 |
 |
Rabu, 08 Sept 2010






| Telusuri Buku-buku Pitoyo Amrih |
|
| Buku Pitoyo Amrih |

|
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
| Artikel/Kolom /
Dunia Pendidikan |
|
| Menjadi Pembelajar dalam Proses Pendidikan | | By Aprilia Lestari |
| Saturday, 06-June-2009, 16:42:14 |
926 clicks |
 |
 |
 |
|
|
| Sebelum masa ujian, saya memberikan tugas kepada mahasiswa untuk menerangkan cara kerja sebuah alat, lengkap dengan bagan, keterangan, cara kerja dan hukum hukum fisika yang diterapkan. Paling lambat sehari sebelum ujian dikumpulkan. Pada hari ujian soal tentang alat itu keluar. Tetapi hanya sedikit dari para mahasiswa yang menjawab dengan benar. Apa yang terjadi? |
|
|
Tujuan dari pendidikan atau pembelajaran adalah mencari ilmu atau keahlian sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan seseorang. Rupanya pengejawantahan dari tujuan ini sudah melenceng sedemikian jauhnya, sehingga pendidikan ditempuh untuk mendapatkan ijasah dan status yang setinggi-tingginya, khususnya di pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Para pembelajar tidak memilih sekolah atau jurusan sesuai dengan minat, bakat atau kemampuannya, tetapi menimbang dari faktor-faktor dari luar diri mereka sendiri. Misalnya, memilih sekolah SMA A karena katanya ‘bagus’ dan banyak teman-teman yang di sana, kuliah di kampus B karena biaya yang tersedia hanya cukup untuk kuliah di situ, mengambil jurusan C karena para lulusannya cukup menjual. Faktor luar bukanlah faktor yang tidak patut dipertimbangkan, tetapi tanpa menyadari dan mempertimbangkan faktor dari dalam diri sendiri berarti menempatkan diri pembelajar sebagai obyek dari pembelajaran, bukan subyek. Perlu juga kita mengupas kata bagus dalam tanda kutip di atas. Bagus untuk siapa? Mungkin untuk orang tua, sekolah atau untuk anak itu sendiri. Dan bagus untuk kapan? Mungkin selama anak di sekolah atau setelah keluar dari sekolah. Tetapi kadang tidak terpikir seperti itu, mereka mau mengikuti prosedur apapun yang kadang tidak ada hubugannya dengan pembelajaran, demi mendapatkan ijasah. Seingat saya di sewaktu di sekolah dasar kita diajarkan untuk menuntut ilmu untuk bekal di kemudian hari. Entah sejak kapan tujuan itu bergeser.
Kelakuan mahasiswa yang saya ceritakan di atas jelas tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Pergeseran tujuan pembelajaran juga terjadi pada tingkat pendidikan yang lebih rendah, yaitu di tingkat sekolah menengah. Gejalanya adalah banyak mahasiswa yang tidak menguasai pelajaran-pelajaran sekolah menengah.
Proses belajar bukan sekedar masalah menghabiskan materi kurikulum. Bagian dari proses belajar yang juga sangat penting adalah membentuk jiwa pembelajar. Yang bisa dilakukan untuk mencapai target ini adalah mengkondisikan lingkungan belajar, memberi kesempatan kepada pembelajar untuk berpikir, menganalisa, menilai dan mengambil keputusan. Untuk berlatih ini membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada mencontek, tentu lebih sulit dikerjakan. Tetapi untuk bisa terlaksana tentunya harus dimulai dan para pendidik harus memberi kesempatan.
Setelah saya selesai mengoreksi ujian mahasiswa tadi, yang saya lakukan adalah mengembalikan tugas ke mahasiswa untuk diganti dengan tulisan tangan, bukan ketikan, dan kalau mungkin memberikan tugas yang berbeda untuk beberapa mahasiswa. Sepertinya pekerjaan tambahan, tetapi dengan begitu banyak tujuan belajar yang bisa tercapai. Misalnya mereka mengerti apa yang mereka tulis, dan belajar untuk memulai pekerjaan dengan benar, karena kalau tidak dimulai dengan benar, setelah selesai dan salah, mungkin mereka harus mengulanginya dari awal lagi.
Aprilia sakti Kusumalestari
Klik for profile. |
| |
 |
|
|
|
|
 |
 |
| Advertising |

|
| Buku Erlangga for Kids |


|
|
 |
|
 |
 |