pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Dengan membaca buku ini kita jadi menambah dan lebih tahu tentang pengetahuan tentang cerita pewayangan dan sifat sifatnya"
Bambang Yuno


Home Seri 7Habits dalam Keseharian
Mengertilah Dahulu PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 23 September 2006 07:00

Sudah berapa hari panasnya, Pak?”

“Kira-kira mulai kemarin sore, Dokter..”

“Batuk pilek..?”

“Sepertinya juga, pak Dokter.., terkadang juga sesekali muntah dahak..”

“Baik.., silahkan berbaring, saya akan periksa…”

Begitulah kira-kira umumnya percakapan seorang pasien yang datang mengunjungi seorang dokter. Seseorang yang datang mengunjungi dokter bisa dipastikan dia mengalami suatu masalah dengan badannya, entah itu baru merupakan gejala ataupun sudah terasakan rasa sakitnya. Orang tersebut tentunya berharap dengan datang ke dokter akan dapat mendapatkan jalan keluar penyembuhan terhadap rasa sakitnya.

Inilah kemudian menjadikan kewajiban bagi sang dokter sesuai sumpah profesinya, bahwa dia akan berusaha menyembuhkan sakit yang di derita sang pasien. Sayangnya kita hidup di dunia dimana ilmu ‘telepati’ bukan merupakan sesuatu yang umum. Maka perlu sebuah komunikasi verbal sebagai awal penyelidikan bagi sang dokter agar tahu akar masalah penyakit yang diderita pasien. Tentunya dalam rangka mencari solusi obat yang sesuai.

Hal itulah kemudian yang menjadikan komunikasi itu begitu penting. Walaupun dokter tentunya juga akan melihat bahasa tubuh sang pasien. Memeriksanya dengan alat dan instrumen untuk memastikan hal-hal yang disampaikan pasien secara verbal tadi, tapi tetap efektifitasnya akan bersumber dari bagaimana kemampuan sang dokter menggali akar masalahnya melalui investigasi dari empati akan apa yang dikatakan sang pasien. Dengan kata lain, dokter akan berusaha mengerti dahulu sebelum dia tentunya menuliskan resep bagi pasiennya.

Bisa dibayangkan andai saja ada seorang dokter, begitu pasien datang, masuk ruangan kemudian duduk dihadapan dokter, seketika itu juga dokter menulis resep layaknya seorang paranormal. Bisa dipastikan pasien itu tidak akan pernah kembali lagi dan saya yakin obat di dalam resepnya juga tidak akan dibeli!

Dan situasi yang saya contohkan diatas adalah situasi sederhana yang bisa menganalogikan bagaimana seharusnya seseorang bersikap bila saja ingin mengetahui akar sebuah masalah akan sebuah keadaan.

Misalnya suatu saat anak anda datang kepada anda, dan itu bisa kapan saja, tidak peduli anda baru saja pulang kantor, sedang tidak enak badan, baru saja punya masalah dalam pekerjaan anda, si anak biasanya akan begitu saja datang ke anda menceritakan masalahnya. Dan menurut saya sudah seharusnya bila anda menganggap setiap kedatangan anak anda kepada anda adalah sesuatu yang sangat berharga, sekecil apa pun masalahnya.

Terkadang apa yang anda katakan bahkan sebelum anak anda selesai dengan kalimatnya, “..sudahlah, nanti saja, bapak lagi capek..”. Coba anda bayangkan bila kata ini terucap oleh dokter anda saat anda sakit dan datang mengunjunginya. Besok hari mungkin anda tak pernah datang ke dokter itu lagi. Tapi terkadang kata itu masih juga anda ucapkan kepada anak anda, ketika mereka datang ke anda. Akankah justru anda berharap bahwa anak anda tidak harus datang lagi ke anda bila dia punya masalah?

Mari kita memasuki tahap berikutnya. Anak anda datang, mungkin anda punya cukup kemauan untuk mendengarkannya. Tapi coba ingat-ingat apa yang terkadang kita lakukan. Kita berusaha mendengar apa yang disampaikan oleh seorang anak, sambil kita membaca koran! Mungkin bagi anda, masalah yang dihadapi anak anda bukanlah sesuatu yang luar biasa, ditegur gurunya dikelas misalnya. Tapi bagi anak anda mungkin hal itu dianggap sebagai ‘end of the world’. Seperti layaknya bila tiba-tiba anda merasa sesak nafas, kemudian tergopoh-gopoh datang ke dokter. Bagaimana kira-kira perasaan anda bila anda bercerita tentang betapa sakitnya rasa sesak nafas itu, sementara sang dokter mendengarkan anda sambil baca koran!

Atau mungkin anak anda sudah berkesempatan panjang lebar nerocos kepada anda tentang masalahnya. Tapi belum sampai anda mengerti benar akar masalahnya, atau bisa merasakan apa yang anak anda rasakan, terkadang kemudian kita secara tak sadar memotong dengan perkataan semacam “Ah,..itu sih mudah, ayah dulu juga pernah begitu..dan bla..bla..bla..”. Salah satu bentuk autobiographical response. Anda bisa intip sedikit tentang hal ini pada kolom saya sebelumnya.

Memang, untuk ‘mengerti dahulu sebelum kita dimengerti’ memang tidak mudah. Dibutuhkan kemauan dan niat untuk berlatih. Berlatih untuk berusaha mengerti orang lain dahulu. Dan salah satunya dibutuhkan sebuah kesabaran. Bak seorang dokter yang berusaha tahu akan penyakit pasiennya, setiap seseorang datang kepada kita, bila kita menginginkan sesuatu yang selalu menjadi semakin baik, tidak ada cara lain selain kita berniat untuk lebih dahulu berusaha mengerti apa yang menjadi masalahnya.

Apalagi kalau yang datang ke kita adalah orang-orang yang akan selalu ‘menempel’ ke kita. Anak kita misalnya, sampai kapan pun anak kita akan tetap dan selalu menjadi anak kita. Pasangan hidup kita, sebagai orang normal, pastilah diawal sebuah pernikahan, kita akan selalu berharap pasangan kita akan mendampingi kita selama hayat. Tidak ada seseorang yang menikah kemudian berencana sekian tahun lagi akan berpisah. Seorang dokter, dimana seorang pasien bebas memilih saja, dituntut kewajiban untuk berusaha mengerti dahulu penyakit pasiennya sebelum dia menuliskan resep. Tentunya juga akan menjadi kewajiban yang sangat wajib bagi kita untuk mau mengerti anak-anak kita dan pasangan kita dahulu.

Saya menganggap bahwa ketidaknyamanan seorang anak di rumah, kekerasan dalam rumah tangga, ketidakharmonisan komunikasi dalam keluarga, semuanya berawal dari masing-masing anggota keluarga –terutama orang-tuanya- tidak berusaha untuk memulai kebiasaan untuk ‘mengerti dahulu sebelum dimengerti’. Mereka cenderung justru berusaha agar ‘dimengerti dahulu’ pada setiap interaksinya terutama bila ada sesuatu masalah yang harus dipecahkan bersama.

Lalu siapa yang harus memulai dahulu. Kenapa tidak dari diri kita …?

 

23 September 2006

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga

 




Last Updated on Wednesday, 25 August 2010 15:37
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo