pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Hampir semua bukunya aku punya!!"
Tegas I.R.


Home Seri 7Habits dalam Keseharian
Mengerti Dahulu Di Jalan Raya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 08 October 2006 07:00

Panas begitu terik siang itu. Tidak ada pilihan lagi selain saya harus memacu mobil saya. Siang itu saya harus menuntaskan keperluan mendatangi beberapa tempat hanya dalam beberapa jam kesempatan. Sebuah jalan sempit panjang. Lampu merah menyebabkan antrian panjang yang membuat merambat. Dan saya terjebak di dalamnya. Lampu merah terasa begitu lama, dan ketika lampu hijau menyala terasa hanya memberi kesempatan sekejap untuk berjalan.

Perempatan itu termasuk perempatan yang begitu crowded. Mobil besar kecil memenuhi jalan seakan tidak seimbang dengan lebar jalan yang tersedia. Becak berseliweran kesana-kemari. Para pengguna motor dan sepeda seakan juga berebutan menggunakan jalan.

Tiba giliran saya, lampu hijau menyala. Saya hanya sekitar lima mobil dibelakang traffic-light. Tapi walaupun mendapat giliran jalan, tetap harus merambat. Banyak pengguna jalan lain di persimpangan jalan berusaha menerobos lampu merah. Saya pun harus ikut berjalan pelan, walaupun resah memacu perasaan. Beberapa kali saya harus lihat jam.

Tepat beberapa meter sebelum saya melewati traffic-ligt, lampu kuning menyala tanda menjelang kembali lampu merah. Saya dengar mobil dibelakang begitu keras membunyikan klakson meminta saya untuk segera bergegas.

Lampu menyala merah. Mobil saya masih belum juga melewati traffic-light. Tiba-tiba mobil di depan saya tancap gas. Reflek saya pun mengambil keputusan menginjak gas, sehingga mobil melaju kencang menyeberangi perempatan, menerobos lampu merah. Sekilas terdengar kata umpatan dari pengguna arah jalan lain, yang terpaksa harus berhenti mendadak karena jalannya saya serobot.

Jantung pun berdetak kencang, membuat saya harus menarik nafas panjang. Masih memacu mobil dijalan, berkecamuk pikiran berseberangan di kepala saya. Satu pihak menyalahkan diri saya yang tidak sabar dan melanggar lampu merah. Sementara pihak lain membenarkan apa yang telah saya lakukan sambil menyayangkan orang-orang pengguna jalan lainnya yang sepertinya tidak mengerti kemendesakkan kepentingan saya saat itu.

Aha! Tiba-tiba saya seperti diingatkan begitu keras. Menyayangkan orang lain yang tidak mengerti saya? Bukankah saya telah belajar untuk berusaha mengerti dahulu sebelum dimengerti orang lain? Bukankah saya sedang berusaha berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai untuk dapat mengerti berempati kepada kebutuhan orang lain? Dan bukankah saya sedang berusaha belajar untuk menanamkan nilai-nilai integritas kepada diri saya sendiri dan keluarga saya? Sebuah nilai integritas yang membuat saya harus selalu konsisten memberi contoh terhadap nilai apa saja yang selalu saya pegang, baik melalui ucapan-ucapan saya, atau melalui tulisan-tulisan saya. Betapa itu semua tidaklah mudah! Ketika diburu waktu, ketika keresahan melanda, ketika kemudian emosi lebih mendominasi pikiran dan hati kita, bolehkah seseorang sesekali melanggar apa yang menjadi nilai-nilainya? Entahlah. Yang jelas siang itu saya harus malu pada diri saya sendiri.

Perilaku kita sebagai manusia dalam berlalu-lintas sepertinya bisa menjadi model dalam kita mencoba mempraktekkan esensi akan ‘berusaha mengerti dahulu, sebelum dimengerti orang lain’. Apalagi ketika kita mengendarai, entah itu motor atau mobil, atau berjalan kaki sekalipun, saat itu kita bersama dengan keluarga kita atau teman-teman dekat kita. Seakan saat itu bisa benar-benar menjadi sebuah ujian sampai dimana integritas kita untuk ‘mengerti dahulu’.

Karena memang sebuah praktek ‘berusaha mengerti dahulu’ hanya akan terjadi ketika disana terdapat kepentingan bersama. Dan di jalan raya ketika kita berlalu lintas, begitu banyak orang terlibat menggunakan haknya, dan semua kepentingan mereka pastilah sama: sampai ditempat tujuan dengan selamat, kalau bisa sesegera mungkin! Sayangnya, mereka semua mau tidak mau harus menggunakan jalan yang sama.

Di sinilah letak menariknya. Kita bisa mencoba menguji diri kita sendiri. Ketika kita mencoba komitmen untuk ‘berusaha mengerti dahulu sebelum dimengerti’, kita coba urai contoh-contoh kasus yang banyak terjadi ketika kita berkendara. Ketika kita buru-buru, sementara di depan terdapat gerobak ditarik tenaga manusia, dan kita tidak bisa mendahuluinya, bagaimana perasaan kita? Apa keputusan kita kemudian? Suatu saat berjalan kencang, ketika tiba-tiba mobil di depan berhenti mendadak, dan memaksa kita menginjak rem dalam-dalam sampai bunyi berdecit ban menggesek aspal. Apa yang mendominasi pikiran kita saat itu, ingin segera memuntahkan kemarahan? Atau mencoba mengerti apa yang terjadi? Pernah juga saya melihat seseorang berkendara mobil mewah berkali-kali membunyikan klakson mobilnya, karena tidak bisa mendahului becak didepannya yang diayuh seorang tua secara kepayahan. Mobil tidak bisa mendahului, sementara bapak becak juga tidak mungkin menepi ke bahu jalan. Tapi sang wanita muda pengendara mobil, kala itu, tetap saja membunyikan klaksonnnya. Kira-kira apa yang ada dibenaknya? Akankah hal tersebut suatu saat bisa ‘menjangkiti’ kita?

Apalagi ketika kita mengendara mobil, saat itu ada anak-anak kita berada disamping kita. Apa kira-kira yang terekam diotaknya ketika melihat kita sebagai orang tuanya, menerobos lampu merah? Melanggar rambu-rambu lalu-lintas? Mengumpat kepada pengguna jalan lain yang notabene sebenarnya hanya seperti kita juga, berusaha menggunakan haknya menggunakan jalan. Apa kira-kira yang diingat anak kita, ketika kita berulangkali memberi nasehat tentang kesabaran, tapi suatu ketika di jalan raya justru memperlihatkan perilaku tidak sabar.

Inilah yang menurut saya menjadi salah satu esensi sebuah ‘Public Victory’. Ketika anda berusaha bersikap proaktif, berusaha ‘begin with end of mind’, berusaha mendahulukan yang utama, masih dalam tataran ‘Private Victory’. Pengertian sederhananya mungkin dalam private victory ini, pilihan sepenuhnya tergantung pada anda sendiri, merupakan respon yang datang dari diri anda sendiri, dan konsekuensi yang timbul hanya akan dirasakan anda sendiri.

Pada tataran public victory, seperti juga berusaha berpikir menang-menang, berusaha mengerti dahulu akan selalu melibatkan orang lain. Dan ujian terhadap hal ini, adalah respon sikap kita terutama akibat dari stimulus oleh orang lain. Dan keefektifan kita akan terlihat dari bagaimana respon orang lain tersebut ketika menyikapi respon dari kita atas hasil stimulus yang ditimbulkannya.

Seseorang bersepeda tiba-tiba tanpa sengaja menyerempet mobil anda. Meninggalkan bekas goresan yang dalam pada mobil anda. Respon anda kemudian sangat menentukan hasil akhir yang akan terjadi. Dan itu akan bisa memberikan gambaran kepada diri kita sendiri, sampai dimana keefektifan perilaku kita dalam tataran public victory. Akankah hasil akhirnya sebuah kejadian pertengkaran mulut, ataukah kejadian saling memaafkan? Ketika kejadian itu terjadi, kebetulan kita bersama anak kita. Apakah hasil akhirnya adalah sebuah kejadian dimana beberapa tahun kemudian, anak kita mengalami hal sama, kemudian merespon dengan cara mengumpat sang pengendara sepeda. Itu semua adalah ‘hanya’ berawal dari sebuah kejadian akan respon yang kita lakukan terhadap sebuah kejadian.

Saya mungkin masih agak bisa bernafas lega, ketika latihan-latihan terhadap sikap ‘berusaha mengerti dahulu’ di jalan raya ini, saya praktekkan di kota yang masih tergolong lalu-lintasnya ramah. Beberapa minggu lalu saya kebetulan ke Jakarta. Dalam sehari di Jakarta, mungkin hampir limapuluh persen waktu saya ada di jalan raya. Waktu itu saya bersama seorang sopir. Dan saya bisa membayangkan bila saja saya harus dibelakang kemudi, betapa susahnya untuk berkomitmen ‘berusaha mengerti dahulu’ di jalan raya kota Jakarta. Sebuah kondisi lalu-lintas yang rasanya untuk memperbaikinya begitu absurd untuk bisa diawali, entah dari mana.

Tapi, contoh ini ternyata juga ada. Teman-teman ketika saya kuliah, yang kebetulan sekarang berkarya di kota Jakarta. Ternyata sedang gandrung untuk memilih bersepeda untuk berangkat dan pulang kantor. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang harus menempuh belasan kilometer setiap hari. Ada juga yang dirumahnya memiliki mobil, tergolong mewah, tapi setiap harinya mulai suka memilih busway ke kantor. Ah, mungkin ini juga termasuk sebuah komitmen yang dicontohkan teman saya dalam berusaha mengerti dahulu sebelum dimengerti orang lain, dalam hal berbagi jalan raya.

Dan kalau anda bisa memahami cerita saya di awal tulisan ini, rasanya saya harus malu pada teman-teman saya para bikers di Jakarta…

 

(tulisan ini saya dedikasikan bagi para penggiat bersepeda ke kantor)

8 Oktober 2006

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga

 




Last Updated on Wednesday, 25 August 2010 15:41
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo