pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Follow @PitoyoAmrih
Webpitoyo.com

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Gentong dan Ceret PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 12 May 2012 10:41

Pengantar : Tulisan di bawah adalah penggalan di bab dalam Kata Pengantar, salah satu buku kumpulan artikel saya berjudul "Ilmu Kearifan Jawa" (Pinus, 2009). Beberapa waktu lalu saya baca lagi tulisan ini, untuk mengenang salah seorang tokoh budayawan dan jurnalis Surakarta yang telah berpulang, sekitar satu bulan lalu, KRT Kresna Handayaningrat, sering juga dipanggil dengan sebutan hormat 'pak Kanjeng'. Beliau secara pribadi pernah memberi saya sebuah bendel yang berisi kumpulan tulisan-tulisan beliau, baik yang pernah dipublikasikan maupun belum. Tulisan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap berbau supranatural. Namun bagi saya, tulisan-tulisan itu sangat ilmiah, hanya masih butuh pembelajaran, juga kedalaman hati dan pikiran untuk mampu melihat sisi lain yang masih gelap dari Ilmu Pengetahuan Semesta. Pak Kanjeng, yang saya anggap sebagai salah satu gentong saya.

 

Ada sebuah kisah perumpamaan yang cukup menarik yang selalu saya ingat sampai saat ini. Ditulis oleh Emha Ainun Nadjib di salah satu bukunya. Kisah yang menceritakan tentang Gentong dan Ceret.

Dalam wilayah rumah tangga tradisional Jawa. Ada perangkat yang disebut Gentong. Sebuah wadah tempat air yang cukup besar. Biasanya mampu menampung air antara duapuluh sampai limapuluh liter. Terbuat dari tanah liat. Rata-rata berbetuk seperti bola agak oval ke bawah, dengan mulut menghadap ke atas.

Gentong difungsikan untuk menampung air yang biasanya khusus air yang diperuntukkan untuk dimasak dan dimanfaatkan untuk minum atau membuat sayuran. Untuk fungsi demikian, air yang tertampung bisa dikatakan cukup banyak. Karena tuntutan untuk pengisian gentong kembali bisa dilakukan setiap satu minggu sekali. Sehingga fungsi Gentong sangatlah vital. Tapi tidak sepadan dengan fungsinya, perlakuan si empunya atau apa yang terjadi pada gentong tidaklah se-elok manfaatnya. Gentong selalu ditaruh di ujung belakang rumah, dibiarkan berdebu, terkadang posisinya tidak begitu terlihat, tertutup oleh barang-barang perkakas rumah tangga lainnya. Atau terkadang ruang tempat gentong berada, selalu juga sekalian difungsikan sebagai gudang. Gelap dan penuh dilingkupi jaring laba-laba.

Last Updated on Saturday, 12 May 2012 11:09
Selengkapnya..
 
Suara Keheningan PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 04 May 2012 08:23

Ada yang menarik sempat saya catat pada acara diskusi tadi malam. Bahwa setiap orang sebaiknya mampu menemukan ‘irama’ dalam dirinya. Itulah yang akan membantu kita menemukan keseimbangan diri, sehingga bisa hidup secara berkualitas, memiliki ketenangan hati dan pikiran. Semakin menarik ketika sang narasumber mendefinisikan apa itu irama. Karena ternyata sesuatu bisa dikatakan ber-‘irama’ ketika disana terdapat paduan kombinasi harmoni antara suara dalam sebuah nada, dan suara keheningan. Nah!

Dia istilahkan dengan sebutan ‘Sound of silence’. Kenihilan sebuah suara ternyata adalah salah suatu suara yang penting, yang berkontribusi sehingga tercipta sebuah harmoni. Lebih jelasnya, beliau membandingkan ketika saat kecil di Inggris limapuluhan tahun yang lalu. Dimana suara yang terbentuk dan terdengar di telinga di sepanjang kehidupan, ketika berangkat ke sekolah, saat bermain, lebih banyak didominasi oleh suara ‘alam’. Burung berkicau, gemericik air, gemeresak daun ditiup angin, suara teratur yang keluar dari seorang pandai besi saat menempa. Semua itu berpadu, dan tanpa sadar kadang membentuk alunan melodi senandung diri yang spontan. Sambil berangkat ke sekolah, sepanjang jalan dia bersenandung dengan kombinasi nada dan diam, yang bisa jadi selalu berganti-ganti saban harinya. Itulah yang kemudian membentuk irama dalam diri. Mempengaruhi bioritme, dan pada akhirnya selalu menjaga keseimbangan dan kesehatan fisik dan jiwa. Hal itu kemudian dia bandingkan dengan keadaan sekarang, dimana suara menjadi semakin individu dan bising. Banyak orang kemudian menjaga jarak dengan kebisingan sekitarnya, memakai ear-phone di telinga untuk mendengarkan lagu. Alhasil, di tambah suara latar yang gemuruh kebisingan kehidupan kota seakan tak pernah henti, suara keheningan itu seolah hilang. Semakin sulit mencipta komposisi irama yang lengkap karena ketiadaan suara keheningan. Sehingga semakin sulit orang menemukan irama dalam dirinya.

Last Updated on Friday, 04 May 2012 08:31
Selengkapnya..
 
Suatu Ketika, apakah itu yang Ditunggu Manusia? PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Lirik Menginspirasi
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 30 April 2012 13:00

Setelah membaca salah satu buku kumpulan artikel saya, yang berjudul "Ilmu Kearifan Jawa", salah seorang sahabat meminta pendapat saya tentang tafsir lagu Sujiwo Tejo berjudul "Pada Suatu Ketika". Sebuah lagu yang luar biasa. Ketika pertama kali menjadi hit kala itu, bahkan lagu ini dan seluruh lagu di album yang sama, selalu saya putar berulang-ulang. Saya merasa ada sesuatu dalam lagu ini. Sebuah renungan yang juga terdapat pada seluruh lagu dalam satu album itu. Mas Sujiwo Tejo memang sosok yang fenomenal. Tapi entahlah, apakah lagu yang dibuat itu memang sengaja dicipta untuk dimaknai dan direnungi begitu dalam, ataukah dia lebih berfokus hanya pada estetika vokal konsonan pemilihan kata. Tapi yang jelas, bagi saya, lagu ini mengandung makna lebih dari sekedar apa yang ditulis dan dinyanyikan. Bahkan lebih dari apa yang sudah terdengar ditelinga. Tafsir bebas itu coba saya tulis dalam artikel berikut:

 

Pertanyaan pada judul diatas sebenarnya bisa sangat penting untuk di-‘ingin-tahu-i’ bagi seharusnya seseorang yang mau untuk memahami hakekat hidupnya di dunia ini. Pertanyaan ini muncul begitu saja setelah saya membaca kembali, mendengar, merenung atas lagu yang dicipta dan digubah begitu luar biasa oleh Sujiwo Tejo. Lagu berjudul ‘Pada Suatu Ketika’.

 

Lagu ini dibuka dengan semacam kegelisahan ketika orang melihat bahwa segala macam angkara murka, pertikaian, kekerasan di atas bumi ini, mengapa tak juga segera berakhir. Sepertinya tak akan pernah berakhir. Ketika disana terdapat sebuah perbedaan pendapat dan sikap dalam melihat suatu hal, maka potensi pemaksaan kehendak, yang bisa jadi berujung pada kekerasan akan selalu muncul. Mungkin itulah yang disebut angkara murka. Sebuah kegagalan seseorang dalam memahami hakekat hidupnya, saat dia tidak bisa untuk memunculkan semangat berbagi dalam dirinya. Sikap berbagi untuk hidup bersama dalam satu dunia di atas bumi ini.

 

Wong takon wosing dur angkoro

(Orang-orang bertanya kapan angkara murka berakhir)

 

Last Updated on Tuesday, 01 May 2012 16:59
Selengkapnya
 
Mengangkat Kisah Wayang dalam Novel PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Wacana Budaya
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 27 April 2012 15:47

Mungkin memang pesawat telepon saya yang sedikit bermasalah sehingga suara saya tidak begitu terdengar jelas oleh lawan bicara di seberang sana. Dan hal itulah yang menjadi kendala sehingga suara saya terdengar sangat pelan di radio, walaupun malam itu saya mencoba bersuara keras dan mendekatkan gagang telepon sangat dekat dengan mulut saya. Saat itu juga, saat bincang-bincang berlangsung, melalui Facebook, beberapa sahabat langsung memberi masukan tentang suara saya yang terdengar kurang keras tertimpa suara sang penyiar.

 

Syukurlah hal itu tidak mengurangi makna dan pesan yang coba saya sampaikan melalui acara bincang-bincang budaya itu. Tanggapan para pendengar dan para sahabat yang kebetulan menyimak acara tersebut, sangat positif. Adalah sebuah acara Talk Show live yang disiarkan dari studio RRI Semarang disiarkan melalui Programa 1 dan Programa 4, berlangsung tadi malam, Kamis, 26 April 2012, selama satu jam penuh tanpa jeda iklan, dari jam 22.00 sampai dengan 23.00. Saya yang di rumah, di Solo, dengan komunikasi via telepon, berbincang dengan Bp Iwan, penyiar RRI Semarang di studio RRI di Semarang.


Menurut info sang pemandu acara, siaran radio ini menjangkau seluruh pulau Jawa. Juga terdapat siaran streaming di internet sehingga dengan perangkat komputer saya di rumah, acara ini sempat saya rekam dalam bentuk audio sehingga bisa didengar kembali melalui gadget player di bawah ini. Klik pada tanda play warna kuning.


Last Updated on Friday, 27 April 2012 21:39
Read more...
 
Sangkuni Dalam Diri Kita PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Cermin Dunia Wayang
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 13 April 2012 10:54

Hiruk pikuk itu sepertinya sudah berakhir. Benarkah berakhir? Mungkin tak akan pernah berakhir. Menjelang 1 April beberapa waktu lalu, kita disuguhi hiruk pikuk oleh para elemen masyarakat, mahasiswa, yang turun ke jalan begitu masif, sebagian menggelar aksi damai sebagian berteriak-teriak sambil merusak. Ada yang sampai membakar mobil polisi, menyandera truk angkutan bahan bakar. Menuntut agar harga bahan bakar jangan sampai naik. Sebuah kejadian yang klasik sebenarnya. Karena dulu pernah terjadi, hampir selalu terjadi setiap kali ada rencana wacana harga BBM naik, dan kemungkinan akan selalu terjadi, karena bagaimanapun juga, cepat atau lambat, harga itu akan selalu naik selama kebutuhan selalu lebih besar dari ketersediaan.

Siapakah mereka? Benarkah mereka para mahasiswa? Ternyata memang benar sebagian dari mereka bisa dipastikan identitasnya sebagai para mahasiswa. Benarkah mereka memang benar-benar bertindak dalam rangka membela kepentingan rakyat kecil seperti yang mereka selalu teriakkan? Bila memang ya, benarkah mereka semua tahu duduk perkaranya, sehingga merasa bahwa apa yang akan diputuskan adalah sesuatu yang salah. Bila memang tahu permasalahannya, lalu mengapa mereka justru melakukan sesuatu yang bisa memperburuk keadaan yang justru akan semakin membuat rakyat yang sulit semakin sulit. Atau mungkinkah memang mental 'Lose-lose' yang lebih mereka sukai tinimbang memilih 'Win-win'.

Last Updated on Wednesday, 02 May 2012 11:47
Selengkapnya..
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 1 of 49
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter


Copyright © 2012 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com


Kutipan

"Don't be afraid of enemies who attack you. Be afraid of the friends who flatter you."
Dale Carnegie (How to Win Friends & Influence People)

Statistik

 





Flag counters!

 

Kearifan Nusantara

"Becik ketitik ala ketara" (Baik ketahuan, jelek kelihatan)
Kearifan Jawa







feed-image Feed Entries


Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo