pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku dengan ide yg selalu menarik utk mempertanyakan kembali konsep kita ttg buruk dan baik"
El Em


Home Seri 7Habits dalam Keseharian
Maukah Anda Mendengar ..? PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 10 September 2006 07:00

“Saat ini saya sedang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan keuangan saya…”

“Ah, itu sih sama seperti yang pernah saya alami dulu…, cobalah kita sabar, kita rem pengeluaran kita, pilih hal yang tidak perlu untuk tidak dulu kita beli..”

“Tapi yang saya alami ini beda…”

“Ah, saya dulu juga mengalaminya. Yah, itulah yang saya lakukan, kita pilah dulu mana-mana kebutuhan yang bisa dibatalkan, kemudian mana-mana kebutuhan yang bisa ditunda. Lalu hemat pengeluaran, hemat listrik, bensin. Trus,..kita coba cari dana segar dari lembaga keuangan yang menawarkan bunga yang menarik, dari situ coba kita bangun lagi usaha kita..”, dan bla..bla…bla.

Pembicaraan tadi adalah pembicaraan antara dua orang yang kebetulan terdengar oleh saya di sebuah ruang tunggu bandara. Kebetulan kedua orang ini duduk tepat di tempat duduk yang membelakangi tempat duduk saya di belakang saya. Saya yang saat itu sedang membaca koran, justru menjadi tertarik untuk menangkap pembicaraan mereka.

Apa yang mereka bicarakan tentunya adalah urusan mereka berdua. Dan saya pun tidak begitu tertarik lebih dalam untuk tahu apa yang mereka bicarakan. Yang menarik bagi saya adalah gaya mereka berkomunikasi satu sama lain. Sebuah bentuk komunikasi yang mungkin anda pernah dengar atau bahkan pernah anda alami.

Salah satu orang berusaha untuk menyampaikan apa yang menjadi pikiran atau perasaannya. Sementara lawan bicaranya tidak berusaha untuk mendengar, tapi selalu memotong pembicaraan orang pertama dengan mengatakan bahwa seolah-olah orang kedua ini sudah tahu dan mengerti benar masalah yang dihadapi orang pertama.

Sungguh menarik memang, semua ini berawal dari masalah komunikasi antara dua orang manusia. Dan komunikasi memang telah menjadi salah satu bentuk ketrampilan yang menjadi tuntutan setiap orang saat ini. Coba anda bayangkan, sejak usia sekolah dasar kita telah diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Bahkan saat ini juga menjadi trend, sekolah usia dini, dimana seorang anak masih harus bermain mengasah motorik dan sensorik-nya, mereka juga sudah dikenalkan bagaimana membaca dan menulis.

Membaca yang berlanjut pada penyampaian gagasan, seperti pidato, drama, seni peran pun, dibutuhkan ketrampilan tersendiri, dan banyak sekolah-sekolah yang juga menawarkan ketrampilan tingkat lanjut seperti itu. Menulis juga begitu, terdapat sekolah tingkat lanjut menulis yang berisi teori dan tata cara menulis dalam menyampaikan gagasan atau pun memotret sebuah berita.

Tapi bagaimana dengan ‘mendengar’? Mendengar adalah salah satu elemen yang berpengaruh pada keefektifan sebuah komunikasi. Tapi pernahkah ada orang yang benar-benar meniatkan dirinya untuk belajar mendengar? Pernahkan ada lembaga pendidikan yang menawarkan sebuah kurikulum atau jurusan ketrampilan mendengar?

Kebanyakan dari kita selalu gagal untuk mendengar! Entah itu karena ketidak mampuan dan ketidak tahuan bagaimana cara mendengar yang baik. Atau memang mereka tidak mau untuk menjadi seorang pendengar.

Apa yang saya contohkan di awal tulisan saya, saya pikir adalah sebuah contoh klasik yang sering kita alami. Dan saya pun bisa sampai pada kesimpulan bahwa orang kedua telah gagal dalam ‘mendengar’. Sehingga komunikasi pun gagal terjalin. Dan ini terbukti, beberapa saat kemudian si orang pertama yang memiliki masalah untuk diungkapkan, pada kenyataannya malah justru banyak diam. Sedang orang kedua yang notabene tidak memiliki masalah untuk dibicarakan dan dicarikan jalan keluar malah terlihat mendominasi pembicaraan dengan selalu menceritakan pengalamannya.

Dan memang benar, kebanyakan dari kita, bila suatu saat kita mengalami bentuk komunikasi seperti yang saya contohkan di atas, dan kebetulan kita duduk sebagi orang kedua, kita selalu terjebak untuk justru tidak ‘mendengar’ tapi justru berusaha menyampaikan pendapat kita yang kebanyakan seolah membandingkan apa yang dialami orang pertama adalah sesuatu yang dulu pernah kita alami. Inilah yang dalam teorinya disebut sebagai Autobiograpical Response.

Biasanya ada empat jenis perilaku orang kedua yang demikian. Yang pertama adalah yang disebut sebagai advising atau menasehati. Setiap orang pertama yang menyampaikan masalahnya kepada orang kedua. Sering dianggap oleh orang kedua, bahwa yang diinginkan sang orang pertama adalah ‘sebuah nasehat’. Atas asumsi inilah kemudian si orang kedua begitu antusias memberikan solusi, jalan keluar berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Padahal belum tentu yang dibutuhkan si orang pertama adalah sebuah nasehat.

Yang kedua adalah yang disebut sebagai probing (menyelidiki). Tidak jarang orang kedua terjebak untuk berkeinginan mewawancarai dan menyelidiki si orang kedua. Bukan dalam rangka untuk berusaha mengerti orang pertama, tapi seolah dalam rangka upaya untuk mengumpulkan data untuk kepentingan orang kedua itu sendiri.

Yang ketiga adalah intrepreting (menafsirkan). Biasanya ditandai dengan orang pertama yang belum selesai bicara, selalu saja dipotong pembicaraannya oleh orang kedua dengan segala penafsiran-penafsiran. Terutama penafsiran bahwa yang dialami oleh orang pertama adalah hal yang juga persis pernah dialami oleh si orang kedua. Seperti contoh pembicaraan dua orang di ruang tunggu di bandara yang saya ceritakan di atas.

Kemudian yang keempat adalah apa yang diistilahkan dengan menilai (evaluating). ‘Sejak semula kamu memang salah! Seharusnya kamu…’, adalah kata-kata yang biasanya dilakukan si orang kedua dalam evaluating. Menggurui dan menghakimi! Biasanya orang menyederhanakannya dengan istilah seperti itu.

Orang bijaksana adalah orang yang tahu betul kapan dia harus berbicara dan kapan dia harus (hanya) mendengar. Dan itu semua ternyata juga tidak mudah. Karena biasanya setiap kali seseorang yang mendengar sebuah keluh kesah dari orang pertama, orang kedua selalu saja terpancing untuk menasehati, meyelidiki, menafsirkan ataupun menggurui dan menghakimi!

Silahkan anda bertanya kepada diri anda sendiri. Berapa kali istri anda setiap kali berkeluh kesah kepada anda selalu kemudian berakhir dengan dimana anda justru panjang lebar menasehati istri anda?

Atau mungkin suatu saat pernah anak anda berusaha berbagi apa yang terjadi dengannya, pertama kali merasa tertarik dengan lawan jenisnya, pertama kali mengalami kekecewaan, pertama kali mengalami kegagalan, yang mereka butuhkan mungkin hanya sekedar agar anda mendengar dengan antusias dan ikut merasakan apa yang mereka alami. Tapi kemudian anda justru seolah menginterogerasinya!

Juga suatu ketika bawahan anda bermaksud mengadukan nasib karirnya kepada anda, tapi justru anda merespon dengan cara menggurui dan menghakiminya.

Sebuah komunikasi akan efektif bila diantaranya, anda mampu untuk membawa diri anda berusaha mengerti lawan bicara anda. Upaya untuk mengerti salah satunya adalah dengan cara mendengar, sesuatu yang tidak pernah diajarkan secara formal disekolahan.

Tapi, menurut saya, ‘mendengar’ juga tidak begitu susah untuk dilakukan. Yang dibutuhkan mungkin hanyalah sebuah ketulusan. Ketulusan untuk jujur pada diri sendiri mau berusaha untuk mengerti orang lain…

 

10 September 2006

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga




Last Updated on Wednesday, 25 August 2010 15:31
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo