pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Novel yg luarbiasa! Semua novel2 pak Pitoyo dari yang pertama sampai sekarang. Semuanya bersambung dan melengkapi. Novel2 luarbiasa!"
Sugiharto Gandamihardja


Home Seri Belajar Kaya
Kaya Sinergi PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 14 June 2007 07:00

Dari terminologi katanya, sinergi mungkin bisa diambil pendekatan dengan pengertian bekerja bersama sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Sebuah analogi yang ditawarkan Stephen Covey mungkin bisa menggambarkan arti kata ini, dimana bila si A seorang, hasil usahanya adalah dua misalnya, sementara ada orang lain si B misal, hasil usahanya juga dua, maka ketika A dan B bekerja bersama-sama secara sinergi, yang dihasilkan tidak hanya empat, tapi bisa sepuluh, duapuluh, bahkan lebih.

Tapi tentunya dengan syarat bahwa A dan B akan berkomitmen untuk bekerja bersama secara sinergi. Akan beda ceritanya, bila mereka bekerja secara kompromi, atau bahkan misalnya, mereka bekerja bersama dan timbul sengketa, bisa jadi dua tambah dua dari mereka, justru tidak menghasilkan apa-apa.

Dibalik kemungkinan menghasilkan sesuatu yang lebih besar, memang ada sebuah resiko dari dua orang atau lebih yang bekerja secara bersama-sama, yaitu ada kemungkinan justru kerjasama mereka tidak menghasilkan apa-apa. Disinilah pentingnya sebelum dua orang atau lebih memutuskan untuk bekerja secara bersama-sama, harus ada semacam komitmen yang mendasari efektif atau tidaknya keinginan sebuah sinergi.

Dan hal yang paling mendasari itu semua adalah, sebuah ketulusan dari hati yang paling dalam untuk menghargai sebuah perbedaan antar sesama manusia. Seseorang boleh-boleh saja merasa dirinya benar, tapi janganlah kemudian beranjak kepada sifat destruktif yang merasa dirinya paling benar. Hal inilah yang akan mengganggu ketulusan untuk menghargai perbedaan. Dan hal inilah yang menghambat sebuah kelompok manusia untuk mencapai sinergi.

Perbedaan bisa berupa apa saja, perbedaan cara melihat, perbedaan latar belakang pendidikan, perbedaan kepentingan, beda persepsi, beda kedudukan, tapi dari kesemua itu, setiap orang yang memutuskan untuk menjalin kerjasama, pastilah ada satu persamaanya. Paling tidak mungkin satu tujuan akhir yang diinginkan dalam sebuah kerjasama.

Aha..! Sebuah tujuan akhir ! Sekarang coba kita menukik kepada pokok bahasan yang selama ini saya angkat, dengan satu pertanyaan: Mungkinkah seorang berpunya (baca: kaya) merasa perlu untuk menciptakan kerjasama secara sinergi dengan yang tidak berpunya?

Karena kalau kita melihat potret disekeliling kita, anda mungkin setuju dengan saya bahwa sebagian besar orang kaya merasa tidak butuh orang miskin. Bagi saya, rasa ‘tidak butuh’ itu sendiri lebih kepada belum adanya kesadaran akan adanya satu tujuan dalam kehidupan ini, tidak peduli apakah anda orang miskin, orang kaya, berpendidikan, berkedudukan. Definisi dari tujuan itu pun mungkin masih bisa diperdebatkan. Tidak ada ilmu pasti dalam hal ini, ada yang bicara bahwa kita semua bertujuan untuk menciptakan hidup yang lebih baik, ada yang merasa bertujuan menciptakan kesejahteraan sesama. Tapi yang jelas, semua tujuan itu haruslah menuju pada ‘ujung’ yang sama karena kita berangkat dari satu hal yang sama, yaitu… bahwa kita sama-sama manusia!

Banyak kita lihat disekililing kita orang yang kita anggap berpunya (ditunjukkan dengan memakai mobil mewah, berbusana mahal, bergaya sibuk, dan sebagainya), sepertinya tidak begitu peduli dengan keberadaan orang –yang sebenarnya begitu penting baginya- disekelilingnya yang menurutnya hanya sebagai pelengkap saja. Saya masih terkadang melihat orang –yang kita anggap berpunya- ini, memberi uang parkir kepada tukang parkir tanpa rasa hormat. Entah karena dia memang sedang terburu-buru, atau memang demikian sifatnya, saya tidak tahu.

Atau ada juga orang kaya yang memperlakukan para pembantu rumah tangganya, tanpa sama sekali melihat eksistensi sang pembantu sebagai seorang manusia. Dari yang kasus besar mungkin kita sesekali lihat beritanya di televisi, sampai yang kasus kecil yang terjadi di sekeliling kita, atau bahkan terjadi di rumah tinggal kita sendiri. Dari yang besar memberi perlakuan dengan kekerasan, sampai yang kecil tampaknya sederhana, seperti sengaja menunda pembayaran gaji mereka, akibat dari paradigma bahwa membayar gaji mereka adalah urusan nomor kesekian, .. bisa ditunda karena harus nyicil kredit mobil misalnya!

Lalu apa hubungannya dengan sinergi? Sebelum kita melangkah ke sana, ada baiknya kita sama-sama berusaha melihat bahwa keberadaan semua orang di sekililing kita adalah penting, walaupun dalam segi ekonomi mereka ada di kelas bawah. Bapak tukang parkir, tukang sampah, pembantu rumah tangga, para pemulung, sopir angkot, cleaning service. Ubahlah paradigma anda bahwa mereka bekerja tidak hanya melayani anda, tapi mereka bekerja menjalani sebuah profesi yang sangat penting dari sebuah rantai kegiatan ekonomi dalam kehidupan kita.

Cobalah anda sekali-kali ke pasar tradisional, disana banyak sekali para pedagang kecil yang juga bagian dari rantai kegiatan ekonomi itu. Kemudian sekali-kali pergi ke pedesaan. Cobalah paradigma anda digeser sedikit akan pengertian sebuah wilayah pedesaan sebagai sekedar tempat re-freshing, juga tempat kita untuk sekali merenung, bahwa nasi yang kita makan adalah jerih payah mereka bapak-bapak petani yang tiap hari berada di terik matahari, untuk memastikan bahwa kualitas nasi yang kita makan selalu dalam keadaan bagus.

Setelah kita mulai melihat bahwa keberadaan mereka juga penting bagi eksistensi kehidupan kita, saat itulah tanpa sadar kita akan melihat bahwa kita dan mereka sama-sama memikul satu tujuan. Tujuan apa itu mungkin juga susah dijelaskan, tapi paling tidak kata sederhananya, adalah sebuah tujuan untuk mempertahankan rantai ekonomi itu tetap seimbang dan berjalan semakin produktif dari hari ke hari. Saat itulah kita bisa mencoba langkah berikutnya, dengan langkah awal menghargai mereka (menghargai perbedaan yang ada antara anda dan mereka) untuk kemudian berpikir sinergi dengan mereka.

Bisa jadi saat ini anda berpikir akan perubahan perilaku anak balita anda, atau pertumbuhan berat badan yang tidak semestinya. Mungkin anda langsung menyalahkan sang pengasuh anak balita anda yang kurang kompeten dalam melakukan tugasnya. Tapi apakah anda bisa sesekali berpikir bahwa mungkin masalahnya terletak pada hubungan kerja pengasuh anak anda dengan anda selaku atasan yang kurang bisa bersinergi dengan baik?

Secara sederhana hubungan kerja itu mungkin bisa diterjemahkan sebagai, bahwa pengasuh anak anda butuh penghasilan tetap bulanan dari anda dengan melakukan tugasnya. Sementara anda memperoleh imbal balik berupa jasa pengasuhan anak anda secara efektif. Tapi apakah ekspektasi masing-masing benar-benar sudah terkomunikasikan, akankah anda selalu menghargai keberadaan profesinya –dengan cara misalnya menghormati privasi, jam kerjanya, dan sebagainya-. Karena hal-hal seperti inilah yang mendasari sebuah hasil akhir sebuah sinergi.

Kemudian kalau kita melihat pada skala lebih luas, misalnya pada seorang pedagang di sebuah pasar tradisional, saya pernah melihat seorang ibu-ibu berpenampilan yang bisa dikatakan berpunya, menawar barang yang dijual pedagang itu dengan cara yang tidak wajar. Hal seperti ini mungkin saja bukan apa-apa, tapi coba bayangkan kalau kita semua berkeinginan untuk menjadikan hubungan penjual pembeli sebagi sebuah sinergi. Sehingga si ibu berpunya tentunya hanya akan menawar sewajarnya, dan sang pedagang akan menawarkan harga pantas sesuai kualitas barang yang ditawarkan.

Sehingga menurut saya, bila anda seorang kaya atau seseorang yang berencana menjadi kaya,..berkeinginanlah untuk kaya sinergi…, kecuali bila anda tidak ingin berkontribusi apa-apa terhadap kehidupan di dunia ini…

 

14 Juni  2007

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga




Last Updated on Friday, 03 September 2010 10:33
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo