Pencarian selanjutnya
 
User Terdaftar

Username:

Password:

Log in otomatis pada kunjungan berikutnya?

» Lupa password
» Regristrasi
Random tayangan

Punakawan
Punakawan
Wayang Digital
Komentar: 0


Tentang Pitoyo Amrih

Pitoyo Amrih

NovelWayang PitoyoAmrih


Flag counters!

 

 

 

 
Contribute only 1 USD to save Wayang Indonesia will always be The World Masterpiece of Intangible Cultural Heritage of Humanity


Sejarah Pentas Wayang Nusantara




Wayang Nusantara memiliki definisi yang tidak terpisah antara Pertunjukkan Seni dengan Peraga, Membawa Lakon kisah-kisah, dan muatan Nilai-nilai Nusantara.
Budaya Wayang Indonesia adalah salah satu budaya nusantara yang telah mengarungi jalan panjang sejak sejarah mencatat seni wayang nusantara di abad ke-9. Bahkan dipercaya seni ini sudah menjadi bagian kehidupan nusantara jauh sebelum itu.
Berikut adalah sekilas Sejarah Wayang Nusantara sebagai seni pertunjukkan peraga. Sebagian masih terpelihara dan berinovasi hingga kini, sementara sebagian sudah terlupakan tergerus jaman.
Disarikan dari beberapa sumber.
Sumber utama:
- Buku Pedalangan (Supriyono, dkk, Depdiknas)
- Ensiklopedi Wayang Indonesia (Senawangi)
- Ensiklopedi Wayang (Rio Sudibyoprono). (Hits: 3521)


 

NovelWayang PitoyoAmrih

 

 

Sub-kategori
Wayang Beber (abad ke-9 M) (3)
Wayang Beber termasuk bentuk wayang yang paling tua usianya dan berasal dari masa akhir zaman Hindu di Jawa. Pada mulanya wayang Beber mengambil cerita dari kitab Mahabharata,
kemudian beralih dengan cerita-cerita Panji yang berasal dari kerajaan Jenggala pada abad ke-IX dan mencapai jayanya pada zaman Majapahit sekitar abad ke-XIV hingga XV.
Cerita awal dari Wayang Beber ini adalah mengisahkan tentang Panji Asmara Bangun telah menyamar menjadi Panji Joko Kembang Kuning guna mengikuti sayembara menemukan Dewi Sekartaji, hingga sepasang pengantin bahagia bersanding di pelaminan yaitu Raden Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji.

Wayang Purwa (939) (14)
Wayang Purwa adalah pertunjukan wayang yang pementasan ceritanya bersumber pada kitab Ramayana dan Mahabharata. Wayang tersebut dapat berupa wayang kulit, wayang golek atau wayang orang.
Pendapat para ahli, istilah purwa tersebut berasal dari kata parwa yang berarti bagian dari cerita Ramayana atau Mahabharata. Sedang di kalangan masyarakat Jawa, terutama orang-orang tua kata purwa sering diartikan pula purba artinya zaman dulu.
Baik dari segi kreasi seni pertunjukkan, Wayang Purwa mengalami sejarah panjang dengan berbagai gubahan, pengembangan dan akuluturasi budaya lokal sejak sekitar tahun 939 M di masa kerajaan Kediri, sampai sekarang.
Gubahan dan akulturasi itu juga menyangkut segi cerita, dimana saat ini, cerita yang dipakai sebagai pertunjukkan baik wayang kulit, wayang golek, ataupun wayang orang tidak lagi mengambil dari cerita kitab Ramayana dan Mahabharata, tetapi mengembangkan cerita dari yang kembali di tulis oleh Ranggawarsito di abad ke-18 dalam naskah Raja Pustaka, maupun cerita yang disampaikan secara turun temurun oleh dalang yang berawal dari daerah Yogyakarta, dan dikenal dengan cerita Purwa Kandha.

Wayang Rontal (939) (0)
Prabu Jayabaya membuat gambar-gambar dan cerita-cerita wayang pada daun tal dalam tahun 939 Masehi (861 Caka dengan sengkalan: gambaring wayang wolu). Wayang tersebut dinamakan wayang Rontal (rontal yaitu daun tal dari pohon Lontar: Bali, Jakarta; Siwalan:
Jawa). Tak banyak dokumen rekaman sejarah tentang apa dan bagaimana seni wayang rontal ini.

Wayang Kertas (1244) (0)
Karena gambar-gambar yang terdapat pada daun tal itu terlalu kecil untuk dipertunjukan, maka Raden Kudalaleyan atau yang disebut Prabu Surya Hamiluhur dari Pajajaran memperbesar gambar wayang tersebut di atas kertas pada tahun 1244 (1166 Caka, dengan sengkalan: hyang gono rupaning jalmo).
Seni pertunjukkan Wayang Kertas saat ini masih bertahan di beberapa daerah pedesaan di Jawa. Pertimbangan penggunaan Wayang Kertas lebih banyak karena pertimbangan ekonomis. Pentas Wayang Kertas biasanya juga lebih banyak diperuntukkan bagi anak-anak.
Pengrajin Wayang Kertas juga biasanya membuat hasil kerajinan untuk dijual sebagai peraga wayang bagi anak-anak.

Wayang Beber Purwa (1361) (0)
Prabu Bratono dari kerajaan Majapahit membuat wayang Beber Purwa untuk ruwatan pada tahun 1361 (1283 Caka, dengan sengkalan: gunaning pujangga nembah ing dewa). Pendapat tersebut tidak sesuai dengan ilmu sejarah, karena pada tahun 1350-1389 yang bertahta di Majapahit adalah Raja Hayam Wuruk; kecuali apabila Prabu Bratono adalah juga Prabu Hayam Wuruk. Wayang Beber Purwa dimaksudkan suatu pergelaran wayang mBeber cerita-cerita purwa (Ramayana atau Mahabharata).
Lukisan Wayang Beber cerita Ramayana dan Mahabarata sudah tak lagi ditemui saat ini.

Wayang Kulit Purwa Jawa Timur (1429) (6)
Wayang kulit jawa timuran, juga banyak disebut dengan nama wayang Jek Dong, dipercaya mulai berkembang sejak awal abad 15.
Mengambil cerita-cerita dari wayang purwa Jawa Tengah sesudah masa penyebaran Islam di Jawa. Wayang ini dalam perkembangannya juga memiliki gagrak dan tatah sungging khas sendiri.
Bentuk dan corak condong pada gaya Yogyakarta. diperkirakan perkembangan wayang ini pesat sejak perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Jumlah panakawan dalam wayang Jawatimuran lainya dapat kita jumpai pada cerita-cerita Panji yang menampilkan Bancak dan Doyok atau Judeh dan Santa (Jurudyah dan Prasanta), sedangkan dalam lakon Darmarwulan kita temui panakawan Nayagenggong dan Sabdapalon seperti nampak pada lukisan-lukisan relief candi di Jawa Timur. Dengan demikian terdapat suatu kesimpulan, bahwa tokoh panakawan tersebut pada mulanya hanya dua orang. Hal ini besar kemungkinan ada kaitanya dengan alam dan falsafah kejawen, bahwa pasangan panakawan Semar dan Bagong tersebut merupakan lambang alam kehidupan manusia yang bersifat roh dan wadag.
Semar merupakan rohnya dan Bagong memanifestasikan kewadagannya.
Namun dalam perkembangannya panakawan diwayang Jawatimuran bertambah, yaitu Besut dengan perwujudan seperti Bagong hanya lebih kecil. Besut dalam wayang Jawatimuran berperan sebagai anak Bagong.
Bangkitnya kembali wayang kulit Jawa Tengah yang ditunjang oleh kalangan atas yaitu kalangan kraton, berkembang pula seni pedalangan wayang kulit Jawatimuran pada perbedaan tingkat dan prosesnya. Ia berkembang bukan dari kalangan kraton malainkan dari tingkah bawah ke masyarakat banyak. Daerah perkembangan wayang kulit Jawatimuran meliputi daerah Surabaya, Sidoarjo, Pasuruhan, Malang, Mojokerto, Jombang, Lamongan dan Gresik.

Wayang Demak (1478) (0)
Pada masa syiar Islam di kerajaan Demak, lukisan wayang Beber yang menggambarkan roman muka manusia dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga kurang mendapat perhatian oleh masyarakat Islam dan lenyaplah wayang Beber tersebut dari daerah kerajaan Demak. Kemudian para Wali menciptakan wayang purwa dari kulit yang ditatah dan disungging bersumber pada wayang zaman Prabu Jayabaya. Bentuk wayang diubah sama sekali, sehingga badan ditambah panjangnya, tangan-tangan memanjang hampir mendekati kaki. Selain itu leher, hidung, pundak dan mata diperpanjang supaya menjauhi bentuk manusia. Yang tinggal hanya gambaran watak manusia yang tertera pada bentuk wayang purwa tadi. Hal ini dilakukan pada tahun 1518 (1440 Caka, dengan sengkalan: sirna suci caturing dewa).
Dan pada tahun 1511 (1433 Caka, dengan sengkalan: geni murub siniraming wong), semua wayang Beber beserta gamelanya diangkut ke Demak, setelah kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa wayang Kulit Purwa seperti yang kita lihat sekarang ini merupakan penjelmaan dari hasil
ciptaan para Wali Sanga di abad ke-XVI.

Wayang Keling (1518) (0)
Merupakan wayang tradisi dari pesisir utara dimulai di daerah Pekalongan. Mulai muncul saat runtuhnya Majapahit dan menjelang masuknya Islam di Jawa, sekitar abad 15.
Wayang Keling adalah upaya mempertahankan tradisi pertunjukkan wayang kulit dari budaya Hindu-Budha.
Meskipun dalam sepintas lalu wayang Keling tersebut mirip wayang kulit Jawa, namun perbedaan nampak menonjol pada gelung cupit urang yang tidak sampai pada ubun-ubun. Antawacananya memakai bahasa rakyat setempat.
Saat ini sudah tak ada jejak budaya Wayang Keling.

Wayang Jengglong (abad ke-16) (0)
Di Pekalongan juga terdapat wayang Purwa khas Pekalongan yang disebut wayang Jengglong. Pergelaran wayang Jengglong menggunakan wayang purwa wanda khas Pekalongan dengan iringan gamelan laras Pelog.
Sumber cerita pada umumnya diambil dari buku Pustaka Raja Purwa
Wedhoatmoko.

Wayang Kidang Kencana (1556) (0)
Wayang Kidang Kencana diciptakan oleh Sinuwun Tunggul di Giri yang tidak jelas dimana letak kerajaannya pada tahun 1556 (1478 Caka, dengan sengkalan: salira dwija dadi raja). Wayang ini berukuran lebih kecil dari pada wayang purwa biasa.
Tokoh-tokoh diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata seeprti juga Wayang Purwa. Wayang ini dicipta dan dipakai untuk pertunjukkan dalang-dalang wanita
dan dalang anak-anak pada umumnya memakai wayang-wayang, karena wayang Kidang Kencana tidak terlalu berat dibanding dengan wayang pedalangan biasa.

Wayang Purwa Gedog (1583) (0)
Raden Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya (1546 1586) dari kerajaan Pajang membuat Wayang Purwa Gedog pada tahun 1583 (1505 Caka, dengan sengkalan: panca boma
marga tunggal). Belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan bagaimana bentuk tokoh-tokoh wayang serta cerita untuk pergelaran wayang tersebut.

Wayang Kulit Purwa Cirebon (abad ke-16) (8)
Perkembangan seni pewayangan di Jawa Barat, terutama bentuk wayang kulitnya, berasal dari wayang kulit Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal itu terbukti dari bentuk wayang purwa Cirebon yang kini hampir punah, serupa dengan bentuk wayang Keling Pekalongan, yakni gelung cupit urang pada tokoh-tokoh seperti Arjuna, Bima, Gathotkaca dan lain-lainya tidak mencapai ubun-ubun dan tokoh wayang Rahwana berbusana rapekan seperti busana wayang Gedog.
Menurut para sesepuh di Cirebon, babon dan wayang kulit Cirebon memang mengambil cerita dari kitab Ramayana dan Mahabharata, tetapi sejak semula tersebut telah dikembangkan dan dibuat dengan corak tersendiri oleh seorang tokoh yang disebut Sunan Panggung.
Di wilayah Jawa Barat sedikitnya terdapat empat versi kesenian wayang kulit, yakni versi Betawi, Cirebon, Cianjur, serta Bandung dan masing-masing menggunakan dialeg daerah setempat. Melihat akan wilayah penyebaran kesenian wayang kulit yang bersifat kerakyatan itu, maka nampaklah suatu rangkaian yang hampir saling bersambungan dengan wilayah Banyumas, Pekalongan, Cirebon, Purwakarta, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, hingga Banten.

Wayang Golek (1646) (14)
Sesuai dengan bentuk dan cirinya yang mirip boneka, bulat yang dibuat dari kayu, sehingga dinamakan wayang Golek. Pada akhir pergelaran wayang kulit purwa, maka dimainkan wayang yang bentuknya mirip boneka dan di namakan Golek. Dalam bahasa Jawa, golek berarti mencari. Dengan memainkan wayang Golek tersebut, dalang bermaksud memberikan isyarat kepada para penonton agar seusai pergelaran, penonton mencari (nggoleki) intisari dari nasehat yang terkandung dalam pergelaran yang baru lalu. Mungkin berdasarkan kemiripan bentuk itulah sehingga dinamakan wayang Golek.
Wayang-wayang tersebut diberi pakaian, kain dan baju serta selendang (sampur), dan dalam pementasanya tidak menggunakan layar (kelir). Sebagai pengganti lampu penerang pada wayang (blencong), sering dipakainya lampu petromak atau lampu listrik. Boneka-bonela kayu ini diukir dan disungging menurut macam ragamnya, sesuai dengan tokoh-tokoh wayang dalam epos Ramayana dan Mahabharata. Wayang Golek yang terbuat dari kayu dan berbentuk tiga dimensi itu, kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Pada awal abad ke-XIX Pangeran Kornel seorang Bupati Sumedang, Jawa Barat, terkenal sebagai pencipta wayang Golek Purwa Sunda yang bersumberkan pada wayang Golek Cepak dari Cirebon. Di daerah Jawa Tengah terdapat wayang golek dengan berbagai macam jenis dan disesuaikan dengan lakon pergelarannya. Tetapi pada umumnya wayang golek tersebut berbentuk wayang Golek Menak. Cerita pada umumnya adalah cerita-cerita Menak Wong Agung Jayengrana, yang bersumber pada serat Menak. Wayang golek tersebut kemudian terkenal dengan sebutan wayang Thengul.

Wayang Krucil (1648) (0)
Raden Pekik di Surabaya membuat wayang Krucil pada tahun 1648 (1571 Caka, dengan sengkalan: watu tunggangngane buta widadari). Wayang ini dibuat dari kayu pipih (papan) berbentuk seperti
wayang kulit dan diukir seperlunya. Hanya tangan-tangannya terbuat dari kulit. Pertunjukan wayang ini dilakukan pada umumnya di siang hari dan tidak menggunakan kelir. Kemudian berkembang pergelaran cerita Damarwulan-Minakjingga dengan menggunakan wayang ini dan disebut Wayang Klithik, sedang wayang Krucil untuk cerita-cerita dari kitab Mahabharata, yang juga banyak disebut wayang golek Purwa. Cerita Damarwulan-Minakjingga adalah melambangkan pertentangan antara Damarwulan sebagai bulan dan Minakjingga sebagai matahari.
Wayang Klithik juga mengenal ciri-ciri menurut gayanya antara lain gaya Yogyakarta, gaya Surakarta, dan gaya Mangkunegaran.



Terdapat: 16 tayangan dalam 2 halaman. Tampilan: tayangan 1 sampai 9.
Urutkan tayangan berdasar   Dari A (kecil) Dari Z (besar)  


Kayon Bali
Kayon Bali
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Lembu Amiluhur
Lembu Amiluhur
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Arya Buntaran
Arya Buntaran
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Umarmaya
Umarmaya
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Dewi Adaninggar
Dewi Adaninggar
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Adipati Karna
Adipati Karna
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Kayon Cirebonan
Kayon Cirebonan
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Bagong
Bagong
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0
Bagaspati
Bagaspati
Sejarah Pentas Wayang Nusantara
Komentar: 0

 

 


1  2  »  Halaman akhir »

Tayangan tiap halaman: 

 

 

RSS Feed: Sejarah Pentas Wayang Nusantara (Tayangan baru)

Wayang Pedia

Buku Pitoyo Amrih

↑ Grab this Headline Animator