pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Wayang Masa Depan PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 22 June 2012 13:39


(Sebuah catatan atas diskusi “Menuju Wayang Masa Depan”, Taman Budaya Jawa Tengah, 13 Juni 2012)

“.. pertunjukkan wayang klasik itu biasa,.. itulah mengapa media juga menganggapnya biasa,.. membuatnya tidak selalu heboh..” demikian kurang lebih apa yang disampaikan sahabat saya, seorang pelopor penggiat komunitas Wayang Urban di Jakarta, mas Nanang Hape.

Berdiskusi tentang wayang memang tidak ada habisnya. Tapi mungkin itulah mengapa wayang sebagai bahan diskusi akan selalu terdengar dan disikapi secara biasa saja. Karena terdapat riwayat yang begitu panjang dan terbukti nafasnya, sejak jaman kerajaan Kediri sampai sekarang, tetap terjaga. Bahkan sampai mendapat pengakuan dari Unesco. Bagai seorang pelari marathon yang berlari secara perlahan, tapi akan terus berlari, sehingga jarak panjang yang harus ditempuh, setiap orang yang mendapatinya akan selalu melihat dia dalam keadaan berlari, walaupun perlahan.

Wayang terbukti sampai sekarang tidak terkikis habis, walaupun segala macam gempuran budaya pop kontemporer datang dan pergi. Sehingga kemudian disikapi secara biasa, masyarakat menganggapnya biasa, media juga membawa kepermukaan secara biasa. Jadilah semua perihal wayang menjadi terkesan biasa. Ada pertunjukan wayang kulit, ah, biasa,.. kemarin ada, besok juga pasti akan selalu ada. Mungkin demikian pendapat kebanyakan orang. Sehingga media tidak perlu banyak menyoroti.

wayang masa depan pic(foto dari kiri ke kanan : Ki Jlitheng Suparman (dalang Wayang Kampung Sebelah), Pitoyo Amrih (Novelis Dunia Wayang), Sinarto (Kepala Taman Budaya Jatim), Nanang Hape (Komunitas Wayang Urban)).

Yang luar biasa adalah ketika ada pertunjukkan wayang yang berbeda dari biasa. Para selebritas bermain wayang, tokoh politik ternyata bisa mendalang, bukan dalang ternyata memiliki peran melestarikan wayang, di sanalah media tertarik untuk meliput mengangkat. Sehingga wayang tetap terselip diantara gemuruh publikasi media. Tetap terdengar walau samar-samar. Bisa jadi kurang lebih seperti inilah, sebuah keresahan yang dirasakan oleh mas Nanang.

Saya juga kurang lebih setuju bahwa di jaman ini, peran media bisa menjadi salah satu kunci, apabila sesuatu hal ingin selalu berada dipermukaan, tetap eksis, menjadi kepedulian khalayak. Ketika sesuatu perlahan hilang dari media, maka tinggal menunggu waktu sesuatu itu juga akan hilang menjadi kenangan sejarah.

Last Updated on Wednesday, 03 September 2014 16:24
Selengkapnya..
 
Antareja dan Durna di Singapura PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 02 June 2012 21:42

“..bukumu ada di Perpustakaan sini, Pit… kamu musti lihat..”, begitu kalimat terlontar dari salah seorang sahabat yang tinggal di Singapura, ketika kami bertemu beberapa hari lalu saya berkesempatan beberapa hari tugas di negri itu. Di hari keempat saya di sana, sore hari kami pun menyusuri jalan Victoria Street, dari hotel ke arah utara. Sungguh kebetulan, hotel tempat saya menginap ternyata tidak begitu jauh dengan National Library Board of Singapore. Dan betul kata teman saya, kunjungan saya ke negri itu tidak boleh melewatkan agenda ‘menjenguk’ buku saya yang menjadi koleksi perpustakaan di sana.NLBSing2

Singapura adalah negri yang menarik. Sekitar setahun lalu juga saya pernah berkunjung ke sana. Tak banyak yang berubah. Semua tertata rapi. Segala infrastruktur dan prasarana kehidupan seolah ditata dan disiapkan begitu rupa dengan sempurna. Kereta MRT yang murah dan tak pernah terlambat. Lalu lintas yang terkelola kepadatannya. Taman kota yang selalu tertata rapi. Pejalan kaki yang ditempatkan lebih tinggi kedudukannya daripada pengguna jalan lainnya. Fasilitas yang juga selalu tersedia bagi para difabel. Saya yang kebetulan menginap di bilangan City Hall, dengan agenda seminar di gedung Suntec City, jarak yang harus ditempuh kurang lebih sekitar dua kilometer, tapi terasa nyaman dan tak terasa, ketika jalur jalan kaki ke sana menyusuri jalan bawah tanah bernama City-Link yang ditata bak super market dengan gerai-gerai toko aneka macam di kiri-kanan sepanjang perjalanan.

Belum lagi tentang aturan dan hukum yang dijunjung tinggi ditegakkan. Saya bahkan hampir tak pernah melihat lalu-lalang atau polisi penegak hukum di pinggir jalan. Tapi orang-orang itu begitu taat. Tak ada buang sampah sembarangan. Larangan merokok di tempat umum, membuat seorang perokok yang pernah saya jumpai seperti terpaksa malu-malu merokok di sudut pojok bangunan dan merasa kikuk bila ada orang melihatnya merokok. Tak ada corat-coret di dinding ataupun fasilitas umum yang rusak.

Last Updated on Saturday, 02 June 2012 21:59
Selengkapnya..
 
Sarpakenaka Lady Gaga PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 21 May 2012 15:25

Beberapa waktu lalu ada seorang sahabat colek saya sambil bertanya apa pendapat saya tentang kisruh boleh tidaknya Lady Gaga manggung di Indonesia. Nah, .. cukup membuat saya berkernyit dahi berpikir. Pertama, karena saya sendiri tidak begitu mengenal dan tahu banyak tentang artis musisi bernama Lady Gaga. Yang kedua, saya tahu persis, sang sahabat menanyakan hal itu kepada saya, karena kapasitas saya sebagai penggiat budaya wayang. Lalu dimana saya harus menempatkan pola pendapat saya dalam peta kehidupan?

Kok ya kebetulan beberapa hari lalu saya mengikuti acara-nya bung Karni Ilyas, Indonesia Lawyer Club, yang juga mengupas tentang polemik larangan terhadap Lady Gaga manggung di Indonesia. Sudah cukup banyak ditelaah, silang pendapat yang hangat sesekali memanas, dari sisi hukum, budaya, norma, tafsir agama. Semua pendapat bisa dipahami, hanya saja memang ada satu titik dimana pemerintah harus memutuskan. Dan itulah saat ini yang ditunggu. Dan apa pun keputusannya nanti, boleh atau tidak, sebenarnya mungkin bukanlah sesuatu yang luar biasa. Beberapa hari mungkin akan jadi perdebatan hangat. Bisa jadi ada gesekan-gesekan. Namun pastilah setelah itu biasa lagi, semua kembali kepada kehidupan masing-masing. Karena bagaimana pun juga, siapa sih Lady Gaga? Apakah dia memang sosok yang cukup layak untuk kita perdebatkan sampai ke urat nadi?

Last Updated on Monday, 21 May 2012 15:58
Selengkapnya..
 
Gentong dan Ceret PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 12 May 2012 10:41

Pengantar : Tulisan di bawah adalah penggalan di bab dalam Kata Pengantar, salah satu buku kumpulan artikel saya berjudul "Ilmu Kearifan Jawa" (Pinus, 2009). Beberapa waktu lalu saya baca lagi tulisan ini, untuk mengenang salah seorang tokoh budayawan dan jurnalis Surakarta yang telah berpulang, sekitar satu bulan lalu, KRT Kresna Handayaningrat, sering juga dipanggil dengan sebutan hormat 'pak Kanjeng'. Beliau secara pribadi pernah memberi saya sebuah bendel yang berisi kumpulan tulisan-tulisan beliau, baik yang pernah dipublikasikan maupun belum. Tulisan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap berbau supranatural. Namun bagi saya, tulisan-tulisan itu sangat ilmiah, hanya masih butuh pembelajaran, juga kedalaman hati dan pikiran untuk mampu melihat sisi lain yang masih gelap dari Ilmu Pengetahuan Semesta. Pak Kanjeng, yang saya anggap sebagai salah satu gentong saya.

 

Ada sebuah kisah perumpamaan yang cukup menarik yang selalu saya ingat sampai saat ini. Ditulis oleh Emha Ainun Nadjib di salah satu bukunya. Kisah yang menceritakan tentang Gentong dan Ceret.

Dalam wilayah rumah tangga tradisional Jawa. Ada perangkat yang disebut Gentong. Sebuah wadah tempat air yang cukup besar. Biasanya mampu menampung air antara duapuluh sampai limapuluh liter. Terbuat dari tanah liat. Rata-rata berbetuk seperti bola agak oval ke bawah, dengan mulut menghadap ke atas.

Gentong difungsikan untuk menampung air yang biasanya khusus air yang diperuntukkan untuk dimasak dan dimanfaatkan untuk minum atau membuat sayuran. Untuk fungsi demikian, air yang tertampung bisa dikatakan cukup banyak. Karena tuntutan untuk pengisian gentong kembali bisa dilakukan setiap satu minggu sekali. Sehingga fungsi Gentong sangatlah vital. Tapi tidak sepadan dengan fungsinya, perlakuan si empunya atau apa yang terjadi pada gentong tidaklah se-elok manfaatnya. Gentong selalu ditaruh di ujung belakang rumah, dibiarkan berdebu, terkadang posisinya tidak begitu terlihat, tertutup oleh barang-barang perkakas rumah tangga lainnya. Atau terkadang ruang tempat gentong berada, selalu juga sekalian difungsikan sebagai gudang. Gelap dan penuh dilingkupi jaring laba-laba.

Last Updated on Saturday, 12 May 2012 11:09
Selengkapnya..
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 10 of 70
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com


Komentar NovelWayang

"..ni buku membangkitin rasa ingin tahu aku sama sejarah jawa masa lalu"
Gelar Wisnugraha

novel wayang_snovel wayang_ss

Statistik

 


Flag counters!

 

Kearifan Nusantara

"Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan"
Kearifan Jawa

Kutipan

"Kalimat klise adalah topeng bagi mereka yang takut berkepribadian. Dan topeng selalu berkaitan dengan semacam kepalsuan.(cengeng page 446)"
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 2)







feed-image Feed Entries


Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo