pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..kagum sekali dengan sosok Pitoyo Amrih yang bisa menyuguhkan cerita pewayangan ke sela sela modernitas dengan filosofi kehidupan yang begitu mendalam.."
Bilqis Aghnaita Shinta


Home Seri Belajar Kaya
Tidak Ada Jalan Pintas Menjadi Kaya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 15 May 2007 07:00

Beberapa minggu ini, orang-orang cukup dibuat bertanya-tanya akan kehadiran sebuah iklan yang agak nyeleneh. Muncul dihampir semua suratkabar terkenal dan televisi, disitu tergambar jelas, ada mobil yang seolah nemplok di atas atap rumah, ada mobil yang nyangkut di atas pohon, mobil yang seperti karam di bawa ombak laut ke tepi. Aneh-aneh aja idenya memang. Tapi terbilang iklan ini cukup sukses, paling tidak membuat setiap orang yang melihat, sejenak berhenti, mengernyitkan dahi, dan bertanya-tanya apa gerangan itu semua.

Beberapa hari kemudian memang itu terjawab sudah. Sebuah iklan dari salah satu bank, yang berusaha memberikan persuasi bila anda menjadi nasabahnya, bisa harus bersiap-siap tertimpa mobil dan sebagainya. Secara ide, bagi saya tidak ada yang baru. Hanya saja cara mengemasnya, yang seolah sempat membuat semacam ‘suspend’ , sehingga orang bertanya-tanya.

Saya sebut secara ide, tidak ada yang baru. Coba kita simak, kalo kita menjadi nasabah anu, siap-siap mendapat durian runtuh. Menjadi nasabah bank itu, bakalan dibagi mobil tiap hari. Nabung di bank sana, terserah bebas memilih apa hadiahnya. Tidak hanya promosi bank saya kira. Hampir semua promosi, seakan basi bila tanpa diembel-embeli ‘trade-promo’ yang memberi janji akan hadiah dibuat sedemikian sehingga begitu menggiurkan. Deterjen dengan hadiah uang belanja setahun, obat nyamuk berhadiah mobil, minuman berhadiah satu milyard. Sampai-sampai ada salah seorang tetangga saya rela menumpuk pembelian sabun mandi yang belum pernah dia beli, hanya untuk berharap mendapatkan sebuah cincin berlian di dalam sabun itu.

Fenomena apa ini? Anda boleh tertawa, boleh mengernyitkan dahi, boleh tidak peduli, mungkin juga ada yang mencibir, tapi sadarlah bahwa kondisi ini sudah begitu masuk merangsek bahkan sampai ke dalam pembuluh nadi alam pikiran kita. Karena toh fenomena promosi ini bisa menjadi sebab, bisa menjadi akibat.

Karena kebanyakan orang sekarang yang begitu gila hadiah, begitu ingin kaya mendadak, punya uang dalam sekejap, maka para pelaku usaha menempuh jalan promosi demikian demi mendongkrak volume penjualan. Atau bisa juga sebaliknya, karena promosi yang demikianlah, orang sekarang begitu berharap bisa mendapatkan semuanya dalam sekejap, syukur-syukur tanpa usaha. Mana yang lebih dahulu? Mungkin sama susahnya seperti berdebat mana yang lebih dahulu antara ayam dan telur. Yang jelas, dunia seperti itulah yang saat ini kita jalani bersama.

Salahkah? Mungkin juga tidak mudah menjawabnya. Wajar kalau kita manusia menginginkan dari hari ke hari, dari generasi ke generasi, mengharap bahwa segalanya menjadi semakin mudah. Perjalanan antar benua, yang dahulu sekali adalah sesuatu yang tak mungkin, menjadi mungkin ditempuh, selama sekian bulan dengan kapal, sampai saat ini hanya dalam hitungan kurang dari sehari semalam dengan pesawat terbang. Entah seberapa cepat lagi bisa dicapai dengan teknologi generasi mendatang. Segalanya menjadi lebih mudah, betul! Tapi jangan lupa bahwa teknologi perjalanan antar benua bisa secepat sekarang ini, dibutuhkan sebuah perjalanan budaya, pengetahuan, dan teknologi yang membutuhkan waktu berabad-abad lamanya. Saat ini saja yang kebetulan kita semua lahir pada generasi yang segalanya telah begitu cepat, sehingga bagaimana pun juga kita tidak tahu bagaimana rasanya Marco Polo harus menempuh ribuan mil selama belasan tahun.

Mungkin analoginya akan sama apabila kita saat ini melihat bagaimana Bill Gates begitu enaknya menikmati hidup dengan uang yang berlimpah. Kita akan terus terobsesi bagaimana nyamannya seorang Bill Gates dengan segala kekayaannya, tanpa pernah berusaha membayangkan bagaimana jerih payah seorang Bill Gates dua puluh tahun yang lalu berusaha membuat proposal kesana kemari untuk idenya, tapi ditolak. Seperti juga membayangkan saat ini begitu gemerlapnya seorang wanita terkaya Oprah Winfrey dengan talk-shownya, tanpa pernah kita berusaha melihat bahwa apa yang dicapai sekarang adalah sebuah jalan panjang yang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya.

Yang cukup fenomenal di kita saat ini, mungkin seperti seorang Tukul Arwana, yang satu jam tayangnya saja bisa dihargai puluhan juta rupiah. Sebagian dari kita menganggap dia beruntung, sebagian juga berandai-andai menjadi seperti Tukul. Tapi saya yakin hanya sedikit dari kita yang bisa secara sadar menilai bahwa apa yang dicapai Tukul adalah buah dari dia belajar menjalani hidupnya yang terkadang begitu menyesakkan. Sebagian besar dari kita memang lebih suka melihat begitu manis yang dialami seseorang, tanpa berusaha melihat bahwa yang diperolehnya adalah setelah sekian puluh kali mengalami rasa pahit.

Sehingga sebagian besar orang ini menganggap bahwa yang diperoleh orang-orang itu tak lain adalah sebuah keberuntungan. Yang pada saat yang sama berharap keberuntungan itu juga terjada pada diri mereka. Sehingga mereka berbondong-bondong mendaftar jadi nasabah bank anu, karena berharap mereka beruntung dapat hadiah mobil. Mereka memborong deterjen, berharap akan beruntung mendapatkan uang belanja gratis.

Anda pernah menonton sebuah acara televisi? Yang berisikan sebuah kuis, dimana tidak ada acara asah otak menjawab sebuah pertanyaan ilmu pengetahuan misalnya. Yang ada hanyalah menebak untung-untungan ini dan itu. Dan bila beruntung sang peserta bisa dapat mobil, segepok uang, bahkan mungkin uang dua milyard! Anda coba luangkan waktu duduk dengan pikiran jernih menyaksikan tayangan itu. Bagaimana orang-orang berjingkrak-jingkrak melambai-lambaikan berlembar-lembar uang. Bagaimana seolah mereka lupa diri? Kira-kira bagaimana pendapat hati nurani anda?

Saya juga ada kenalan, seseorang yang tidak pernah lupa setiap hari selalu mengirim SMS pada sebuah telekuis yang diiklankan di televisi. Sebuah telekuis via SMS dengan tarip premuim yang memberi janji adanya hadiah ratusan juta akan diberikan setiap harinya kepada mereka yang beruntung. Dan dia selalu berharap suatu hari dialah yang beruntung. Kita semua tahu, bahwa sang penyelenggara telekuis, menyelenggarakannya bukan karena ingin beramal membagi-bagikan uang. Kita semua tahu, bahwa penyelenggaraan itu sudah dihitung-hitung untung ruginya, dan itu semua semata-mata adalah bisnis untuk mencari laba. Dan bisnis seperti itu pastilah sangat menguntungkan, buktinya ada begitu banyak bisnis seperti itu menjamur saat ini. Ada yang menawarkan ramalan bintang, chating dengan idola, nasihat harian. Dan hampir semua memberikan rangsangan berupa hadiah.

Apakah kenalan saya ini mengirim SMS telekuis, semata-mata hanya sekedar melatih otak menjawab kuis yang diberikan? Besar kemungkinan tidak! Besar kemungkinan, dia mengirim jawaban kuis karena berharap hadiah, dan saya yakin itu seperti juga hampir semua orang yang mengirimkan SMS ke telekuis itu.

Dan yang lebih gila lagi, bila anda sejenak luangkan waktu browsing di internet, coba ketik kata di salah satu search engine dengan kata-kata ‘bisnis’ misalnya. Di sana anda akan terhenyak oleh ribuan link yang tampil, yang hampir semuanya menawarkan sebuah bisnis, dengan pendapatan yang berlipat-lipat dalam waktu yang sekejap. Dan tidak hanya itu, anda akan dibuat tercenung dengan ribuan kata-kata yang bombastis: kaya semalam! Sedot uang dalam sekejap!

Tidak ada salahnya menjadi kaya! Malah itu dianjurkan sebagai semacam pemicu manusia agar selalu berusaha. Tapi yang perlu disadari adalah, tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya. Kalaupun ada segelintir orang yang beruntung, mendapat hadiah mobil misalnya, sejenak dia akan senang, terlebih bila hadiahnya adalah jauh diluar kemampuan kesehariannya untuk mendapatkannya, tapi beberapa hari kemudian, dia akan sadar untuk kembali menjalani kehidupan kesehariannya, tetap harus membayar tagihan, membelanjakan kebutuhan sehari-hari, yang mungkin dengan adanya mobil justru akan menambah beban pengeluaran.

Dan kalaupun yang didapat dalam bentuk uang, biasanya yang terjadi adalah seperti sebuah kata pepatah: easy come, easy go! Sesuatu yang diperoleh dengan begitu mudah, biasanya akan pergi dengan begitu mudah…

 

15 Mei  2007

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga

 




Last Updated on Thursday, 26 August 2010 16:04
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo