pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..the new RA Kosasih tentang wayang. Menarik, menambah wawasan, dan mencerahkan.."
Muhammad Ihwan


Home Seri 7Habits dalam Keseharian
Haruskah Tanpa Senyum ..?! PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 26 August 2006 07:00

Siang itu panas begitu terik. Saya harus bergegas memacu mobil saya dari kantor tempat saya bekerja menuju suatu tempat berjarak kira-kira duapuluh kilometer, sementara satu setengah jam kemudian saya ada jadwal pertemuan yang harus saya ikuti. Dan jalanan begitu ramai.

Siang itu saya sedang dalam perjalanan menuju kantor Samsat kabupaten Sukoharjo. Pajak nomor kendaraan mobil habis masa berlakunya akhir bulan Agustus ini. Dan kebetulan kali ini terhadap mobil saya harus dilakukan cek fisik kendaraan berupa pemeriksaan nomor rangka dan nomor chassis kendaraan.

Biasanya saya hanya sekedar melakukan cek fisik sendiri. Saya minta formulir tanda bukti cek fisik, saya lakukan sendiri membuat tanda bukti cek nomor rangka dan nomor chassis, kemudian hasil cek fisik tersebut saya titipkan orang yang biasa mengurus ini di tempat saya bekerja.

“Kali ini mobil bapak harus dibawa ke Samsat, mereka akan lakukan cek fisik sendiri…”, kata orang yang biasa melakukan pengurusan ini kepada saya suatu pagi. Saya pikir bagus juga. Birokrasi pemerintahan kita mulai melakukan segala sesuatu hal secara benar. Cukup merepotkan memang. Tapi saya pikir itulah kewajiban kita sebagai warga negara yang kebetulan memiliki kendaraan pribadi. Dan kita harus hormati itu.

Saya pun mencari-cari celah diantara waktu saya untuk menyempatkan datang sendiri ke kantor Samsat. Ingin melihat sendiri keseriusan bapak-bapak pamong praja kita melakukan tugasnya secara benar.

Setengah jam lebih kemudian, saya sudah berada di kantor Samsat, memarkir mobil saya, dan kemudian melaporkan keberadaan saya pada pelayanan cek fisik kendaraan. “Mana mobilnya, Pak..!”, kata salah seorang petugas di situ.

Saya antar sang bapak ke mobil saya, saya siapkan segalanya, kap mobil saya buka, letak nomor rangka dan nomor chassis saya bersihkan. Sang bapak memperhatikan dengan seksama bak mesin. Dan beliau kemudian ngeloyor pergi begitu saja, setelah memeriksa fisik kendaraan saya selama hanya sepuluh detik!

“Mungkin memeriksa begitu sudah cukup..”, pikir saya. Tapi memang ada sesuatu yang ganjil. Sang bapak ini melayani saya, selama pemeriksaan mobil, tanpa sepatah kata terucap, dan tidak sedikit pun tersenyum. Saya bisa mengerti, pada posisinya sang bapak ini yang bertugas memberikan pelayanan cek fisik, secara institusi harus selalu menjaga wibawa dan kehormatan kantor pelayanan Samsat itu. Tapi haruskah itu semua dilakukan tanpa senyum ..?!

Dalam kurun waktu beribu generasi sudah, interaksi antar manusia terjadi. Sampai kepada milenium kedua pun wujud interaksi itu sepertinya selalu berkisar pada situasi klasik yang itu-itu juga.

Coba anda bayangkan interaksi ini, suatu saat anda memarkir mobil anda, tak berapa lama anda kembali ke mobil, anda mendapati mobil tergores sedikit entah karena apa. Serta merta anda panggil tukang parkir, intinya anda sekedar ingin tahu kenapa mobil anda tergores, mungkin anda kecewa, mungkin anda marah, tapi haruskah anda membentak-bentak sang tukang parkir..?

Bapak tukang parkir yang mungkin memang tidak tahu-menahu masalah goresan di mobil anda, biasanya berusaha membela diri. Yang pada dasarnya sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa dia tidak tahu mengapa goresan itu sampai terjadi. Tapi yang terjadi biasanya dengan cara balik membentak, mengancam, dan berusaha untuk mempertahankan harga diri dan wibawanya. Tapi kenapa harus dengan cara demikian..?

Bahkan hal semacam itu telah menjadi karikatur. Dipopulerkan pada iklan televisi sebuah produk rokok. Seseorang mengurus sesuatu di kantor kelurahan sekedar minta tanda-tangan dan cap. Satu hari dia harus menunggu. Tidak hanya itu, dia tidak pernah sedikit pun diberi senyum, atau sekedar kata maaf karena telah menunggu terlalu lama. Dan sangat mengena sindirannya: Tanya kenapa?

Untuk berinteraksi, salah satu hasil akhir yang diinginkan tentunya adalah saling mengerti antara dua orang yang saling berinteraksi tersebut. Saling mengerti bisa berupa kesepahaman, bisa berupa rasa saling menghargai, bisa juga sampai kepada pemenuhan masing-masing kebutuhan orang-orang yang terlibat interaksi tersebut. Siapa harus lebih dahulu berusaha untuk mengerti? Haruskah kita memaksakan diri agar orang lain lebih dahulu mengerti kita pada setiap interaksinya? Dengan muka garang mungkin? Tanpa senyum? Kemudian memaksakan kehendak kita? Haruskah demikian? Mungkinkan kita bisa berkemauan agar memulai untuk berusaha mengerti dahulu?

Tersenyum, menurut saya adalah sebuah hal yang menurut saya sangat sederhana. Kita semua bisa melakukannya. Yang dibutuhkan adalah sekedar kemauan, dan energi yang dikorbankan untuk melakukan senyum tidaklah begitu menguras tenaga. Dan yang paling penting adalah, menurut saya, tersenyum, ketika itu kita persembahkan kepada lawan bicara kita saat interaksi, adalah sebuah wujud deklarasi akan kemauan kita untuk berusaha akan mengerti dahulu.

Dan ketika komunikasi itu begitu bagusnya, lawan bicara akan seperti terbawa kekuatan magis untuk ikut juga tersenyum. Bisa jadi pada pertemuan pertama belum, tapi saya yakin bila kita konsisten untuk selalu menebar senyum. Sejak pertemuan kedua, sang lawan bicara juga akan ikut terimbas untuk juga melempar senyum. Dan bila keadaan ini terjadi, saya yakin permulaan akan sebuah komunikasi untuk saling mengerti bisa terjalin.

Ketika kita berusaha untuk mengerti dahulu sebelum dimengerti orang lain, misalnya dengan memberi tanda memulai memberi senyum, saya yakin orang itu kemudian seolah berkata, “Jangan khawatir, saya juga akan berusaha mengerti dahulu kamu kok…”. Dan sungguh menjadi sesuatu yang menyenangkan bila kedua orang yang berinteraksi telah saling bertekad untuk berusaha agar mengerti dahulu sebelum masing-masing menyatakan kemauannya agar dimengerti.

Sebenarnya apa susahnya sih kita untuk selalu tersenyum? Setiap kita bertatap muka dengan pasangan kita, apa pun situasinya selalu diawali dengan senyum. Setiap berbicara – atau menegur sekali pun – anak anda, saya pikir tak ada salahnya justru didahului dengan senyum. Karena saya pikir menegur atau menyatakan ketidak setujuan kita terhadap sikap seorang anak, tidak harus kita memperlihatkan bentuk kemarahan kita. Justru dengan senyum saya pikir efektifitas kesaling-pengertian akan lebih mudah untuk dicapai.

Kalau kita mau jujur, bila seseorang tiba-tiba berekspresi muka garang terhadap kita, sebenarnya yang terjadi dalam diri kita biasanya adalah sikap takut dan dominasi rasa tidak suka. Beda bila kemudian kita bertemu seseorang, dan dia memperlakukan kita dengan senyum dan menghargai kita. Secara tak sadar pasti akan ikut tersenyum dan juga menghargai dia. Lalu bila pengertian itu memang logis, kenapa masih saja ada orang yang justru tidak melakukan senyum bila sedang melayani orang lain?

Contoh ekstrim misalnya terjadi pada mereka yang mengemukakan pendapatnya di jalanan dengan cara demonstrasi. Mereka yang melakukannya dengan teriak-teriak dan mengancam, pastilah ketika itu memang mudah diingat. Tapi coba sebulan kemudian orang ditanya tentang mereka, yang diingat biasanya adalah rasa ketidak simpatiannya terhadap mereka, bukan substansi pendapat mereka.

Pernah juga saya melihat ada demonstrasi dengan cara simpatik, yaitu selalu menyapa orang yang lewat dengan senyum memberi bunga sambil mengatakan pendapat mereka, tetap sambil tersenyum mengatakannya. Sekian tahun saya masih ingat substansi apa yang mereka perjuangkan.

Teori costumer satisfaction pun  mengarah kepada tuntutan demikian. Terutama pada first contact, berikan kesan mendalam pada kostumer, dan senyum adalah tata cara dasar yang harus dilakukan. Karena pada teori ini, menganggap senyum adalah suatu ungkapan untuk mengerti kebutuhan sang pelanggan.

Masihkah kita bermuka tanpa senyum hanya sekedar dalam rangka agar orang mau mengerti? Karena tanpa senyum pun resikonya ya tidak juga banyak, paling-paling tidak disukai orang dan menjadi cepat tua…

 

26 Agustus 2006

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga




Last Updated on Wednesday, 25 August 2010 15:24
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo