mereka tidak memperebutkan sisa paruh ‘kue’ orang lain. Tapi menciptakan ‘kue-kue’ baru yang menjadi sumber bagiannya. Tidak hanya itu, ‘kue-kue’ baru ini tidak hanya dinikmati sendiri tapi juga dibagi-bagikan begitu saja, sehingga orang lain bisa mendapatkan manfaatnya.

Bagaimana pun juga kita semua manusia suka atau tidak, hidup dalam satu bumi. Adanya persaingan dalam usaha, karir, pengetahuan, ekonomi, jabatan, menurut saya itu adalah sesuatu yang wajar yang bisa memberikan kita gairah dan semangat untuk terus hidup dan mencari sesuatu yang lebih baik. Tapi diluar itu semua, bagi saya ada sebuah tingkatan lebih tinggi lagi yang tidak mudah, yaitu ketika semua itu bisa diraih, pembuktiannya hanyalah pada bagaimana semangat berbagi itu ada dan selalu menjadi kemauan kita…

 

14 Juli  2007

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga




Last Updated on Friday, 03 September 2010 10:45
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo