pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Antara Pakem Wayang dan Batman PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 19 April 2013 14:04

Diskusi tentang pakem dalam wayang memang cukup menggelitik. Sering kali saya mendapat email dan semacamnya menanyakan tentang hal ini. Beberapa kali saya menjadi pembicara seminar dan diskusi tentang wayang, juga hampir selalu setiap sesi tanya jawab, ada yang bertanya atau bahkan ‘menantang’ apakah berbagai kreasi anak muda dalam menginterpretasikan wayang itu bisa dianggap sebagai menabrak pakem? Apakah cerita wayang yang saya tulis dalam novel-novel saya masih dalam wilayah pakem? Apa itu pakem? Dimana saya harus meletakkan kreatifitas dalam wilayah pakem?

Sebelum saya bicara lebih jauh tentang pakem, saya kembali coba dudukkan apa itu wayang. Ada banyak perspektif tentang definisi wayang. Baik dari para ahli akademisi budaya, maupun praktisi pertunjukkan wayang. Saya sendiri mencoba untuk memberi definisi, bahwa wayang adalah sebuah kreasi budaya SENI MEDIA PERTUNJUKKAN dengan peraga, yang disana membuat simbol KISAH-KISAH,  dalam rangka untuk MENGKOMUNIKASIKAN NILAI-NILAI, budaya dan etika, nusantara. Yang saya tulis tebal adalah entitas yang bisa diumpamakan sebagai pilar dalam menyokong kelestarian dan ketersinambungan budaya Wayang itu sendiri. Sehingga melihat Wayang haruslah secara utuh dalam bangunan yang disana terdapat tiga pilar tersebut. Ada media pertunjukkan peraganya, ada analogi kisah yang disampaikan, dan harus mengkomunikasikan nilai-nilai nusantara. Namun dalam upaya ikut berkontribusi dalam pelestariannya, saya pikir setiap orang berhak untuk bisa ikut terlibat didalamnya, misal dengan hanya menekuni membangun salah satu pilar saja. Dari hal inilah kemudian bisa kita lihat bahwa bahkan setiap orang memungkinkan untuk turut serta. Tidak harus melulu seorang dalang, atau akademisi budaya pertunjukkan wayang.

Last Updated on Friday, 19 April 2013 14:11
Selengkapnya...
 
Kopassus Itu Bernama Abimanyu PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Cermin Dunia Wayang
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 19 April 2013 13:50

Perang Baratayudha melawan preman Kurawa itu seperti tak berkesudahan. Ketika suatu hari di tengah kancah pertempuran terdapat sosok pendiam yang dengan berani menghadang perlawanan di kandang lawan. Seorang ksatria bernama Abimanyu. Seorang diri menyongsong belasan orang yang garang menyerang. Sulit dipahami memang. Nafsu apa yang ada di benak para penyerang, ketika lawan mereka seorang diri tak seimbang sudah tak berdaya bersimbah darah, tapi orang-orang ini tetap merajam. Para Kurawa ini tetap gelap mata menghujamkan parang dan melesakkan anak panah.

Last Updated on Friday, 19 April 2013 13:55
Selengkapnya...
 
WISANGGENI Membakar Api PDF Print E-mail
Buku Pitoyo Amrih - Novel Dunia Wayang
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 29 March 2013 10:47

Wisanggeni Membakar Apicoverjw wisanggeni

 

Penulis : Pitoyo Amrih 
Ukuran : 14x20cm 
Tebal : 436 halaman 
Terbit : Februari 2013 
Penerbit : DIVA Press 
ISBN : 9786022550495 

Atas nama kemurnian ras dewa, Batara Brama berniat melenyapkan bayi buah hubungan putrinya, Dewi Dresanala, dan Arjuna, yang notabene seorang ras manusia. 
Bola api raksasa pun melesat cepat keluar dari telapak tangan Batara Brama dan menerjang bayi hingga di sekujur tubuhnya diselimuti nyala api, membuatnya mencelat dan melesat ke negeri Samudra di ujung timur, lalu tubuh mungilnya melesak ke dasar samudra.
Bayi yang ternyata tidak ditakdirkan mati itu (namun sekarat) dirawat oleh Batara Baruna, penguasa negeri Dasar Samudra, lalu diberilah si kecil tersebut sebuah nama yang kelak bakal membuat alam kayangan tergetar dan takut: dialah Wisanggeni! 
Saat usianya makin dewasa, pertanyaan tentang asal-usul dirinya terus menggelayuti benak Wisanggeni. Merasa keberadaannya telah dimungkiri oleh leluhurnya sendiri, bangsa dewa, Wisanggeni pun menantang kekuasaan dan wibawa bangsa dewa. 
Lantas, berhasilkah ia mendapatkan pengakuan dari leluhurnya, bangsa dewa? Dan, bagaimana kehidupannya kelak saat ia tidak ditakdirkan terlibat dalam perang akbar Bharatayuda untuk membantu kubu ayahandanya?
Simak novel yang demikian menyentuh dan kaya akan pesan moral ini! 


Last Updated on Monday, 22 August 2016 12:29
Selengkapnya...
 
Sastra Hati Nurani Romo Mangun PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 15 March 2013 13:58

Pendapa di halaman luas belakang rumah dinas Walikota Solo itu memang terasa asri dan menentramkan. Sungguh tepat pengelenggara dalam hal ini Kompas meminjam tempat itu untuk membangun keindahan sebuah diskusi tentang karya YB. Mangunwijaya, atau orang akrab menyebut dengan nama Romo Mangun. Diskusi tentang karya esai, prosa maupun novel Romo Mangun yang pada akhirnya bermuara pada upaya menyelami, memahami dan berusaha mengerti segala ide, pemikiran, dan pilihan sikap beliau.

Pilihan pembicara utama di acara diskusi itu pun menurut saya juga cukup mewakili segala sisi perpektif untuk membuka cakrawala seluas-luasnya tentang Romo Mangun. Ada B. Rahmanto seorang dosen sastra yang tentunya akan melihat segala karya sang Romo dari sisi elok susastra. Kemudian sosok Emha Ainun Nadjib, yang mungkin diharapkan akan melihat karya Romo Mangun dari sisi spiritualitas. Mungkin itu yang dimaui panitia, karena toh agak sulit bagi kita untuk menempatkan Cak Nun ini pada sebuah kotak, karena dia pasti akan berada lepas dimana-mana. Kemudian ada Ayu Utami, yang saya sendiri di awal merasa yakin mbak Ayu Utami, bagaimana pun juga akan melihat dan membedah karya sang Romo dari sisi feminitas seorang perempuan. Kemudian yang disebut wakil dari seorang muda, seorang penggiat sastra dari Solo, Bandung Mawardi. Diskusi yang dengan tangkas bernas dipandu oleh Joko Pinurbo, yang banyak dikenal sebagai seorang penyair.


Last Updated on Saturday, 16 March 2013 06:31
Selengkapnya...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 4 of 71
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2018 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com


Komentar NovelWayang

"Buku NARAS0MA, belajar sifat dan perwatakan manusia. Saya suka!"
Malinda Pudyastuti

novel wayang_snovel wayang_ss

Statistik

 


Flag counters!

 

Kearifan Nusantara

"Digdaya tanpa aji, sugih tanpa bandha, menang tanpa ngasorake" (Sakti tanpa ajian, kaya tanpa harta, menang tanpa mengalahkan)
Kearifan Jawa

Kutipan

"if you love someone, set him free, if you have to stalk him, he probably wasn't yours in the first place."
Mary (All About Steve).

feed-image Feed Entries


Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo