pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 31 July 2012 12:25

“Menurut saya,.. lebih pas kalau adegan ‘Karna Tanding’..”, kata saya.


“… kenapa, mas?”, terdengar lagi suara di seberang telepon. Sejenak saya berpikir. Memang terkadang ada hal-hal yang menjadi pilihan lebih didasari pada hati dan perasaan. Bukan berarti keputusan atau pilihan dengan pertimbangan hati itu kurang logis, tapi pilihan perasaan itu biasanya terjadi karena rasa yang timbul, umumnya disana terdapat keterbatasan bahasa dan kata ganti untuk memberi makna pada rasa yang menjadi pertimbangan itu.


Adalah sepenggal pembicaraan telepon saya dengan seorang sekretaris direksi sebuah perusahaan. Perusahaan ini dalam waktu dekat akan melepas salah satu konsultan senior-nya yang sudah memasuki masa pensiun. Sebuah tanda kenangan atas kebersamaan yang terjalin begitu lama akan diberikan. Walaupun perusahaan ini menerapkan prinsip manajemen modern dalam budaya pengambilan keputusan mereka, namun perusahaan yang kebetulan berada di kota dengan budaya Jawa ini juga masih menjunjung tinggi karakter Jawa. Dan pilihan memberikan kenangan sebuah simbol karakter wayang kulit terbuat dari perak kepada salah seorang yang mereka anggap sangat berarti bagi pertumbuhan perusahaan sekian puluh tahun terakhir dianggap menjadi hal yang penting.

 

Last Updated on Tuesday, 31 July 2012 17:18
Selengkapnya..
 
Dewa Ruci PDF Print E-mail
Lelakon Wayang - Lelakon Menginspirasi
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 28 July 2012 10:22

Suasana tiba-tiba menjadi merah. Sejauh mata memandang hanya warna merah, di atas juga penuh warna merah seperti tak berujung! Dan dibawah,.. semakin aneh! Bima seperti tak menapak apa pun. Dibawah sana hanya warna merah! Dan Bima seperti menginjak landasan berwarna merah yang terasa menapak di kaki, tapi bila diamati seperti tak ada apa-apa di sana. Inikah yang dinamakan alam Awanguwung? Entahlah.

“..kamu berada di tengah-tengah rasa marahmu, ngger.. sebuah alam pikiran yang dinamakan Amarah..” tiba-tiba terdengar suara di kepala Bima. Dan muncul sosok yang aneh di depan Bima. Sosok yang sama seperti wujud Bima! Tapi sangat kecil! Hanya setinggi satu jengkal.

Bima hanya diam, terlihat bingung melihat dirinya sendiri dihadapannya dalam wujud kecil.

“..tak usah bingung, ngger,.. aku adalah kamu,.. dan yang kamu lihat pada diriku sebenarnya adalah dirimu sendiri.., disini,.. kamu bisa melihat siapa kamu, .. mengapa kamu, dan.. bagaimana kamu…. Suasana merah ini untuk mempermudah kamu melihat dirimu sendiri saat kamu marah, ngger..”

Bima hanya diam. Terlihat mencoba memindai sekeliling yang hanya berwarna merah sejauh mata memandang. Tiba-tiba suasana menjadi gelap hitam! Dan sosok Bima kecil dihadapan Bima menjadi berpendar sehingga terlihat jelas.

“.. kini kita berada di alam pikiranmu, yang lain bernama Luamah, ngger.. adalah dirimu sendiri saat kamu begitu rakus ingin menggapai sesuatu yang kamu ingin dapatkan,.. bisa saja itu hal baik,.. tapi tetap saja itu membutakanmu, ngger..”

Last Updated on Saturday, 28 July 2012 10:42
Selengkapnya..
 
Ngelmu Suwung PDF Print E-mail
Lelakon Wayang - Lelakon Menginspirasi
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 05 July 2012 15:04

Sudah lebih dari separoh hari mereka lewatkan dengan adu bermain dadu itu sampai suatu saat Sangkuni berkata, “..ayo siapa menang boleh tinggal di istana Hastinapura, dan siapa kalah harus mau tinggal di Wanamarta..”

Wanamarta adalah hutan luas, hampir seluas wilayah negri Hastinapura, yang terletak di sebelah barat Hastinapura. Dulu sekali sebelum kekuasaan Santanu, hutan ini pernah menjadi wilayah Hastinapura. Tapi dengan berjalannya waktu, juga karena letak hutan ini yang jauh dari ibukota, serta hutan ini yang hampir tidak ada bangsa Manusia tinggal di sana, maka hutan ini dibiarkan terbengkalai. Jadilah hutan ini semakin lebat dan semakin lebat saja, hanya dipakai sebagai tempat berburu. Itupun hanya di wilayah bagian timur hutan yang dekat dengan Hastinapura. Agak ke tengah, tak seorang pun berani ke sana.

Kabarnya disana bermukim penduduk bangsa Gandarwa yang gemar memangsa bangsa Manusia. Maka benarlah kabar itu, setiap bangsa Manusia yang kesana, pastilah tak pernah pulang kembali.

“..sampai kapan, paman..” teriak Dursasana.

“..selamanya,..he..he..” jawab Sangkuni sekenanya sambil menyerangai. Yang kemudian diikuti sorak sorai para Kurawa. “mau kan, ngger..?” tanya Sangkuni sambil menoleh ke arah Samiaji. Samiaji hanya diam saja, beberapa saat kemudian dia mengambil dadu di atas cawan itu sebagai tanda menyetujui tawaran Sangkuni, diikuti sorak para Kurawa.

Samiaji pun melempar ketiga dadu itu. Dan tepat setelah dadu-dadu itu berhenti bergerak, suasana tiba-tiba hening! Ah, apa yang terjadi. Ruangan yang begitu gegap gempita sorak-sorai Kurawa itu mendadak sepi. Tak ada sedikit pun suara. Bahkan desah nafas orang yang disitu pun tak terdengar!

Last Updated on Saturday, 28 July 2012 10:13
Selengkapnya..
 
PANDAWA TU7UH PDF Print E-mail
Buku Pitoyo Amrih - Novel Dunia Wayang
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 03 July 2012 14:06

KLIK DISINI untuk pembelian buku secara online.Pandawa Tu7uh

 

Semua tahu Pandawa berarti para putra Pandu. Putra Pandu yang berjumlah lima. Yudhistira, Bima, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa. Kelahiran mereka begitu istimewa, bahkan beberapa tokoh bangsa Dewa pun berkehendak menemani kelahiran mereka. Kemunculan mereka di dunia wayang terasa akan menjadi sebuah keajaiban. Semuanya begitu sempurna.

Sampai ketika takdir berkata lain. Cobaan demi penderitaan justru yang mereka hadapi. Pengkhianatan, upaya pembunuhan, penghinaan, pelecehan, terkucilkan, hidup dalam pengasingan. Segala bentuk ujian dan perjuangan mereka alami. Tapi justru itulah yang mendewasakan mereka. Semakin menyempurnakan ilmu kanuragan dan kautaman mereka. Melihat semakin benderang rahasia alam, makna kehidupan dan arti kematian.

Sampai akhirnya perang saudara Baratayudha itu harus terjadi. Kemenangan Pandawa tak lebih adalah buah yang mereka petik atas perjuangan yang mereka tanam. Dan setelah kemenangan perang, bukan disikapi dnegan pesta pora. Setelah Baratayudha, Pandawa kembali dengan tanggung jawabnya, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Dan seperti layaknya manusia, ada kala bersinar, suatu saat redup, dan akhirnya menemui ajal. Sebuah kisah perjalanan hidup para Pandawa yang penuh liku, dan segala manis pahit kehidupan.

Last Updated on Monday, 22 August 2016 12:30
Selengkapnya..
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 9 of 70
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com


Komentar NovelWayang

"..kembali menggemari wayang!!"
Hendra Arkan

novel wayang_snovel wayang_ss

Statistik

 


Flag counters!

 

Kearifan Nusantara

"Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan"
Kearifan Jawa

Kutipan

"The secret of life, though, is to fall seven times and to get up eight times."
Paulo Coelho (The Alchemist)







feed-image Feed Entries


Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo